BANDIT 9

1376 Kata
Pernikahan Adis dan Kevan masih berjalan dua bulan, belum banyak masalah yang mereka hadapi sebagai pasangan baru namun bukan berarti tidak akan ada karena keduanya paham cepat atau lambat akan mereka rasakan masalah-masalah yang akan mampir dalam rumah tangga mereka. Pagi ini seperti biasa Adis bangun pagi sekali mendahului Kevan. Setelah mandi, Adis segera melakukan kegiatan rutinitas barunya yang mulai ia rasa terbiasa, membuatkan sarapan untuk suami tercintanya. "Harum banget, masak apa sih?" Kevan yang baru tiba di dapur langsung memeluk pinggang Adis yang sibuk menyiapkan sarapan dari belakang, lalu menyandarkan dagu di bahu Adis. Adis tersenyum kecil melihat tingkah Kevan yang sering dilakukannya sejak mereka berumah tangga. Adis memberikan kode pada Kevan untuk menunggu di ruang makan karena dirinya telah selesai memasak. Kevan yang sudah paham, menurut setelah sebelumnya mencium kening Adis. "Malam ini kamu lembur Van?" Tanya Adis ditengah aktifitas sarapan mereka. "Iya Dis mungkin nanti malam aku pulang larut, kamu tidur duluan saja nanti," jawab Kevan, Adis mengangguk lalu melanjutkan menyuap makanannya. Usai sarapan, Kevan berangkat ke kantornya sedangkan Adis ke rumah sakit seperti biasa. Dan saat jam makan siang, terkadang Adis datang ke kantor Kevan atau sebaliknya, Kevan menjemput Adis untuk makan siang di luar. "Permisi Pak, sore ini akan ada rapat dengan klien Bapak dari Media Corp." Ujar sekretaris Kevan saat Kevan baru saja tiba di ruangannya. "Baiklah, kamu atur saja apa saja yang dibutuhkan untuk rapat nanti," sahut Kevan lalu memberikan kode kepada sekretarisnya untuk dapat kembali ke ruangannya. "Baik Pak, permisi," pamit sekretarisnya, Kevan mengangguk sekilas mempersilahkan. Kevan kembali pada pekerjaannya yang memang tidak pernah ada habisnya. Berkutat di meja kerja hingga jam makan siang tiba. ..... Adis baru saja selesai memeriksa pasiennya ketika jam makan siang tiba. Seperti biasa dirinya akan datang ke kantor Kevan untuk memastikan suaminya tidak terlambat makan siang. Kebiasaan yang ia pelajari dari Mamanya. "Sudah mau keluar dok?" tanya seorang suster saat Adis baru saja beranjak dari ruangannya, Adis tersenyum dan mengangguk sekilas, "Iya sus, saya pergi dulu ya, kalau ada perlu hubungi saja saya atau dokter lain yang standby di rumah sakit." "Baik dok." Adis kembali berjalan menuju parkiran rumah sakit ke arah mobilnya, lalu berangkat menuju kantor suaminya. ..... "Jangan sampai telat makan ya nanti," pesan Adis setelah dirinya dan Kevan menyelesaikan makan siang. Jam istirahat sudah habis dan Adis harus segera kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan tugasnya. "Iya sayang, kamu bisa tanya sekretarisku nanti," Kevan berusaha meyakinkan Adis yang selalu cerewet jika berbicara tentang jam makannya. "Iya aku percaya, cuma mengingatkan aja," Adis membereskan tempat bekal yang ia bawa lalu bersiap pergi. "Hati-hati ya, jangan ngebut bawa mobilnya," Kevan mencium kening Adis, Adis mengangguk dan tersenyum lalu keluar dari ruangan Kevan setelah sebelumnya berpamitan. Setelah Adis pergi, Kevan kembali berkutat di meja kerjanya. Namun ketukan pintu ruang kerjanya berhasil mengalihkan dirinya dari laptop miliknya. Pintu ruang kerja Kevan terbuka setelah Kevan mempersilahkan masuk, yang ternyata adalah sekretarisnya sendiri. "Ada apa?" tanya Kevan sambil sesekali melihat kembali pekerjaannya. "Maaf Pak, sepertinya rapat dimajukan satu jam lebih awal, jam 3 nanti karena klien ingin segera bertemu dengan Pak Kevan," jelas sekretarisnya. Kevan menaikan satu alisnya memasang wajah bingung, karena tidak seperti biasanya ada kliennya yang mempercepat jam rapat. "Baiklah persiapkan semuanya, satu jam lagi saya tunggu di ruang rapat." "Baik Pak." Kevan segera mengalihkan pekerjaannya karena harus segera mempersiapkan hal yang harus dibawa saat rapat nanti. ..... "Udah dua bulan belum ada tanda isi Dis?" tanya Vanya, salah satu dokter umum yang seumuran dengan Adis. "Belum nih Nya, mungkin belum dikasih," Adis tersenyum sambil mengusap perutnya. "Sabar aja Dis, pasti ada waktunya, setidaknya minggu lalu kamu sudah periksa dan semuanya sehat kan? hanya menunggu waktu," lanjut Vanya menyemangati Adis. "Kamu sendiri kapan nyusul Nya? betah banget pacaran," goda Adis mengganti topik, Vanya terkekeh kecil mendengar pertanyaan Adis, "Nanti tunggu aja undangannya ya hehe." "Iya deh dokter Vanya, pasti ditunggu kok undangan pernikahannya," keduanya terkekeh. Tidak lama obrolan mereka dijeda karena harus kembali memeriksa pasien yang sedang mereka tangani. ..... Kembali ke kantor Kevan, Kevan sudah duduk di ruang rapat kantornya bersama sekretarisnya namun belum ada tanda-tanda bahwa kliennya akan datang. Selagi menunggu, Kevan memeriksa berkas yang sudah disiapkan sekretarisnya