Mobil Ken berhenti di halaman parkir sebuah butik ternama. Aku mengenal merk dagang ini dari Kiara. Memangnya siapa lagi oknum yang membuatku melek dunia fashion kalau bukan temanku yang satu itu. Ken menggandeng lenganku seolah aku ini anak kecil yang akan berlari ke sana kemari dan bisa menyebabkan kericuhan. Namun, kami memang sedang bersandiwara. Ingat, Mara, ini hanya sandiwara. Jangan masukkan ke hati apalagi sampai menembus jantung. Kamu yang akan mati. “Sore, Ma.” Ken mendekati wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan sedang memeriksa katalog. Bukankah itu katalog gaun pengantin? Dadaku langsung berdebar. Jangan bilang Ken sedang menjebakku. Dia akan menikahiku? Tidak mungkin. Hal itu hanya ada di dunia hayalanku semata. Aku tidak mungkin mengajak Ken bergabung di dalamny

