Bab 2 Kedatangan pria itu!

1029 Kata
Setelah sampai di rumah kontrakannya, Aurora langsung berlari memasuki kamar mandi untuk membasahi dirinya. Tubuh Aurora masih terasa gementar karena kejadian yang dia lihat tadi. Aurora duduk di bawah guyuran air shower, dia menangis semau-maunya, bayangan tentang kejadian itu terus saja menghantui dirinya. "Te-tenang Aurora, a-aku tidak akan bertemu dengan pria itu. A-aku tidak akan mengalami ke-kejadian seperti itu," ucap Aurora dengan lirih. Aurora coba menenangkan dirinya, dia memejamkan mata dan menarik napas dalam lalu menghela dengan panjang. "Hidup ini keras! Aku harus bisa menghadapinya!" ujar Aurora dengan bersemangat. Aurora menguburkan ingatannya tentang kejadian tadi. Dia akan mengabaikan kejadian itu dan tetap fokus membangun hidupnya. Keesokan harinya, Aurora melewati lorong itu lagi, tubuh Aurora mulai sedikit gementar dan kakinya terasa begitu lemas hingga hendak melangkah dia merasa begitu berat. ‘Jangan pedulikan tentang kejadian itu, tapi mungkin saja pembunuhnya masih berada di sini. Ck, aku harus pergi cepat,’ pikir Aurora. Aurora memaksa dirinya dengan sedaya upaya agar bisa meneruskan langkahnya seperti biasa. Akhirnya, dia bisa melewati lorong itu, walaupun wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin. Di dalam toko bunga, Aurora terlihat banyak melamun karena pikirannya yang sedikit berkecamuk gara-gara kejadian yang ia lihat semalam. Aurora berulang kali menghela napas panjang hingga membuat Sarah dan teman sekerja lain melihat ke arah Aurora dengan memasang wajah bingung. Sarah coba mendekati Aurora dan memegang pundak Aurora dengan tiba-tiba, hal itu membuat Aurora berjengit kaget dan wajah Aurora memucat. "Ah, kak Sarah. Ada apa?" tanya Aurora gugup. "Aurora, kau baik-baik saja kan? Kenapa wajah kau … terlihat pucat? Kau sakit?" tanya Sarah, lalu meletakkan telapak tangannya pada dahi Aurora. "Tidak panas juga," lanjut Sarah kemudian. Aurora hanya menggelengkan kepalanya lalu menunjukkan senyuman yang dia paksakan. "Aku baik-baik saja, Kak," jawab Aurora. "Kalau begitu kau lanjut saja, kalau merasa tidak enak badan, istirahat saja," pesan Sarah lalu meninggalkan Aurora. Kejadian semalam benar-benar tidak bisa dilupakan oleh Aurora. Mau menceritakan pada Sarah juga, Aurora tidak yakin Sarah bakal mempercayainya. Jam istirahat siang telah tiba, Aurora masih berada di tempatnya tadi. Duduk di pojokan mendekor beberapa bunga yang telah dipesan. Hingga sebuah suara terdengar menyapa dirinya. "Maaf menganggu, kamu yang sibuk? Apa bisa membantu saya?" sapa seorang pria dengan tampilan yang begitu rapi. Aurora langsung menoleh dan ingin mengukir senyuman, akan tetapi wajahnya berubah memucat ketika melihat wajah seorang pria yang sama persis dengan pria semalam. Aurora terlihat bengong dan terdiam, bibirnya terbuka dan tertutup seperti ingin berbicara sesuatu. Sedangkan pria itu terlihat bingung dan mulai menoleh ke kiri dan kanan. Sangat kebetulan toko bunga itu terlihat sunyi. Pria itu langsung mendekatkan wajahnya pada Aurora dan memperlihatkan senyuman miringnya. "Ikut aku, aku ingin bicara!" ucap pria itu setengah berbisik. Aurora menggeleng, dahinya telah dibasahi keringat karena ketakutan. Bagaimana ini, apa dia benar-benar melihatku semalam? Apa dia akan lakukan padaku? Sementara pria itu pula. Dia terlihat tersenyum tipis, yang pada mata Aurora, pria itu tersenyum dengan senyuman mengerikan. Pria itu masih mengingat di mana dia pertama kali bertemu dengan Aurora dan detik itu juga dia sudah memasang niat untuk menjadikan Aurora miliknya. *** Beberapa hari sebelum kejadian semalam. Seorang CEO yang terlihat dingin dan angkuh telah sampai di ibu kota negara X, dia merupakan pemilik dari perusahaan Chemi-X yang bergelut dalam bidang kimia. "Tuan, apa kita langsung saja kembali ke rumah?" tanya seorang asisten yang dipanggil Jack. "Aku akan pulang sendiri nanti, aku mau berkeliling sedikit," jawab pria tadi yang dikenali dengan nama Noah. Jack menganggukkan kepalanya lalu memberikan kunci mobil dengan logo kuda edisi terbatas pada sang Tuan. Noah menghabiskan waktunya dengan mengelilingi kota itu hingga kedua netra matanya menangkap sosok seorang wanita cantik sedang berdiri di luar toko bunga. Noah memperhatikan wanita itu dari dalam mobil, sudut bibirnya terangkat ketika melihat wanita itu tertawa bersama beberapa orang lagi yang mendekatinya. Namun, senyuman Noah memudar ketika seorang pria mengecup tangan wanita tadi, dia meremas stir mobilnya lalu segera pergi dari tempat itu. "Sial, kenapa aku merasa sakit hati! Dan wanita itu ... dia sangat menarik perhatianku, aku penasaran siapa dia," ucap Noah sendiri. Bayangan wanita itu terus saja mengacaukan pikiran Noah hingga Noah memutuskan untuk mencari tahu tentang wanita tadi. "Jack, kau cari tahu wanita yang berada di depan toko bunga siang tadi. Aku mau secepatnya," perintah Noah pada sang asisten. Akan tetapi, Jack terlihat bingung dan mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jack pun bertanya, "Toko bunga yang mana, Tuan?" Noah langsung menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Jack dengan memasang raut wajah yang dingin. "Baiklah, maaf Tuan. Saya akan segera cari tahu," lanjut Jack kemudian. Jack sudah mengikuti Noah dari 5 tahun yang lalu hingga dia benar-benar telah menghapal sikap dan sifat yang ditunjukkan oleh Noah. Termasuk memberi perintah tanpa ada keterangan seperti tadi. Jack berjalan keluar dari kamar kerja Noah lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon tim IT mereka untuk mencari tahu di mana toko bunga yang dimaksudkan oleh Noah tadi. Lebih kurang 20 menit, Jack menunggu hingga sebuah pesan masuk dan alamat toko bunga itu. Jack juga meminta beberapa data tentang karyawan di dalam toko bunga itu. "Terlalu banyak wanita yang berada di luar toko bunga ini dan cuma ada tiga orang saja yang bekerja di toko itu. Bagaimana kalau bukan dari tiga orang ini? Mana muka mereka tidak jelas, cih," ucap Jack sambil berdecih kecil. Akhirnya, Jack tidak punya pilihan melainkan membawa data karyawan toko itu dan rekaman cctv jalan yang telah di ambil tadi. "Permisi Tuan, ini yang saya dapatkan," ucap Jack sambil memberikan file dokumen yang telah dia rapikan berserta rekaman cctv. Noah membuka kertas-kertas dokumen yang berisi data diri itu lalu menemukan apa yang dia cari. "Aurora Maria," ucap Noah lirih ketika membaca salah data dari karyawan toko bunga tersebut. ‘Aku akan membuatmu menjadi milikku!’ Noah berbisik dalam hati. Noah hanya menatap foto Aurora yang berada di pojok atas kertas yang dia genggam, namun masih sedang asyik menatap wajah cantik Aurora tiba-tiba ponsel Noah berbunyi. Noah segera menjawabnya, "Ada apa?" "Kami telah mengepung wanita penipu itu, apa Tuan akan datang untuk mengeksekusinya sendiri atau kami membawanya ke markas saja?" beritahu seseorang dari seberang sana. "Biarkan saja dia dan tetap awasi gerak-geriknya karena malam ini aku masih sibuk," jawab Noah dan mematikan panggilan secara sepihak. "Kita akan bertemu nanti," Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN