Perang Dunia Lagi

1029 Kata
“Kok listrik kita mahal banget bulan ini, coba deh kamu cek di stand metternya. Bener ngak nih.” Mamak menyuruhku menyamakan stand metter yang ada di struk dengan yang ada dirumah. Aku menyebutkan bahwa ada selisih kurang lebih 100 kwh yang di tulis di kertas struk melebihi stand metter yang ada dirumah. Seketika Mamak sewot dan marah-marah layaknya ibu-ibu lainnya. “Itu kan karna kalian b**o,” sahut bapak yang sedari tadi berdiri di depan pintu sedang memperhatikan kami. Seketika wajah Mamak mulai merah, mata Mamak mulai di penuhi aura kemarahan. “Udah Mak ngak usah diladenin,” bujukku pada mamak. Namun mamak tak memperdulikanku. Seketika perang dunia yang entah keberapapun di mulai lagi. Kalau sudah begini aku lebih baik menyingkir dulu. Mencari kicauan burung-burung di ujung desa. Akan lebih baik jikalau aku tak berada di sini. Omongan tadi jelas akan di bahas mamak sampai minggu berikutnya, meskipun perang dunianya sudah berakhir. Dan yang pusing terakhir pastilah diriku karna akan mendapat curhatan yang sama berulang-ulang kali sampai Mamak bosan menyebutnya. Nyatanya emosi dan ego tak kalah oleh usia mereka yang melebihi setengah abad. Memang benar kata orang, emosi membuat kita terlihat sama. Jikalau salah satu dari mereka ada yang mau mengalah dan lebih memilih untuk diam maka masalahnya tidak akan panjang. # Ku pacu kendaraan ku menuju rumah Salsa.Di rumah ada dua motor bebek, yang satunya lagi Kak Adi yang sering pake’. Di kampung kami rata-rata anak SD sudah bisa pakai motor. Aku pun begitu, SD bisa pake’ motor berkat di ajarkan oleh Kakak Ipar yang dulunya Kades yang tak lain adalah bapaknya Zul. Kalo di kota orang tuanya justru di tahan polisi dengan tuduhan kelalaian dalam menjaga anak. Tapi di sini ngak ada polisi, jadi bebaslah. Aku memang tahu rumah Salsa dari awal sekolah karna tidak susah untuk mengetahuinya. Mengingat rumahnya yang di pinggir jalan. Aku sering melihat Eja mengantarnya kesana. Aku mengetuk pintunya tak lama ada yang membuka. “Eh Cuy… kok ngak nelpon dulu mau kesini.” Entah datang dari mana panggilan cuy keluar dari mulut Salsa. Seingatku ada iklan anak Band yang ngehits memang. Dan anak band itu saling panggil dengan sebutan Cuy. Tapi aku bukan orang yang pandai dalam mengingat nama. Terlebih nama artis dan bandnya. “Sibuk ngak. Jalan yuk?” “Sekarang?” “Kalo bisa sekarang, ya sekarang aja.” “Tunggu Mamakku pulang dulu ya, soalnya adek ngak ada yang jagain.” “Oh gitu.” “Iya. Kamu masuk kamar aku aja dulu. Tidur-tiduran juga ngak papa. Mamak ngak lama pulang biasanya.” “Oke deh.” Akupun masuk kamar Salsa. Kamarnya lebih rapi dari pada kamarku. Padahal kamarku hanya ku pakai tidur di siang hari, malamnya aku tidur dengan Mamak. Sebab memang semenjak aku bisa mengingat, Mamak dan Bapak sudah tidak sekamar. Kan lebih baik tidur sama Mamak, ada temannya. Bukan takut tidur sendirian lo ya. Hanya saja tidur berdua kan labih enak. Hehe. Setelah melihat-lihat kamar Salsa aku mencari Salsa kebelakang. Ku lihat tumpukan cucian Salsa yang baru selesai di cucinya, ia hendak menjemurnya. Ternyata Salsa jauh lebih rajin ketimbang diriku. Sepertinya dia baru saja menyelesaikan banyak pekerjaan rumah. ”Cuy aku tadi bikin tekwan. Di makan aja, masih di meja kompor.” “Iya. Kalo aku mau nanti juga aku makan” Sementara Salsa sibuk menjemur pakaian aku membuka panci-panci yang ada di atas kompor. Dia bahkan membuat masakan yang akupun belum belajar. Aku beralih keruang nonton. Adik-adik salsa teramat gaduh. Mereka rebutan remote TV. Sepertinya jikalau punya adik sebanyak ini mau seribu kalipun kita beresin rumah bakal tetap berantakan lagi. Tak lama ku dengar ada suara ibu-ibu sedang berbicara dengan Salsa yang ku pikir dia adalah ibunya Salsa. Sepertinya usianya jauh di bawah ibuku. “Ibuk,” aku menyalami ibunya salsa. “Namanya siapa?” “Mouza buk.” “Mak kami keluar ya jalan-jalan bentar,” timpal Salsa “Kemana?” "Deket-deket sini aja kok mak." “Oh yaudah.” Gitu doank, pikirku. Coba saja kalau posisinya terbalik, aku yang izin sama Mamakku. Ngak bakal segampang itu minta izinnya, butuh introgasi tingkat tinggi dulu. Sampe kakek, nenek, nenek buyut dan nenek buyut lagi pun harus ikut ditanya. Lah Salsa gitu doang. Entah aku yang terlalu sulit atau Salsa yang terlalu mudah. Aku pergi bersama Salsa. Tujuannya hanya untuk makan–makan di luar sembari melihat aliran sungai dan mendengar lembutnya kicauan burung. Kemana lagi kalo bukan Kapung B. # Pulang dari jalan dengan Salsa pukul 16.30, aku bergegas karna belum sholat ashar. Ku lihat Bapak dengan santainya nonton di ruang TV, dan mamak. Kemana mamak pergi? Sampai azdan magrib mamak belum juga pulang. Ku pikir mamak di rumah saudaranya. Hal seperti ini sering terjadi, dan besok biasanya mamak bakalan pulang. "Dek mamak mana?" tanya Jak Adi yang baru pulang setelah azdan magrib. "Di rumah uwak kayaknya." "kenapa kok belum pulang udah magrib?" "Tadi berantem sama Bapak." "Masalahnya apa?" "Ah biasa, hal sepele," aku menjawab santai. "Ohh... Dek ikut kakak yok malem ini!" "Kemana?" "Ngumpul bareng teman-teman Kakak, makan-makan juga. Banyak cewek-cewek di sana." "Mmm... males ah Kak." Aku tidak terlalu akrab dengan teman-temannya Kak Adi yang memang sebagian besar adalah cewek. Kalau mereka mengobrol rasanya ngak nyambung sama aku. Dari pada disana cuma pelangak-pelongok doang ngeliatin orang mending juga tidur-tiduran atau nonton TV di rumah. Walaupun terasa ngak enak juga mengingat kejadian tadi dan Mamak kayaknya ngak pulang malam ini. Aku bakalan tidur sendirian, tapi ngak papalah, hitung-hitung proses menjadi dewasa. "Oh.. ya udah, kakak sholat magrib dulu deh." "Ya aku juga mau sholat. Belum sholat juga akunya." Setelah sholat magrib Kak Adi berpakaian rapi hendak pergi. Kak Adi selalu menyemprot badannya dengan parfum yang ku bilang "nyong-nyoang" itu di bagian terakhir. Dan bau parfum itu bisa bertahan di ruangan sampai Kak Adi pulang lagi. Aku ngak suka banget bau parfumnya yang entah apa merknya. "Kak Ngak ada parfum laen apa?" "Ngak penting parfum dek yang penting kepedenanya. Biarpun bau ketek kalau PD mah ngak papa," jawab Kak Adi santai. "Bau ketek mah ngak ada yang mau mendekat Kak." "Kalau udah cinta dek, ngak mandang bau lagi." "Iyalah Kak, yang di pandang itu wajah, kalau bau kan pakek indra penciuman." "Haha. Iya,.. ya... Kakak pergi dulu ya." "Oke." Setelah Adzan isya tak lama terdengar suara ketokan pintu. Pas ku buka ternyata Mamak pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN