George membimbingku menuju sebuah dinding galeri yang dipenuhi bingkai foto, berjejer rapi dari lantai hingga langit-langit. Sebagian besar foto menampilkan pemandangan pegunungan dan danau yang menakjubkan, namun di antara semuanya, terselip foto-foto keluarga. Mataku terpaku pada sebuah foto berukuran besar di bagian tengah, yang menampilkan Rain, saat usianya sekitar lima tahun. ​Anak laki-laki kecil berambut gelap dengan pipi tembem merona merah sedang memegang kereta mainan. Senyumnya begitu lebar, matanya berbinar bahagia, sangat berbeda dari Rain yang kukenal sekarang. ​Aku tak bisa menahan tawa. "Ini Rain?" tanyaku, menoleh pada George. ​"Dia, Rain Louis," jawab George, tersenyum geli. "Sepertinya dia tidak peduli saat itu." ​"Aku bahkan tidak bisa membayangkan dia tersenyum se

