Salsa Prov
Perkenalkan namaku Salsabila
Berbanding terbalik dengan Mouza yang lemah lembut, aku lebih suka terlihat kasar dan garang.
Karna bagiku hidup setiap harinya adalah pertarungan.
Jika aku kalah maka aku akan menghilang.
Aku pikir aku seperti karang, akan tetap berdiri meski ombak menerjang.
Tidak akan goyah walaupun badai yang datang.
Begitupun prinsifku, aku akan pertahankan.
Meskipun seribu cercaan.
Bagiku tidaklah penting apa yang mereka katakan yang terpenting apa yang bisa aku kerjakan.
Asal aku bahagia dan Ibuk dan Bapak tidak melarang mengapa tidak.
Dulu aku adalah diam, penurut dan tidak pernah menuntut.
Tapi semua berubah semenjak Kakak meninggal dalam kecelakaan itu.
Bagiku hidup adalah keras.
Aku adalah Salsabila yang setiap harinya mengurus kegaduhan adek-adek.
Yah sayangnya adekku itu ada lima dan semuanya berjenis kelamin laki–laki.
Oh mengapa?
Tapi tenang saja, mereka bagiku penurut. Sekali aku pelototi mereka langsung diam.
Itulah senjataku. Melotot. Hehe
Walaupun mereka sedikit bandel dan manja pada Ibu. Tapi ketika aku dirumah, mereka menjadi pendiam dan penurut.
Yah meskipun nurutnya hanya sekedar ngak berantem, itu saja bagiku cukup.
Bukan berarti aku bisa dengan bebas menyuruh meraka melakukan pekerjaan rumah.
Tetap saja pekerjaan rumah itu menggunung.
Bayangkan berapa banyak baju kotor setiap harinya dengan lima orang anak, belum bajuku dan baju Ibu. Karna ayah jarang pulang.
#
Malam ini malam minggu, besok ada acara nikahan sepupu gitu.
Aku mengajak Mouza untuk hadir. Karna malam ini ada orgen tunggal sebelum acara resmi besok.
Tapi dia menolak, mungkin dia takut tidak di izinkan oleh orang tuanya.
Setelah mandi dan sholat magrib sebelum isya aku sudah berangkat kesana.
Tentunya di jemput para gadis kampung sini dengan para bujangan juga.
Karna malam ini bukan malam bersenang senang. Tujuan kami kesana untuk mempersiapkan masakan besok. Masing-masing dari kami memang membawa pisau dapur dari rumah.
Di jalanan banyak orang–orang dari kampung luar yang datang hanya untuk melihat-lihat orgen tunggal saja.
Yang lucu adalah tatapan mereka yang aneh karna kami semua, karna membawa pisau dapur. Mungkin bagi mereka pisau ini untuk berjaga-jaga agar kami tidak di ganggu. atau akan kami jadikan seolah pedang ketika sedang terdesak. Padahal bukan itu, yah... tapi boleh juga buat senjata semisal ada kejadian tak di inginkan. Tapi ini untuk mengiris sayuran yang memang teramat banyak karna untuk makanan sekampung.
Usai sepanjang jalan mendapat tatapan aneh tibalah kami di tempat yang akan di adakan acara.
“Sal…” Dewi memanggilku yang sedang mengiris kaca panjang. Sementara ia sedang mengupas daun bawang.
“Mmm,” jawabku singkat.
“Ada yang mau kenalan sama kamu.”
“Siapa. Berani dia kenalan sama aku?”
“Salsa jangan gitu, dia itu ganteng, dewasa juga. Dia sering perhatiin kamu.”
“Oh gitu. Mana orangnya?”
“Itu tuh di situ.”
Dewi menunjuk kerumunan cowok-cowok. Aku tidak tahu yang mana yang di maksud Dewi. Sebab selain banyak orang disana juga minim pencahayaan.
“Mana, ah ngak kelihatan.”
“Nanti aja deh abis kerjaan kita selesai dia mau ngobrol sama kamu.”
“Ohhh.”
“Ohhh doank. Mau ngak?”
“Liat aja nanti."
Hampir dua jam kami mengiris sayuran, punggungku mulai terasa pegal dan tanganku terasa sudah kaku.
Akhirnya pekerjaan kami selesai. Tinggal bagian ibu-ibu memasaknya dini hari nanti.
“Sal ayok!”
Dewi memanggilku dengan melambai-lampaikan tangan menggisaratkan aku untuk mendekatinya.
“Mau kemana?”
“Yang kata aku tadi loh.”
“Oh…”
Dewi mengantarku kepada orang tidak ku kenal itu. Wajahnya memang cukup tampan sekelas anak kampung.
Dewi meninggalkan kami berdua di pinggir jalan raya desa.
Aku melihat jam menunjukkan pukul 21.00, sudah seperempat jam kami duduk di pinggir jalan namun belum ada yang memulai pembicaraan.
Aku sibuk melihat orang lalu lalang di depan ku. Entah dengannya, aku bahkan tidak menoleh kepadanya.
Sekarang sudah menunjukkan 21.30 dan kami masih diam.
“Gimana udah kenalannya?”
Dewi menghampiri kami kembali
Aku hanya diam tidak berkata apa-apa tidak pula menunjukkan ekspresi apa-apa.
“Yuk pulang. Udah jam segini,” kata dewi
Ku liah cowok itu hanya tersenyum kaku.
“Kami pulang dulu yang Hadi.”
Oh jadi namanya Hadi. Benakku.
Di jalan pulang Dewi mengintrogasiku.
“Ngobrol apa aja tadi?" tanya Dewi
“Ngak ada,” jawabku acuh.
Kami berjalan di depan rombongan bujang gadis yang lain
“Masak ngak ada. Oh jadi rahasia–rahasiaan nih,” Dewi menyikut tanganku.
“Emang ngak ada yang di omongin.”
“Masak hampir satu jam kalian duduk berdua ngak ada yang di omongin Sal,” ucap Dewi yang tidak percaya.
“Ya emang ngak ada. Dia hanya diam, Ya, aku diam juga lah. Masak aku yang harus memulai pembicaraan.”
“Hah… serius?" mulut Dewi ternganga mengekspresikan kekagetannya.
Berbeda dangan teman–teman yang lain yang malah tertawa terbahak-bahak.
“Lagian kalo dia berani ngomong gwa tonjok. Haha,” kataku mengepalkan tangan.
“Aiiisttt. Kalian itu ya… aiiisttt,.. dasar aneh,” Dewi mengumpat dan berlalu pergi duluan.
Teman-teman yang lain malah enggan berhenti tertawa.
“Jadi kalian tadi lomba diem-dieman,” canda Ali.
“Wkwkwk,” tawa satu rombongan.
#
Mouza Prov
Yah senin lagi, upacara bendera lagi dan telat lagi.
Kebiasaan senin harus ekstra pintar mengendap-endap masuk barisan upacara bendera karna pasti telat gegara Zul.
“Telat lagi-telat lagi,” Ibu Esi berbicara dengan sebilah ranting yang sudah mendarat di bokongku.
Sial dah ketahuan Gwa.
“Mouza, Mouza telat mulu kamu. Upacaranya udah mulai dari tadi. Kamu punya anak berapa sih jam segini baru nyampe,” ucap Bu Esi.
“Tiga buk.. hehe,” jawabku cengengesan
"Ngejawab lagi kamu,” Bu Esi berbicara dengan ranting yang mendarat kedua kalinya di bokongku.
“Kan tadi Ibuk nanya. Hehe,” Aku masih cengengesan
“Kamu ya,.. masuk barisan. Senin depan kamu telat ngak usah masuk kelas. Kamu bersihin WC satu sekolahan saja.”
“Siap buk,” aku mengangkat tangan layaknya hormat bendera.
Ibuk Esi dari dulu suka ngancam. tapi tak satu kalipun aku pernah di surus olehnya membersihkan Toilet.
Aku celingak-celinguk.
Kamana Zul tadi?
Zul, kurang asin dia. Giliran di hukum akunya sendirian dia menghilang entah kemana.
Pastinya kalau udah ada bau-bau mau di hukum Zul udah kabur dan bolos.
Tak lama ada murid perempuan yang pingsan lagi.
Anak-anak lain memboyongnya ke ruang guru. Roknya yang kurang bahan menjadi pemandangan kontras.
Pantes mereka sering kesurupan pikirku.
Untungnya hanya dia saja yang kesurupan hari ini.
Kakak kelas yang entah namanya siapa itu meraung-raung sampai kami selesai upacara bendera.
Entah kapan dia sadar. Bodo’ amatlah. Terlalu tak punya aturan SMA pakai rok mini.
#
“Den tulisin PR aku ya.”
Aku menghampiri meja Deni yang ada di belakang.
“Mouza mau sampai kapan?” Deni memelas
“Sampai kucing punya tanduk Den.”
“Hah… lama-lama kamu jadi b**o’ kalau kayak gini terus Mouza.”
“Cepetan Deni, keburu jam pelajarannya nanti.Dan aku bisa ke kelas B lo.”
“Apaan sih Mouza, ngancem mulu. Lagian aku udah putus.”
Waduh gawat darurat kalau Deni putus pada siapa aku mengadu.
“Hmm. Putus kenapa? Emang kamu udah ketahuan?” aku melembutkan suara.
“Ngaklah. Cuma tiba-tiba aja dia minta putus. Aku juga ngak tahu kenapa.”
Si Deni malah curcol, bisa ngak kelar nih PR. Aku harus memikirkan sesuatu.
“Tapi tetap aja harus nulisin aku PR Deni," aku menyodorkan buku tulisku.
“Lah kok gitu. Lu kan udah ngak bisa ngancem.”
“Tetap aja bisa sebarin kelakuan kamu loh ke anak-anak kelas. Kan kartu kamu udah aku pegang. Hehe,” aku sumringah dengan pemikiran baruku.
“Mouza kamu kok gitu,” Deni mulai ngegas.
“Gitu gimana? Aku bisa loh Den bikin pengumuman di papan tulis atau di mading sekalian,” ucapku lembut.
“Mouza ih…. Sumpah obat lu bener-bener abis ya,” Deni berbica dengan menunjukku.
“Makanya tulisin cepet, ngak ada waktu lagi.”
Deni meraih buku yang dari tadi sudah kuletakkan di depannya..
“Selamat menikmati Den.”
Deni hanya melotot tak suka padaku.
“Wkwkwk.”
Aku sungguh puas dia masih mau nurut.
#
Jam istirahat aku mendekati Deni yang masih saja harus menyelesaikan tugasnya dariku.
“Den kamu dapet jawabannya dari mana?”
“Mouza kamu tuh udah minta di tulisin, nyontek, banyak nanya lagi. Untung lu imut. Kalo ngak udah gwa makan lu.”
“Hehe. Jangan emosian Deni. Kan aku perlu tahu. Nanti kalo salah gimana?”
“Biarpun salah lu ngak berhak protes.”
“Nanti kamu salah-salahin lagi."
“Ihhhhh Mouza!”
Sumpah Deni kalo marah sedikit keperepuanan gitu, wkwkwk.
Kepala Deni mulai berasap menanggapi kelakuanku.
Detik kemudian aku diam. Dari pada bukuku di acak-acak Deni, mending dia ngacak rambutnya sendiri karna kewalahan menanggapi aku.
Aku yang ngak ada kerjaan nungguin Deni iseng melihat ke belakan kelas.
Eh buset, Ani sama si Redi anak baru itu lagi duduk berduaan. Lagi asyik cekikikan. Lah kemana pacar Ani yang setiap harinya ia banggakan dulu, yang sering ia sanjung dan puja di hadapan ku dulu. Apa mereka udah putus. Tapi bukannya mereka pacaran dari kelas dua SMP. Segampang itukah mereka putus. Atau sbegitu lihainya si Redi jelmaan iblis kata Risa. Mungkin perkataan Risa benar jikalau dia hanya berwujud manusia.
“Udah,” Deni membuyarkan pikiranku.
“Widih. Makasih ya Deni ganteng.”
“Sama-sama Mouza yang ngak berperasaan. Yang tega-teganya memanfaatkan sahabat sendiri.”
“Hehe,” aku sumringah
“Eh Den Ani sama Redi udah jadian?”
“Tau ah,.. bodo’ amat. Mau jadian mau putusan. Bodo’ amat. Emang Gwa pikirin.”
“Lihat noh!” aku menunjuk mereka dari jendela.
“Paling bentar lagi juga bubar.”
“Kok gitu?” tanyaku heran.
“Ya emang gitu. Aku paham dia kayak apa dia Mouza, Paham banget. Kita lihat sampe berapa hari mereka kayak gitu.”
“Redi playboy?"
“Mmm. Bukaan lagi, Di atasnya. Tau ngak apa?"
"Nggak."
“COBOY…hahaha”
“Emang lucu?”
“Ngak lucu. Pusing gwa. Pergi lu sono. Balik ke alammu. Jangan balik-balik kesini. Setiap kesini pasti nyusahin.”
“Hehe.” Aku pergi dengan cengengesan, ku yakin kepala Deni berasa mau meledak melihat kelakuanku.
Aku kembali ke meja dengan wajah tanpa dosa.
Sementara Deni sudah tersungkur di atas meja sepertinya dia mau mendengkur karna lelah menghadapi ku.
“Mouza mouza untung gwa suka sama lu. Kalo ngak,..” Deni yang lewat di dapan mejaku malah menggerutu.
“Kalo ngak apa?”
“kalo ngak suka ya sayang. Hehe.”
Aku hanya mengerutkan kening.
Deni sungguh aneh, udah aku kerjain habis-habisan juga. Masih berani mau ngerayu.