Semenjak aku di belikan motor baru sama Mamak, gantian setiap hari aku yang jempul Zul. Tapi setiap kali ku jemput dia pasti masih molor, mendengkur berkuasa di atas kasurnya sendirian. "ZUL..." teriak Mbak Yana Kakak perempuanku yang pertama. "Mmmm,..." Zul menyaut entah sadar atau tidak. Sepertinya keluarga kami terhitung dari orang-orang yang pemalas. "BANGUN,... dari tadi di bangunin juga, ini bibi mu udah datang ini," suara Mbak Yana menggemparkan seisi rumah. Yang di bangunin Zul yang keluar malah Bapaknya Zul yang datang dari arah kamar depan. Soal bangun membangun kan sepertinya Bapaknya Zul kurang perduli, ia hanya melewatiku yang duduk di kursi meja makan untuk menuju kamar mandi. Jika aku tunggu dengan duduk maka dengkuran Zul justru akan semakin keras. Aku masuk ke kamar