sebagai bahan rapat. "Belum datang kah?" tanya Kevan sambil melihat jam tangannya. Sudah lewat 10 menit dari waktu rapat yang ditentukan. Baru saja sekretarisnya akan menjawab, pintu ruangan rapat terbuka. Masuk dua orang wanita dengan pakaian formalnya yang sudah pasti adalah klien yang sejak tadi ditunggu Kevan. "Maaf Pak Kevan kami terlambat 10 menit karena ada sedikit kendala tadi di perjalanan," ucap salah satu wanita dengan rambut kecoklatan dan wajah indonya. Kevan sedikit terkejut lalu tersenyum saat melihat wanita dihadapannya, "lama tidak berjumpa Nona Cleo." Keduanya berjabatan tangan lalu masuk ke dalam suasana rapat. ... "Jadi kamu sudah menikah?" tanya Cleo, rapat mereka sudah selesai sejak beberapa menit lalu. Kini keduanya sudah berada di ruangan Kevan. Cleo adalah teman kecil Kevan ketika tinggal di Melbourne, keduanya sangat dekat hingga Kevan harus pindah ke Bandung saat usianya 14 tahun. Masih sering berhubungan kontak meski terpisah jarak jauh namun terputus sejak dikabarkan Cleo memiliki tunangan di Melbourne bersamaan dengan pindahnya Kevan ke Jakarta dan masuk ke sekolah yang sama dengan Bandit. "Ya aku sudah menikah dua bulan lalu, bagaimana denganmu dan tunanganmu?" Kevan balik bertanya, Wajah Cleo sedikit muram, "kami putus tiga bulan lalu, dia berselingkuh." Keduanya terdiam, Kevan sedikit menyesal menanyakan hal itu, namun tidak lama karena Cleo kembali membuka percakapan. Saling bercerita banyak hal selama mereka tidak pernah bertemu. "Lain kali akan kuperkenalkan dengan istriku," ucap Kevan dengan nada semangat ditengah obrolan mereka, Cleo tersenyum kecil, "ya aku tidak sabar ingin mengenal wanita yang berhasil meluluhkan hatimu Van." Keduanya terkekeh, "dia wanita yang luar biasa, aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari hidupnya saat ini," Kevan selalu senang jika bercerita tentang istri tercintanya, terlihat dari raut wajahnya saat ini dan senyum yang terus tersungging setiap menjelaskan hal-hal luar biasa dari Adis. "Aku iri," ucapan singkat Cleo membuat Kevan menjeda ceritanya, "aku iri sama wanita yang kamu ceritakan Van, istrimu, ya dia hebat bisa membuatmu jatuh cinta seperti ini, andai aku menemukan pria yang bisa dengan bangga bercerita banyak hal tentang aku seperti kamu Van." Kevan mengusap bahu Cleo dan memberikan seulas senyum, "kamu pasti menemukannya Cle, pasti, Pria yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus. Kamu cantik, hebat, mandiri dan banyak hal positif ada dalam diri kamu, pasti akan ada pria terbaik yang memang untukmu nantinya." Cleo kembali tersenyum mendengar ucapan Kevan. "Kamu lembur malam ini?" tanya Cleo mengalihkan perbincangan, "Ya, banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan," jawab Kevan. "Mau makan malam bersama? Pasti istrimu mengomel jika kamu terlambat makan," Kevan tertawa mendengar ucapan Cleo, ia langsung ingat ucapan Adis siang tadi. "Tepat sekali, ia selalu cerewet kalau aku lupa makan," "Karena itu kebiasaanmu dari dulu Van," Cleo ikut tertawa, "baiklah jam 7 aku akan kembali ke sini, kita makan malam di kafetaria kantormu saja, aku mau keluar dulu ada hal yang harus ku kerjakan." "Baiklah aku tunggu jam 7 di kafetaria." Cleo pamit dan meninggalkan ruang kerja Kevan. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, Kevan menyelesaikan sebagian kerjaannya selagi menunggu jam makan malamnya. ... Adis baru saja akan pulang saat jam menunjukan pukul 9 malam. Rumah sakit sudah terlihat sepi karena jam besuk sudah habis dan semua pasien sudah harus beristirahat. Hanya terlihat beberapa suster yang memang bertugas shift malam. Adis menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit. Jalanan masih ramai di jam segini, namun tidak terlalu macet sehinggal Adis sampai lebih cepat. Malam semakin larut, malam ini Adis tidur sendiri karena Kevan masih harus berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Saat Adis akan memejamkan matanya, ponselnya berdering sukses membuat matanya kembali terbuka. My Hubby calling... Adis tersenyum kecil melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Segera ia angkat, suara berat dan lelah Kevan langsung menyambutnya saat Adis menempelkan ponselnya ditelinganya. Kevan sengaja menyempatkan waktu hanya untuk mendengar suara istrinya yang selalu mampu membuatnya semangat meski sedang lembur. Saling bercerita tentang hari ini, bahkan Kevan menceritakan pertemuannya dengan Cleo hari ini, Kevan juga mengatakan siapa Cleo dan berjanji akan memperkenalkan teman kecilnya pada Adis. Dengan senang Adis mengiyakan janji Kevan. Percakapan ditutup dengan saling mengucapkan selamat malam. Adis harus istirahat karena banyak yang ia harus kerjakan esok, begitu juga Kevan yang masih harus menyelesaikan pekerjaanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN