“Beneran mau berangkat jam segini Mbak?” tanya Zhafif mendongakan kepalanya menatap langit yang masih sangat gelap. Lelaki itu mengusap tubuhnya yang berbalut jaket. Aneh, walau sudah menjadi dua lapis ditambah dengan kaos lengan panjang, dingin subuh saat ini benar-benar membuat Zhafif ingin menggulung dirinya dengan selimut. “Iya, Zhafif,” jawab Zakiya menenteng helm bewarna putih yang mirip dengan Zhafif. “Kalo saya enggak pake helm enggak papa kali ya? Rambut saya masih basah.” “Di anginin dulu sampe gerbang perumahan nanti baru pake helmnya, kita ini harus menjadi pengendara yang cerdas dan penumpang yang bijak!” saran Zhafif sambil melebarkan senyumnya ke arah sang isteri. “Kamu sudah cocok jadi Duta lalu lintas,” balas Zakiya tersenyum kecil. “Pake jaket saya Mbak.” Zhafif membe

