Pacaran?

978 Kata
"Hai leh kenalan ngak?" aku menatap SMS tak di kenal di layar hanphone ku. Aku memilih mengabaikannya ke timbang menggunakan SMS gratisku yang menggunung. "Kring...kring...kring" bunyi nokia jadulku memecah sunyi di dalam kamarku yang gelap karna padamnya listrik di malam itu. Di layar bertuliskkan NO PRIBADI. "Hallo!!!" aku menjawab panggilan. "Hallo Mouza," terdengar suara serak di seberang sana. "Kamu siapa? tahu nomor aku dari mana?" suara ku cetus. "Aku Andri dari kampung dua," jawabnya dengan nada cengengesan. "Terus tahu nomor aku dari mana?" aku mengulang pertanyaan yang sama. "Kalo itu rahasia, nanti kamu marah lagi. Hehe" dari nada bicaranya ku tebak dia berumur sekitar 20 tahunan. "Terus ngapain nelpon aku?" tanya ku bernada tidak suka. "Ya, karna aku suka kamu. Hehe" jawabannya dengan tetap cengengesan. Aku hanya diam, memikirkan harus bilang apa supaya kelak dia tidak menggangguku lagi. "Kamu Andri yang mana? andri kampung dua kan banyak," aku mulai berbicara dengan nada lembut. "Itu... yang rumahnya deket jalan lingkar desa," dia mencoba menjelaskan. "Oh... itu." nada bicaraku ber ayun-ayun sedang mengingat jelas wajah orang yang menelponku. Andri deket jalan setapak kan yang madannya kekar, hitam dan wajahnya sangar. Ternyata gaya bicaranya tak sesangar wajahnya. "Mouza aku to the point aja ya. Aku suka sama kamu. Kamu mau ngak jadi pacar aku?" Andri menembak dengan nada amat-termat santai seolah yang di tembak adalah anak kucing tetangganya. Wah, bahaya ni orang. Kayak nya dia lagi uji nyali deh. "Aku ngak bisa, aku belum boleh pacaran," aku memikih bahasa yang paling halus untuk menolaknya agar dia tidak marah. Membayangkan badannya yang kekar sedang marah membuat bulu kudukku merinding. "Ngak apa-apa Mouza kita kan bisa coba dulu," Andri dengan nada yang masih teramat santai, entah dia pandai berekting atau tebakanku benar kalau dia sedang menjalankan misi taruhan. "Pacaran ngak bisa coba-cobalah, kalo ketauan kan gawat. Maaf ya aku ngak bisa. Kamu coba cewek lain aja ya," saranku pada Andri yang sepertinya tidak menyukaiku namun sedang bermain belaka. "Ayolah Mouza, kita coba dulu. Aku yakin kamu ngak bakalan kecewa sama aku," nada Andri malah berubah seperti sedang memohon. "Kamu pernah belajar Bahasa Indonesia ngak?" aku mulai emosional. "Pernah waktu SD," ucapan Andri bernada polos namun aku tahu dia mengerti maksudku. "Nah, berarti ngerti dong maksud aku dari perkataan aku apa. Kamu ngak bisa maksa orang yang ngak bisa harus menjadi bisa," nada bicaraku mulai keras. "hmm... Ya udah deh kalo ngak bisa. Aku tunggu ya sampai kamu bisa," ucap Andri seolah dia orang paling tersantai di dunia. Perkataanya yang terakhir malah membuat emosiku rasanya mau meledak. Dia sedang mempermainkan aku atau apa? Aku langsung mematikan ponselku dan membantingnya kasar di kasurku. Ada banyak laki-laki seperti Andri bermunculan semenjak aku masuk SMA, tiba-tiba menelpon entah dapet nomor ku dari mana dan ngak lama kemudian nembak. Mereka pikir aku layaknya boneka mainan yang di perebutkan anak-anak. Sepertinya nomor ponselku sudah tersebar luas sekampung halamanku ini. Haruskah aku mengganti nomorku? Aku teramat menyayangi nomer ini. Bayangkan jika ada yang nemenin kamu dari masa-masa kamu jauh dari keluarga dan dialah yang suka membantu kamu. Begitulah nomerku bagiku, seperti seorang sahabat yang sudah lama bersama. Tapi jika terus mempertahankan aku akan terus di ganggu bahkan hampir tiap malam. # "Mouza bangun subuh, cepet bangun sholat!" suara mamak ku dengar samar. Mataku masih enggan terbuka, rasanya ada satu yang menindihnya. Mungkin itulah yang dinamakan iblis penggoda. 