Sherly mengangkat tangannya ke udara dan akan mendaratkan di pipi mulus seorang gadis yang telah berani pada penguasa sekolah ini. Biarkan dirinya memberi pelajaran, agar ke depannya gadis itu tak berani melawannya lagi. Namun, sebelum itu, Erinna lebih dulu memegang tangan Sherly dan melintirkannya ke belakang.
"Lepasin, b*****t!!" pekiknya meronta. Namun, Erinna semakin mengencangkan cengkeraman tangannya.
Erinna mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia mencari keberadaan pemuda yang tak punya hati itu. Tetapi, ia sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaannya. "Awas lo, Kerey! Gue bakal bales." gumamnya.
Semua siswa-siswi saling memandang satu sama lain. Mereka masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh gadis cupu itu. Karena selama ini, tak ada seorang pun yang berani melawan Ratu bully SMA Mentari. Hingga sebuah teriakan, menyadarkan mereka semua.
"ELLINDA ZALSHA!!!"
Erinna melonggarkan cengkeraman tangannya saat seorang pemuda dan seorang gadis berlari ke arahnya. Ia duga, mereka adalah sahabat saudari kembarnya. Melihat kelengahan Erinna, Sherly pun kembali meronta. Ia berhasil terlepas. d**a Sherly bergemuruh melihat pergelangan tangannya yang memerah.
"Berani-beraninya, lo, buat pergelangan tangan gue terluka, b***h!!!" ucap Sherly penuh penekanan. Aura mencekam muncul disekitarnya. Membuat siswa-siswi bergidik ngeri. Berbeda dengan Erinna yang menatap santai ke arahnya.
"Lo nggak papa, Lin?" tanya Sisi meneliti tubuh sahabatnya. Meskipun, ia masih terkejut akan perlawanan yang dilakukan oleh sosok Erinna—saudari kembar sahabatnya.
"Seperti yang lo liat sendiri." jawab acuh tak acuh.
Seno menempelkan punggung tangan ke dahinya. Ia rasa, ada yang tidak beres dengan sahabat mereka itu. Biasanya, Ellinda akan ketakutan setengah mati jika melihat sang Ratu bully. Tetapi sekarang, ia malah berani menghadapinya seorang diri.
"Lo nggak sakit 'kan, Lin? Apa karena kecelakaan itu, jiwa lo tertukar? Sampe lo berubah drastis kek gini?" Sisi menoyor kepala sahabat laki-lakinya itu. Bisa-bisanya, Seno berbicara ngawur ditengah situasi yang menegangkan ini.
Seno meringis. Ia mengelus kepalanya. "Sakit b**o!" keluhnya.
"Salah lo sendiri! Udah tau suasana lagi tegang gini, malah bercanda!"
"Gue nggak bercanda! Lo nggak pernah baca novel transmigrasi ya gini! Gue 'kan cuma mastiin, kalo jiwa Ellinda itu nggak tertukar sama jiwa orang lain, Si—" ucapnya terpotong karena sebuah teriakan yang begitu memekikkan telinga.
"BACOT, ANJING'!!" Bukan Erinna yang berteriak. Melainkan Sherly. Gadis itu sudah kehilangan kesabaran. Erinna sudah berani menyakitinya, yang berarti telah mengibarkan bendera permusuhan yang sebenarnya.
Erinna yang malas meladeninya pun, langsung melangkah meninggalkan area parkiran. Lalu, disusul oleh Seno dan Sisi. Dalam perjalanan hanya ada keheningan. Erinna yang mulai jengah, karena terus ditatap, akhirnya berhenti. Ia bersedekap dadaa menatap Seno dan Sisi bergantian.
"Kenapa lo berdua, liatin gue terus?" tanyanya sambil mendongakkan dagu ke arah mereka. Dan hampir membuat Seno jantungan. Pemuda itu memegangi bagian dadaanya. Sedangkan Sisi, ia menyunggingkan sudut bibirnya.
"Lo beneran berubah, Lin? Ah, gue seneng banget!!" Sisi memeluk tubuh sahabatnya yang bergeming.
"Kok, lo nggak bales pelukan gue?" tanya Sisi melonggarkan pelukannya.
"Emang harus?" Erinna mengangkat sebelah alisnya.
"Haruslah, kita 'kan, sahabat!" seru Sisi kembali memeluknya.
"Oh." Seno melepas tawa. Sahabatnya yang versi terbaru ini, jauh lebih mengasyikkan. Apalagi dengan wajah datar dan dinginnya.
Sisi mengerucutkan bibir. Ia berdiri di sebelah Seno. Karena tak bisa menahan kegemasannya, Seno pun mencomot bibir sahabatnya. Hingga membuat gadis itu berteriak mengumpatinya. Sontak, Erinna pun menutup kedua telinganya.
"Dasar jomblo karatan!!! Sini lo, kadal!!" teriaknya berlari mengejar Seno.
"Woy, Sisi!! Gue lupa, kalo tangan gue bekas cebok tadi!! Gue nggak sempet cuci tangan pake sabun!!!"
Wajah Sisi sudah merah padam. Erinna hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa, bahwa Ellinda sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Tepat pada saat dirinya melangkah, tatapan semua warga sekolah tertuju padanya. Namun, Erinna lebih memilih mengabaikan. Ia beranjak menyusul Sisi yang tengah mencubit Seno di dekat ruang perpustakaan.
"Ternyata, dia gadis yang sama." gumam seorang pemuda yang menatap lekat tubuh belakangnya.
Di jam pelajaran pertama, Erinna mendekam di dalam kamar mandi. Panggilan alamnya telah menyelamatkan dirinya dari mata pelajaran yang membosankan. Mata pelajaran yang dihindari Erinna adalah pelajaran sejarah. Rasanya, ia selalu mengantuk dan merasa seperti di dongengkan saat guru sedang menyampaikan materi. Ia dan Ellinda sama-sama berada di kelas IPS. Jadi, dirinya tak perlu belajar dengan giat. Karena otaknya sangat cemerlang.
"Kemana ya? Apa gue ke rooftop sekolah aja kali ya? Lumayanlah, bisa buat jadi tempat sembunyi." gumamnya menatap gedung-gedung kelas. Setelah itu mulai menuju rooftop, yang sebelumnya sudah ia tanyakan pada Sisi.
Setibanya di atas rooftop, ia menatap ke bawah yang bertepatan dengan lapangan sekolah. Seketika, ia teringat kejadian beberapa bulan lalu. Di mana, Natasha datang membawakan air minum untuk Farel dan Abang kembarnya yang tengah berlatih futsal. Mereka tampak begitu senang atas kehadirannya. Sakit, itu yang dirasakan Erinna. Dimana, Abang kembarnya lebih memilih gadis berwajah dua itu, ketimbang adik perempuannya.
"Semuanya udah berlalu, tapi kenapa, sakitnya masih berasa sampe sekarang?" gumamnya tanpa sadar menitikkan air mata. "Coba aja, coba aja, lo nggak mengkhianati persahabatan kita, Ca, mungkin gue nggak akan salah jalan kek gini!!" lanjutnya terisak. Erinna menyesali dirinya yang sering mabuk karena hanya ingin mencari ketenangan. Dan mengikuti balap liar, hanya untuk melampiaskan amarahnya, saat mereka lebih membela Natasha daripada dirinya.
"Asal lo tau, Rel!! Caca lo itu, nggak sebaik yang terlihat!" Erinna menenggelamkan kepala di tangannya yang bertumpu pada lutut. Selama hidupnya, ia selalu sendiri. Entah suka maupun duka. Bianca dan Reva memang selalu ada untuknya. Namun, ia tak mau selalu merepotkan mereka dalam setiap masalah hidupnya.
Di dalam kelas, Sisi terus mencolek lengan sahabatnya. Mereka duduk dalam satu meja. Sekarang sudah masuk jam pelajaran ketiga, namun sahabat mereka tak kunjung kembali ke kelas. Membuat Sisi merasa khawatir. Ia takut, jika Ellinda yang kenyataannya sudah digantikan posisi oleh Erinna dibully oleh Sherly. Dirinya yakin, jika sang Ratu bully pasti akan membalas dendam atas perlawanan Erinna. Apalagi video perlawanan mantan gadis cupu itu sudah tersebar seantero sekolah.
"Sen, si Ellin kemana? Dia nggak balik-balik. Gue jadi khawatir, nih!" bisiknya.
Seno menatapnya sekilas. Lalu, kembali memfokuskan diri pada guru yang tengah mengajar di depan kelas. Sisi menggeram kesal. Sahabatnya itu memang tak bisa diganggu saat kegiatan belajar mengajar seperti ini. Maka, ia pun harus turun tangan sendiri untuk memastikan, jika sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja.
Sisi mengangkat tangannya. "Bu, saya mau izin ke toilet. Udah kebelet nih, Bu." ujarnya yang langsung berlari keluar kelas, sebelum mendapat izin dari guru yang mengajar.
Kamar mandi adalah tempat pertama yang ditujunya. Namun, ia tak menemukan sahabatnya di sana. Lalu, ia pun melanjutkan masa pencarian ke tempat-tempat yang biasa Sherly gunakan untuk membully Ellinda. Langkahnya terhenti, saat mendengar adu mulut dari arah lapangan. Suara teriakan seorang gadis terasa sangat familiar baginya. Oleh karena itu, ia pun langsung bergegas ke lapangan. Ia membeku melihat sahabatnya yang sedang berkelahi dengan para bad boy sekolah ini.
"Cuma segitu, kemampuan kalian?" Erinna mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangannya.
Saat ia berada di rooftop, segerombol pemuda datang dengan tawa menggema. Sontak, ia pun berbalik badan. Mereka menyuruhnya untuk mengangkat kaki dari rooftop yang telah dijadikan base camp. Erinna menolak, ia tetap kukuh dalam pendiriannya untuk tetap berada di rooftop. Mengakibatkan amarah Keenan tersulut. Selama ini, tidak ada seorang pun yang pernah menolak titahnya. Berbeda dengan Erinna yang berani menantangnya. Hingga akhirnya, terjadi perkelahian yang dimulai dari Erinna yang menonjok wajah Keenan. Perkelahian berlanjut di lapangan atas kemauan Erinna.
"Kalo lo semua jantan, lawan gue di lapangan!" ucap Erinna kala itu. Karena mereka semua merasa jantan, akhirnya menyanggupi melawan seorang gadis. Mereka pikir, Erinna dapat mudah dikalahkan. Namun yang terjadi, justru sebaliknya.
Lima orang pemuda melawan seorang gadis, dan berhasil dikalahkan dalam waktu singkat oleh gadis tersebut. Semua pemuda itu babak belur. Bahkan, guru-guru dan para siswa mulai berdatangan. Erinna tak akan melarikan diri. Ia sama sekali tak takut, jika harus digiring ke dalam ruang BK.
"ELLINDA!! KEENAN!!" teriak kepala sekolah yang tiba di lapangan bersama guru-guru lainnya. Mereka semua tercengang melihat para bad boy sekolah tergeletak tak berdaya.
"Hadir, Bu." jawabnya.
Sisi membelah kerumunan menghampiri sahabatnya yang dikelilingi oleh orang-orang. Ia hanya terdiam mengamati wajah datarnya. Sejak kedatangannya di sekolah, dirinya amat jarang melihat sosok sahabatnya tersenyum.
Reputasi Ellinda sebagai good girl telah hancur akibat perbuatan saudari kembarnya. Erinna tersenyum samar kepada pemuda yang berani mengusirnya di rooftop tadi.
"Kalian semua, ikut Bapak ke ruangan." ucap kepala sekolah, kemudian meninggalkan lapangan dengan kebingungan.
"Njir! Tuh, cewek jago beladiri juga! Lo aja kalah, Nan!" seru Gino.
"Lo sih, segala ngusir tuh, cewek! Kita juga 'kan yang kena batunya!" dumel Vito merasa kesal.
"Bacot!" Satu kata yang diucapkan Keenan, mampu membungkam mulut empat sahabatnya. Mereka berjalan menuju ruang BK.
Selama mengobati sahabatnya, Sisi terus mengomel. Membuat gendang telinga Erinna ingin pecah rasanya. Sejak dulu, Erinna tak menyukai orang yang banyak bicara. Termasuk Sisi yang notabenenya adalah sahabatnya Ellinda.
"Kamu kenapa cari masalah sama mereka, Lin? Terus, sejak kapan, kamu bisa beladiri? Setau gue, lo itu manja! Kemana-mana aja, harus ditemenin. Masa sekarang, udah berani ngelawan Keenan dan temen-temennya. Lo tau nggak sih, mereka itu bahaya! Gue itu cu—"
"STOP, ANYING!!" bentak Erinna memotong celotehan tak bermutunya.
Sisi membeku. Ia tak menduga, gadis yang selalu bertutur kata lembut, kini telah membentaknya. Erinna beranjak meninggalkan UKS menuju ruang BK. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini. Selama perjalanan, para siswi memandang takut ke arahnya. Ia sama sekali tak terganggu dengan tatapan mereka.
"BK, di mana?" tanya Erinna dingin pada seorang siswi yang kegiatan menyapunya terhenti akibat kedatangannya.
Siswi itu ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Bahkan, sapu yang dipegangnya telah jatuh ke lantai.
"BK di mana?" tanyanya lagi. Erinna sedikit meninggikan suaranya.
Masih tak menjawab. Erinna menghela napas. Semua tatapan tertuju pada dirinya dan siswi itu.
"BK di mana, anjing!!!" Erinna telah kehabisan kesabaran. Lagi-lagi, warga sekolah dikejutkan akan perubahan gadis polos nan lugu itu.
"Nggak usah ngomong kasar, bisa?" ucap seseorang dari arah belakang. Sontak, Erinna membalikkan tubuhnya dan mendapati Reyhan yang menatapnya tajam.
"Berani berapa, lo?" Erinna bersedekap dadaa.
Reyhan tak meladeninya. Ia langsung menyeret gadis itu menuju ruang BK. Kepala sekolah telah menunggunya untuk mengintrogasi gadis tersebut yang membuat Keenan dan para sahabatnya terluka. Erinna terseret-seret. Langkah pemuda di depannya begitu lebar, dan ia tak bisa menyamakan. Seharusnya, Reyhan sadar, jika dirinya harus memelankan langkah bila berjalan dengan seorang gadis.
"Woy, Kerey!! Lo bener-bener cowok nggak punya hati ya?! Tangan gue sakit b**o!!" pekik Erinna berhasil menghentikan langkahnya.
"Nggak usah sok lemah! Udah cepet jalan!!"
Erinna mencebik kesal. Ia terpaksa mengikuti pemuda itu. Untungnya, Reyhan tak lagi menyeret dirinya. Erinna sangat tidak peduli, jika saat ini, dirinya menjadi pusat perhatian. Apalagi sekarang adalah jam istirahat, banyak para siswa-siswi yang berdesak-desakan demi menyaksikannya.
"Gini nih, kalo jadi orang nomor satu di sekolah." gumamnya.
Sesekali, Reyhan melirik ke belakang. Tepatnya ke arah seorang gadis yang tengah mengucir asal rambutnya. Erinna merasa kegerahan. Ditambah dengan tatapan-tatapan yang tertuju ke arahnya. Ingin sekali, ia mencolok mata mereka semua. Agar tak lagi menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
"Masuk." titah Reyhan yang berhenti di depan sebuah pintu.
"Oh, udah nyampe?" tanyanya. "Bukain gih, pintunya! Tuan Putri mau masuk." Rasanya Erinna ingin terbahak. Sudah lama sekali, ia tak bersama seperti ini. Ia yakin, jika di SMA Mentari, dirinya diterima dengan baik. Karena telah memberi pelajaran pada Ratu bully dan bad boy sekolah ini. Erinna tersenyum simpul. Biasanya, ia melakukan hal tersebut dengan Farel. Ah, mengingat Farel, wajah yang semula cerita kini berubah murung.
"Dia kenapa?" gumam Reyhan sambil membuka pintu ruang BK.
Erinna menundukkan kepalanya. Entah mengapa, setiap mengingat Farel, ia selalu ingin menangis. Mungkin, karena luka hati yang digoreskannya.
"Silahkan, Tuan Putri." Reyhan sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum manis. Tepat saat Erinna ingin melangkah, ia kembali menutup pintu. "Nggak usah, ngarep! Buka sendiri pintunya!!" cetusnya membuat Erinna menggeram kesal.
"Sialan, lo!" Erinna membuka pintu dan langsung selonong masuk ke dalam. Langkahnya terhenti saat manik matanya bertubrukan dengan manik mata seorang wanita yang sepertinya meminta penjelasan darinya. Wanita tersebut adalah Tarissa.