Aurora berjalan perlahan dan sebelum membuka pintu dia sempat berceletuk. "Ya Tuhan, mudah-mudahan bukan setan atau dedemit. Soalnya aku sendiri di rumah, lindungi aku ya Tuhan."
Dengan tangan yang gementaran, dia memutar gagang pintu rumahnya, setelah pintu terbuka dia sempat mengintip ke luar dan ternyata seseorang berbaju hijau sedang berdiri di luar.
"Eh kang paket ya?" ucap Aurora lirih lalu membuka pintu dengan lebih lebar lagi.
"Maaf menganggu mbak, ini ada paketan untuk mbak, atas nama Aurora Maria," ucap pria itu tanpa basa basi.
"Benar, tapi saya tidak memesan paket," jawab Aurora bingung. Ia juga mengernyitkan dahi.
Sudah lama Aurora tidak pernah memesan paket karena kondisi keuangan yang begitu pas-pasan untuk dirinya. Aurora sempat menolak, namun pria itu mengatakan bahwa dia hanya perlu tandatangan untuk menerima saja.
Akhirnya, Aurora terpaksa menerima karena pria yang membawa paket itu memaksanya. Sedangkan, Aurora masih merasa bingung karena dia benar-benar tidak memesannya. Aurora memeriksa kembali alamat tujuan paket untuk mendapatkan kepastian karena dia yakin paket itu bukan miliknya dan pasti ada warga sekitar yang memiliki nama yang sama.
"Kok bisa ya? Alamatnya dan nomor rumah semuanya sama dengan tempat ku? Ck, tapi aku tidak memesan apa-apa," ucap Aurora sendiri, "biar sajalah nanti kalau ada yang telepon cari paket ini baru aku kembalikan," lanjut Aurora lagi.
Aurora pun membawa paket kotak besar itu dan meletakkannya di pojok ruang tamu rumahnya. Aurora kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa mencari tahu isi paket yang dia terima tadi.
Keesokan harinya, Aurora menjalani harinya seperti biasa dan dia juga mulai merasa banyak firasat buruk yang akan berlaku sejak sering bertemu dengan Noah. Dia memiliki firasat bahwa Noah sengaja melakukan pesanan bunga setiap hari karena punya niat tertentu.
Seminggu telah berlalu, Aurora masih menerima paket dengan ukuran yang sama, padahal ia saa sekali tidak pernah memesan paket. Hari ini mood Aurora sedikit kacau karena sudah berapa kali juga dirinya mendapat panggilan dari nomor yang baru, tetapi tidak ada suara orang yang berbicara saat dia mengangkatnya.
‘Sungguh apakah ini hanya kebetulan? Atau ada yang sedang mempermainkanku?’ pikir Aurora, ia tampak menghela napas panjang yang berat.
Aurora terlihat murung sambil menyiapkan pesanan khusus dari Noah hingga tanpa sengaja dia melukai tangannya karena Aurora juga lupa mengenakan sarung tangan. Saking kacaunya pikiran Aurora, tiba-tiba Noah datang lalu menarik tangan Aurora lalu diusapnya da-rah yang mengalir pada jari Aurora yang terluka karena silet yang digunakan Aurora untuk memotong hujung tangkai bunga mawar merah.
"Hati-hati kalau bekerja, kalau kau terluka nanti bisa kena infeksi," ucap Noah sambil menutup luka pada jari Aurora menggunakan tisu.
Aurora sempat melamun ketika Noah memperlakukannya dengan baik, namun setelah dia sadar, dia langsung saja menarik tangannya dan berdiri, detik kemudian ia menjauh dari Noah.
"Maaf, saya cuci tangan dulu." Aurora segera pergi dari temnpat itu dengan langkah yang lebar.
Jantung Aurora berdegup kencang karena Noah menyentuh tangannya dan berdiri sangat dekat dengannya. Kini, Aurora berada dalam kamar wc. Da-danya terasa begitu sesak dan tubuhnya gementar, Aurora mulai menangis tanpa mengeluarkan suara.
“Ya Tuhan, aku takut .... Pria psikopat itu menyentuhku.” Aurora bergumam pelan, sambil mengusap air matanya.
Kejadian malam itu kembali menghantui dirinya, padahal dia sudah coba melupakan dan mengabaikan kejadian itu agar tidak mengganggu pikiran mau pun mentalnya. Namun, semua sia-sia karena pria psikopat itu berada di sekitar Aurora.
"Aku belum mau mati, masih banyak hal yang harus aku selesaikan," ujar Aurora lirih.
Aurora coba berpikir keras agar bisa terhindar dari bertemu Noah, hingga sebuah ide terlintas pada benaknya. Aurora pun segera sudahi air matanya lalu membersihkan wajah agar tidak terlihat dia baru saja selesai menangis karena ketakutan.
Aurora keluar dari kamar wc itu dengan memasang wajah biasa-biasa saja dan kembali menyiapkan pesanan Noah dengan cepat. Tidak jauh dari tempat Aurora menyiapkan pesanan, Noah terlihat duduk manis di sofa sambil menatap ke arah Aurora. Noah tersenyum tipis, dia bisa menebak bahwa Aurora baru saja selesai menangis.
"Kenapa kau begitu takut padaku? Padahal, aku mencintaimu," ucap Noah lirih.
Setelah selesai pesanan buket bunga mawar Noah, Aurora segera membawanya ke arah Noah. Dengan memasang raut wajah yang biasa saja semakin membuat Noah penasaran apa yang dipikirkan oleh Aurora.
"Sudah selesai, Tuan," ucap Aurora.
"Terima kasih dan ini untuk kamu," sahut Noah lalu memberi Aurora plaster luka yang bercorak hati.
"Tidak perlu Tuan, tadi hanya luka kecil. Nanti akan tertutup sendiri," tolak Aurora.
Noah tetap mengulur tangannya sambil memegang plater luka itu. Dia menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal itu membuat Aurora mau tidak mau menerima plaster luka itu lalu berterima kasih.
Noah tersenyum tipis lalu segera pamit untuk pulang, namun belum saja dia keluar dari toko tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam toko sambil membawa buket boneka lalu mendekati Aurora. Noah menoleh ketika mendengar pria tadi memanggil nama Aurora.
"Aurora," panggil pria tadi.
Aurora tersenyum melihat kehadiran seorang pria yang hampir sebulan ini tidak terdengar kabar darinya.
"Mark, kau datang?" sahut Aurora dengan nada bahagia.
"Aku datang Aurora, maaf baru dapat libur hari ini dan besok. Apa kau merinduku?" ujar pria yang bernama Mark itu sambil menarik pipi Aurora.
Sementara mereka asyik berbagi tawa, Aurora dan Mark tidak sadar Noah menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sangat mengerikan. Aura psikopat Noah jika bisa dilihat oleh mata aksar sudah pasti akan terlihat karena Noah merasa sangat marah dengan pemandangan di hadapannya ini.
Noah keluar dari toko itu dengan tangan kiri yang mengepal, dia segera memasuki mobilnya dan meninggalkan toko bunga itu sebellum dia kelepasan lagi di hadapan Aurora.
Noah kembali ke perusahaan dengan raut wajah yang dingin, namun tangan kanannya masih memegang erat buket bunga mawar tadi. Para karyawan tidak berani mengangkat wajah ketika Noah sedang dalam mode seperti ini karena pasti akan melampiskan emosinya pada karyawan yang terlihat berani.
"Sial! Aku akan siksa pria itu! Berani dia menyentuh wanita yang aku cintai," umpat Noah ketika telah berada dalam ruangannya sendiri.
Jack yang mendengar bahwa Noah telah kembali dan berada dalam keadaan marah pun segera menyusul Noah masuk ke dalam ruangan Noah. Jack mendengar semua umpatan Noah yang terlihat begitu kesal dan marah. Hingga sebuah perintah Noah berikabn pada Jack barulah Jack berani bersuara.
"Cari tahu siapa pria yang berani menyentuh wanita yang aku cintai itu dan berikan dia ancaman atau ... tunggu dulu biar aku yang berurusan dengannya," perintah Noah pada Jack sambil tersenyum sungging.
Bersambung...