Seorang wanita tersenyum sambil memasuki kantornya. Zakiya yang mengenakan blouse putih dan rok selutut nampak cantik dengan rambutnya yang ikat ekor kuda. Langkah kaki yang berbalut heels mengundang orang-orang untuk menatapnya. Lala, sang sekretaris yang berada dibelakangnya tak henti-henti berdecak kagum, aura wanita itu memang luar biasa, namun sekarang nampak berbeda karena ada segaris senyumannya di bibirnya. “Mbak? Mbak,” panggil Lala mengajar Zakiya. “Udah gol ya? Berapa ronde?” tanya Lala membuat sang bos ingin sekali menutup mulut wanita itu dengan berkas yang sedang ia bawa. “Diam Lala,” ketus Zakiya. “Zhafif enggak tahan lama ya, mbak?” tanya Lala sambil menekan tombol paling atas nomor dua ketika mereka sudah ada di depan lift. “Kamu bisa diam tidak, Lala.” “Hehee, oke,

