“Jadi, apa yang membawamu ke sini, Eka?" Entah sudah berapa kali Winda menanyakan hal yang sama kepada Eka, tapi adik lelakinya itu hanya berpurapura tidak mendengar atau mengalihkan topik pembicaraan. Tidak terkecuali kali ini. Eka ma lah sibuk n1engutak-ati k remote TV mencari saluran siaran yang hagus. “Kau tidak bisa seenaknya datang ke sini tanpa memberitahuku alasannya," ucap Winda lagi. "Kau kakakku, seharusnya aku tidak membutuhkan alasan untuk datang mengunjungimu.” jawab Eka akhirnya mematikan TV. "Seharusnya. Tapi kau tahu hubungan kita tidak seperti seharusnya." Eka menghela napas dan menaikkan kakinya satu persatu ke atas meja di hadapannya. la mulai merenggangkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan kedua lengan yang terlipat di belakang kepala. "let's set, kita

