Murid Baru

1479 Kata
"Pagi anak-anak. Ibu akan memperkenalkan murid pindahan dari Muhammadiyah Palembang yang Ibuk yakin sebagian besar kalian sudah mengenalnya." "Redi silahkan masuk!" Anak yang bertubuh tidak terlalu besar dan tidak pula kecil dengan kulitnya yang lumayan putih masuk ke dalam ruang kelas. "Kalian mengenalnya?" "Ya bukkk..." Ternyata kebanyakan dari anak di kelas sudah mengenalnya. "Ayo Redi perkenalkan ulang nama kamu!" perintah ibuk Esa selaku wali kelas. "Namaku Redi dan udah ya aku rasa kalian udah tahu semua sama aku." "Ya... dan ibuk yakin kamu pindah kesini karna kelewat bandel." "Wkwkwk." anak satu kelas tertawa. "Hehe... tahu dari mana buk?" jawab Redi cengengesan. # "Risa kamu tahu sama dia?" bisikku Pada Risa "Taulah. dia kan Iblis." jawab Risa spontan. adeh Risa, Risa selalu saja celetukannya kadang melewati garis batas dari kekasaran kata-kata. "Eh Mouza kamu jangan mau ketipu sama dia. Dia itu hanya berwujud manusia. aslinya bukan manusia." "Wkwkwk." Ada-ada saja si Risa. kadang kalau bercanda suka aneh-aneh. Coba saja kalau di dengar sama Redi bakalan ada perang dunia ke seribu tuh. Karna Risa sudah melewati perang yang ke 999 kemaren, kan setiap hari Risa selalu perang dengan anak cowok di kelas. Apalagi si Redi, baru masuk saja Risa sudah mengibarkan bendera perang. Bakal ada pertumpahan darah lagi nantinya. Ah sudahlah, sikap permusuhan memang selalu menghiasi diri Risa. mungkin Risa tidak menjadi Risa kalau tiap hari tidak ngomelin anak-anak kelas. # Dan hampir keseluruhan anak di kelas berkumpul mendekati meja Redi. Tapi mereka bukan terpesona padanya. Melainkan mereka sedang penasaran kenapa dia bisa pindah kesini. "Redi ayo ngaku kamu bikin kasus apa?" ucap Winda. "Kamu abis berantem kan, jadinya pindah kesini dengan sogokan?" ucap Deni tak mau kalah mencecar. "Oh.. jangan-jangan kamu dapet hukuman terus kabur dan ngak mau balik lagi kesana?" Rina ikut menimpali. "Aduh kalo tampan itu, ya beginilah... di kerumuni karena pesonanya," nada Redi terdengar santai dan teramat PD "Idih...." anak-anak kemudian bubar. "Wkwkwk." Redi malah terbahak "Denger ya, dia ini tuh udah banyak kasus jadi ngak di terima lagi di sekolahnya," ucap Erni yang satu desa dengan Redi. Entah itu benar atau tidak. Sepertinya Redi cukup terkenal kebandelannya. # "Risa ke kantin yok!" "Tar lagi tanggung nih. Dikit lagi selesai" Risa sedang mencatat penjelasan guru yang ada di papan tulis. "Kamu ngak nyatet lagi?" "Tenang ada asisten gratis. Ngak perlu capek-capek" Aku mengedipkan mata pada Risa "Wkwkwk.. Enak banget hidup lu Za." "Yoi donk." "Tapi kasihan juga tau. Dia jadi harus nulis dua kali." "Udahlah cepet! laper nih." Aku tak menggubris Risa yang tumben sekali mengasihani orang lain apalagi yang di kasihani anak cowok. Terkena angin apa dia. "Iya oke oke oke. sabar ya" Tak lama Risa menyelesaikan catatannnya. Aku dan Risa berjalan menuju kantin. Ku lihat Zul sedang di kerumuni cewek - cewek. "Tuh liat Za cewek-cewek pada ke ganjenan sama Zul." "Temen Zul berubah jadi cewek-cewek semua ya. Hehe." "kelihatan jelas tuh cewek-cewek CPCP sama Zul," ucap Risa judes. "Kamu cemburu?" "Idih apaan sih Mouza." "Habis kamu kayak ngak suka banget" "Iya gini loh Za, kan Zul masih polos tuh, nanti di manfaatin aja sama cewek-cewek itu. Gitu maksudnya." "Halah cemburu juga ngak papa. Zul memang banyak fans nya kok." "Ya wajar,Zul cukup manis." "Jadi bilang manis sekarang." Godaanku pada Risa sukses membuat tomat di pipinya. "Ya manis aja, cuma aku ngak cemburu Mouza. Cuma ngak suka aja liat cewek-cewek pada keganjenan." "Aku aja yang tantenya biasa aja, kok kamu sewot." "Cewek-cewek yang ngedeketin Zul itu musuh bebuyutan ku waktu MTs dulu Za." Adeh mulai lagi deh si Risa menyalakan api. Udah adem-adem gini lagi, ngak bisa sehari tanpa api peperangan. "Udah ah cepet jalannya,aku laper." Aku memotong omongan Risa yang ku yakin sebentar lagi akan ngawur ngidul bercerita tentang kisah heroik masa lalunya dengan musuh bebuyutan bak film lawas misteri gunung merapi. # Aku sedang asyik berguling ria di tempat tidur saat ku dengar cekcok antara Bapak dan Mamak di dapur. Aku tak kaget dan juga enggan memperdulikan. Entahlah, bahkan jika hanya masalah sendok akan menjadi masalah besar bagi mereka. Aku muak sungguh muak. Bahkan mereka sudah terlalu tua untuk kami berikan nasihat. Waktu aku kecil hal seperti ini bahkan hampir setiap harinya terjadi. Hal itulah yang dulu selalu membuatku rasanya ingin kabur dari rumah. Tapi aku hanya mendapati fakta bahwa itu hanyalah sebuah rencanna, aku hanyalah seorang anak kecil yang tak ada keberanian sedikitpun. Dulu aku hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa. Mendapati mereka yang tak hanya mengadu mulut namun juga fisik di hadapanku membuatku berpikir tak ada hal yang membahagiakan dalam sebuah pernikahan. Andaikan aku sudah besar mungkin aku tak ingin menikah, jika menikah memang serumit ini. Seandainya Jak Adi tak pernah menjadi kakak ku mungkin aku berpikir bahwa tak ada laki–laki baik di dunia ini. Tapi aku patut bersyukur karna Allah hadirkan Kak Adi untuk jadi kakak ku. Setidaknya walaupun aku tidak tahu kasih sayang seorang ayah aku tahu kasih sayang seorang kakak. Mungkin akan seperti itulah jikalau kakak adalah ayahku. Tidak, aku bukan berkata bahwa ayahku orang yang tidak baik. Aku selalu ingin berpikir bahwa ayah ku adalah orang yang baik. Beliau tak pernah ketinggalan sholat lima waktu, selalu sholat tahajud dan dhuha. Hanya saja beliau seakan tak perduli pada kami. Tapi di dalam hatiku aku selalu menghormatinya sebagai ayah. Ibu yang amat keras karna bekerja terlalu keras dan ayah yang tak pernah bisa ku mengerti, membuatku selalu bertanya- tanya “Mengapa Ibu berjodoh dengan ayah yang sepertinya sifat mereka berbanding terbalik?" Kami bersaudara memang tumbuh dengan melihat kekasaran yang terjadi hampir setiap harinya. Namun aku hanyalah penonton, tak satu kalipun ayah atau ibu pernah menyakitiku, aku tidak tau kalau saudara-saudarku.Tapi mungkin itulah yang menjadikan kami akur. Memang ada hal-hal yang perlu disyukuri dalam sebuah masalah yang terjadi. Itulah mengapa orang bilang Tuhan itu adil. Bagiku itu benar dan aku tidak menyanggahnya. Aku hanya perlu menjadi pribadi yang lebih bersyukur lagi akan karunia Nya. Dan semoga saja jika aku nanti menikah, bukan lah seperti pernikahan yang selama ini ku lihat. “Mamak sama bapak berantem lagi?” tanya Kak Adi sepulangnya kerumah. “Kayaknya.” “Apa masalahnya?” “Entahlah.” Jawabanku cuek, enggan membahas sesuatu yang tidak bisa kami selesaikan sedari kecil. # “Mouza kamu yang mewakili kelas kita ikut lomba ceramah hari ini,” ucap Deni yang menghampiriku yang duduk di meja. “Lomba ceramah gimana?” “Jadi hari ini di adakan lomba ceramah dalam rangka memperingati Maulid Nabi." “Kok aku sih,yang laen kan banyak. Lagian ngak ada materi apa yang mau di ceramahin.” “Yang laen ngak ada yang mau Mouza. Mereka semua nunjuk kamu buat ngewakilin.” “Idih.. main nunjuk-nunjuk aja. Lagian kenapa ngak ngomong dari kemaren–kemaren.” “Aku juga baru tahu. Udalah kamu aja. Kelas kita ngak ada wakil nih.” “Ngak ah.” “Ngak bisa ngak Mouza harus mau, ngak ada yang laen selain kamu.” “Iya,..yaudah, yaudah. Nanti aku pikirin mau ngomong apa.” Aku sudah bilang "Iya". Lalu selanjutnya gimana? Mau ceramah apa? Seumur-umur ngak pernah ikut lomba beginian di sekolah. Ya udalah yang penting mental, pikirku. Masalah apa yang mau di omongin nanti biar aja mengalir apa adanya. Lomba di adakan di ruang laboraturium yang telah di sulap menjadi aula. Beberapa nama yang mewakili kelas lain telah di sebutkan. Tibalah namaku yang di sebutkan. Aku maju kedepan. Jantungku malah yang belomba duluan dengan second. Detaknya tak karuan. Kakiku melangkah tapi seakan aku melayang. Keringat dingin sudah membasahi bagian kepalaku yang tertutup kain putih. “Assalmu’alaikum waroh matullahi wabarokatuh.” Mic yang ku pegang ikut bergetar bersamaan dengan tanganku yang menggenggamnya erat agar ia tetep diam, namun nihil, ia tetap bergetar hebat. Murid satu ruangan beserta guru-guru menunggu ku untuk menyambung kata. Namun apalah daya mulutku yang sudah menganga tercekat dengan tak ada satu kata pun bisa ku ucapkan. “Hahaha.” Setelah beberapa menit menunggu aku untuk berbicara namun tetap diam. Sukses membuat satu ruangan tertawa hingga harus memegangi perut mereka, saking sulitnya mereka berhenti tertawa. Tidak bisa seperti ini pikirku. “Bertakwalah dimanapun kamu berada,” lanjutku. Namun mereka yang sudah tertawa sepertinya teramat sulit berhenti. Lalu aku membacakan sebuah surah tentang takwa. Beserta artinya. “Jadi bertakwa itu ngak Cuma depan orang. Karna Allah maha Melihat. Jangan kalian pikir kalau tidak ada orang kalian bebas. Missal nih kalo ada guru kalem, kalo ngak ada guru merokok. Itu jangan!” dambungku yang sebenarnya tidak nyambung dengan tema hari ini. “Sekian. Wassalamu’alaikum.” “Hahaha.” Satu ruang bukan menjawab salam malah makin tertawa heboh bahkan sampai ada yang berguling-guling di lantai. Aduh apaan sih aku. Aku mau ceramah apa opera sih. Kok bukannya adem malah kayak ngelawak jatohnya. Setelah aku keluar ruangan, anak-anak di luar berkumpul sedang melihat sesuatu di handphone mereka. Mereka melirikku dan kemudian tertawa terbahak–bahak. "Wkwkwk." Buset ternyata mereka merekam ku tadi. Dan akan terus mereka putar untuk jadi lelucon. Aku ternyata sudah sukses mempermalukan diri sendiri. Ah,..Masa bodo’ lah. Cuekin aja, toh anak sekolah memang butuh penghibur sepertiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN