“Bunda... itu Ayah!” “Lho kok Zhafif pergi?” Zakiya menoleh ke arah yang ditunjuk Zac dengan dahi berkerut. Ia bisa yakin itu suaminya walau hanya melihat sekilas punggungnya saja. Pria itu berjalan cepat dengan menunduk kepala membuat Zakiya heran kemana perginya pria itu. “Kayaknya Ayah beli makan siang, deh, Bun.” Zac mengangguk-anggukan kepalanya lucu. Pasti Ayahnya keluar karena ingin membelikan makan siang. “Iya ya kayaknya,” ucap Zakiya ikut mengangguk. Wanita yang mengenakan stelan kantor itu menggengam tangan Zac dan melanjutkan langkah mereka menuju ruangan Raka. Rencananya mereka hari ini akan makan siang bersama. Zakiya mengangguk dan tersenyum kecil saat bertemu dengan salah satu pemegang saham yang cukup banyak di perusahaan ini. Nampaknya pria paruh baya itu baru saja

