Baru saja selesai mandi, ponsel Aurora tidak berhenti berdering hingga membuat Aurora merasa sedikit aneh karena tidak biasanya ponselnya berdering pada jam-jam begini. Aurora mengambil ponselnya lalu terlihat pada layar bahwa Sarah lah yang membuat panggilan. Aurora pun segera menjawab panggilan itu.
"He—” belum sempat Aurora berbicara, Sarah lebih dulu bersuara dari seberang sana.
"Aurora! Kau bisa ke sini tidak? Aku lagi sangat membutuhkanmu, cepat! Tolong ke sini ya," ucap Sarah lalu mematikan panggilan secara sepihak.
"Maks— ... cih, kenapa harus ke toko lagi? Mana ini sudah mau jam 4 sore, belum makan lagi. Ah, tahu gitu tidak usah pulang tadi," decak Aurora yang merasa kesal setengah mati.
Aurora pun segera mengenakan baju, lalu berdandan tipis seperti biasa dan segera keluar dari rumah. Aurora terpaksa menggunakan uang makannya untuk menyewa ojek agar lebih cepat tiba di toko bunga.
Beberapa menit kemudian, Aurora pun tiba di toko bunga dan orang yang pertama dia lihat adalah … Noah yang sedang duduk di sofa menunggu sambil menatap dirinya dengan tatapan tajam.
Aurora meneguk air liur dan langsung menuju ke arah Sarah dan Steven yang juga terlihat pucat pasi.
"Kak, ada apa memanggilku ke sini?" tanya Aurora tanpa basa basi.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal dan kenapa kau izin pulang, sedangkan Tuan Noah yang menyuruhmu menyiapkan pesanan bunga untuknya?" tanya Sarah dengan nyaris berbisik karena takut terdengar oleh Noah.
"Tuan Noah marah karena kau pulang dan tidak menyelesaikan pesanannya, kami sudah coba untuk menyiapkannya, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Tuan Noah," sahut Steven pula.
"Maafkan aku Kak, kalau begitu aku akan selesaikannya sekarang," ucap Aurora merasa bersalah.
Aurora pun membalikkan badannya dan berjalan ke arah Noah yang masih duduk dengan menunjukkan wajah yang dingin.
"Maaf Tuan Noah, tadi saya benar-benar tidak enak badan makanya saya pulang. Sekarang saya bakal menyiapkan pesanan Tuan, saya permisi," ujar Aurora dengan mencoba tegar walaupun takut.
"Secepatnya," sahut Noah, terdengar lebih santai dan tenang.
Aurora pun langsung saja masuk ke dalam ruangan penyimpanan barang-barang dan mengambil bahan untuk membuat buket bunga mawar pesanan Noah.
Sedikit pun Noah tidak bergerak dari tempatnya dan hanya memperhatikan kecekatan tangan Aurora dalam mendekorator buket bunga pesanannya.
"Sangat cantik," gumam Noah tanpa sadar.
Setengah jam telah berlalu dan akhirnya Aurora telah menyelesaikan sentuhan terakhir untuk pesanan buket bunga mawar itu.
"Selesai," ucap Aurora sambil tersenyum.
Aurora segera melepaskan sarung tangannya lalu mengambil buket itu dan dibawanya ke arah Noah.
"Sudah selesai Tuan, apa ada yang kurang?" ujar Aurora sambil mempamerkan buket bunga mawar itu.
"Cantik, sangat cantik," sahut Noah menatap Aurora.
Aroma wangi bunga mawar itu menusuk ke dalam rongga hidung Noah, tapi sebenarnya Noah sama sekali tidak tertarik pada bunga mawar itu dan tidak juga memuji cantik bunga mawarnya melainkan memuji kecantikan Aurora.
Aurora berdiri dengan canggung dan rasa takut karena Noah tidak berhenti menatapnya, entah apa mata Noah yang bermasalah hingga bunga mawar yang cantik itu tidak ditatapnya.
"Tuan?" panggil Aurora.
"Ya?" jawab Noah.
"Ini sudah selesai atau ada yang mau ditambah?" tanya Aurora.
"Tidak, hmm kartu ucapannya sudah?" tanya Noah kembali.
"Semua sudah," sahut Aurora.
Noah pun berdiri lalu mengambil bunga itu dari tangan Aurora dan sempat mengulas senyuman sebelum Noah pergi ke meja kasir.
"Aku mau pesan setiap hari di waktu yang sama seperti hari ini, bunga mawar 44 tangkai harus ada dan aku sendiri akan datang mengambilnya. Yang paling penting adalah, hanya Aurora yang bisa mendekorat bunga mawar untuk aku. Paham?" beritahu Noah, ia menatap sekilas ke arah pemilik toko bunga itu.
Steven dan Sarah mengangguk dan serempak menyetujui permintaan Noah.
Setelah mengatakan hal itu, seorang lagi pria tampan masuk ke dalam toko lalu membungkuk hormat ketika berhadapan dengan Noah.
"Jack, selesaikan tagihan selama sebulan dengan 20% tips untuk mereka dan 30% tips untuk Aurora," perintah Noah.
"Baik Tuan," sahut Jack.
Sebelum keluar dari toko bunga tersebut, Noah sempat mendekati Aurora dan berpesan, "jangan lupa pesanan yang selanjutnya … dengan ucapan yang sama."
Aurora hanya mengangguk sambil meremas tangannya, dia mengartikan bahwa dia akan selalu bertemu dengan Noah mulai ini dan seterusnya. Noah telah menjadi pelanggan tetap mereka.
Setelah Noah pergi bersama pria yang satu lagi, Aurora pun mendekati Sarah dan Steven. Dia menatap Sarah dan Steven dengan tatapan bingung karena mereka terlihat kaget melihat ke arah layar menitor komputer kasir mereka.
"Ada apa?" tanya Aurora.
"Oh iya, tips kau setiap tutup toko baru kami beri dalam amplop ya karena tidak enak dengan yang lain," ujar Sarah dengan wajah sumringah.
"Tips? Tips apa hingga harus pakai amplop?" tanya Aurora dengan polos.
"Tuan Noah memberimu tips 30% dari harga bunga pesanannya, apa kau tidak tahu?" ujar Sarah lagi.
Aurora menggeleng lalu menghela napas panjang, 30% itu menurutnya tips yang tidak wajar karena terlalu banyak. Orang lain, biasanya akan memberi 3% dari harga bunga, namun mungkin karena Noah merupakan orang kaya jadi dia seenaknya hendak melakukan apa saja.
"Bisa tidak tips itu dibagi-bagi sama rata dengan karyawan lain, aku tidak enak menerimanya sendiri," pinta Aurora.
Sarah dan Steven langsung menatap Aurora dengan tatapan tidak percaya.
"Apa kau yakin?" tanya Steven.
"Yakin," sahut Aurora singkat.
Akhirnya mereka pun menyetujui permintaan Aurora dan Aurora pun meminta izin untuk pulang karena dia juga butuh istirahat. Kepala Aurora mulai merasa pusing karena memikirkan nasibnya ke depan jika terus bertemu dengan Noah pria psikopat itu.
‘Apa suatu hari aku akan menjadi seperti wanita yang dia siksa malam itu? Kenapa aku? Aku yakin dia berbuat seperti ini pasti ada alasannya, tidak mungkin juga orang sekaya dia mau datang ke toko bunga kecil ini.’
Aurora larut dalam pikirannya sendiri hingga tanpa sadar dia terlelap dengan pulas di atas tempat kasur empuk miliknya.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, ponsel Aurora terus saja berdering dan tanpa melihat ke arah layar, Aurora langsung menjawab panggilan teleponnya.
"Hmm, helo?" ucap Aurora.
Namun, bebeberapa detik Aurora menunggu sahutan dari si pemanggil. Aurora pun memaksa matanya agar terbuka untuk melihat siapa yang meneleponnya.
"Nomor baru?" ucap Aurora berbisik.
Aurora coba mendekatkan ponselnya lagi ke telinga dan coba mendengar, tetapi tiada ada suara sama sekali. Dia pun mematikan panggilan telepon lalu menyimpannya kembali di atas nakas.
Aurora pun duduk dan meregangkan tubuhnya dan tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Aurora langsung menoleh dan mengernyitkan dahi, dia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat.
"Siapa sih malam-malam begini?" ucap Aurora yang mulai merasa sedikit ketakutan.
Bersambung...