“Zakiya selalu pulang malam ya, Mas?” Zhafif tersenyum kecil ketika melihat Maminya keluar dari rumah dan duduk disampingnya yang tengah berada di bangku teras. “Enggak tentu, sih, Mi,” jawab Zhafif ragu. “Lebih banyak pulang malam atau pulang cepatnya?” tanya Zalia membuat Zhafif meringgis. “Pulang malam,” sahutnya jujur. “Tapi walaupun selalu sibuk begitu, Mbak Zakiya tetap bantu pekerjaan rumah lho, Mi,” kata lelaki itu lagi. Ia tidak ingin membuat Zalia berpikir Zakiya adalah seorang isteri yang tidak peduli dengan suaminya. Maminya hanya mengangguk membuat Zhafif mengalihkan pandangannya ke arah gerbang rumah. Menunggu kapan pintu itu akan terbuka dan membawa Zakiya masuk ke dalam sini. Ia sudah rindu. Remaja lelaki itu kembali melihat ke arah Maminya, ketika merasa ibunya itu t

