Bab 3 Dia ... Noah

1111 Kata
Sudah 2 hari dari hari pertama Noah melihat Aurora hingga kini Noah selalu memperhatikan Aurora dari jarak yang lumayan jauh. Noah masih menyusun rencana untuk mendekati Aurora tanpa perlu menggunakan kekasaran atau pun paksaan. Masih sedang asyik duduk di dalam mobil memperhatikan Aurora, tiba-tiba ponsel Noah berbunyi. Agak kesal karena bawahannya selalu saja mengganggu dirinya di saat tidak tepat. Jika ingin ikutkan kata hati, mungkin anak buah yang berani mengganggunya saat ini telah ditembak mati, tetapi Noah masih punya pemikiran positif bahwa hal itu merupakan tanggungjawab bawahannya, yang mana harus segera melaporkan langsung kepadanya. "Kenapa?" tanya Noah. "Maaf Tuan, tetapi wanita itu coba melarikan diri," lapor salah bawahan Noah dari seberang sana. "Ck, tunggu aku datang!" jawab Noah ketus. Mau tidak mau, Noah terpaksa pergi dan menyelesaikan masalah itu. Sebelum benar-benar pergi Noah sempat menangkap foto Aurora yang sangat kebetulan berdiri di depan dinding cermin toko itu. "Sangat cantik," puji Noah dengan sudut bibir yang terangkat. Malam semakin larut, Noah sengaja bermain-main dengan wanita yang menjadi target itu. Dia memberikan peluang kepada wanita itu untuk kabur sejauhnya. Namun, pada akhirnya tetap saja Noah mendapatkannya. Sewaktu melakukan penyiksaan terhadap wanita target itu, Noah mendengar suara teriakan seseorang dari balik kotak kayu itu dan menangkap bayang-bayang seseorang bersembunyi. ‘Aku akan memberesimu setelah wanita tua ini mati!’ batin Noah. Noah tersenyum miring sambil menyayat kulit wanita yang telah terbaring dengan lemas di lantai lorong itu. "Tidak seru, kenapa cepat sekali mati. Ck, kalian cepat bawa mayat ini dan buang ke dalam hutan biar dia dimakan binatang buas," perintah Noah pada beberapa bawahan yang bersembunyi tepat di belakangnya. “Sekarang, aku harus main dengan saksi tadi tapi sebelum itu, hmm biarkan dia pergi seperti aku tidak melihatnya. Hahaha!” bisik Noah dalam hati. Noah berpura-pura pergi dan bersembunyi agar seseorang yang melihatnya tadi keluar dan kabur dari tempat ini. Ia sangat suka main kejar-kejaran dengan seseorang yang ingin disiksanya karena menurutnya, mereka yang melarikan diri sangat bodoh karena berharap bisa terlepas darinya. Ketika seseorang keluar dari balik kotak kayu itu, netra mata Noah membulat dan sedikit terkejut. "Aurora! Kenapa dia, … ck sialan!" umpat Noah nada berbisik. Noah hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan dalam diam membuntuti Aurora hingga Aurora tiba di sebuah rumah kontrakan kecil. Noah tidak bisa menyakiti Aurora karena dia sudah menanam sebuah perasaan pada gadis itu dan berniat ingin menjadikan miliknya, tetapi belum saja tercapai niat baiknya, malah hal yang tidak terduga pula menimpa Noah. Noah bersandar pada sebuah mobil sambil menatap ke arah rumah kontrakan Aurora. "Aku semakin ingin memilikimu, Aurora! Tidak peduli jika kau menolak karena kau terlahir hanya untuk aku!" ucap Noah sambil tersenyum. *** "Kenapa melamun?" tanya Noah pada Aurora. Aurora tersentak lalu berdiri dan mundur berapa langkah untuk menjauhi Noah, namun punggungnya telah mentok bersandar pada dinding. "Kenapa kau menjauhiku? Aku hanya ingin bicara padamu," ujar Noah lagi dengan wajah polos. "Bi-bicara a-apa?" tanya Aurora gugup. "Bunga ... aku mau pesan bunga," jawab Noah. Aurora menghela napas panjang dengan perlahan, dia coba mengusir pikiran bahwa Noah mungkin mengenal dirinya. "Tu-tuan boleh bicara dengan mereka yang berada di kasir," tunjuk Aurora ke arah kasir. "Tapi di sana tidak ada orang," sahut Noah. Aurora langsung menoleh ke arah kasir dan ternyata benar ucapan Noah. Aurora langsung saja berjalan dengan cepat dan melewati Noah untuk menuju ke kasir. Aurora baru saja ingat bahwa teman-temannya keluar makan sebentar dan menitip toko padanya karena dirinya tadi tidak ingin keluar. ‘Ck, kenapa saat tidak ada orang di sini. Si psikopat ini datang!’ Aurora berdecak, agak ketakutan juga. "Apa aku bisa memesan bunga?" tanya Noah yang telah berada di depan meja kasir. "Ya, bi-bisa," sahut Aurora. Tangan Aurora terlihat gementar ketika memegang bolpen untuk mencatat pesanan Noah. Tidak lupa Aurora juga terpaksa menjelaskan beberapa jenis bunga yang ada di toko mereka. "Kalau begitu aku ingin memesan bunga mawar merah 44 tangkai dan ... sertakan kartu dengan ucapan Selamat berkenalan cintaku, Aurora. Itu saja," ujar Noah sambil tersenyum tipis. Tangan Aurora terhenti ketika mencatat ucapan yang disebutkan oleh Noah, dia sedikit terkejut karena nama yang disebut Noah sama persis dengan namanya. ‘Ah, mungkin kebetulan saja!’ Aurora menyakinkan dirinya sendiri. Aurora meneguk air liurnya dengan begitu susah payah. Dia masih coba bersikap biasa saja walaupun wajahnya begitu terlihat pucat dan berkeringat. "I-tu saja? Apa ada lagi?" tanya Aurora dengan berani. "Iya. Eh, tunggu dulu. Kita belum kenalan ya, aku Noah dan kamu?" ujar Noah dengan tatapan penuh berharap sambil menghulurkan tangannya. "Eh, a-aku ... Aurora Maria," jawab Aurora. Noah mengangguk sambil tersenyum, kini tangan mereka sedang bersalaman. Noah bisa merasa telapak tangan Aurora yang dingin dan berkeringat. Tringg! "Auro— eh, ada pelang— … TUAN NOAH!" ucap Steven terbata dan diakhiri dengan suara memekik kaget. Aurora lantas melepaskan tangannya lalu menoleh ke arah Steven sang bos yang memasang wajah kaget. Sementara, Noah tidak lagi memasang wajah ramah dan hanya terlihat datar. Begitu cepat dia mengubah ekspresinya. "Maaf-maaf, saya terlalu syok tadi. Hehe, apa Tuan Noah ingin memesan bunga?" ujar Steven dengan menyengir karena malu. "Sudah, Aurora, jangan lupa pesanan aku, aku pamit dulu," sahut Noah dan pamit kepada Aurora. Steven hanya mematung sambil memasang wajah yang sumringah melihat kepergian Noah. Setelah Noah benar-benar pergi, dia langsung mendekati Aurora dan beberapa menit kemudian Sarah dan teman sekerjanya juga masuk ke dalam toko. "Aurora, bagaimana-bagaimana? Apa pesanan Tuan Noah?" tanya Steven penasaran. "Cuma pesan mawar merah 44 tangkai dan menitip sebuah kartu ucapan," jawab Aurora polos. Sarah yang penasaran dengan percakapan mereka pun mendekati keduanya. "Apa yang kalian bicarakan? Bang, kenapa wajahmu terlihat begitu bahagia dan Aurora terlihat begitu lesu?" "Sayang apa kau tahu tadi, Tuan Noah datang ke toko bunga kita, dia memesan bunga di toko kita," jelas Steven dengan begitu girang. "Tuan Noah? Noah Adam Anderson, pemilik perusahaan Chemi-X?" tanya Sarah ingin memastikan. "Benar, Sayang. Dia datang tadi loh …, dan Aurora yang melayaninya," jawab Steven. Sarah langsung memekik hingga membuat para karyawan lain kaget dan segera melihat ke arah mereka bertiga. "Ups, maaf-maaf. Ini pasti petanda baik ‘kan Bang," ujar Sarah lagi. Aurora hanya menggelengkan kepalanya. Ingin sekali dia memberitahu tentang sifat Noah yang dia lihat tapi Aurora tidak ingin berbicara tanpa bukti karena dia takut mereka menganggapnya tidak waras. ‘Petanda baik untuk toko kalian, tapi petanda kesialan untuk diriku, huh! Cih.’ "Maaf Kak, tapi boleh kah aku minta izin pulang lebih awal? Karena perutku benar-benar sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi," ucap Aurora menginterupsi kegirangan kedua suami istri itu. "Ok baiklah Aurora, beritahu saja yang mana pesanan Tuan Noah. Nanti aku yang akan kerjakan sendiri," sahut Sarah bersemangat. “ … tapi, … kenapa aku merasakan ada firasat buruk yang akan berlaku?” gumam Aurora pelan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN