“Buku fisiknya ada? Maksudnya yang dicetak, bukan dari foto?” tanya Una. “Ada.” “Mana?” Una menatap Arga dengan ekspresi memaksa. “Sama inspektur yang kemarin.” “Kenapa kamu gak minta bukunya aja sama inspektur itu? Maksudnya kan biar lebih mudah diliat, kayak gini-....” Arga memotong bicara Una. “Gak dibolehin. Katanya masih belum bisa dikasih ke aku.” Una mengangguk. “Oooh ... iya, sih. Mungkin inspektur itu ngerasa masih belum bisa percaya sama kamu.” “Bener. Makanya aku minta foto-fotonya aja.” “Terus, inspektur itu udah bisa mecahin teka teki di buku itu?” Arga mengendikkan bahunya. “Gak tau. Kayaknya belum, deh.” “Jadi lo mau gue bantu lo nerjemahin isinya?” Arga mengangguk. “Gue udah pusing banget. Dari kemarin gue liatin ini fotonya, masih aja gak paham. Gue tadi malam

