"Assalamualaikum," Jali dan Paijo memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Sobri.
"Jo, sama siapa kamu?" tanya Bu Yani.
"Saya, Nyak," jawab Jali sambil cengengesan.
"Kamu, Jal? Ngapain ke sini?" tanya Bu Yani lagi.
"Hehe... Abisnya Nyak dipanggil-panggil enggak nengok, ya udah saya ikutin aja," jawab Jali.
"Masa sih? Perasaan enggak ada yang manggil tadi," kata Pak Sobri.
"Hmm...." Jali menggaruk-garuk kepala.
"Oh iya, Nyak ke sini selain nganterin makanan buat kamu, Nyak juga kangen cucu. Cucu Nyak mana, ya?" tanya Bu Yani.
"Anak-anak..." Titah belum selesai bicara, anak-anaknya sudah datang.
"Assalamualaikum!" Dzaka, Dzaki, dan Zahwa memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Sobri.
"Nah, itu mereka pulang, Nyak," kata Titah.
"Nenek, Aki!" seru Dzaka, Dzaki, dan Zahwa bersamaan.
"Iya, cucu Nenek," sahut Bu Yani.
"Udah lama ya, Nek?" tanya Zahwa.
"Baru nyampe, Zahwa," jawab Bu Yani.
"Oh..." Zahwa mengangguk.
"Oh iya, laki kamu mana? Di masjid?" tanya Pak Sobri.
"Enggak, Pak. Mas Daffa lagi daftarin Naufal sekolah di tempatnya Dzaka sama Dzaki," jawab Titah.
"Oh...." Pak Sobri manggut-manggut.
"Wah, enak dong satu sekolah, jadi rame," sambung Bu Yani.
"Iya, rame, tapi kelasnya beda. Kayak saya, Daffa, sama Daffi dulu," kata Jali.
"Daffi siapa, Mang, Bun, Nek, Aki?" tanya Dzaka dan Dzaki penasaran.
"Daffi itu adik ayah kalian. Sepupunya Mamang," jawab Jali.
"Hah? Ayah masih punya saudara kandung?" Zahwa ikut bertanya.
"Bunda enggak tahu soal itu. Coba tanya sama Nenek dan Aki kalian, mereka lebih tahu," jawab Titah.
"Iya, benar. Daffi itu mamang kalian," Bu Yani membenarkan.
"Terus Mamang kami di mana, Nek?" tanya Dzaki.
"Mamang kalian sekarang jauh di Arab Saudi, kerja di sana," jawab Pak Sobri.
"Oh..." sahut anak-anak Daffa dan Titah.
"Terus laki kamu kapan pulangnya?" tanya Pak Sobri lagi.
"Mungkin habis dzuhur, Pak," jawab Titah.
"Ya sudah, Bapak tunggu sampai ashar," kata Pak Sobri.
"Yes! Bisa lama-lama sama cucu kesayangan," Bu Yani senang bisa lama bermain dengan cucunya.
"Iya deh, puas-puasin kamu, Yan," jawab Pak Sobri.
"Ya sudah, ayo Nek, kita ke ruang bermain saja," ajak Zahwa.
"Iya, yuk!"
Bu Yani dan cucu-cucunya asyik bermain di ruang bermain rumah Daffa. Sementara itu, Naufal dalam perjalanan pulang bersama Daffa. Tiba-tiba, Naufal melihat dua orang perempuan yang tampak seperti kakak beradik. Daffa yang menyadari perubahan ekspresi Naufal, bertanya karena penasaran.
"Fal..." panggil Daffa.
"Nggih, Pakdhe," jawab Naufal.
"Kamu kenapa lihatin mereka begitu? Kenal?" tanya Daffa.
"Enggak, Pakdhe. Tapi Naufal merasa mereka itu kakak dan adik Naufal," jawab Naufal dengan nada lirih.
"Loh, memangnya kamu enggak tahu di mana kakak dan adikmu sekarang?" tanya Daffa, terkejut.
"Enggak, Pakdhe. Yang Naufal ingat, setelah Mama diusir Ayah, Mama langsung bawa Naufal ke rumah Akung. Kakak dan adik Naufal dibawa Ayah pergi sama selingkuhannya," cerita Naufal dengan mata berkaca-kaca.
"Astaghfirullahaladzim... Kamu yang sabar ya, Nak," Daffa berusaha menenangkan Naufal.
"Nggih, Pakdhe. Maturnuwun, nggih, Pakdhe," kata Naufal.
"Nggih, sami-sami," sambung Daffa.
Naufal menoleh lagi ke arah dua perempuan itu. Kali ini, dia yakin bahwa mereka adalah kakak dan adiknya. Tanpa sadar, Naufal berteriak.
"Ayah...!" teriak Naufal.
"Naufal, tolong...!" Fitri, salah satu gadis itu, berteriak meminta pertolongan.
"Apa kau?! Berani sekali kau! Dasar bocah ingusan!" bentak Rico, ayah Naufal, dengan kasar.
"Maksudmu apa?! Pantas kah kamu bicara seperti itu pada anakmu sendiri?!" bentak Daffa, emosinya mulai terpancing.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku!" tantang Rico.
"Saya pamannya anak-anak ini. Karena ibunya sudah tidak ada, dan mereka adalah anak-anakmu, aku minta kau kembalikan mereka padaku," kata Daffa dengan nada tegas namun masih berusaha tenang.
"Ambil saja kalau kau berani!" tantang Rico.
"Oh, jadi kau menantangku? Baiklah!" Rico bersiap menyerang.
"Ciaaaatt...!" Rico memulai serangan.
Daffa dan Rico terlibat perkelahian sengit. Naufal, dengan sigap, membawa kedua adik dan kakaknya menjauh dari sana, menuju rumah Daffa.
Sesampainya di rumah, Naufal segera memberitahu Titah. Titah panik mendengar cerita Naufal. Pak Sobri yang melihat kepanikan menantunya, khawatir dengan keselamatan Daffa, segera menyusul ke tempat perkelahian.
"Bapak...!" Daffa terkejut melihat kehadiran Pak Sobri.
"Awas...!! Ciaatt...!" Pak Sobri melayangkan tendangan ke arah Rico.
Tak lama kemudian, Rico menyerah dan kabur. Daffa dan Pak Sobri pun kembali ke rumah.
Tanpa mereka sadari, Rico diam-diam mengikuti dari belakang. Ia punya rencana jahat: menyerang dan menculik anak-anak Daffa malam itu juga.
Setelah tahu di mana rumah Daffa, Rico bergegas menemui teman-temannya untuk membantu menjalankan rencana gilanya.
Sementara itu, Daffa sampai di rumah dan langsung menceritakan kejadian tadi pada ayah mertuanya, ayahnya, dan istrinya.
Di tempat lain, Rico menyeringai, "Akhirnya aku tahu di mana ketiga anak itu tinggal. Tunggu saja, nanti malam mereka jadi milikku!"
Di rumah Daffa...
"Sudah beres nih, Bu?" tanya Paijo, memastikan.
"Sudah, Jo," jawab Bu Yati.
"Jadi, totalnya berapa, Jo?" tanya Bu Santi penasaran.
"Sabar, Bu, satu-satu ya," kata Paijo.
"Oke deh!" sorak ibu-ibu yang sedang berbelanja.
"Assalamualaikum..." Pak Sobri dan Daffa memberi salam.
"Wa'alaikumsalam..." Paijo dan ibu-ibu menjawab serempak.
"Loh, Pak Daffa, kakinya kenapa?" tanya Bu Rossa khawatir.
"Keseleo, Bu," jawab Daffa singkat.
"Waduh, pasti Bu Titah cemas lagi kayak kemarin," timpal Paijo.
"Jo, tolong bantu Bapak masuk ke dalam, Jo," pinta Pak Sobri.
"Nggih, Pak Sobri. Ibu-ibu, sebentar ya," kata Paijo sopan.
"Iya, Jo, santai saja," sahut Bu Erika.
"Santai aja lagi," timpal Bu Viona.
Di ruang tengah...
"Maaf ya, Budhe, gara-gara aku..." Naufal merasa bersalah.
"Kamu ini ngomong apa sih? Sudah, kita tunggu saja Pakdhe-mu pulang," kata Titah menenangkan.
"Sudah, minum lagi air putihnya," sambung Bu Yani.
"Oh ya, Naufal, ajak adik dan kakakmu ke dalam, suruh mandi sekalian. Zahwa, pinjami baju kamu ya?" pinta Bu Yani.
"Iya, Nek. Mbak Fitri dan Mbak Alya pakai baju Zahwa dulu ya, untuk sementara," kata Zahwa sambil memberikan pakaiannya.
"Terima kasih ya, Mbak Zahwa," ucap Fitri dan Alya bersamaan.
"Iya, sama-sama," jawab Zahwa tulus.
"Iya, Bu Yani," kata Naufal patuh.
"Eh, jangan panggil Bu Yani, panggil Nenek saja seperti Zahwa, Dzaka, dan Dzaki ya," pinta Bu Yani.
"Iya, Nek," jawab Naufal, Fitri, dan Alya serempak.
"Tah, Daffa, dan Pak Nano..." panggil Pak Sobri, mengalihkan perhatian.
"Iya, Pak?" jawab Titah dan Daffa bersamaan.
"Iya, Pak Besan, ada apa?" tanya Pak Nano.
"Ada yang ingin saya sampaikan, ini firasat saya," jawab Pak Sobri.
"Firasat? Firasat seperti apa maksud Bapak?" tanya Daffa penasaran.
"Ini mengenai mereka bertiga, Naufal, Fitri, dan yang paling kecil...siapa namanya? Alya?" tanya Pak Sobri.
"Alya, Pak," jawab Titah.
"Nah, iya, Alya. Tapi jangan di sini, kita pindah keluar saja, di sebelah warung," pinta Pak Sobri.
"Iya, Pak, Titah setuju," kata Titah.
"Yan... Yani..." panggil Pak Sobri.
"Iya, Bang, kenapa?" tanya Bu Yani.
"Kamu jaga anak-anak saja di dalam ya. Saya, anakmu, mantumu, dan besan kita ini mau membicarakan sesuatu di luar," jawab Pak Sobri.
"Iye, Bang. Jal, Jal, Jalii..." panggil Bu Yani.
"Iya, Nyak, ada apa?" tanya Jali.
"Temenin gue momong cucu gue sini. Elu yang anak cowoknya, gue yang anak ceweknya," jawab Bu Yani.
"Oke, siap, laksanakan!" kata Jali patuh.
Di halaman samping rumah...
"Jo, kopi ya," pinta Pak Sobri.
"Iya, Pak," jawab Paijo patuh.
"Eh, tunggu, tunggu, Jo!" sergah Titah.
"Iya, Bu Titah, ada apa?" tanya Paijo.
"Bapak saya kopi s**u, bapak mertua saya kopi hitam gulanya masing-masing dua sendok saja. Suami saya samain kaya punya saya, eh, teh manis gulanya dua sendok juga ya," pinta Titah.
"Siap, laksanakan!" kata Paijo.
"Lalu, bagaimana Pak dengan firasat Bapak itu?" Titah membuka pembicaraan.
"Tadi, waktu Bapak pulang sama suamimu, Bapak lihat bapaknya ketiga keponakanmu itu ngikutin dari belakang. Firasat Bapak bilang dia mau ngerencanain sesuatu," jawab Pak Sobri.
"Maksud Bapak, Rico, ayah tirinya mereka?" tanya Titah memastikan.
Titah tahu betul anak-anak adiknya ikut bersama Rico, suami kedua adiknya setelah adiknya meninggal dunia.
"Oh, jadi dia ayah tirinya? Aku kira ayah kandungnya. Ternyata bukan," kata Daffa.
"Iya, bukan. Rico itu menantu saya yang paling kejam dulu waktu almarhumah anak saya, adiknya Titah, masih hidup," sambung Pak Nano.
"Ngapunten, Ndoro, niki minumannya sudah siap. Mangga," kata Paijo mengantarkan minuman dan cemilan.
"Nggih, Jo. Oh ya, Jo, kamu di sini dulu ya, ambil minumanmu sana," pinta Pak Nano.
"Nggih, Ndoro," kata Paijo.
"Paijo ini abdi saya yang paling setia, Pak Sobri. Dia yang pertama kali tahu kalau almarhumah anak saya di-KDRT sama menantu saya," Pak Nano bercerita pada Pak Sobri dan Daffa.