TZT-12

1825 Kata
Dua orang gadis berlarian menghampiri Ellinda yang tampak kebingungan. Pasalnya, ia tak mengenal mereka. Karena Erinna tak mengatakan, jika dirinya memiliki teman di sekolah. Ia hanya bercerita jika di sekolah tak ada orang yang menyukainya. "Gue kangen banget sama lo, Rin!" ucap Reva memeluk erat tubuhnya. Bianca merasa kesal. Ia keduluan oleh sahabatnya itu. Tangannya terulur menarik tubuh Reva agar melepas pelukannya. "Gantian, Rev! Lo pikir, lo doang yang kangen sama Erin? Gue juga kangenlah!!" pekiknya membuat Reva terpaksa melepas pelukan. Gadis itu memasang wajah masam. Padahal, ia masih ingin lebih lama memeluk tubuh Ellinda, yang diduga sebagai sahabat mereka yaitu, Erinna. Ellinda hanya tersenyum tipis saat dipeluk oleh Bianca. Ia sama sekali tak mengenal mereka. Namun, ia dapat merasakan, jika dua gadis itu sangat menyayangi sosok saudari kembarnya. "Sorry ya, Rin. Kita berdua nggak sempet jenguk lo di rumah sakit. Gara-gara tugas sekolah, sih, jadi kita nggak punya waktu!" dumel Bianca setelah melepas pelukannya. Ellinda menoleh ke belakang pada Abang sulungnya yang masih bertengger di atas motor. Seolah mengerti, Rendy pun beranjak menghampirinya. Bianca dan Reva terkejut saat lelaki itu merangkul bahu sahabat mereka. Sejak dulu, hubungan Erinna dan keluarga tak pernah akur. Karena rasa benci yang telah mendarah daging. Tetapi, sekarang? Mereka percaya, jika Rendy memang benar-benar menyayanginya. Terbukti dari keduanya yang saling melempar senyum. "Bi, gue nggak salah liat 'kan?" bisik Reva sambil mengucek matanya. "Nggak Rev." sahut Bianca yang masih dalam keterkejutannya. Rendy terkekeh melihat reaksi keterkejutan mereka. Mungkin, mulai sekarang ia harus mempublikasikan rasa sayangnya terhadap adik perempuannya kepada mereka semua. Ia harap, dengan hal itu, dirinya bisa menebus dosa kepada adik perempuannya. "Erinna amnesia." tutur Rendy membuat dua gadis di depannya berteriak histeris. "WHAT?!" "APA?!" Teriak mereka bersamaan. Membuat Ellinda dan Rendy refleks menutup telinganya. "Nggak. Nggak mungkin. Masa Erin amnesia, Bang?" ujar Reva menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ah, lo pasti lagi ngedrama 'kan, Rin? Segala rubah penampilan lo jadi cupu gini?" Bianca memegang rambutnya yang di kepang. Ia sama sekali tak mempercayai, jika sahabat mereka kehilangan ingatan. Yang otomatis, tidak mengingat mereka juga. Reva menitikkan air matanya. Semua ini adalah kesalahannya yang meminta Erinna untuk datang ke acara ulang tahunnya. Hingga mengakibatkan gadis itu kecelakaan dan hilang ingatan, karena dirinya yang ikut mengundang musuh bebuyutan Erinna. "Ini semua gara-gara gue! Andai, kalo malam itu gue nggak minta lo dateng. Mungkin, lo nggak akan berkelahi dengan mereka dan berakhir kecelakaan besar itu." Bianca memeluk tubuhnya. Ia juga merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Erinna—sahabat mereka. Ellinda mendongakkan kepala, menatap wajah dingin sang Abang. Ia tak mengerti maksud ucapan dua gadis itu. Perlahan, ia mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Reva. Membuat Reva menghentikan tangis dan langsung beralih memeluknya. Bianca pun sama. Mereka bertiga berpelukan. Diam-diam, Rendy mengusap sudut matanya. Ia dapat merasakan jika mereka sangat menyayangi adik perempuannya dari pada dirinya. "Udah ya, nangisnya? Nanti aku ikut sedih loh." ucap Ellinda lembut. Bianca dan Reva tertegun. Sebelumnya, mereka belum pernah mendengar suara lembut seorang Erinna. Tetapi, setelah kecelakaan itu, sahabat mereka tampak berbeda. Mulai dari penampilan dan sekarang penuturannya yang terdengar lebih halus. Ellinda mengusap jejak air mata sahabat saudari kembarnya. Membuat senyum terbit di wajah keduanya. "Kita sayang lo, Rin." ucap Bianca yang diangguki olehnya. Suara bel berbunyi menyadarkan mereka untuk segera masuk ke dalam kelas. Setelah pamit kepada Rendy, mereka beranjak menuju kelas XI IPS 1. Selama perjalanan, semua mata tertuju pada Ellinda. Membuat gadis itu merapatkan tubuhnya pada tubuh Bianca. Menyadari hal tersebut, Bianca pun merengkuh tubuhnya. "Nggak usah takut, Rin. Wajarin aja, mereka nggak pernah liat cewek secantik kita-kita ya jadi gitu." ujar Reva yang mendapat sorakan dari para siswa-siswi. Setibanya di kelas, semua mata menatap jijik ke arah Ellinda. Kejadian dimana Natasha yang jatuh ke dalam kolam renang minggu lalu, masih teringat jelas diingatan mereka. Berusaha tenang, Ellinda pun memberikan senyum manis pada teman-teman sekelasnya. Membuat para siswa bersorak-sorai kegirangan, karena kali pertama melihat senyum sang bad girl sekolah. "Lo kenapa senyum sih, Rin?" protes Bianca tak menyukai. Pasalnya, Erinna adalah gadis yang amat jarang tersenyum. Ia selalu memasang wajah datar dan dingin. Tak lupa dengan tatapan tajamnya. Erinna mengerjap. "Emangnya kenapa? Senyum itu 'kan ibadah." jawabnya. Bianca mendesah. Ia rasa, sahabat mereka benar-benar berubah. Apalagi dengan dirinya yang kehilangan ingatan. "Em, kenapa penampilan lo berubah cupu gini? Terus, nih rambut kenapa di kepang gitu?" tanya Reva menatap lekat manik matanya. "Nggak papa." sahutnya memasang wajah polos. Membuat Reva merasa gemas sendiri. Sepertinya, Erinna versi terbaru akan lebih menyenangkan. Ellinda mendekatkan bibirnya ke telinga Reva yang duduk sebangku dengannya. Entahlah, ia merasa risih dengan tatapan para siswi yang terus tertuju padanya. Apalagi dengan desas-desus yang mengganggu kenyamanan indra pendengarannya. "Reva, mereka kok ngeliatin aku terus? Apa aku jelek ya?" tanyanya berbisik. Reva melepas tawa. Seketika, atensi kelas teralih padanya. "Ya Allah, Erin!! Muka lo gemesin banget sih?!" teriaknya sambil mencubit kedua pipi Ellinda. "Sakit, Reva! Lepasin!" ujar Ellinda yang tak diladeni olehnya. Bukannya berhenti, Reva malah semakin kencang mencubit pipi gembulnya. Plak! Bianca memukul lengan sahabatnya agar berhenti mencubit pipi Ellinda yang sudah meringis kesakitan. "Lepasin, b**o!" Tersadar, Reva pun mengakhiri cubitannya. Ia gelagapan melihat Ellinda yang berkaca-kaca. "Aduh, sorry, Rin, sorry! Gue cubitnya kekencangan ya?" pekiknya sambil mengelus pipi Ellinda, namun ditepis olehnya. "Hikss... Hikss... Sakit... Biby, aku nggak mau sama Reva! Dia jahat, cubit pipi aku sampe sakit kayak gini..." adunya kepada Bianca. Ellinda berpindah duduk di sebelah Bianca. Tangisnya semakin pecah. Membuat suasana kelas menjadi heboh. Bagaimana tidak, gadis yang dikenal tidak berperasaan, kini menangis kejer. Reva merasa gelisah. Ia yang mengakibatkan gadis itu menangis. Bianca sudah berusaha menenangkannya. Namun, Ellinda masih saja menangis. Hingga guru yang mengajar pun tiba di kelas. "Pagi anak-anak." sapanya. "Pagi, Pak..." jawab mereka dengan atensi yang masih tertuju pada Ellinda. "Loh, ada anak baru?" pekik Pak Burhan saat tiba di mejanya. Ia sama sekali tak menyadari jika gadis yang tengah menangis adalah siswinya yang selalu membuatnya naik darah, akibat ulah yang dilakukannya. "Bukan, Pak. Itu Erinna." jawab seorang siswa yang duduk di meja depan—dekat pintu. Pak Burhan terkejut. Segera, ia menghampiri Ellinda yang masih terisak. Ia menangis tanpa suara. Rasa sakit di pipinya masih berasa. "Lin, itu ada Pak Burhan." bisik Bianca. Ellinda mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Pak Burhan memegangi dadanya. Ia sungguh tak percaya, jika gadis yang terlihat lugu itu adalah Erinna Zalsha Mellinda. "Lo-Loh, E-Erinna?" Ellinda mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kelas. Ia tak peduli dengan wajahnya yang memerah. Karena dirinya baru tersadar, jika ia menangis di dalam kelas. Rasa takut mulai menghinggapinya. Sekilas ia tahu, jika Erinna adalah gadis yang paling ditakuti di sekolah ini. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Apakah masih ada orang yang takut kepadanya, setelah tahu, jika Erinna telah berubah menjadi gadis yang cengeng?. "Maafin aku, Erin. Aku terlalu cengeng. Tapi aku jujur, cubitan Reva begitu menyakiti pipi ku ini." batin Ellinda kembali menundukkan kepalanya. Setelah itu, Pak Burhan mulai mengajar. Para siswa-siswi mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Kemudian, menyimak penjelasan guru mereka. Begitu juga dengan Ellinda. Gadis itu masih merajuk pada Reva. Ia memilih duduk bersama Bianca dan membiarkan Reva duduk sendirian di belakang. Ia mengabaikan celotehan Reva yang meminta maaf padanya. Tanpa terasa, waktu istirahat telah tiba. Ellinda mengambil air minum dari tasnya. Membuat dua gadis terkejut. Pasalnya, Erinna selalu menolak jika membawa bekal ataupun air minum dari rumah. Karena ia selalu mengatakan, jika dirinya bukanlah anak TK. Jadi tak perlu membawa bekal ataupun air minum. Tetapi, sekarang? Gadis itu membawa keduanya. "Kalian berdua mau nggak, sandwich? Aku yang buat sendiri loh!" ucapnya menunjukkan tiga buah sandwich. Bianca dan Reva saling memandang. Sejak kapan, sahabat mereka bisa melakukan hal tersebut? Masuk dapur saja, ogah-ogahan. "Lo yakin, buat sendiri? Bukan Bi Lilis?" tanya Reva tak percaya. Ellinda mengangguk. Kemudian, memakan sandwich yang dibawanya dari rumah. "Sejak kapan lo bawa air minum dan bekal gini, Rin?!" "Sejak hari ini." Tanpa berpikir panjang, Bianca mencomot sandwich yang tersisa dua itu. Lalu, memakannya. Sungguh, sangat enak. "So delicious!" tuturnya membuat Reva ngiler. Akhirnya, ia mengambil sandwich yang tersisa dan memakannya. "Woah! Bisa dibilang, ini sandwich terenak yang pernah gue makan, Rin?!!" pekik Reva mengembangkan senyum seorang gadis. "Em... Aku masih laper, ke kantin yuk!" ajak Ellinda memberesi kotak makannya. "Yuk! Yuk!" seru Bianca menarik pergelangan tangan Ellinda. "Woy! Gue jangan ditinggalin napa?!" teriak Reva yang ditinggal oleh mereka. Setelah memakan habis sandwich-nya, ia segera berlari menyusul. Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Siswa-siswi yang berada di koridor, sontak memberi mereka jalan. Karena tak mau mendapat bentakan dari sang bad girl. Membuat Ellinda berkerut kening. "Gue yakin, penampilannya aja yang berubah, tapi nggak sama kelakuannya!" "Halah, palingan juga mau caper sama si kembar dan Farel!" "Jijik, anjir, mukanya sok polos gitu! Padahal, dia itu tukang bully berhati iblis!!" "Masih punya muka tuh anak!" "Inget nggak sih, pas acara ultah Reva, dia sengaja dorong Natasha ke kolam renang. Padahal, Natasha itu nggak bisa renang!" "Gue nggak sabar, mau liat drama dia kali ini." "a***y! Mukanya cantik bener! Udah murah senyum lagi." Ellinda berusaha menguatkan hatinya mendengar hujatan-hujatan yang masuk ke gendang telinganya dengan menampilkan senyum manis. Yang mampu membuat para siswa kegirangan. "Udah, jangan didengerin, Rin!" ucap Bianca sambil mengelus lengannya. Ellinda mengangguk pelan. Setibanya di kantin, mereka memilih meja paling pojok. Reva beranjak dari duduknya untuk pergi memesan makanan dan minuman. Hitung-hitung sebagai penebus kesalahannya yang telah mencubit pipi Ellinda. "Rin, gue ke toilet dulu ya? Udah nggak tahan." pamit Bianca melenggang pergi. Ellinda hanya menghela napas memandang kepergiannya. Brrrakkk Ellinda terlonjak kaget. Ia memegangi dadaanya. Perlahan, ia mendongak dan mendapati Abang kembarnya yang menatap dirinya penuh amarah. "A-Abang?" cicitnya. Plak! Davin menampar keras pipi adik perempuannya. Seketika, suasana kantin menjadi hening. Tangan Ellinda terulur menyentuh pipinya yang terasa perih. Buliran bening melolos begitu saja dari pelupuk matanya. Seumur hidup Ellinda, ia baru pertama kali ditampar. Dan, pelakunya tak lain adalah Abang kandungnya sendiri. "A-Abang tampar aku? Apa salah aku, Bang?!" "Nggak usah pura-pura nggak tau lo, b*****t!!" teriak Gavin menggema. Ellinda menatap keduanya dengan tatapan kebingungan. Ia sama sekali tak tahu permasalahannya, dan tiba-tiba mereka menggebrak meja dan menamparnya. "Hikss... Hikss... A-Aku nggak tau, apa-apa, Bang!" Lagi, sekolah ini diguncangkan oleh perubahan seorang Ellinda. Biasanya, Erinna akan langsung membalas perlakuan mereka, hingga membabi buta. Tetapi sekarang? Ia tampak seperti wanita lemah yang butuh perlindungan. "Udah, gue ingetin, jangan bully Caca! Mau pake cara apa, biar lo ngerti, b***h!!" pekik Davin yang seolah tak ingin gadis bermuka dua itu terluka. Ellinda menatap dingin ke arah gadis yang berada dalam rangkulan seorang pemuda yang ia kenal, Farel. Kondisi gadis itu kacau. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kusut, dan wajahnya penuh lebam. Ellinda mengusap jejak air matanya. Lalu, melangkahkan kakinya mendekati Natasha dan Farel. Ia harus meluruskan masalah ini. Namun sebelum itu, tubuh mungilnya lebih dulu didorong oleh Gavin. Hingga mengakibatkan kepalanya terbentur sudut meja. Semua siswa-siswi yang berada di kantin memekik, terkejut apa yang dilakukan oleh seorang pemuda yang notabenenya adalah kakak laki-laki dari si korban. Ellinda merasa cairan kental mengalir dari pelipisnya. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh cairan kental berwarna merah itu. "Darah?" gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN