Part 04
Allucard menutup pintu ruangannya, sedangkan otaknya masih memikirkan ucapan Aiden. Sepertinya temannya itu sangat serius dengan perkataannya, yang berhasil membuat Allucard merasa takut Sheina akan menjadi milik lelaki lain termasuk salah satu dari temannya. Dengan perasaan kurang nyaman, Allucard melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Sheina yang tengah menunggunya.
Wanita itu begitu cantik, namun tidak ada yang memilikinya, Allucard bisa kehilangan dia kapan saja. Sekarang apa yang harus Allucard lakukan, karena jujur saja ia masih sangat mencintai wanita itu, mustahil membiarkannya pergi terlebih lagi dimiliki lelaki lain.
"Kok Fathur dan Aiden enggak masuk, Al?" tanya Sheina yang seketika menghancurkan mood Allucard dengan sangat mudah, bisa dilihat dari caranya menghembuskan nafas dengan tatapan jengah.
"Fathur? Aiden? Sekarang kamu berani ya panggil mereka dengan sebutan nama?" tanya Allucard sembari mendudukkan tubuhnya di samping Sheina lalu menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Memangnya kenapa?"
"Panggil mereka dengan sebutan Pak!"
"Kamu selalu saja seperti itu, menyuruhku untuk memanggil mereka dengan sebutan Pak, padahal mereka sendiri yang ingin aku panggil dengan sebutan nama dari dulu." Sheina tampak tak suka saat Allucard selalu melarangnya tentang ini dan itu bila mengenai kedua temannya.
"Supaya kamu dan mereka enggak terlihat dekat."
"Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan mereka? Mereka semua baik kok." Sheina masih berani menjawab meskipun dengan nada lirih, yang tentu saja membuat Allucard kesal.
"Kamu itu polos atau bodoh? Jelas-jelas mereka ada maunya sama kamu, jadi enggak usah dekat-dekat sama mereka." Allucard menjawab kesal, tatapannya melirik tak suka ke arah Sheina yang terus membantahnya.
"Aku tahu kita sudah bukan suami istri lagi, tapi apa kamu enggak bisa bersikap lebih lembut sedikit?" Mata Sheina sudah berkaca-kaca sekarang, saking sakitnya ia diperlakukan kurang baik oleh mantan suaminya itu.
"Aku minta maaf. Aku cuma enggak mau kamu terlalu dekat dengan teman-temanku, meskipun aku tahu mereka sangat baik."
"Sudahlah, aku mau pergi." Sheina mendirikan tubuhnya, nada suaranya juga tampak kesal kali ini.
"Kamu mau pergi ke mana? Jangan pernah kamu coba-coba lari dari aku lagi!" Allucard menahan tangan Sheina, sorot mata tajamnya begitu ingin mengintimidasi, namun Sheina justru menghela nafas lalu melepaskan tangan lelaki itu.
"Astaga, Al. Aku ini lapar, aku cuma mau makan, setelah turun dari pesawat aku belum makan sama sekali," jawab Sheina lelah, merasa tak percaya dengan ucapan Allucard yang berlebihan.
"Pesawat? Berarti selama ini kamu tinggal di luar kota?" Allucard mendirikan tubuhnya dan menatap ke arah Sheina yang tertunduk menghindari tatapannya.
"Iya ..."
"Pantas saja aku enggak pernah menemukanmu meskipun aku sudah lama mencari mu, ternyata kamu tinggal di kota lain selama ini."
"Kenapa juga kamu mencariku?" Sheina merasa tersanjung saat Allucard mengatakan hal itu, seolah lelaki itu begitu mengkhawatirkannya pada saat itu.
"Menurutmu karena apa?"
"Aku enggak tahu, makanya aku tanya."
"Sudahlah, ayo kita pergi makan." Allucard menarik tangan Sheina yang tampak terkejut meskipun kakinya berusaha mengimbangi langkah lelaki itu.
"Kamu juga mau makan?"
"Iya," jawab Allucard singkat, tanpa menyadari bagaimana Sheina tersenyum di belakangnya, merasa bahagia saja bisa dekat dengan lelaki itu lagi. Meskipun waktunya bersamanya, tidak bisa dikatakan lama karena Sheina harus segera kembali pulang setelah rencananya berhasil.
***
Setelah makan, Allucard mengajak Sheina pulang ke rumahnya, ia ingin wanita itu beristirahat dengan nyaman di kamarnya. Allucard memang memutuskan untuk tidak kembali ke kantornya, karena hari juga sudah hampir sore, akan sangat memakan waktu bila mereka harus kembali ke sana.
Sheina yang baru masuk ke rumah yang dulu pernah ditinggalkannya itu, tentu saja awalnya merasa tak asing. Itu karena suasananya masih sama seperti dulu, begitupun dengan barang-barang yang masih tertata rapi di tempatnya. Tidak ada yang berubah, bahkan foto pernikahannya dengan Allucard masih terpajang di beberapa bagian ruangan.
"Ayo masuk!" ajak Allucard ke arah Sheina yang sempat terdiam dengan hati merasa bersalah.
"Kenapa cuma diam? Ayo masuk!" Allucard kembali berujar namun Sheina justru menghela nafas.
"Kenapa kamu enggak membuangnya?"
"Membuang apa?"
"Fotoku, foto pernikahan kita, pokoknya foto-foto yang berhubungan dengan kita. Kenapa kamu masih memajangnya?"
"Memangnya kenapa?"
"Fotoku enggak pantas ada di rumah ini. Bagaimana tanggapan orang tuamu melihat ini semua? Mereka pasti marah kan? Sebaiknya kamu buang saja semua barang yang berhubungan denganku, Al." Sheina berujar serius, namun Allucard justru tersenyum.
"Kalau aku enggak mau membuangnya bagaimana? Memangnya ada yang salah kalau aku masih menyimpan kenangan kita? Orang tuaku juga enggak pernah keberatan, mereka bisa mengerti aku."
"Mustahil," jawab Sheina sembari mengalihkan tatapannya, ia tidak percaya orang tua Allucard bisa mengerti keinginan putranya terlebih lagi tentang mantan menantu yang sangat dibencinya.
"Mustahil bagaimana?"
"Aku enggak tahu," jawab Sheina tak acuh, yang tentu saja membuat Allucard penasaran sekarang.
"Kamu aneh, memangnya ada apa dengan orang tuaku?"
"Enggak apa-apa. Mereka pasti sangat membenciku kan?" Sheina ingin mencari alasan lain, namun entah kenapa hatinya terasa sulit untuk menahan luka ini lebih lama lagi.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Kan aku yang dulu meninggalkanmu dan menceraikan kamu, jadi aku pikir orang tuamu pasti tidak akan menyukaiku lagi." Sheina menjawab dengan nada tak nyaman, namun Allucard justru tersenyum seolah apa yang Sheina katakan hanya leluconnya.
"Sok tahu," jawab Allucard sembari mencubit pipi Sheina, hingga empunya merasa kesakitan.
"Akh sakit, Al." Sheina mengusap pipinya dengan pelan, sedangkan ekspresinya tampak kesal sekarang.
"Makanya enggak usah sok tahu. Orang tuaku enggak pernah membencimu kok, mereka malah mengkhawatirkan mu. Kadang Mamaku tanya apa aku sudah menemukanmu atau belum? Itu artinya mereka enggak pernah ada masalah sama kamu kan?" ujar Allucard sembari tersenyum, namun tidak dengan Sheina yang tentu saja tidak akan percaya dengan mudah.
"Iya ...." Di luar mungkin Sheina menyetujui ucapan Allucard, namun di dalam hatinya ia masih tidak bisa melupakan semuanya.
"Ya sudah kalau begitu kamu masuk kamar sana, jangan lupa mandi, terus istirahat, nanti aku pesankan makanan kesukaan kamu untuk makan malam." Allucard menunjuk ke lantai atas dengan dagunya, namun Sheina justru tampak bingung dengan ucapannya.
"Memangnya kamarku sebelah mana?" tanyanya yang berhasil mendapatkan tatapan sinis dari mata Allucard.
"Apa empat tahun itu sudah menghilangkan sebagian ingatanmu? Kamar kita masih di tempat yang sama, enggak pernah berubah apalagi pindah, bagaimana mungkin kamu melupakannya?" sungut Allucard kesal, wanita itu benar-benar ingin diterkam atau apa, sikapnya terlalu menyebalkan.
"Maksud kamu ... kita sekamar?" tanya Sheina tak yakin, yang langsung Allucard angguki.
"Iya lah."
"Tapi sekarang kita bukan suami istri lagi, bagaimana mungkin kita bisa sekamar, Al?" Sheina merasa tak terima, namun Allucard justru menggenggam tangannya dan menariknya ke arah tangga.
"Siapa yang peduli? Ayo cepat masuk!"
"Tapi aku enggak mau kita sekamar, Al."
"Kamu bilang, kamu mau menuruti semua keinginanku kan?" Allucard menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Sheina yang tampak berpikir sekarang.
"I-iya, tapi enggak sekamar juga kan?"
"Sayangnya iya, kita harus sekamar!" Allucard kembali menarik tangan Sheina, ia tidak akan membiarkan wanita itu pergi lagi dari hidupnya.
"Al, kamu enggak serius kan? Kamu cuma bercanda kan? Sekarang kita sudah bukan suami istri lagi, bagaimana mungkin kita bisa sekamar?" Sheina terus mengeluh, yang tentu saja tidak dipedulikan oleh Allucard, lelaki itu bahkan terus melangkahkan kakinya ke arah kamarnya sembari terus menarik tangan Sheina.
"Kamu akan tidur di sini bersamaku, enggak ada tapi-tapian." Allucard menunjuk ke arah ranjangnya setelah masuk ke dalam kamarnya.
"Rumahmu kan besar, Al, kamarnya juga banyak. Aku bisa tidur di salah satunya kan, jadi kita enggak perlu sekamar ya?" Sheina memohon dengan mata harapan, yang tentu tidak akan mempan untuk Allucard.
"Kamu ini kenapa sih? Aku kan cuma memintamu untuk tidur sekamar denganku, aku juga enggak akan menyentuhmu sebelum kamu yang memintanya. Jadi kamu enggak usah terlalu khawatir sampai berlebihan, aku bisa menahan diriku kok." Allucard berujar yakin, namun Sheina justru tertunduk dan menggerutu.
"Takutnya aku yang malah enggak bisa menahan diri," ujarnya lirih.
"Apa kamu bilang!" tanya Allucard penasaran, suara Sheina terlalu kecil untuk ia dengar.
"Apa? Bukan apa-apa. Ya sudah kalau begitu aku mau tidur di kamar ini, tapi awas ya kalau kamu macam-macam." Sheina menunjuk ke arah Allucard yang mengangguk setuju dan bahkan tersenyum tipis, sampai saat Sheina melihat ke arah kedua tangannya, dengan tatapan sendu ia menggerutu dalam diam.
"Aku mungkin bisa mempercayai Allucard, tapi apa aku bisa mempercayai tubuhku sendiri? Sekarang saja aku merasa tanganku ingin lari ke arah Allucard dan memeluk tubuhnya." Sheina bergumam dalam hati sembari terus memerhatikan tangannya, ia takut tergoda dengan tubuh Jonathan yang sudah lama ia rindukan.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memerhatikan tanganmu?" tanya Allucard keheranan terlebih lagi saat melihat Sheina yang menghela nafas panjang beberapa kali.
"Enggak apa-apa." Sheina menjawab pasrah lalu melangkahkan kakinya ke ranjang, ranjang yang dulu pernah menjadi tempat istirahatnya.
"Kamu enggak mandi? Setelah itu kamu bisa beristirahat."
"Koperku kan ada di kantormu, kita enggak membawanya. Ingat?" Sheina menatap sekilas ke arah Allucard, lalu merenungkan nasibnya nanti selama di rumah ini.
"Iya. Aku tahu. Memangnya kenapa? Aku cuma menyuruhmu mandi kan? Kalau soal kopermu, aku sudah meminta Hendra untuk membawanya ke rumahku saat dia pulang." Allucard menjawab santai dan tenang, ucapannya terdengar tak memiliki beban dan Sheina sangat tidak menyukai cara bicaranya.
"Kamu pikir setelah aku mandi enggak butuh pakaian apa? Masa aku harus pakai baju yang sama?" jawab Sheina terdengar lelah, sepertinya Allucard bertanya hanya untuk menaikkan emosinya, lelaki itu semakin menyebalkan menurutnya.
"Di lemari itu masih ada pakaianmu, jadi kenapa kamu harus mengeluh tentang baju? Kamu bisa memakai salah satunya kan?" Allucard menjawab dengan nada yang sama, namun ditanggapi berbeda oleh Sheina.
"Pakaianku? Kamu enggak membuangnya?" tanya Sheina tak percaya, rasanya cukup mustahil bila Allucard masih mempertahankan barang-barangnya di lemari kamarnya, ya kecuali foto-foto mereka yang masih terpajang di rumahnya.
"Enggak." Allucard menjawab yakin.
"Tapi kenapa?"
"Karena aku yakin bisa menemukanmu lagi." Mendengar jawaban Allucard, pipi Sheina seketika memerah merasa terharu sekaligus tersanjung di waktu yang sama.
"Oh ya?"
"Enggak. Aku malas saja membuangnya, enggak ada waktu juga, aku ini sudah cukup sibuk dengan pekerjaanku. Mandi sana!" Allucard mendudukkan tubuhnya di ranjang lalu membaringkan tubuhnya, tanpa memedulikan bagaimana Sheina menatap kesal ke arahnya.
"Iya-iya," jawab Sheina sembari mendirikan tubuhnya lalu mencari baju di lemari lelaki itu, yang memang tidak ada yang berkurang dari terakhir Sheina meninggalkannya. Namun anehnya, baju-baju itu masih bersih dan wangi, padahal logikanya saja baju yang sudah tidak dipakai selama bertahun-tahun seharusnya sudah kotor dan bau lemari atau semacamnya.
Meskipun merasa aneh, Sheina memilih untuk tidak memikirkannya, ia harus mandi dan beristirahat, tubuhnya sudah cukup lelah sekarang. Saat Sheina memasuki kamar mandi, ia tidak akan menyadari bagaimana Allucard tersenyum diam-diam di tempatnya.
Allucard masih belum menyangka saja bila hari ini adalah hari yang sudah lama ia harapkan sejak lama, yaitu menemukan Sheina dan membawanya kembali pulang ke rumah. Meskipun Allucard sendiri masih belum mengerti, kenapa Sheina tiba-tiba pulang dan meminta hal aneh, yaitu menidurinya selama semalam. Namun yang pasti, Allucard masih harus mencari cara mempertahankan wanita itu untuk tetap berada di sisinya
"Apa memang cuma itu yang diinginkan Sheina? Lalu setelah aku menuruti permintaannya, apa dia benar-benar akan pergi lagi? Tapi bagaimana kalau aku enggak menuruti keinginannya, apa dia akan tetap bersamaku selamanya?" Allucard dibuat bimbang sekarang, merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk mempertahankan Sheina supaya tetap di sisinya.