Risa Again

1019 Kata
Risa Prov Baru satu minggu yang lalu aku cekcok dengan Redi karna dia kepergok sedang cupika-cupiki di kantin bersama Desi teman semeja ku. Hari ini aku mendapati Redi terus curi-curi pandang dengan Mouza. Selama jam pelajaran Redi terus memandang Mouza, dan yang paling menyebalkan Mouza malah memberi senyuman pada Redi. Rasanya aku ingin mencakar orang. Aku lihat mereka saling pandang. Bukuku yang tadi ku ukir dengan rapi untuk mencatat agar aku gampang nantinya membaca malah jadinya aku coret-coret. Pengen rasa aku keluar ke toilet mengambil air di kloset untuk menyiram wajah Redi yang sok ganteng dan sok playboy. Aku memandang Mouza, mencoba memberi isyarat agar berhenti meladeni Redi, ia malah mengabaikanku. Sumpah hari ini Mouza menjadi orang paling menjengkelkan di dunia ini. Ingin rasa nya aku masukkan dia ke dalam karung lalu ku ikat dengan tali dan ku buang kelaut. Mouza ini polos apa b**o' sih? Dia bahkan lebih dari tahu siapa itu Redi. # Bel istirahat berbunyi. Mouza mengajak aku dan Desi ke belakang kelas katanya ada yang ingin ia bicarakan. "Des, kamu udah putus sama Redi?" ucapan Mouza barusan membuat aku geleng-geleng kepala. Apa maksudnya Mouza bertanya seperti itu? "Iya, kami pacaran cuma seminggu," ucap Desi yang sama polosnya denga Mouza. "Kamu ngak marah kan, kalau nanti aku pacaran sama Redi?" What? ucapan Mouza barusan membuat dadaku rasanya habis di sambar petir. Aku hanya menggeleng-geleng kepala tak habis pikir dengan jalan pikiran Mouza. Aku lebih memilih meninggalkan mereka berdua dari pada aku kebablasan mencakar wajah polos dan b**o' mereka berdua. Setela dari kantin ku lihat Mouza sedang bercanda dan tertawa bersama teman-teman akrab Redi, ada Redi juga di sana. Aku hanya diam pura-pura tidak tahu. Sudahlah aku tidak perlu perduli dengan Mouza yang tidak perduli dengan dirinya sendiri. Dia tahu kalau dia bakalan di b**o'-b**o'i tapi dia tetap saja mau. Sungguh dia bukan lagi Mouza yang aku kenal. # Bel pulang berbunyi. ketika hendak keluar Anwar menyenggolku lalu menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin dia heran aku tidak mengomel hari ini. Aku sedang malas, taramat malas melihat pemandangan hari ini yang teramat panas. Darahku terasa sudah mendidih. "Risa tungguin?" aku dengar Mouza memanggilku, tapi aku enggan menoleh. Aku berlalu pergi tanpa melihat ke belakang. Biarlah Mouza dengan apa yang ia suka jika nanti dia kecewa itu bukan salahku. Aku bahkan sudah beribu kali menasihatinya. Saat aku keluar parkiran ku lihat Mouza di pinggir jalan di hampiri Redi. Pengen rasanya aku tabrak saja hingga Redi tersungkur di aspal panas. Aku berlalu pergi mengendarai motor bebekku yang butut. # Mouza prov Hari ini beberapa kali aku menegur Risa namun dia tidak meenjawab. Setelah kejadian kemarin apa Risa begitu membenci ku? Apa terlalu salah menerima Redi? Lagian ngapain juga aku nerima dia, aku jadi mengacaukan banyak hal. Sekarang Desi juga sepertinya membenciku dan teman-temannya Desi sepertinya juga ikut-ikutan membenciku. Tapi aku tidak perduli tentang Desi dan teman-temannya. Yang ngak enak adalah Risa mengabaikanku. Selama jam pelajaran aku tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Teman-temannya Redi yang sekarang akrab dengan ku, Reni dan Fitri duduk di bagian belakang, ribet kalau mau komunikassi dengan mereka. Sementara Risa bahkan meneoleh ke arahku saja dia tidak mau. Apa aku putusin dulu si Redi tarus minta maaf ke Risa? Rasanya kok hampa ngak ngomong sama Risa. Aku ajak Salsa aja deh ke kantin nanti. Jam istirahat aku ke kelas Salsa untuk mengajaknya ke kantin, tapi sayangnya Salsa sudah ke kantin duluan. Aku duduk termenung sendirian di kursi depan perpustakaan. "Mouza itu liat temen barunya Redi, mereka kayaknya akrab banget," ucap Reni yang entah kapan dia datang, ia menunjuk cewek di dekat Redi yang entah namanya siapa. Aku mengamati cewek yang dimaksud Reni. "Itu temennya atau mereka udah jadian?" tanyaku yang pada Reni. "Kurang tahu, kayaknya cuma teman deh. Soalnya aku yakin Redi sukanya sama kamu," ucap Reni malah meyakinkanku. Aku sudah kurang perduli tentang Redi. Rasanya aku sedang patah hati, tapi bukan karna Redi dekat dengan cewek lain. Melainkan karna Risa yang berubah irit bicara dan menggabaikanku "cuy," Salsa menepuk bahuku, membuatku kaget. "Ngelamunin apa?" tanya Salsa. Aku baru sadar ternyata Reni dan Fitri tadi yang di dekatku sudah tidak ada lagi. "ngak, tadi aku nyariin kamu," aku menyangkal. "Aku ke kantin, kamu nyariin aku ada apa. Apa kangen atau karna aku terkenal dan kamu mau photo bareng gitu. Hehe," candaan Salsa malah ngawur. "Ewww... enak aja. aku tadi mau ngajak ke kantin, tapi kamu udah ke kantin duluan," ucapku dengan nada tinggi. "Oh... ya aku tadi ke kantin bareng Eja," Salsa menunjuk Eja yang berada di depan kelas mereka. Salsa dan Eja satu kelas. Karna kelasnya bersebelahan dengan perpus jadi ketika di tunjuk Salsa, Eja menoleh dan senyum padaku yang sedang memandang ke arahnya. "Mmm, pulang sekolah jalan yuk! tapi kamu yang jemput," ajakku pada Salsa. "Aku liat keadaan dulu ya, Kalo ngak sibuk-sibuk amat nanti aku jemput. Nanti aku kabarin lagi aja," ucap salsa dengan tanga didekat telinga mengisaratkan sebuah telpon. " Oke deh" # Di kelas aku yang duduk sendirian terpaksa harus fokus belajar karna tak ada lagi teman mengobrol di dekat mejaku. Sesekali aku memergoki Redi yang memandangiku dari meja nya yang agak jauh dariku. Risa masih enggan berbicara, ia masih tidak ingin menoleh ke mejaku. Beberapa kali aku mendapati Desi dan teman-temannya berbisik-bisik sambil melirikku. Entah apa yang mereka bicarakan. "Siapa yang mau mengerjakan soal nomor satu di papan tulis? kalo bener Bapak kasih nilai plus 80," ucap Pak Martih guru Matematika. Aku mengangkat tangan. Pak Martin mempersilahkan aku untuk maju ke depan. Aku menyelesaikan soal nomor satu dengan benar dan mendapat nilai plus. Aku memang sering maju ke depan mengerjakan soal, entah itu MTK, Fisika, Kimia atau yang lainnya. Biarpun aku menyontek sekalipun aku tetap maju ke depan. Aku selalu ingin menjadi yang pertama maju mengerjakan soal karna bisanya yang pertaman nilai plus yang di berikan guru paling tinggi. Meskipun mencontek aku selalu mempelajari jawaban yang aku contek. Terkadang aku mengubah jawaban yang aku contek jikalau aku yakin jawaban itu keliru. Dan bahkan nilaiku terkadang lebih besar dari nilai Risa yang sering memberikan ku contekan. Kasihan sekali Risa mendapat teman sepertiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN