“Ya, benar. Ini kediaman Leon Dasuki Hutama. Ada apa ya, Pak?” Mama Leon kebingungan saat membuka pintu rumah.
Di depan pintu, sudah berdiri beberapa orang dari anggota kepolisian. Mereka menanyakan keberadaan Leon. Tentu saja mama Leon bingung. Apa hubungannya Leon dengan kepolisian, pikirnya.
Pria berbadan tegap itu menunjukkan surat penangkapan seorang pria muda bernama Leon Dasuki Hutama. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah keluarga Hutama, berusaha mencari keberadaan Leon.
Leon masih belum menyadari, hingga seorang pria tegap masuk ke dalam kamarnya.
Ia sedang melukis di sebuah kanvas berukuran sedang. Melihat banyaknya orang asing memasuki kamarnya, Ia pun berdiri.
“Nak!” Suara mama Leon terdengar cukup histeris.
Leon dan mamanya saling melempar tatapan heran dan bingung. Mama Leon langsung menghubungi suaminya.
Leon dibawa ke kantor kepolisian untuk diperiksa dan ditahan sementara. Pasalnya, terdapat satu bukti yang selama ini disembunyikan oleh salah satu murid sekolahan Leon.
Sehari yang lalu....
Inspektur Jusuf dan dr Paula sedang menghabiskan waktu makan siang di sebuah restoran di dekat sekolah Leon. Tidak ada niat apapun, hanya karena bertemu di area sekolah Leon, maka mereka memutuskan makan siang bersama di restoran yang ada di daerah itu.
“Aku merasa sedikit aneh, karena bunga yang ada di tkp itu sama. Kamu lihat sendiri kan bunga-bunganya,” jelas Inspektur Jusuf kepada dr Paula yang duduk di depannya.
Di meja makan mereka, disajikan nasi dengan bebek goreng sambal matah, lengkap dengan minumnya.
“Selama aku menangani kasus kejahatan kayak gini, gak pernah ada kasus yang kayak gini.”
“Sepertinya pelaku ini terinspirasi dari buku atau film. Caranya sederhana, tapi cukup teliti dalam membereskan lokasi pembunuhannya. Walaupun udah dikasih clue, tapi masih sulit ditangkap. Heran juga kalau begini.”
“Apalagi kasus Sisil. Biasanya kasus yang menimpa anak sekolah, pasti banyak orang-orang yang bisa dijadikan terduga, nah kalau ini sulit sekali. Bahkan yang penjaga gerbang kemarin itu, ah pusing....”
“Ehem....” Seorang remaja menghampiri meja mereka.
Inspektur Jusuf dan dr Paula melihat ke arah remaja itu.
“Mohon maaf sebelumnya, boleh saya duduk di sini? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada pak inspektur.”
“Ya, silahkan,” jawab Inspektur Jusuf sambil menggeserkan kursi di sebelahnya, mempersilahkan remaja itu duduk.
“Ehm ... S-saya ... Saya alumni dari sekolah xx, saya teman seangkatan Leon dan Sisil. S-saya....”
Remaja itu terdiam dan menunduk, Ia menangis.
“Ya? Kenapa? Ada apa? Coba pelan-pelan diceritakan, kita akan menunggu disini.” Dr Paula berusaha menenangkan remaja itu.
“S-saya ... mohon maaf, bu ... mohon maaf, pak ... saya selama ini sudah menyimpan ... hiks ... saya menyimpan bukti dari lokasi Sisil meninggal ... hiks....”
“Bukti? Bukti apa? Kamu beneran?”
Remaja itu mengangguk. “S-saya terlalu takut ... hiks ... saya takut kalau Leon bakal ngejar dan ngelukain saya....”
“Hah? Leon kamu bilang?”
“Iya, Pak. Bukti yang saya temukan di lokasi kematian Sisil adalah gelang milik Leon.”
Remaja itu sudah menghentikan tangisannya. Menghapus wajahnya yang basah oleh air mata.
“Dimana bukti itu sekarang?”
“Ada di rumah saya. Saya takut buat ngasih tau ini, saya tau saya bakal dihukum karena menyembunyikan bukti dan memperlambat penyelidikan seperti ini. Tapi, saya ngerasa bersalah udah beberapa bulan ini. Jadi, saya memberanikan diri....”
Remaja itu menunduk dengan tangan bertaut satu sama lain di bawah meja. Sebenarnya, tindakan remaja ini cukup membahayakan.
Menyimpan sesuatu yang ditemukan di tempat kejadian perkara bisa saja namanya menghilangkan bukti dengan sengaja, dan membantu tindakan kejahatan yang dilakukan tersangka.
“Kamu udah selesai makan? Kita sekarang ke rumahmu.”
Inspektur Jusuf segera berdiri dan hendak membayar makanannya. Diikuti dengan dr Paula dan remaja yang tidak diketahui namanya.
“Ini gelangnya, Pak. Sengaja saya masukkan di dalam plastik dan tidak ada dibuka sampai hari ini.”
Melihat keadaan gelang itu, Inspektur Jusuf merasa lemas karena begitu terkejut. Selama ini dirinya menolak bahwa Leon seorang terduga atas kasus ini.
Terlebih saat melihat alibi-alibi Leon yang tidak sesuai dan tidak sedikitpun berhubungan dengan kejadian pada hari itu. Hari ini, Ia begitu terkejut bahkan hingga terduduk di lantai.
Remaja itu hanya terlalu takut, namun hal ini membawanya kepada kerugian. Karena dirinya bisa saja dihukum karena menyembunyikan barang bukti. Ia mengaku bahwa dirinya takut, selama masa masih bersekolah, Ia sering bertemu Leon di sekolah. Karena itulah Ia menyembunyikan gelang ini.
Namun, hatinya tidak tenang. Ia merasa ada yang salah. Setelah hari kelulusan mereka, akhirnya remaja itu membulatkan tekadnya dan memberanikan diri untuk mengungkap gelang itu kepada Inspektur Jusuf yang pernah Ia temui di sekolahnya saat kejadian hari itu.
Inspektur Jusuf dan dr Paula langsung membawa gelang tersebut ke laboratorium untuk diperiksa apakah ada kecocokan dengan DNA milik Sisil dan apakah ada hubungannya dengan Leon.
Sedangkan, remaja itu dibawa ke kantor untuk diperiksa dan dimintai keterangan.
.
Selama di kantor, Leon hanya bisa diam. Ia menunduk di ruang interogasi.
Seorang pria berbadan tinggi dan berkulit putih, masuk dan duduk di hadapan Leon. Sepertinya Ia adalah petugas yang akan menginterogasi Leon.
Pria itu membawa serta sebuah laptop dan beberapa berkas serta gelang yang baru saja ditetapkan menjadi barang bukti kasus kematian Sisil.
“Nama?” tanya sang pria tinggi itu dengan nada cukup dingin dan datar.
“Leon.”
“Usia?”
“19 tahun.”
“Apa hubunganmu dengan Sisil?”
“Saya? Saya teman sebangku Sisil.”
“Kapan terakhir kali kamu bertemu Sisil?”
“Pertanyaannya gak ada yang lain?”
Pria tinggi itu terdiam. Cukup berani, pikirnya.
“Kenapa?”
“Pertanyaannya udah pernah saya jawab.”
“Kapan? Dimana?”
Leon tertawa. Mengalihkan wajahnya ke samping.
Tok... tok....
Seorang pria tegap masuk ke dalam ruangan. Pria itu berdiri tegak dengan garis wajah tegas, mengenakan setelan jas berwarna navy, selaras dengan pantofel kilat di kakinya.
Terlihat pria lain yang berbadan lebih kecil dari pria tegap di depannya. Ia memberi isyarat pada pria tinggi yang ada di dalam bersama Leon. Sepertinya, papa Leon hari ini menjadi pengacara untuk anaknya sendiri.
Mereka diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan tanpa pengawasan. Ya, benar. Jika tidak ada orang lain di antara anak dan papa itu, sudah pasti Leon akan menjadi anak malang.
Wajah polosnya kini telah terhiasi dengan merah karya tangan papanya sendiri.
Papa Leon sadar, bahwa mereka berada di ruangan publik. Bukan saatnya Ia melampiaskan amarahnya menggunakan tangan. Ia harus menjaga reputasinya di depan orang-orang asing.
Interogasi berlangsung cukup lama. Leon diminta bermalam di kantor untuk dimintai keterangan lanjutan dan belum diizinkan pulang.
Alibi yang disampaikan oleh Leon seluruhnya tidak ada yang mencurigakan. Ia menjawab semuanya dengan santai, bahkan papanya tidak banyak bekerja saat ini.
Semua pasti paham, bagaimana dahsyatnya kekuatan orang dalam. Ya, saat ini Leon menggunakan papanya senagai kekuatannya di sesi interogasi ini.
Meskipun Leon sempat ditahan selama tujuh hari, namun Ia dibebaskan. Tidak ada alasan untuk menahan Leon lebih lama dan menetapkan dirinya sebagai tersangka. Begitu pula dengan remaja yang sempat menyembunyikan gelang itu.
Inspektur Jusuf semakin pusing saja. Dirinya kembali bekerja tanpa henti mencari apa hubungan kematian Sisil dengan pelatih renang.
Dan mencari tahu apa sebenarnya maksud dari bunga-bunga yang ditemukan di tempat kejadian perkara.
Inspektur Jusuf kembali mengingat pernyataan dari Leon.
Hari itu, Leon mengatakan bahwa Ia telah memberikan gelang itu kepada Sisil, lama sebelum Sisil ditemukan meninggal di tangga sekolah.
Ia menunjukkan foto dan pesan teks dari Sisil yang isinya meminta gelang itu menjadi miliknya. Katanya untuk perpisahan, karena saat itu mereka baru saja memasuki kelas dua belas dan akan segera berpisah.
Gelang yang dimaksud ini berwarna biru tua yang cukup gelap, di bagian dalam gelang terdapat ukiran bertuliskan Leon. Gelang ini diperiksa dan memiliki bercak darah milik Sisil dan sidik jari milik Leon, walaupun hanya sedikit.
Leon beralibi bahwa hari sebelum Sisil ditemukan meninggal, Ia sempat memakaikan gelang itu ke pergelangan tangan Sisil. Katanya, Sisil sempat memutuskan sisi pengait gelang, lalu Leon memperbaikinya dan kemudian memasangkannya di pergelangan tangan Sisil.
Alibi lain yang dapat menghindarkan dirinya dari tuduhan yaitu Leon mampu menunjukkan bukti bahwa malam hari dimana saat itu merupakan waktu perkiraan meninggalnya Sisil, Ia menunjukkan bahwa dirinya sempat berkirim pesan dengan Sisil. Dan alibinya adalah Ia tidak bersama Sisil saat malam kejadian pembunuhan Sisil.
Ia menuliskan pesan bahwa dirinya memilih pulang sendiri. Karena Ia sedang berada di kolam renang, sedangkan Sisil tidak tahu berada dimana. Kemudian, terdapat balasan dari Sisil yang mengiyakan pernyataan Leon. Hal itu yang menyebabkan Leon dibebaskan.
.
Rumah keluarga Hutama cukup sunyi di akhir pekan ini. Akhir pekan merupakan waktu bagi keluarga Hutama untuk dapat berkumpul secara utuh.
Papa Leon tentu saja libur saat akhir pekan, mama Leon yang selalu berada di rumah, dan Leon yang sedang berada di masa libur kelulusan sekolah. Mereka makan siang bersama di rumah.
Leon kini terlihat lebih kurus dari biasanya. Wajahnya selalu murung, matanya tampak sayu, dan bibirnya kini tidak lagi memberikan senyum.
“Anakku sayang ... makan yang banyak ya!” Mama Leon menyajikan makanan dan meletakkan nasi dengan porsi cukup banyak di piring milik Leon.
“Gimana kuliahmu?”
Leon diam. Ia bahkan tidak melihat ke arah papanya, matanya hanya tertuju pada piring makannya.
“Udah gak lulus di univ xx, mau kemana kamu abis ini? Sia-sia disekolahkan di sekolah elit, ikut lomba sana sini, tapi masuk univ xx aja gak mampu.”
Ya, benar. Seperti biasa, papa Leon seakan menyulut api di tumpukan jerami kering.
“Pa, gak usah bahas hal itu dulu lah. Ini masih makan loh.”
“Kamu mau ngebela anak kamu lagi? Gak malu kamu?”
“Pa....”
Sang papa yang belum puas memojokkan anaknya sendiri, masih saja mengucapkan perkataan yang tidak enak didengar oleh rungu Leon.
“Teman-temanmu saat ini udah mikirin tiket berangkat ke London, ke Jepang, paling minimal tuh ke Singapore. Kamu ngapain masih santai-santai di sini?”
Leon menunduk. Bahkan makanannya belum tersentuh sedikitpun di atas piring makannya. Makanan yang telah dimasakkan dan disajikan dengan penuh cinta oleh mama Leon, sepertinya akan terbuang sia-sia.
Papa Leon melihat anaknya tepat di mata. Ia memberikan ekspresi kesal.
“Nak. Makan dong, kamu udah krusan begini. Sakit hati mama lihatnya.”
Dengan sabar, mama Leon memujuk anaknya untuk makan dan tidak menghiraukan perkataan papanya.
“Mau jadi apa kamu begini? Leon ... Leon....”
“Jadi, papa maunya aku kuliah di univ xx, dengan jurusan yang papa pilih, lalu aku jadi pengacara terkenal kayak papa?”
“Kenapa kamu baru sadar? Orang tua mana yang tidak mau anaknya jadi orang sukses?”
“Lalu, papa mau aku jadi pengacara yang membela korban kejahatan, membela istri yang dijahatin suaminya?”
Papa Leon mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan air minum.
“Padahal papa sendiri juga jahat ke mama? Papa mau aku juga jahatin mama? Supaya persis jadi kayak papa?”
Papa Leon hampir saja mati tersedak. Ia terkejut. Sejak tadi anaknya diam saja diberi pertanyaan. Tapi kini Ia menjawab telak semua perkataan papanya.
Leon segera berdiri dan meninggalkan meja makan. Ia berjalan menuju kamarnya.
Di meja makan, mama Leon sedang ketakutan akan menjadi sasaran kemarahan suaminya. Tapi di lain sisi, dirinya bangga melihat anaknya yang sudah berani menjawab perkataan papanya, dan berharap suaminya akan berubah.
Papa Leon kemudian melihat istrinya tepat di mata. Dengan cepat, istrinya bangkit dan beranjak dari duduknya.
Padahal Ia belum menyelesaikan makanannya, namun Ia sudah membereskan piring bekas makan dirinya dan anaknya dan segera membawa piring-piring itu ke wastafel.
Ia benar-benar takut akan dijadikan sasaran oleh suaminya. Selama ini, istrinya selalu dijadikan sasaran, meskipun setelah itu Ia akan dimanja suaminya sendiri.
Hal itu yang sebenarnya membuat mama Leon bertahan, mempertahanlan pernikahan yang di dalamnya seperti neraka, namun terkadang dingin seakan di surga.