'Apa iblis penggoda?' aku langsung bangkit mengingat iblis penggoda yang menindih kelopak mata agar enggan bangun ketika subuh. Ku coba melotot meregangkan urat mata yang kaku karna sudah terpejam semalaman. Segera aku berwudhu dan menunaikan sholat fardhu yang roka'atnya paling sedikit itu. Selesai sholat Mamak menyuruhku memasak nasi dan masak air untuk ngopi karna kami sekeluarga pencinta kopi. Mataku rasanya masih berat dan mau balik ke peradaban terindah yaitu kasur yang terasa empuk ketika ngatuk menyerang. Tapi aku mencoba melawan takdir mata yang tidak hanya untuk melihat namun juga untuk tertidur. Kebiasaan kami atau lebih tepatnya aku, Mamak dan Kak Adi ketika pagi adalah ngopi di selingi roti dengan mengobrol ringan. Tapi tidak dengan Bapak yang kalau tidak di kamar maka Bapak akan duluan ke kebun yang kebunnya pisah dari Mamak. Jadi dari aku belum lahir mereka udah kerja masing-masing dan pegang uang masing-masing ngak bisa di gabung. Setelah mengobrol aku mandi dan dandan, bedak andalanku bernama Sila ( bukan Bineka Tunggal Ika lo,hehe). Bedak tradisional yang dahulu kala di pakai para petani untuk melindungi wajah dari sengatan matahari. Bedak ini harus di asah dulu di guci, sebelumnya di tambah air sedikit lalu di asah pelan-pelan sampai warna nya putih seperti kita mengasah golok ada serpihan berwarna putih dari bartu asahan. Begitupun bedak Sila. Aku rutin memakainya setiap pagi dan malam karna wajahku berminyak jadi waktu masih di MTs jerawat dan komedo di wajahku sudah meraja lela. Dan alhamdulillah solusi dari Mamak memang mujur selain hemat karna teramat murah juga aman tanpa bahan kimia. Seperti biasa aku menunggu ketelatan Zul yang terpaksa menjadi tabiatku juga karna anak-anak sekolah tahunya aku telat tanpa tahu alasan mengapa telat. Aku yang duduk santai di teras rumah bagian belakang terheran melihat tetanggaku yang sudah beranak satu mengelilingi rumah kami. Tatapannya yang aneh membuatku merinding dan ketakutan. Aku baru sadar tak ada satupun orang di dekat sini karna rata-rata sudah bekerja di kebun. Tak lama kemudian ponsel ku berbunyi. Aku menjawab panggilan dengan takut. "Hallo!" terdengar suara bapak-bapak di ponselku. "Iya hallo!" aku menjawab dengan tangan di dekat kuping yang hampir bergetar hebat. "Kamu sendirian, orang di rumah kamu udah pergi semua?" mendengar perkataan dari ponsel aku langsung tahu bahwa yang menelponku ialah dia yang sedari tadi memutari rumah kami. "Ada orang di rumah," jawabku cetus lalu mematikan ponsel. Aku bergegas membuka pintu yang tadinya sudah ku kunci. Aku lebih memilih masuk ke dalam rumah dan menguncinya dari dalam, menunggu hingga Zul menjemputku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN