Part 05

2047 Kata
Part 05 Sheina meletakkan pakaiannya di gantungan baju, sedangkan di sampingnya ada sebuah tempat untuk handuk. Sheina tahu itu, ia juga masih mengingatnya. Namun anehnya, tempat itu berisikan dua handuk dan salah satunya adalah handuk yang ia pakai dulu. Melihat itu, Sheina merapatkan bibirnya lalu mengambil handuk itu dengan keraguan. Di dalam hati, ia bertanya-tanya kenapa Allucard juga masih menyimpan handuk miliknya dan bahkan diletakkan di tempatnya seolah-olah bisa dipakai kapan saja. Padahal kalau dipikir lagi, kedatangannya tidak ada yang tahu terlebih lagi lelaki itu. Apa selama ini Allucard benar-benar yakin ia akan kembali ke rumahnya? Entahlah, namun jujur saja Sheina merasa terharu dengan bibir tersenyum malu. Sheina mulai membuka baju-bajunya, ia sudah bersiap mandi kali ini, sampai saat telinganya mendengar suara Allucard tengah menghubungi seseorang. Awalnya, Sheina tidak memedulikannya, ia bahkan ingin menyalakan air agar tak mendengarkan obrolan lelaki itu. Namun saat Sheina mendengar Allucard memanggil lawan bicaranya dengan sebutan Mama, di saat itu lah Sheina mulai gelisah. "Halo, Ma." "Kabarku baik kok, Ma. Aku telepon cuma mau kasih tahu sesuatu ke Mama." Sheina mendelikkan matanya, ia memang tidak salah dengar sekarang, Allucard benar-benar sedang menghubungi mamanya. Dengan cepat, Sheina mengambil handuknya lalu memakai asal di tubuhnya. Kakinya berlari membuka pintu kamar mandi lalu menuju ke arah Allucard yang tengah menyenderkan punggung di ranjang. Tanpa mau permisi terlebih dahulu, Sheina langsung mengambil telepon lelaki itu. "Aku mau kasih tahu ke Mama kalau aku sudah bertemu dengan She ...." Suara Allucard terhenti saat teleponnya sudah beralih di tangan Sheina yang tampak ngos-ngosan nafasnya. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Sheina langsung mematikan sambungan teleponnya dan Allucard tak lagi terhubung dengan mamanya. "Sheina. Apa yang kamu lakukan?" Allucard menatap tak percaya ke arah Sheina, terlebih lagi saat melihat penampilannya yang hanya memakai handuk. Sedangkan ponselnya masih berada di tangan wanita itu, ekspresinya pun tampak serius. "Jangan kasih tahu Mama kamu kalau sudah bertemu denganku, apalagi memberitahunya tentang keberadaan ku sekarang. Orang tua kamu enggak boleh tahu aku ada di mana, apalagi sampai mereka tahu aku ada di rumahmu," ujar Sheina serius, ekspresi wajah terlihat tidak ingin bercanda ataupun ingin mengada-ada. "Tapi kenapa?" "Aku enggak bisa memberitahu alasannya." "Kamu ada masalah dengan orang tuaku? Kalau iya, sepertinya kamu cuma salah paham. Mamaku sangat ingin aku bertemu denganmu, hampir setiap aku menghubunginya, dia selalu menanyakan kamu. Tapi kenapa kamu malah melarang ku untuk memberitahu keberadaanmu?" Allucard tampak bingung, ia merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi antara Sheina dan orang tuanya. "Aku minta maaf, tapi aku enggak bisa kasih tahu alasannya. Aku harap kamu bisa mengerti." "Kalau aku enggak bisa mengerti, bagaimana?" tantang Allucard serius, ia ingin tahu apa yang akan Sheina lakukan. "Aku akan pergi lagi, aku juga akan membatalkan permintaanku." Sheina menjawab tak kalah serius lalu memberikan ponsel Allucard pada empunya. Allucard menerima ponselnya, ia menghembuskan nafas panjangnya untuk menenangkan perasaannya. Ia berhasil dibuat kacau dengan sikap Sheina sekarang, ia terus memikirkan dan menduga-duga apa yang ingin Sheina lakukan dan kenapa dia begitu menyembunyikan alasan dari semua tindakannya. "Oke. Aku enggak akan tanya alasanmu apa, tapi aku harap suatu saat nanti kamu mau menceritakan semuanya. Kamu juga harus ingat, aku adalah lelaki yang bisa kamu percaya, jadi jangan berusaha menahan beban kamu sendirian." Allucard menjawab serius yang didiami oleh Sheina dengan air mata yang hampir tumpah. "Aku minta maaf sudah mematikan sambungan teleponmu, aku mandi dulu." Sheina melangkahkan kakinya sembari tangannya menahan ikatan handuk di tubuhnya. Sesampainya di dalam kamar mandi, Sheina menumpahkan air matanya, tubuhnya meluruh jatuh ke lantai setelah menutup pintu. Di dalam hatinya, Sheina juga ingin mengatakan yang sebenarnya, namun tujuannya menemui Allucard bukan itu, terlebih lagi ia juga tidak mau memperpanjang masalah, ia harus segera kembali ke rumah orang tuanya. Di sisi lainnya, Allucard terdiam dengan banyak pertanyaan di otaknya, terutama saat memikirkan sikap Sheina yang begitu aneh. Wanita itu tampak memiliki banyak beban, yang harus dia sembunyikan dari banyak orang termasuk dirinya. "Sheina. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kamu begitu menutup diri? Memangnya hidup macam apa yang sudah kamu jalani selama ini?" gumam Allucard frustrasi, ia juga ingin tahu apa yang sudah terjadi pada hidup wanita yang ia cintai itu. Kenapa semuanya terlihat sulit untuk ia mengerti, seolah ia tak pantas untuk masuk ke hidupnya lagi. *** Sheina membuka pintu kamar mandinya dengan penampilannya yang lebih segar dari sebelumnya. Sedangkan Allucard tengah menunggunya, lelaki itu juga baru selesai mandi. Sheina yang memerhatikannya tentu saja merasa penasaran, terutama saat melihat Allucard sudah mengganti pakaiannya dengan rambut yang sedang basah. "Kamu baru mandi ya, Al?" tanya Sheina berbasa-basi, gara-gara kejadian tadi suasananya terasa canggung dan ia tidak mau terus-terusan seperti sekarang ini. "Iya, aku mandi di kamar mandi sebelah." "Maaf ya, mandiku lama ...." Sheina berujar menyesal yang kali ini disenyumi oleh Allucard. "Enggak apa-apa, sejak kita menikah kalau soal kamar mandi aku sudah biasa mengalah kan?" Allucard menjawab dengan tenang, yang disenyumi canggung oleh Sheina. "Iya ...." Sheina mengusap lehernya beberapa kali, ia yakin Allucard semakin merasa curiga dengan tingkah lakunya sekarang, hanya saja tertutupi dengan sikapnya yang berusaha terlihat biasa saja. "Kamu mau menonton film di lantai bawah?" tawar Allucard yang diangguki oleh Sheina. "Mau, tapi film apa?" "Kamu bisa pilih sendiri nanti. Aku juga baru pesan makanan, mungkin satu jam lagi sampai, jadi kita bisa makan malam setelah selesai menonton film. Bagaimana?" "Iya, aku mau." Sheina mengangguk setuju yang disenyumi oleh Allucard, lalu merengkuh tangan wanita itu dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. "Ya sudah ayo!" ujarnya tanpa menyadari bagaimana Sheina tersenyum di belakangnya. Sebenarnya Sheina sangat sadar, bila ia dan Allucard tidak ditakdirkan bersama, banyak hal yang membuatnya memilih untuk tetap diam. Namun Sheina sangat berharap bisa menghabiskan waktunya dengan baik bersama lelaki itu, sebelum ia pergi lagi dari hidupnya. "Rumah kamu kok sepi? Memangnya Bi Mina sudah berhenti bekerja dari sini ya?" tanya Sheina saat keduanya melewati tangga. "Enggak kok. Tapi kebetulan Bi Mina lagi pulang sekarang, mungkin beberapa hari lagi datang." "Oh ...." Sheina mengangguk paham, sampai saat kakinya berhenti saat Allucard menatap ke arahnya. "Kenapa? Kamu ingin bertemu dengan Bi Mina? Beliau pasti senang lihat kamu ada di rumah ini." Allucard berujar yakin yang disenyumi oleh Sheina. "Oh ya?" "Iya. Bi Mina kan sayang banget sama kamu, tapi aku yang lebih sayang sama kamu sih." Allucard menjawab penuh percaya diri, yang tentu saja mendapatkan tatapan tak percaya dari mata Sheina. "Tapi sayangnya aku enggak." Sheina menjawab jahil, yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari mana Allucard. "Apa kamu bilang?" tanya Allucard dengan nada serius, yang justru ditanggapi tawa oleh Sheina. "Mukamu lucu," ujar Sheina yang berhasil membuat Allucard kesal, lelaki itu bahkan melepaskan genggaman tangannya lalu menyilangkannya di depan dadanya. Tanpa mau menunggu Sheina, kakinya melangkah turun begitu saja, ekspresi wajahnya tampak malas dengannya. "Al, kamu marah? Al." Sheina mengikuti langkah lelaki itu dan memanggilnya beberapa kali, namun jawabannya hanya dengan gumaman seolah sengaja tidak ingin mengacuhkannya. "Hm," jawabnya acap kali Sheina memanggil namanya. "Aku minta maaf. Aku hanya bercanda, aku juga sayang sama kamu, Al. Jangan marah ya?" Sheina menatap dengan mata memelas ke arah Allucard, namun tampaknya tak mempan untuk lelaki itu. "Kalau sayang enggak mungkin kamu pergi dan mengajukan perceraian tanpa alasan. Enggak usah merayuku, aku percaya dengan ucapanmu di awal. Kamu memang enggak pernah menyayangiku apalagi mencintaiku." Allucard menghembuskan nafas kesalnya sembari terus melangkah ke arah ruang keluarga, di mana ada televisi yang dulu sering ia gunakan untuk menonton film bersama Sheina. "Al, kamu masih marah?" Sheina bertanya hati-hati setelah lelaki itu duduk di sofa dan diikuti olehnya. "Aku bahkan ingin membencimu, tapi sayangnya aku enggak bisa, lalu bagaimana mungkin kamu masih tanya apa aku masih marah?" "Aku minta maaf, Al." "Sudahlah. Toh kamu datang bukan sepenuhnya untuk menemuiku, kamu datang untuk alasan lain yang enggak aku tahu. Lalu apa gunanya kata maaf? Apa bisa membuat kamu kembali bersamaku?" tanya Allucard yang didiami oleh Sheina. Jujur saja Sheina juga ingin mengatakan iya, namun sayangnya hati dan pikirannya mengatakan tidak bisa, karena niat awalnya bukan untuk kembali bersama dengan Allucard. "Lihat, kamu cuma diam kan? Aku memang enggak pernah berharga buat kamu." "Bukan begitu ...." "Aku enggak mau membahasnya lagi, lebih baik kamu setel film yang kamu suka!" pinta Allucard yang hanya Sheina angguki lalu menghidupkan televisi dan mencari file film yang bisa ia nikmati. "Kamu mengoleksi banyak film baru ya?" tanya Sheina berbasa-basi, ia tidak mau suasananya secanggung sekarang ini. "Hm." "Kamu pasti suka menonton film selama ini. Tapi kenapa banyak yang bergenre romance, bukannya kamu suka film action ya?" "Ya." "Kenapa kamu banyak mengoleksi film romance?" tanya Sheina lagi dengan nada yang sedikit lebih lirih, namun sepertinya Allucard tampak tidak menyukainya, bisa dilihat dari caranya menatap jengah ke arahnya. "Kamu tambah cerewet sekarang ya? Aku mengoleksinya karena kamu menyukai film semacam itu, puas? Cepat tonton saja salah satunya, aku lagi enggak mood bicara sekarang." Allucard menjawab malas yang diangguki oleh Sheina lalu menyetel filmnya, diam-diam bibirnya juga tersenyum mendengar Allucard begitu memerhatikannya meskipun pada saat itu ia tidak berada di sisinya. *** Allucard begitu asyik bermain ponsel, sedangkan Sheina tengah menonton film di sampingnya. Awalnya wanita itu terdengar suaranya, suara gemas dan tawa kecil dari bibirnya. Namun di beberapa menit kemudian, tidak ada suara apapun darinya, hanya suara televisi yang terdengar, sampai saat Allucard merasa pundaknya disenderi oleh seseorang, ternyata Sheina yang sudah terlelap di sisinya. "Sheina, kamu sudah tidur?" tanyanya, namun tidak ada jawaban dari wanita itu, yang semakin membuat Allucard yakin sekarang. "Kamu pasti kelelahan," gumamnya sembari tersenyum lalu terdengar suara bel pintu, Allucard buru-buru membaringkan Sheina di sofa dengan kakinya juga ia angkat. Setelah dirasa cukup nyaman, Allucard meninggalkan Sheina dan berjalan ke arah pintu. "Ini pesanan Anda, Pak. Maaf menunggu lama." Seorang kurir makanan memberikan banyak bungkusan pada Allucard yang mengangguk dan mengambilnya. "Iya. Terima kasih." Setelah mengucapkan itu, Allucard membawa bungkusan itu ke kulkas, Sheina tidak akan memakannya, jadi ia memilih untuk menyimpannya. Setelah selesai, Allucard kembali menghampiri Sheina, ia akan membawa wanita itu ke kamar dan mengistirahatkannya dengan nyaman. Allucard begitu berhati-hati saat akan menggendong tubuh Sheina, ia tidak ingin wanita itu terbangun dari tidurnya. Setelah cukup lama dan penuh kehati-hatian, akhirnya Allucard berhasil membawanya masuk ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Malam ini, Allucard hanya ingin memandangi wajah Sheina hingga terlelap. Ia begitu merindukannya selama ini, tentu saja saat ini adalah hal yang sudah ia mimpi-mimpikan setiap malam. Sampai saat Allucard ingin menyentuh Sheina, tangannya tergerak membelai wajah yang tampak pulas di alam bawah sadarnya. "Aku masih sangat mencintaimu, Sheina. Sangat- sangat mencintaimu." *** Keesokannya, Allucard membuka matanya dengan tubuh lebih segar dari pagi-pagi sebelumnya, bibirnya bahkan tersenyum sembari mengembuskan nafas panjangnya menikmati suasana pagi yang berbeda. Namun belum sempat ia meregangkan otot-ototnya, Allucard dibuat takut saat tak mendapati Sheina tidak ada di sisinya. "Sheina," panggilnya kebingungan sembari membangunkan tubuhnya lalu mencari keberadaan wanita itu di sekitar kamarnya. "Sheina, kamu di mana? Kamu di kamar mandi?" panggil Allucard lagi, namun tidak ada yang menyahutnya, ia bahkan langsung membuka pintu kamar mandi mencari wanita itu di sana, namun tidak ada seorang pun di dalamnya. "Kenapa Sheina enggak ada? Apa aku cuma mimpi tadi malam? Tapi enggak mungkin." Allucard tampak cemas, ia mencari barang atau pakaian yang Sheina bawa. Dan ia tidak menemukan ponsel ataupun tas milik wanita itu, sedangkan koper miliknya masih ada di lantai bawah. Tadi malam Hendra membawanya dari kantor ke rumahnya, sekarang Allucard harus mencarinya, ia ingin memastikan kedatangan Sheina bukanlah khayalan semata. "Aku yakin kemarin Sheina datang menemuiku, tapi kenapa sekarang dia enggak ada? Apa dia sudah pergi lagi? Enggak. Aku enggak bisa kehilangan dia lagi, aku harus mencarinya." Allucard berjalan cepat menuruni tangga, hatinya merasa takut kehilangan lagi wanita yang sama, matanya bahkan berkaca-kaca seolah tidak siap merasakan sakit untuk yang kesekian kalinya. "SHEINA," panggil Allucard dengan nada frustrasi, pikiran wanita itu pergi lagi dari hidupnya sudah memenuhi otaknya saat ini. Sampai saat ia tidak menemukan koper milik wanita itu di tempatnya tadi malam, di saat itu lah tubuhnya melemah seolah tak memiliki tenaga. "KAMU BERANI MENINGGALKAN AKU LAGI? KAMU MAU LIHAT AKU MATI, HA? AKKHHH ...." Allucard berteriak frustrasi, ia tidak tahu lagi harus bagaimana, tubuhnya meluruh jatuh dengan air mata yang sudah tidak sanggup lagi ia tahan. Allucard menangis sejadi-jadinya, wajahnya memerah menahan amarah dan luka di hatinya. Ia pikir Sheina kembali meninggalkannya, artinya ia tidak akan bisa menemui wanita itu lagi, terlebih lagi menyatakan perasaannya yang begitu mencintainya dan takut kehilangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN