Headline

1905 Kata
Rumah keluarga Hutama dihiasi oleh harum aroma bumbu, karena saat ini sang mama sedang memasak makanan untuk makan siang. Sibuk sendiri di dapur, tidak ada seorangpun yang membantunya. Menu makan siang hari ini cukup sederhana. Sebenarnya, mama Leon sering kali memasak makanan sederhana, karena sejak dulu Ia tidak terlalu mahir memasak. Meskipun dirinya sibuk memasak, namun Ia tetap saja merasa kesepian. Mama Leon memutuskan untuk menghidupkan televisi. Membiarkan suara televisi menemani kesibukannya. Waktu pagi menjelang siang seperti ini, biasanya banyak saluran televisi yag menayangkan berita. Baik berita dari para entertainer, maupun berita mengenai kabar terkini tentang apa yang terjadi di negara ini. “Seorang mayat pria ditemukan mengambang di kolam renang, diduga melakukan percobaan bunuh diri” Pembaca berita dengan lantang menyampaikan informasi tersebut. Mendengar berita itu, mama Leon segera berjalan ke ruang menonton. Menyaksikan berita dengan seksama, hampir melupakan apapun yang dimasaknya saat ini. “Oh Tuhan, kenapa manusia sekarang gampang banget bunuh diri” Karena tidak ada satupun orang yang bisa diajak berbicara, Ia pun berbicara sendiri. “Hah? I-itu pelatih-....” Dengan segera dirinya mengambil ponselnya di meja makan, dan mencari kontak tetangganya. “Nomor yang anda tuju tidak dapat melakukan panggilan ini” Suara itu terdengar kala mama Leon mencoba menelepon tetangganya. “Halo. Pa! Papa lihat berita? Pa itu beneran pelatih renangnya Leon? Aku udah telfon istrinya, gak diangkat. Yaudah bentar aku ke rumahnya deh” Terlalu bingung, mama Leon akhirnya memutuskan untuk menghubungi suaminya. Ia jelas kaget karena berita yang didapat menampilkan identitas yang persis dengan identitas tetangganya. Sebelum identitas dibacakan, mama Leon bahkan sempat menghakimi korban hanya karena sebuat headline berita. Wanita paruh baya yang merupakan primadona di rumah keluarga Hutama itu, langsung menghentikan kegiatan memasaknya. Membereskan dapur sebisa mungkin, karena saat ini ia sedang terburu-buru. Kemudian, dirinya berjalan menuju kamarnya sendiri, untuk mengganti baju. Tidak mungkin dirinya berkeliaran ke rumah tetangga yang berjarak beberapa rumah dari rumahnya itu menggunakan daster tanpa lengan. Ia mengganti bajunya sambil memerhatikan ponselnya, berharap istri pelatih menghubunginya kembali. Segera Ia berjalan menuju rumah tetangganya, membawa ponsel dan dompetnya. Sebelum dirinya tiba ke rumah tetangganya, Ia sudah dapat melihat orang-orang entah siapa mengerumuni kediaman tetangganya itu. Dalam hatinya, berarti dugaannya benar. “Permisi, saya tetangganya, izinkan saya masuk sebentar” Mama Leon berusaha masuk ke rumah. Bahkan halaman rumahnya sudah dipenuhi dengan orang-orang, baik dari kalangan wartawan, reporter, polisi dan beberapa rekan kerja mereka. Hingga pagar rumah tidak bisa tertutup, karena ramainya yang berkunjung. “Suami saya gak mungkin bunuh diri!! Tolong hapus berita tidak benar mengenai suami saya, saya mohon!!” Istri dari pelatih itu berteriak dan memohon pada siapapun yang ada di depannya. Namun tidak ada satupun yang mengiyakan wanita itu, hanya ada beberapa orang dari keluarganya berusaha menenangkan dirinya. Mendengar teriakan dari istri pelatih, mama Leon merasa bersalah telah berbicara buruk mengenai headline berita yang dilihatnya di rumah tadi. Tanpa sadar, dirinya menitikkan air mata. Mama Leon menyempatkan diri untuk bertemu dengan istri pelatih. Sebenarnya, keadaan istri pelatih sudah cukup lemah. Wanita itu bahkan sudah tidak mampu berdiri, duduk pun membutuhkan bantuan untuk memeganginya. Bagaimana mungkin seorang istri yang baru saja mendapat kabar kematian suaminya, dapat berdiri tegak, terlebih lagi di saat berita itu bahkan dilebih-lebihkan oleh media. Keadaan istri pelatih itu cukup memprihatinkan. Beberapa pihak keluarga telah mengingatkan kepada orang-orang yang sedang menyampaikan bela sungkawa, bahwa istri dari pelatih itu tidak sanggup untuk menerima kunjungan dan ucapan duka cita dari siapapun. Namun, saat wanita itu melihat mama Leon di dekat pintu rumahnya, Ia bersedia untuk menemui mama Leon. Hubungan mereka tidak cukup dekat, namun sejak lama memang sudah bertetangga dan tidak pernah sekalipun memiliki masalah satu sama lain. Selain dari dukungan keluarga, wanita itu tentu membutuhkan dukungan dari rekan-rekannya. Maka dari itu, Ia mengizinkan mama Leon masuk dan menyampaikan bela sungkawanya. Mama Leon langsung memeluk tubuh lemah istri si pelatih. Ia elus dengan lembut punggung dan bahu dari si wanita itu. Mereka menangis saat berpelukan. “Mbak ... Sampaikan maaf ke Leon ya, si papa udah gak bisa ngelatih Leon lagi ... hiks ... Leon berangkat lomba sendiri ... hiks ... Mbak ....” Wanita itu menyampaikan rasa maaf atas nama suaminya, sambil menangis. Suasana benar-benar gelap. Semua dihiasi kesedihan. Meskipun tidak berhubungan sebagai keluarga, namuj hubungan baik mereka menyebabkan rasa yang amat kehilangan karena berita itu. Di tengah tangisnya, istri pelatih masih mampu menyampaikan permintaan maaf dan juga menjelaskan bahwa tidak mungkin suaminya bunuh diri. “Sebentar ... hiks ... sebentar lagi anniversary pernikahan ka- ... hiks ... kami ... mbak ... hiks ....” Suasana semakin gelap dan semua orang menangis mendengar penjelasan istri si pelatih. Tidak mampu terbayangkan oleh mama Leon, jika musibah itu menimpa dirinya. Kehilangan suami tercinta sudah pasti akan membuatnya gila, terlebih mendekati hari yang akan selalu diingat. Entahlah... Mama Leon pun menangis saat dirinya memeluk istri pelatih. Ia tidak mampu menahan tangisnya. Padahal niatnya datang ke rumah tetangga mereka itu untuk menguatkan keluarganya, namun mama Leon tidak sanggup menyembunyikan sedihnya. “Nak, kamu sudah dengar kabar pelatihmu?” Mama Leon sedang menyantap makan siang bersama anaknya. Kali ini, Leon pulang lebih cepat dari biasanya. Dirinya kini sedang memasuki waktu tenang sebelum ujian akhir sekolahnya. Karena itulah Leon akan tiba di rumah saat makan siang. Leon hanya menggeleng dan mempersiapkan diri untuk menyantap makan siangnya. “Pelatihmu meninggal, mayatnya ditemukan tadi pagi katanya di kolam.” Leon terdiam. Sendok di tangan kanannya yang telah bersiap menyapa oralnya, berhenti menggantung di udara. Matanya kosong menatap meja makan. Sepertinya berita itu sangat mengejutkan bagi Leon. “Kamu terakhir ketemu sama pelatih, gak ada tanda apa-apa?” Leon menggeleng. Kali ini, mamanya seperti berbicara sendiri, tanpa sahutan siapapun, padahal Ia sedang berbicara dengan anaknya. Untung saja mama Leon orang yang sabar. “Mama kaget banget, tadi pas mama lagi masak, ada berita, nah beritanya ada mayat ditemukan mengapung di kolam trus dugaannya bunuh diri,” jelas mama Leon sambil terus menyantap makanannya. Mama Leon bahkan rela memperlambat gerakan tangan dan mulutnya dalam mendistribusikan makanan yang disantap, hanya demi menceritakan pengalamannya pagi tadi. “Meninggal di kolam, Ma?” “Heem ... iya, yang pertama ngeliat katanya cleaning service disitu.” “Bunuh diri?” “Nggak tau mama gimana jelasnya, tapi tadi istrinya bersikeras itu bukan bunuh diri.” Leon mengangguk. Berusaha memberi tanggapan seadanya kepada sang mama yang telah berbaik hati menyampaikan berita terkini. “Tadi istrinya sempat meluk mama trus cerita kalau itu udah deket sama hari anniversary pernikahan mereka. Mama disitu gak sanggup buat gak nangis, beneran mama gak kebayang deh gimana sedihnya.” “Kalau mama yang ngalamin gimana, Ma?” “Hus! Omonganmu tuh ada-ada aja.” “Ya kan bagus, Ma. Biar gak ada lagi yang ngejambak-....” “Leon!” Leon terdiam karena dibentak mamanya. Ternyata mamanya sangat mencinta pria yang selalu berlaku seenaknya kepada dirinya. “Kayaknya di sekitar kita sekarang banyak banget kasus kematian ya, Nak. Jadi takut mama.” Leon terdiam. Lagi, sendok yang akan menyapa oralnya pun terhenti bergantung di udara. Ia seperti terkejut akan perkataan mamanya. Padahal apa yang mama Leon bilang adalah benar. “Kamu kalau kemana-mana tuh ngabarin mama ya! Jangan sembarangan ngomong, takutnya ada yang sakit hati trus dendam, malah nyakitin kita, duh jangan sampe deh.” Mama Leon membereskan piring bekas makannya. Membawanya ke wastafel, dan saat berjalan menuju wastafel, langkahnya terhenti karena perkataan Leon. “Trus kalau kita yang sakit hati, Ma? Yang peduli siapa?” Mama Leon menoleh ke arah anaknya. Dilihatnya anaknya telah berdiri dan membawa piring kotornya ke wastafel mendahului mamanya. Tok... tok.... Ketukan pintu terdengar, kala Leon sedang duduk di meja belajarnya melalukan entah apa. Sepertinya Ia sedang belajar, namun tidak terlihat seperti belajar. “Mama masuk, ya?” Pintu terbuka dan menampilkan sang mama, membawakan segelas teh di tangan kirinya, dan sepiring cookies di tangan kanannya. “Ini buat nemenin kamu belajar,” katanya sambil mengusak rambut anaknya. Leon yang terkejut mamanya masuk, segera menutup buku tulisnya. Padahal sudah ditanya lebih dulu oleh mamanya, masih saja Ia terkejut. Sepertinya ada yang Leon sembunyikan, atau memang Leon tidak sedang belajar? “Kamu belajar yang bagus, biar bisa masuk ke univ yang papa bilang, jadi jaksa yang sukses kayak papamu.” Mama Leon mengecup pucuk kepala anaknya. Mencoba menyemangati anaknya yang pasti saat ini sedang tertekan karena tuntutan dari suaminya. “Ma, kalau Leon gak bisa lolos disitu gimana?” Wajahnya menatap mata mama. Berharap mamanya akan menolongnya. Sejujurnya, itu bukan universitas impian Leon, dan bukan pula jurusan yang Ia inginkan. “Hus ... jangan berpikiran negatif dulu, jalani aja sebisamu. Mama tau kamu mampu.” Sia-sia sudah usaha Leon untuk meyakinkan mamanya bahwa itu bukan pilihan yang Ia mau. Kali ini, satu-satunya jalan adalah dengan mengikuti kemauan orang tuanya. Leon mencoret buku tulisnya dengan sangat brutal. Bahkan hingga merobek lembaran yang Ia coret. Ia marah. Dirinya marah pada diri sendiri, pada takdir hidupnya, pada orang tuanya. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, Ia menjalani kehidupan sesuai kemauan dan keinginannya. Sejak dulu, Ia diminta melakukan sesuatu yang bernilai tinggi di mata orang lain. Dipaksa menjadi centre, didorong menonjolkan kemampuan dirinya agar bisa melebihi anak-anak seusianya. Sering kali Ia protes akan dorongan orang tuanya ini. Namun, tidak satupun dari mereka yang menghiraukan. Bahkan mamanya yang selalu menjadi tempat mencurahkan isi hati dan keluh kesah, tidak sama sekali mendengarkan keinginannya. Mama Leon bahkan berlindung dari kasarnya papa Leon, dengan cara memujuk Leon agar selalu menuruti kemauan sang papa. Keluarga ini dalamnya cukup berantakan dan memprihatinkan. Meskipun luarnya menampilkan sebuah keluarga kecil yang berlimpah keuntungan dan dipenuhi kasih sayang. Cukup memprihatinkan.... “Aaaahk....” Leon merobek buku tulisnya. Ia buang ke lantai, Ia bahkan menginjak buku itu. Dug! Kepalan tangannya mendarat pada dinding yang ada di dekat tempat tidurnya. Ia lampiaskan seluruh amarahnya pada pukulan itu. Tentu saja hal itu menyebabkan lebam di ruas jarinya. Sedikit meringis, Ia terduduk di atas tempat tidurnya. Leon berjalan ke meja belajarnya. Membuka lemari buku dan mengambil dua buku yang selama ini dijadikan referensi menulisnya. Ia ambil dan bawa ke atas tempat tidurnya. Kini, dirinya hanya bisa mengisi waktu luang dengan membaca, bukan menulis. Cukup takut untuk mulai menulis lagi, meskipun dalam hatinya ingin sekali melanjutkan cerita yang sempat terputus. Ia baca halaman demi halaman. Tiba-tiba, air mata membasahi pipinya dan juga lembar yang sedang Ia baca. Mencetak sebuah tanda basah di lembar itu. Sepertinya chapter yang Ia baca bukan bagian yang menceritakan kesedihan, tapi entah kenapa Ia merasa sedih. Tangannya gemetar. Buku itu diremuknya. Memberikan bekas kusut pada sisi kanannya. “Sial!” Leon merobek buku itu menjadi dua bagian. Begitu luar biasa kekuatan yang dikeluarkannya untuk merusak sebuah buku. Ia iri, marah dan kesal melihat buku tersebut. Ia iri kenapa penulisnya bisa mewujudkan impian menulis buku sebagus itu, sedangkan dirinya.... Bukan maksud Ia tidak menghormati penulisnya, namun Ia cukup sakit hati melihat fakta bahwa dirinya tidak akan bisa mendapat kesempatan menciptakan sebuah buku yang bagus. Ia juga cukup iri melihat dirinya tidak pernah mendapat dukungan dalam melakukan hal yang Ia impikan. Leon membanting buku itu ke lantai. Menciptakan suara keras. “Leon?” Tokk... tokk... “Leon? Kamu gak apa-apa, nak?” Mama Leon terdengar dari balik pintu kamarnya. Sepertinya, suara keras dari buku itu membuat sang mama khawatir. “Ngga,” jawabnya singkat. Ia memilih untuk meninggalkan meja belajar dan buku-buku terbagus yang dibacanya tadi. Dibaringkannya tubuh di atas tempat tidur. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Lebih baik dirinya tidur siang, daripada harus memikirkan hal yang membuat dirinya marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN