Di Masjid
"Abang," panggil Bu Yani.
"Iya, kenapa sih? Ada yang ketinggalan di rumah? Kamu mah kebiasaan, udah nyampe masjid baru ngomong," tanya Pak Sobri, sedikit kesal.
"Bukan, Bang," jawab Bu Yani.
"Lah terus apa? Kan tadi aku yang masak, kompor udah aku matiin, masakan juga udah selesai sebelum kamu bangun," tanya Pak Sobri lagi, masih terdengar heran.
"Iih, Bang, dengerin dulu dong! Aku belum selesai ngomong, udah dipotong aja," protes Bu Yani, sedikit mengeluh.
"Oh iya, udah. Sekarang mau ngomong apa? Ngomong aja," kata Pak Sobri, agak tidak sabar.
"Aku cuma mau bilang, Bang, jangan cepet-cepet jalannya," pinta Bu Yani.
"Bukan aku yang jalannya cepet, tapi kamu aja yang jalannya kayak siput, lama banget. Aku juga takut ketinggalan jamaah. Udah ah, ngomong mulu, yuk jalan lagi," keluh Pak Sobri.
"Iya, Bang," kata Bu Yani, patuh.
Setelah salat Subuh berjamaah, Daffa dan keluarganya sarapan pagi bersama di rumah. Begitu juga dengan Pak Sobri dan Bu Yani. Sarapan pagi Bu Yani hari ini spesial karena dimasakkan Pak Sobri, berbeda dari biasanya yang beli di luar.
Di Rumah Pak Sobri
"Masakan Abang sedep banget! Bagaimana kalau hari ini kita ke rumah Daffa, sekalian bawain masakan ini, Bang?" usul Bu Yani.
"Loh, kenapa kita? Suruh aja Jali ke sana," tolak Pak Sobri.
"Oh iya ya, Bang. Eh, tapi kan Jali siang kemarinnya," kata Bu Yani lagi, mengingat sesuatu.
"Lah, kan bisa buat makan siang nanti, Yani," sambung Pak Sobri.
"Iya... Tapi...." Bu Yani ragu-ragu.
"Udah, bilang aja kamu masih kangen sama cucu kamu," tebak Pak Sobri, tersenyum mengerti.
"Nah, itu Abang tahu! Ya, kita ke sana ya, abis sarapan nanti, sampai sore," Bu Yani memaksa dengan manja.
"Iya deh... Iya, buru makannya!" Pak Sobri mengalah, merasa sangat terpaksa.
"Oke deh, Bang," seru Bu Yani, gembira.
"Gak papa deh, sekalian gue mau bujuk Titah atau Daffa untuk cucu gue biar bisa belajar bela diri," gumam Pak Sobri dalam hati.
Tak beberapa lama kemudian...
"Yani, udah belum?" tanya Pak Sobri.
"Udah nih, Bang, ayo," jawab Bu Yani.
"Yuk," ajak Pak Sobri.
Di depan rumah Pak Sobri...
"Loh, itu kan Enyak Yani dan Bapak Sobri mau ke mana ya mereka berdua?" tanya Jali, heran, ketika baru sampai setengah jalan menuju rumah Pak Sobri.
"Gue ikutin aja kali ya," kata Pak Sobri, penasaran.
Sementara itu, di rumah Daffa, Daffa sedang bersiap-siap untuk mendaftarkan Naufal ke sekolah Dzaka dan Dzaki, agar mereka satu sekolah.
Sedangkan Paijo seperti biasa menjaga warung, dan Inah membantu Titah membersihkan rumah.
Di Rumah Daffa
"Mudah-mudahan nggak ada masalah hari ini ya Allah, biar bisa jaga warungnya fokus," doa Paijo yang sedang menjaga warung, sedikit cemas.
"Jo, kamu nggak apa-apa ya sendirian hari ini jaga warungnya? Aku mau mendaftarkan sekolah Naufal biar satu sekolah sama Dzaka dan Dzaki," tanya Daffa.
"Nggih, mboten menapa-menapa, Pak Daffa," jawab Paijo, tenang.
"Ya sudah kalau begitu, nah..." sapa Daffa.
"Iya, Pak," jawab Inah yang sedang menyapu halaman rumah.
"Yank, Naufal sudah siap belum?" tanya Daffa pada istrinya.
"Sudah tuh," jawab Titah.
"Ayo, Om," ajak Naufal yang sudah siap.
"Ayo, eh tapi tunggu. Jangan panggil Om, panggil Pakdhe saja ya. Kamu panggil istriku Bude. Kecuali kamu panggil istriku Tante, baru kamu panggil aku Om," pinta Daffa, menjelaskan aturan panggilan keluarga.
"Inggih, Pakdhe," kata Naufal, patuh.
"Ya sudah, Yank, aku pergi dulu ya sama Naufal," pamit Daffa.
"Iya, hati-hati di jalan ya, Mas," kata Titah, mencium punggung tangan suaminya.
"Assalamu'alaikum," Daffa dan Naufal memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam," Paijo, Inah, dan Titah menjawab salam dari Daffa dan Naufal.
Daffa dan Naufal pun pergi menggunakan angkot.
Tiga puluh menit kemudian...
"Assalamu'alaikum," sapa Pak Sobri dan Bu Yani, ramah, pada Paijo.
"Wa'alaikumussalam, Pak Sobri, Bu Yani," jawab Paijo, menyambut kedatangan mereka.
"Titah ada di dalam, nggak, Jo?" tanya Bu Yani.
"Ada, Bu. Mangga," jawab Paijo, mempersilakan mereka masuk.
Paijo mengantar Pak Sobri dan Bu Yani ke dalam rumah untuk menemui Titah.
"Assalamu'alaikum," salam Paijo, Pak Sobri, dan Bu Yani bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Nano, menyambut kedatangan mereka. "Ada besan, silakan duduk," ujarnya ramah.
"Iya, Pak, terima kasih," jawab Pak Sobri.
"Jo," panggil Bu Yani.
"Nggih, Bu Yani. Ada apa?" tanya Paijo.
"Ini rantang, bawa ke dapur ya," pinta Bu Yani.
Paijo membawa rantang dan lauk pauk lainnya ke dapur.
"Nah ini... Loh, Bu Titah, maaf ya, Bu Titah. Saya..." kata Paijo, sedikit gugup.
"Inggih, Jo, mboten punapa-punapa," jawab Titah, menenangkan Paijo.
"Eh eh, Jo," panggil Titah.
"Niku menapa?" tanya Titah, penasaran, melihat Paijo membawa sesuatu.
"Rantang kaliyan lauk saking Bu Yani," jawab Paijo, menjelaskan.
"Oh," seru Titah, mengerti.
"Inah," panggil Titah.
"Iya, Bu, ada apa?" tanya Inah.
"Ini kamu lanjutkan ya masaknya, tinggal nunggu matang saja kok. Aku mau ke depan dulu, ada mertuaku," jelas Titah.
"Oh, iya, Bu," jawab Inah, patuh.
"Jo, taruh di piring ya lauknya, nasinya biar tetap panas taruh di magic com ya, Jo. Sekalian buatkan minum dan itu kan ada gorengan pisang yang tadi aku goreng, sekalian bawa ya ke depan," pinta Titah, memberikan beberapa instruksi.
"Siap, delapan enam, Bu," jawab Paijo, semangat.
Titah kembali ke ruang tamu untuk menemui mertuanya.
"Assalamu'alaikum," salam Titah.
"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Sobri dan Pak Nano.
"Pak, Nyak," sapa Titah, kemudian mencium punggung tangan Pak Sobri dan Bu Yani.
"Iya," jawab Pak Sobri dan Bu Yani.
"Sibuk kamu, toh, di dapur?" tanya Bu Yani.
"Iya, Nyak, tapi sudah selesai kok, tinggal Inah lanjutkan masak saja," jawab Titah.
Sementara itu, Jali yang berada di luar rumah Daffa, dihampiri Madonna, seorang laki-laki yang berdandan seperti wanita yang menyukai Paijo. Madonna ingin menanyakan sesuatu pada Jali.
Di luar rumah Daffa...
"Duh, kok Nyak Yani dan Pak Sobri nggak keluar-keluar ya dari rumah itu. Kira-kira itu rumah siapa ya?" Jali bertanya-tanya.
"Itu yang di situ siapa ya? Kok dari tadi memperhatikan rumah Bu Titah dan Pak Daffa mulu ya. Apa Madonna yang cantik jelita dan lemah gemulai itu samperin aja ya orang itu, takutnya orang itu mau berniat jahat sama keluarga Pak Daffa," Madonna juga bertanya-tanya, sedikit cemas.
"Ah, bodo amat ah... Gue samperin aja orang itu," kata Madonna, memutuskan untuk mendekati Jali.
"Hai, Abang," sapa Madonna, menggoda Jali.
"Iya, astaghfirullahalazim, perempuan jadi-jadian dari mana nih? Eh, Cong, kamu turun dari mana?" tanya Jali, terkejut dan sedikit kaget.
"Ih, Abang sembarangan deh kalau ngomong, enak aja masa cantik-cantik begini dibilang perempuan jadi-jadian sih... Oke, perkenalkan nama aku Madonna, aku pacar Mas Paijo, rumah yang kamu lihatin dari tadi," jawab Madonna, memperkenalkan diri.
"Paijo?" tanya Jali, heran, mendengar nama yang tidak asing baginya.
"Iya," jawab Madonna.
"Tunggu bentar ya, Paijo yang situ maksudnya itu ART-nya Pak Daffa bukan?" tanya Jali, memastikan.
"Iya, nah itu betul," jawab Madonna.
"Bisa antar ke sana nggak?" tanya Jali.
"Iya, tentu aja bisa dong, yuk," ajak Madonna.
"Oke," seru Jali.
Jali dan Madonna sampai di rumah Daffa. Paijo kebetulan sedang menjaga warung.
"Assalamu'alaikum, Mas Paijo sayang," sapa Madonna, menggoda Paijo.
"Wa'alaikumussalam," jawab Paijo, sedikit terkejut. "Sik, kayak kenal ya sama suaranya. Jangan-jangan... wallah, cangcorang Israel!" gumam Paijo, heran dengan kedatangan Madonna.
"Ih, Mas Paijo sayang, begitu deh... Jahat, jahat," protes Madonna, manja.
"Ih, amit-amit jabang bayi," kata Paijo, geli dipanggil 'sayang'.
"Ih... Mas Paijo sayang, tahu nggak?" tanya Madonna, kembali menggoda.
"Enggak. Emang apaan?" tanya Paijo.
"Apa yang Mas Paijo sayang lakukan pada Madonna itu jahat, jahat... banget..." jawab Madonna, berlebihan.
"Eh, cangcorang Israel, kamu kok nggak malu sih? Itu ada cowokmu di sini, masih saja godain aku," keluh Paijo.
"Eh, Paijo, Mas sembarangan kalau ngomong! Siapa juga yang pacarnya perempuan jadi-jadian ini. Kata perempuan setengah jadi ini, dia itu pacar kamu," timpal Jali, ikut protes.
"Eh, halo... Sorry ya, aku kalau punya pacar milih-milih juga, keles. Modelan kayak begini aku jadiin pacar? Ih... Ogah," tolak Paijo, tegas.
"Ih, Mas Paijo kok begitu sih, hmm... Ya sudah deh, aku ke sini mau beli deterjen, sabun mandi, sama sabun colek," kata Madonna, mengalihkan pembicaraan.
"Ya, tunggu sebentar, nih... Sepuluh ribu semuanya," kata Paijo, menghitung harga barang.
"Nih uangnya, hmm... Apa yang Mas Paijo itu sakit, hmm..." Madonna pergi tanpa mengucapkan salam.
"Mboh, mboh, mboh, mboh," gumam Paijo, heran.
"Loh, kok kamu nggak ikut sama cangcorang Israel itu?" tanya Paijo pada Jali.
"Enggak lah, Jo, ngapain aku ikut dia? Kenal juga enggak," jawab Jali.
"Kamu juga panggil nama aku, kenal saja enggak," kata Paijo.
"Kamu lupa sama aku, Jo?" tanya Jali.
"Emangnya kamu siapa?" tanya Paijo.
"Aku Jali, Jo... Keponakannya Pak Sobri," jawab Jali.
"Keponakannya Pak Sobri, mertuanya Bu Titah?" tanya Paijo lagi, memastikan.
"Iya," jawab Jali.
"Oh," seru Paijo, mengerti.
"Pak Sobri dan Bu Yani ada kan?" tanya Jali.
"Ada, lagi pada ngumpul di dalam. Mau ke dalam?" tanya Paijo.
"Ya boleh," jawab Jali.
"Ya sudah, ayo aku antar kamu ke dalam," tawar Paijo.
"Eh, tunggu dulu, sebelum masuk ke dalam aku ingin menanyakan sesuatu," kata Jali.
"Apa itu?" tanya Paijo.
"Ini rumahnya Titah dan Daffa ya?" tanya Jali.
"Iya, loh, memangnya kamu ini nggak tahu, toh, di mana rumahnya Pak Daffa dan Bu Titah?" tanya Paijo, heran.
"Nggak, Jo, baru sekarang aku ke sini," jawab Jali.
"Ya sudah, yuk masuk," ajak Paijo.
Paijo dan Jali masuk ke dalam rumah Daffa. Bu Yani terkejut melihat Jali di rumah Daffa.