Bab 42 - Memaafkan

2080 Kata

Suara tamparan Melisya masih terdengar jelas. Pipiku masih terasa sakit akan hal padahal sudah memakai cadar, kini aku menatap kosong kearah kak Gilang yang sedang menatap Melisya dengan tatapan tajamnya. "Gilang..." Setelah kami bertiga terdiam selama beberapa menit, Melisya lebih dulu bersuara. Aku meninggalkan keduanya dan masuk kedalam rumah menuju ruang keluarga. Tadinya aku ingin menunggu Kak Gilang disana sambari mengabiskan apel yang kupotong-potong tadi tetapi suara bell yang berbunyi membuatku berjalan kearah pintu. Wajah Melisya langsung terlihat didepan pintu saat aku membukanya, matanya langsung manajam saat melihat akulah yang membuka pintu bukan kak Gilang seperti harapannya. Dia mengataiku bahwa aku sangat tidak pantas untuk suamiku sendiri. Perihal tamparan itu tent

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN