“Mbak Zakiyaaa!” Lala memekik riang ketika melihat bosnya kembali bisa menghirup udara bebas. Gadis itu berlari dengan riangnya untuk menerjang Zakiya, membawa sang wanita yang ia sudah anggap sebegai seorang kakak kedalam pelukannya. Walau Lala tahu nanti Zakiya pasti akan memerahinya karena membuatnya tidak bernafas karena eratnya pelukan ini, Lala tidak peduli. Ia hanya ingin meluapkan kebahagiannya setelah merasakan keputusaan yang terjadi pada sang bos. Zakiya mendapatkan tuduhan yang tak pernah ia lakukan. “Hiks— saya senang banget Mbak Zakiya bisa bebas lagi,” ujar Lala melepaskan pelukannya, gadis itu mengusap air matanya yang berjatuhan karena bahagia. “Kamu berlebihan, Lala,” kata Zakiya datar seperti biasanya. Namun, ketika melihat betapa bahagianya gadis ini ketika ia kelua

