“Zhafif?” Remaja lelaki itu memejamkan matanya, entah kali kalimat apa yang akan keluar dari Zakiya melihat kondisinya. Wanita itu pasti mengatainya tidak becus dan sangat ceroboh, juga hampir saja membahayakan Zac. “Kamu mau minum?” tanya Zakiya yang ternyata sudah berada di dekat ranjang Zhafif. “Jangan marahi saya, Mbak. Saya sudah berusaha untuk menghindari anak itu tapi ternyata malah saya yang jatuh. Saya minta maaf,” ujar lelaki itu membuka kedua kelopak matanya, membuat hati Zakiya yang mendengarnya seperti baru saja dihantam sebuah palu. Setakutkan itu Zhafif ia dengan omelannya? “Saya tidak akan memarahi kamu,” ucap Zakiya meneguk ludahnya. “Saya tidak berhak.” “Beneran?” tanya laki-laki itu dengan wajah polosnya. “Saya khawatir sama kamu,” ungkap Zakiya terus terang. “K

