Part 03

2066 Kata
Part 03 "Maksudnya meniduri?" Allucard bertanya dengan nada tak yakin, karena ucapan Sheina terdengar ambigu di telinganya. Namun wanita itu justru tampak kesal mendengar pertanyaan Allucard, wajahnya yang memerah ia buka dari balik jari-jarinya. "Jangan pura-pura enggak tahu, jelas-jelas kamu yang paling jago kalau soal begituan?" sungut Sheina kesal, yang berhasil menyunggingkan senyuman di bibir di Allucard. Lelaki itu bahkan mengangguk paham sekarang, seolah ia sudah mengerti maksud dari ucapan Sheina. "Oh aku yang paling jago kalau soal begituan? Berarti kamu enggak lupa ya rasanya?" tanyanya jahil, berbeda dengan Sheina yang tampak terkejut dan menyesali ucapannya sendiri. "Apa sih? MESUM." Sheina melempar bantal sofa ke arah Allucard, yang tampak tak percaya dengan kelakuannya. "Aku yang m***m? Kamu lupa ingatan atau apa? Baru beberapa detik yang lalu kamu meminta itu ke aku, berarti kamu yang mesum." Allucard menjawab tak terima, sedangkan Sheina hanya terdiam dengan wajah memerah, ia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana di hadapan Allucard. "Maaf ...." "Aku hampir muak mendengar ucapan maaf mu, kamu sudah mengatakannya berulang kali. Sekarang kamu katakan dengan jelas, sebenarnya apa yang kamu inginkan?" "Aku sudah bilang kan, aku ingin meminta bantuan ke kamu untuk meniduriku?" Sheina memperjelas keinginannya, ia benar-benar terlihat seperti wanita tidak tahu malu sekarang, namun ia harus menyampingkan rasa egoisnya itu. "Kamu memintaku untuk meniduri mu? Apa menurutmu itu semacam bantuan?" tanya Allucard tak mengerti, sebenarnya apa yang sedang Sheina rencanakan saat ini. "Menurutku iya," jawab Sheina serius karena ada nyawa yang harus ia selamatkan. "Apa kamu bilang?" Allucard bertanya tak percaya, merasa tak menyangka dengan jawaban Sheina, bagaimana mungkin hal itu bisa dikategorikan bantuan. "Aku tahu kamu bingung, tapi enggak ada cara lain selain dengan cara ini, aku harap kamu bisa mengerti dan mau membantuku tanpa harus memikirkan alasanku apa." Sheina menatap serius, sorot matanya tampak begitu tulus seolah ia benar-benar putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. "Kita hanya perlu melakukannya sekali, setelah itu aku akan pergi dan aku enggak akan pernah mengganggu kamu lagi. Tapi tolong bantu aku sekali ini saja, aku mohon?" "Setelah sekian lama kamu pergi, kamu datang cuma untuk alasan yang enggak jelas ini? Kamu enggak datang karena ingin menemuiku, apa kamu enggak pernah merindukanku selama ini?" tanya Allucard yang sempat Sheina diami. "Aku juga merindukanmu, Al. Tapi alasanku datang juga bukan ingin kembali bersama kamu." Sheina menjawab jujur, ada rasa bersalah di dalam hatinya. "Bohong. Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu meminta bantuan ku? Kenapa harus aku?" tanya Allucard serius, ia masih penasaran dengan apa yang sedang Sheina rencanakan. "Karena cuma kamu yang bisa membantuku, Al. Andai aku bisa melakukannya dengan lelaki lain, aku pasti enggak akan ke sini." Sheina menitikkan air matanya, seolah apa yang diucapkan Allucard begitu menyakiti hatinya. "Maksud kamu, kalau ada pilihan lain, kamu akan tidur dengan sembarang lelaki?" tanya Allucard tak terima, sedangkan Sheina berusaha mengalihkan tatapannya sembari sesekali menghapus air matanya. "Iya ...." Sheina menjawab ragu tanpa mau menatap ke arah Allucard yang kecewa dengan jawabannya. "Untuk siapa kamu sampai mau melakukan ini? UNTUK SIAPA?" sentak Allucard marah yang kian membuat Sheina menangis di tempatnya. "Itu bukan urusanmu, kamu juga sudah berjanji enggak akan tanya alasanku apa kan? Jadi tolong jangan bertanya lagi!" Sheina menghapus air matanya, berusaha menenangkan perasaannya yang tak karuan melihat Allucard marah. "Oke, aku enggak akan tanya ke kamu lagi, tapi aku akan cari tahu sendiri." Allucard menjawab serius, ia benar-benar akan mencari tahunya sendiri tanpa harus menanyakan langsung ke mantan istrinya itu. "Jadi apa kamu bisa membantuku?" tanya Sheina penuh harap, yang diangguki oleh Allucard. "Iya, aku akan membantumu. Kapan waktunya? Malam ini?" tanya Allucard yang digelengi kepala oleh Sheina. "Bukan. Tapi sekitar satu sampai dua Minggu lagi." Sheina menjawab mantap, yang kian membuat Allucard penasaran. "Kenapa harus menunggu selama itu?" "Karena itu masa suburku," jawab Sheina dalam hati, namun ia tidak mungkin mengatakannya pada Allucard, lelaki itu bisa saja semakin curiga. "Tolong jangan tanya alasannya, kamu hanya perlu melakukannya saat aku memintanya." "Lalu sampai di hari itu, kamu akan ke mana? Apa kamu akan pergi lagi?" tanya Allucard sembari memerhatikan ekspresi Sheina yang tak bisa ia baca. "Enggak. Aku mau tinggal di rumahmu, aku akan melakukan apapun yang kamu perintahkan, menjadi ART di rumah kamu juga enggak apa-apa, asalkan aku bisa membalas kebaikanmu." Mendengar ucapan Sheina, Allucard semakin yakin bila dirinya harus tahu kebenarannya kenapa Sheina begitu ingin melakukan hubungan seperti itu dengannya. "Oke. Aku terima tawaranmu," jawab Allucard yang langsung disenyumi oleh Sheina. "Terima kasih." "Hm," jawabnya singkat. Melihat Sheina tersenyum, jantung Allucard kembali dibuat tak karuan, wanita itu selalu berhasil mengacaukan pikirannya entah jauh ataupun dekat dengannya. "Kamu sudah berani kembali, itu artinya kamu enggak bisa berharap aku akan membiarkan kamu pergi lagi." Allucard bergumam dalam hati, menatap wanita itu dengan rasa egois di hatinya. "Apa sekarang pintunya bisa dibuka?" tanya Sheina memastikan, ia tidak bisa terus-terusan terkunci di ruangan yang sama dengan mantan suaminya kan. "Iya," jawab Allucard tenang dan dengan santainya membuka kemejanya di depan Sheina, yang seketika membulatkan mata melihat kelakuan mantan suaminya. "Apa yang kamu lakukan, Al? Kenapa kamu membuka kemejamu di depanku?" Sheina mulai menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, merasa waswas saja dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu. "Untuk apa lagi? Kuncinya kan aku masukkan ke dalam? Aku harus membuka kemeja untuk mengambilnya kan? Memangnya kamu mau terkunci di sini bersamaku selamanya?" Allucard menjawab tak habis pikir yang ada benarnya menurut Sheina. "Kamu kan bisa merogohnya, Al. kamu buka saja salah satu kancingnya, enggak usah membuka semuanya." Sheina menjawab lirih, merasa malu sendiri. "Kalau malah terselip di dalam celanaku, bagaimana? Berarti aku harus membuka resleting celanaku juga kan?" Allucard menjawab dengan nada yang sama sembari terus membuka kemejanya, sedangkan Sheina hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab apa-apa. "Kenapa diam?" "Enggak apa-apa, cepat ambil kuncinya!" Sheina mengalihkan tatapannya sedangkan Allucard mendirikan tubuhnya untuk mengambil kuncinya, tanpa menyadari bagaimana Sheina diam-diam mengintipnya. Sheina bisa melihat dengan jelas bagaimana perut lelaki itu masih berotot seperti dulu, membuatnya salah tingkah di tempatnya. Meskipun pada akhirnya Sheina berusaha menyadarkan pikirannya yang mulai kacau hanya karena melihat tubuh Allucard, padahal ia harus fokus dengan rencananya. "Ini kuncinya, buka sana!" Allucard melemparkannya ke arah Sheina yang dengan refleks menoleh ke arahnya untuk menangkap kunci itu. Namun bukannya menangkapnya, Sheina justru melihat ke arah Allucard yang tampak begitu tampan saat mengancing kembali kemejanya dan memperbaiki tatanannya. "Kuncinya jatuh tapi kenapa kamu malah menatapku?" tanya Allucard setelah merapikan kemejanya yang berhasil menyadarkan Sheina. "Ah iya, maaf. A-aku buka dulu pintunya," jawab Sheina gelagapan sembari mengambil kunci yang terjatuh lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di balik rasa penyesalan akan kebodohannya, Sheina tidak akan menyadari bagaimana Allucard tersenyum melihat tingkahnya. "Apa yang aku pikirkan sih? Kamu itu harus fokus dengan tujuanmu, Sheina. Kamu juga harus ingat, ada Allena yang sedang menunggu kamu di sana." Sheina berusaha meyakinkan dirinya sendiri sembari mengangguk mantap, ia tidak boleh lengah terlebih lagi terpanah dengan pesona Allucard. Sheina menghembuskan nafas panjangnya lalu membuka pintunya, namun justru mendapati dua lelaki tengah menempelkan telinga seolah ingin menguping pembicaraan. Tentu saja Sheina sangat terkejut melihatnya, meskipun ia sendiri tahu siapa mereka. Mereka adalah Fathur dan Aiden, sahabat baik Allucard. Sewaktu Sheina masih bekerja di sana dan belum menikah, kedua lelaki itu sering mengunjunginya dan mengajaknya makan siang. Padahal mereka bekerja di perusahaan yang berbeda dan entah kebetulan atau apa, Sheina datang di perusahaan Allucard sekarang saat mereka juga berada di sana. "Pak Aiden? Pak Fathur? Kalian juga ada di sini?" tanya Sheina sembari menyunggingkan senyumnya ke arah mereka yang berusaha tampak biasa-biasa saja, padahal ekspresi keterkejutan mereka tampak jelas di awal. "Iya, Sayang. Kamu apa kabar?" tanya Fathur yang dari dulu sering memanggil Sheina dengan sebutan seperti itu, padahal Allucard sudah sering menegurnya, namun nyatanya kebiasaannya itu tidak pernah berubah. "Kabarku baik, Pak." "Kamu enggak pernah berubah ya, panggil aku Pak terus?" Fathur memanyunkan bibirnya seolah tengah merajuk pada Sheina. "Bapak juga enggak pernah berubah panggil aku dengan sebutan sayang terus?" "Kan panggilan itu memang cocok buat kamu." "Panggilan Pak juga cocok buat Bapak." Sheina menjawab tak kalah pintarnya, yang kali ini ditertawai oleh Aiden. "Ya sudah, panggil aku dengan sebutan Fathur dan aku akan panggil kamu dengan nama Sheina, bagaimana?" Fathur berujar kesal yang kali ini diacungi jempol oleh Sheina. "Aku juga ya, jangan panggil aku dengan sebutan Bapak, panggil aku dengan nama Aiden. Toh kamu juga bukan karyawan lagi di perusahaan ini," sahut Aiden yang diangguki oleh Sheina diiringi senyuman manis di bibirnya. "Iya, Pak ... eh maksudku Aiden." Sheina menjawab ramah, membuat kedua lelaki itu tersenyum dengan mata terpesona, sampai saat ekspresi mereka berubah kesal dalam sekejap mata setelah Allucard datang dan berdiri di belakang wanita itu. "Setan lo. Kenapa lo kunci pintunya ini? Gue sama Aiden sudah takut Sheina lo grepein ... tapi wait! Bukannya lo tadi pakai setelan jas ya? Kok sekarang lo cuma pakai kemeja dengan kancing atas terbuka?" Fathur bertanya dengan memicingkan mata yang juga mendapatkan tatapan sama dari Aiden, namun Allucard justru tampak tenang, berbeda dengan Sheina yang ingin menjelaskan. "Tolong jangan salah paham, Allucard tadi kepanasan di dalam, makanya jasnya dibuka." Sheina yang tidak ingin mereka salah paham, berusaha mencari cara untuk meluruskan pemikiran kotor keduanya. "Oh kepanasan?" gumam Fathur percaya, sedangkan Aiden hanya mengangguk paham. "Kalian ini bodoh atau bagaimana? Sheina itu sedang membohongi kalian, cuma untuk menutupi fakta kalau dia yang sudah membuka jas gue dan kalian pasti tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?" Allucard berujar sinis, nada suaranya tampak tak ada kebohongan yang berhasil membungkam bibir kedua sahabatnya. "Enggak, Allucard bohong. Aku enggak pernah buka jas dia, sumpah!" Sheina mengacungkan kedua jarinya. "Oh ya? Kalau begitu kamu kasih tahu alasannya ke mereka, kenapa kamu tiba-tiba datang setelah pergi hampir empat tahun lamanya!" Allucard sengaja menantang Sheina, ia ingin tahu jawaban apa yang akan wanita itu katakan. "Iya, kenapa kamu tiba-tiba datang setelah kamu pergi tanpa kabar selama ini?" tanya Aiden penasaran, namun Sheina tampak tidak bisa mencari alasan yang kuat untuk ia jadikan benteng pertahanan. "Ada hal penting yang ingin aku katakan ke Allucard, tapi aku enggak bisa mengatakannya, maaf." "Sudahlah, kenapa juga harus menutupi kebenarannya dari mereka? Mereka berhak tahu kalau kamu sangat merindukan aku, makanya kamu datang menemuiku." Allucard merengkuh pinggang Sheina dengan sengaja, yang tentu saja mendapatkan tatapan tajam oleh empunya. "Kalian ... mau rujuk?" tanya Fathur tak yakin, namun Sheina langsung menggeleng tak terima. "Enggak." Sheina menjawab bersamaan dengan Allucard, yang membedakannya hanya jawaban dari keduanya. "Iya." Allucard menjawab santai, yang berhasil membuat kedua temannya merasa terheran-heran sekarang. "Yang satunya jawab iya, yang satunya jawab enggak. Jadi yang benar yang mana?" sungut Fathur kesal, ia baru saja bahagia melihat Sheina kembali, namun ia justru mendengar wanita itu akan rujuk dengan temannya. "Sheina, kamu duduk di sofa sana!" perintah Allucard ke arah wanita itu, namun kakinya tidak melangkah dan tetap di tempatnya. "Enggak. Aku cuma mau menjelaskan, kalau aku dan Allucard enggak ...." "Kamu masih ingat kan, kamu akan menuruti semua keinginanku? Jadi cepat ke sofa atau aku enggak mau bantu kamu," ancam Allucard yang didiami oleh Sheina, merasa tidak bisa berkata apa-apa padahal ia hanya tidak mau ada yang salah paham tentang hubungannya dengan Allucard. "Iya-iya," jawabnya malas lalu berjalan ke arah sofa, meninggalkan ketiga lelaki itu yang entah sedang membicarakan hal apa. "Lo mau bantu Sheina apa? Kenapa dia bisa nurut sama lo?" tanya Aiden terdengar khawatir, sepertinya Sheina tampak tertekan. "Iya, kenapa dia sampai mau menuruti semua keinginan lo?" tanya Fathur kali ini sembari sesekali menatap ke arah Sheina yang terlihat sendu di tempatnya. Allucard yang menyadari teman-temannya masih merasa penasaran dengan Sheina, seketika mendorong pelan mereka dan menutup pintu ruangannya. "Itu semua bukan urusan kalian. Tapi satu hal yang harus kalian ingat, Sheina masih tetap milik gue, jadi enggak ada yang boleh mendekati dia apalagi terang-terangan menggoda dia!" Allucard berujar serius, namun Aiden tampak tak memedulikannya. "Dulu gue membiarkan lo menikahi Sheina, karena gue pikir lo bisa menjaga dia lebih dari gue, tapi kenyataannya lo yang malah buat dia pergi. Sekarang kalian sudah bercerai, itu artinya lo enggak bisa mengklaim Sheina milik lo seenaknya. Sebelum Sheina memiliki hubungan dengan orang lain, dia bisa saja menjadi milik siapapun termasuk gue." Aiden menjawab tak kalah serius, yang tentu saja membuat Fathur maupun Allucard terkejut. Saat mereka sama-sama berjuang mendapatkan hati Sheina, Aiden yang paling tidak banyak usaha, lelaki itu tak terlalu menonjolkan rasa sukanya, berbeda dengan Fathur dan Allucard. Rasanya cukup mengejutkan mendengar kalimat Aiden sekarang, bisa dilihat dari ekspresi kedua temannya yang menganga tak percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN