Semester kedua dari libur panjang yang amat – teramat tidak menyenangkan bagiku. Karna lebih sering di rumah tanpa ada kegiatan.
Sekolah adalah hal yang menyenangkan. Sehari tidak sekolah rasanya sangat rugi mendapati teman – teman yang lain bercerita tentang hari ketika kita tidak hadir. Bagiku itu sungguh hal yang merugi, seperti ada sesuatu yang hilang.
”Mau?”
Risa menawarkan makanan yang ia bawa dari rumah, dengan kotak bekal berwarna pink sungguh kontras dengan karakter Risa yang terasa keras.
“Apa?”
“Nasi, sambel teri dan telor.”
“Kamu buat sendiri?”
“Iya lah. Ada yang mau masakin aku pagi-pagi gini, ngak ada kale.”
Hari pertama sekolah memang belum begitu aktif belajar. Risa mengajakku ke belakang kelas yang memang belum di pagar sehingga tercampur dengan perkebunan karet milik warga disana.
Kami duduk di pinggiran kebun karet dekat lembah yang terdapat banyak bambu - bambu kecil.
“Aaaaa,” Risa mengisyaratkan untuk membuka mulut, sedang ia menyodorkan sesendok nasi di depan wajahku.
“Enak?”
“Enak juga masakan kamu.”
“Iya dong. Makanya belajar masak!”
Boro-boro belajar masak, baru megang pisau aja udah luka. Gimana kalau masak.
“Mmm.. siapa bilang aku ngak bisa masak,” elakku
“Emang bisa?”
“Masak mie.”
“Mmm...Sudah kuduga.”
Risa menyuapi ku yang asik bermain Snake Zenzia. Sesuap untuknya lalu sesuap kemudian untukku.
Bagiku kadang dia seperti Ibu. Walau aku tidak ingat kapan aku di suapi Ibu. Hehe.
Seingatku ketika aku kecil Ibu selalu pergi gelap dan pulang gelap. Aku hanya sering bersama Mbak Ipah, kakak perempuanku yang kedua. Dia bagaikan Ibu bagiku. Dia yang selalu mengurus keperluanku.
“Kamu udah putusin si Deni?”
“Udah.”
“Bagus”
“Iya donk bagus. Makasih ya Risa cantik. Kok kamu pembawa keberuntungan ya. Hehe.”
“Sama-sama Mouza sayang. Aku bahagia kalo kamu bahagia.”
Ucapan kami bak remaja yang saling jatuh cinta yang sedang buta akan sekitar. Kami berpelukan seolah aku Lala dan Risa adalah Poh dan sepertinya bayi matahari sedang tertawa melihhat kami.
Tet… tet...
“Tuh bel udah bunyi.”
“Iya udah makannya kita masuk!”
“Oke.” Risa menjawab dengan terus mengunyah dan menutup kotak bekalnya.
#
Pelajaran sejarah akhirnya usai. Gurunya terkadang terlihat killer namun menyenangkan, emang ada killer tapi menyenangkan, wkwkwk.
“Deni....”
Aku menghampiri Deni yang duduk di belakang. Ia masih sibuk mencatat yang ada di papan tulis meskipun jam istirahat kedua telah tiba.
“Belum selesai nyatetnya?”
“Mmm, Belum. Kenapa?”
“Ini buku catetan aku, kamu catetin ya!”
“Lah,... maksudnya apa?”
“Ya kamu yang catetin, kan kamu tau aku males nyatet.”
“Kok gitu?”
“Iya gitu emang. Kamu ingat ngak apa yang kamu lakuin ke aku tempo hari?”
“Ya kan katanya udah di maafin.”
“Ya di maafin. Tapi kan kamu udah ngasih kartu As kamu ke aku.”
“Maksudnya? Aku ngak paham deh. Beneran?”
“Perlu aku ke kelas B dulu terus ngobrol sama Lina baru kamu paham gitu?”
Aku berusaha berbicara selembut mungkin pada Deni.
“Ohhhh… jadi ceritanya ngamcem?”
“Ngak ngancem Deni. Tapi aku bisa lakuin. Hehe.”
“Aiiisttt,” Deni mulai kesal.
“Udah catet aja. Mau satu kelas tahu kartu kamu?”
“Mouza….” Teriaknya.
Deni menggaruk-garuk rambutnya yang ku yakin tidak gatal sama sekali. Teramat jelas betapa jengkelnya dia pada ku.
Aku hanya tertawa riang, rasanya sungguh menyenangkan ada asisten gratis dadakan.
“Yang rapi ya nulisnya, sama kayak di buku tulis kamu ini kan rapi.”
Aku menunjuk tulisan yang ada di buku Deni.
“Ih bisa ya kamu. Nyesel aku cerita ke kamu Za”
“Bodo’ amat. Tau aja akibatnya kalo kamu ngak nurut.”
“Aiisttt” Deni mengumpat kesal.
Aku berlalu pergi mengajak Risa ke kantin. Untung dia pembohong dan Risa jadi jalanku untuk tahu.
Jadinya aku tidak perlu susah tidak ada catetan. Karna Deni akan bersedia menjadi asisten tanpa gajiku.
Senyumku melebar rmemikirkan hal itu.
#
Pulang sekolah aku berpapasan dengan Salsa
“Mouza ada kegiatan ngak pulang dari sini?”
“Ngak ada. Kenapa?
“Jalan yuk!”
“Kemana?”
“Desa B aja.”
Desa B memang tempatnya anak-anak muda nongkrong. Selain pemandangan yang indah dengan sungai yang membentang. Di sana ada kedai yang di hias ala anak muda untuk sekedar makan-makan dan nongkrong. Semakin menjadi daya tarik karna kedai berbentuk pondok-pondok yang di bangun terletak di atas sungai yang menghijau.
Duduk di sana seakan kita berada di tengah sungai yang luas. Menjadi tempat favorite anak-anak muda berselfi ria. Tidak hanya muda mudi, para orang tua juga banyak yang kesana. Sayangnya kalau sudah sore sekitar jam lima tempatnya terlalu ramai seakan sudah menjadi pasar. Sekedar lewatpun jadi sulit.
“Jadi ngak?” aku mengirim pesan pada Salsa.
“Jadi donk. Tunggu aja di rumah, nanti aku jemput ya.”
“Ok.”
Tak lama Salsa datang dengan motor bebek berwarna kuning yang ku yakin produk buatan China.
Kenapa di Indonesia produk China laku keras coba? Hayo siapa yang bisa jawab?
Kami menelusuri jalan hitam yang memang tidak ramai seperti perkotaan.
Akan tetapi hawanya sangat sejuk dan menenangkan.
#
“Kamu mau pesen apa za?”
“Gado-gado aja, sama es teh ya.”
“Ok.”
Salsa memesan makanan, sementara aku sudah duduk menghadap sungai.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pesanan kami datang juga.
“Mouza kamu masih saling berhubungan sama Herry?”
“Udah ngak dia udah ngak ada kabar lagi.”
Kami berbicara di selingi mengunyah makanan.
“Emang dia kemana. Udah lama ngak kelihatan sekolah?” tanya ku pada Salsa
“Emang dia orang nya begitu. Di SMP dulu dia juga bolos terus.”
“Oh kok bisa lulus?”
“Asal kamu tahu Za, dia itu umurnya jauh di atas kita. Udah ngak kehitung berapa tahun dia berada di SMP saking lamanya.”
“Wkwkwk.. berarti guru ngelulusin karna udah bosen ngeliat wajahnya."
“Bisa jadi.”
“Pantes pacarnya kakak-kakak kelas kita semua.”
“Mmm. Kamu tahu ngak dulu sepupu aku namanya Adis yang aku bilang pacarnya Herry itu lo.”
“Iya, terus?”
“Dia pernah ke SMA kita dulu, ngelabrak kakak kelas kita yang ngejekin kamu waktu itu. Ihh,.. hebohh tau ngak.”
“Terus berantem?”
“Ngak sampe berantem, Herry dateng nenangin dia. Terus di bawa pulang deh sama Herry."
"Aku pikir sampe tonjok-tonjokan, kan seru. Haha."
Aku membayangkan jikalau pacarnya Heri itu datang ke sekolah dan yang di labrak adalah aku. Ngak kebayang betapa malunya aku, mau di tarok di mana muka ku. Apalagi kalau keluarga ku ada yang tahu.
Dan juga jikalau Adis ngajakin berantem ku pikir aku bakal kalah. Jelas aku tahu siapa itu Adis. Karna desa kami bersebelahan dan rumahnya di pinggir jalan. Aku tahu dengannya karna kami juga satu SD.
Adis terlihat berotot untuk bisa ku lawan. Lagian aku juga tidak akan melawan. Jikalau berantem pasti anak-anak sekolahan akan menduga kami memperebutkan Herry. Eww bangetkan berantem demi cowok. Bukan gwa banget.
“Mouza kemaren Adis kerumah aku.”
“Ya, erus?”
“Nanyain soal kamu. Kayaknya dia tahu kalau Herry PDKT sama kamu.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya.. ku jawab kalau kalian teman biasa dan aku jamin itu.”
“Terus dia percaya?”
“Untungnya dia percaya dan ngak nanya macem-macem lagi.”
“Oh baguslah, lagian aku memang ngak ada hubungan sama dia.”
“Kayaknya dia nanya-nanya soal kamu sama Resi, Kakak kelas kita yang satu desa sama Adis. Kamu tahu ngak?”
“Ya aku tahu. Dia bilang ke aku kalau kami masih ada hubungan keluarga.”
“Ya itu makanya. Si Resi belain kamu juga, makanya dia percaya. Jadi pernyataan aku itu ada yang dukung juga.”
“Mmm… baguslah. Untung dia nanya nya ke kamu Sal.”
“Iya. makanya jangan di ladenin lagi si Herry kalau dia PDKT lagi.”
“Siip dah.”
“Dan juga Mouza, si Adis dan Herry katanya mau nikah.”
“Serius?”
“Serius... kok kaget?”
“Ngak,... karna mereka masih muda.”
“Dan aku dengar Ibunya Herri ngak setuju, dianya kurang suka sama Adis.”
“Terus setujunya sama siapa, sama aku gitu?” celetukku.
Tenang aku hanya bercanda. Di dalam hatiku baik luar maupun dalam aku tidak pernah mengukir nama Herry.
“Wkwkwk. Ngak lah. Ngak suka aja Ibuknya.”
Obrolan kami sangat panjang dan semuanya tentang Herry. Aku baru mengerti seplayboy, playboynya Herry dia tetap akan kembali pada Adis cinta pertamanya. Dan secerewet-cerewet dan garangnya Adis dia tidak akan melepas Herri. Mendapati kisah mereka seperti nonton FTV saja.
Tak terasa hari sudah sore, mengobrol tentang ke playboyan Herri jika mau di turuti tidak ada habisnya.
Ku akui dia pria tampan dan juga manis, kulitnya putih bersih bak boyband korea, eh,... dulu ngak kenal boyband ya. Cuma yang lagi naik daun Justin Biber, anak remaja yang suara nya benar-benar keren.
Dan begitulah. Meski ganteng toh playboy, tetaplah playboy.
Untung aku tidak jatuh cinta padanya.