Aku tak menyangka Zul keponakanku menjadi idola di sekolah.
Memang banyak siswi yang suka nanya-nanya tentang Zul ke aku, tapi pikiranku memang tidak sampai kesana.
Mereka bilang senyum Zul sangat manis seperti di tambahin gula tiap hari.
Mungkin karna aku setiap hari bersama Zul aku ngak sadar kalo Zul memang manis.
Sekelas Risa yang anti cowokpun nanya-nanya soal Zul.
Entah apa yang di pikirkan Risa?
apa benar dia suka sama Zul?
Wajah Zul yang natural dan terlihat polos di tambah bibirnya yang tipis membuat senyum nya memang manis.
“Zul kamu sekolah bawa buku Cuma berapa biji doang. Sering bolos kamu?” cecarku pada Zul
“Yang pentingkan sekolah.”
“Gimana kalo ujian kamu ngak bisa jawab?”
Aku mencoba sok bijak sebagai tantenya Zul, aku memang berhak menasehatinya bukan.
“Tenang Zet, temen-temen cewek tanpa di minta mereka malah yang nyodorin.”
Panggilan Zul pada ku memang Zet entah inspirasi dari mana hingga ia memanggilku yang sebenarnya satu huruf “Z”.
“Widih, bangga ya kamu.”
“Ohhh. Harus dong.”
Sikap Zul yang selalu tersenyum dan sering bercanda juga menjadi daya tarik bagi wanita-wanita untuk menjadi fans nya Zul.
Mungkin kalau mereka mau memberi nama pada kelompok mereka yang ngefans sama Zul mereka akan menamainya “ZULOVE” bukannya SELOP (sandal). Hehe.
“Eh Zul kamu tahu ngak, tuh cewek yang berkerudung putih yang suka CPCP sama kamu itu loh.”
Risa tiba-tiba saja sudah di dekat kami yang dari tadi duduk di parkiran.
“Emang kenapa? Namanya Weni.”
“iya. Kamu ngak usah ngeladenin dia, dia itu munafik.”
Mulai lagi si Risa cari peperangan.
Ngak bisakan Risa sehari tanpa permusuhan.
“Oh,...” Zul hanya menggangguk dengan senyuman tetap menghiasi wajahnya.
“Jangan Cuma oh, Jauhin! Aku ngak suka sama dia.”
“Eh Risa, apa pentingnya kamu ngak suka atau suka,” timpalku.
“Penting dong Mouza. Kamu itu masih kecil, masih polos. Ngak tahu apa-apa.”
“Pokoknya jauhin dia ya Zul," Risa berbicara dengan nada mengancam.
Kenapa juga si Risa, ke sewotannya sangatlah berlebihan.
Melebihi ibu-ibu yang lagi hamil muda.
“Mmm.. ya ok.”
Si Zul malah nurut-nurut aja lagi.
“Wah kalian akur ya. Jangan-jangan jodoh.”
“Apaan Mouza. Aku Cuma ngasih peringatan biar Zul ngak terjerumus.”
“Oh ya udah, apalah itu terserah. Ngantin aja laper gwa.”
Menuju ke kantin kami malah berpapasan dengan cewek yang di maksud Risa barusan.
Mereka saling melewati dengan tatapan aneh satu sama lain.
Sepertinya benar kata Risa kalau mereka musuh bebuyutan.
Aku mengerti mengapa cewek itu dulu pernah tanpa sengaja menginjak kaki ku ketika dia lewat di depan kelas. Dan ngeselinnya dia ngak minta maaf atau apa, dia hanya berlalu pergi dan ngak ngomong apa-apa.
Sepertinya dia juga menyalakan api permusuhan padaku karna aku berteman dengan Risa.
Padahal aku paling benci sifat ikut-ikutan.
“Risa ada masalah apa sih kalian?" aku mulai tertarik untuk tahu.
“Ngak terlalu punya masalah,kami dulu malah berteman.”
"Terus kenapa sekarang musuhan?"
“Tau ah, males aku ngebahasnya. Intinya dia itu munafik. Wajahnya banyak Mouza.”
“Siluman gitu?’
“Hahaha… kamu percaya kalau aku bilang dia siluman?”
“Ngak sih, kalo kamu bilang aku cantik baru aku percaya. Hehe.”
“Ihhh.. dasar, Iya sayang bagiku kamu cantik.”
Entah mengapa. Saat Risa berbicara bak adegan romantis di Film-film, perutku terasa bergejolak. Seperti ada ombak yang mau menerjang.
“HUEK. Aku ngak jadi percaya.”
“Hahaha,” Risa malah girang. Sepertinya hanya denganku dia bisa berkata-kata yang manis-manis.
#
Di kantin pemandangannya malah si anak baru dengan Ani teman lama ku itu.
Seperti biasa lagi cekikikan sama Ani.
"Ah.. ada iblis lagi disini," Risa mulai malas.
"Kayak lu manusia aja," jawab Redi
"Setidaknya aku bukan iblis."
Dari pada meladeni pertengkaran mereka yang sangat tidak jelas lebih baik aku pesan makanan.
"Bik tekwan sama es teh ya!"
"Oke, tunbggu ya!"
"Hai Ani," aku menyapa Ani yang sepertinya terganggu dengan kedatangan kami.
Bagaimana tidak, sampai sekarang juga Risa dan Redi masih saja saling hujat. Aku lebih memilih abai. Sementara Ani ku lihat ada kegusaran di wajahnya.
"Mouza pusing aku ah, mereka ngak mau berenti."
"Udah biarin aja nanti juga capek sendiri. Kamu udah makan?"
"Belum pesan sih, belum sempat."
Saking asyiknya pacaran lupa deh tujuan ke kantin itu apa. Begitulah prediksi ku.
"Udah pesen gih! aku udah pesen."
"Ngak jadi ah, aku mau ke kelas aja."
Si Ani malah ngambek. mungkin karna Redi yang lebih memilih bertengkar dengan Risa ketimbang ngeladeni Ani ngobrol.
Di pikir-pikir si Risa dan Redi serasi juga ya. jadi kalo kisahnya seperti di film-film pasti judulnya "Benci Jadi Cinta" atau "Mula Benci Jadi Cinta", Haha.
pesananku sudah tiba, aku makan sembari melihat pertandingan yang mulai lemas satu sama lain.
Akhirnya mereka capek sendiri ngomel-ngomel.
"Udah?" tanya ku
"Sumpah ngeselin banget. Bik Es teh dong! Panas di sini."
"Kalian berantem, apa lagi masa penjajakan?"
"Mouza apaan sih, orang lagi kesel juga."
"Hati-hati lo. Benci bisa jadi cinta."
"idih... Amit-amit," Risa berbicara sambil mengetok-ngetok meja mengisyaratkan ketidak mauannya.
gaya bicara Risa yang cepat mamang cocok dengan karakternya yang cerewet dan pemarah.
"Ya makanya, ngak suka sewajarnya aja. Jangan berlebihan."
"Dia yang berlabihan Mouza."
Perasaan yang duluan memulai pertengkaran adalah Risa, jadi Redi tetep yang salah.
"Ya udah. Tarik nafas panjang, tahan, terus hitung satu sampai sepuluh baru hembuskan, supaya kamu tenang"
Risa menuruti perkataanku, beberapa menit kemuadian dia jadi pendiam.
"Kamu ngak pesen?"
"Ohh... asyik ya kamu dari tadi makan, padahal teman kamu butuh bantuan"
"Aku bisa apa Risa. Apalah daya ku ini. Aku hanya manusia biasa yang datang ke kantin hanya untuk makan."
"Kamu bisa bantuin aku ngatain dia apa kek."
"Ada manfaatnya emang?"
"Manfaatnnya ialah bantuin teman yang lagi kesusahan Mouza."
" Ah ngak relepan, mending makan dari pada kelaperan. Bantuin kamu juga ngak dapet duit."
"Dasar mata duitan."
"Yang pentingkan aku disini setia nemenin kamu yang lagi berantem. Kata orang semua wanita itu mata duitan Risa."
"Ihh... aku ngak tuh."
"Siap-siap aja dapet laki pengangguran."
"Kok gitu?"
"Kenapa ngak terima kalo laki pengangguran?"
"Ngak usah ngomong kesana ah, serem."
"Poinnya adalah wanita mata duitan wajar. Tapi wanita tergila-gila dengat duit baru ngak wajar"
"Ah itu mah lu nya aja."