Flashback

1390 Kata
Kasus demi kasus belum terpecahkan. Nama Sisil dan pelatih perlahan menghilang ditelan waktu. Leon memiliki kegemaran baru, yaitu melukis. Meskipun Ia tidak didukung oleh papanya, Ia berusaha untuk terus melukis. Melukis dapat meringankan beban pikiran, katanya. “Leon kenapa suka melukis?” Bryan berkunjung dan hanya duduk memerhatikan Leon melukis. Leon kini membuat tempatnya sendiri agar dapat melukis dengan nyaman. Ia memilih halaman belakang, tanpa atap dan hanya beralaskan rerumputan. Untung saja halaman belakang di rumah keluarga Hutama cukup luas. “Menyenangkan,” jawab Leon. Bryan mengangguk. Sejak tadi, Bryan meminta untuk mencoba melukis. Namun, Leon menolak. “Leon?” Leon berdehem. “Kamu kenapa sekarang jadi sering sedih?” Leon terdiam. Tangannya yang sedang memegang kuas, tergantung di udara. Menciptakan goresan kecil, tanpa sadar. “Aku?” Bryan mengangguk. “Hem ... Leon jadi sering diem, kalo aku ajak main juga sering nolak.” Leon tersenyum, berusaha meyakinkan Bryan bahwa dirinya tidak sedang bersedih. “Leon sudah tidak suka aku? Leon tidak ingin berteman sama aku?” Jika sudah berbicara formal seperti ini, maka Bryan sedang menghidupkan mode drama di dirinya. “Bri ... kalau aku udah gak disini, kamu sedih gak?” Entah apa maksud Leon menanyakan hal itu. “Sedih. Nanti aku gak punya teman lagi.” “Kalau aku dituduh berbuat jahat, kamu masih mau temenan sama aku?” Bryan mengangguk. Ia hanya duduk dan memerhatikan kegiatan Leon sejak tadi. Hal itu menyebabkan dirinya tampak lucu dan menggemaskan layaknya anak kecil. “Kamu pernah buat jahat?” Leon terdiam sebentar, kemudian menggeleng. “Aku pernah.” Bryan menampilkan senyum secerah matahari. “Gimana?” “Aku sembunyiin bubble tea kakak yang di kulkas.” Leon tersenyum singkat. Perasaa hatinya cukup senang hari ini. “Terus?” Leon masih mempertahankan senyum terukir di wajahnya. “Kakak marah, terus aku habisin bubble teanya pas dia pergi les.” Keduanya tertawa di bawah awan yang terlihat mendung. Leon bersyukur bahwa Ia masih memiliki setidaknya satu orang yang dapat dianggap sebagai sahabat, yang selalu mendukung setiap keinginannya tanpa menghakimi. “Leon?” “Hem....” Leon hanya berdehem. Keduanya masih asik mengobrol, namun Leon tidak melupakan kegiatan melukisnya. “Kemarin kamu yang pergi naik mobil itu mau kemana?” “Naik mobil?” “Iya. Tapi, bukan naik mobilnya mama atau om John.” Bryan selalu memanggil mama Leon dengan sebutan mama, sedangkan untuk papa Leon, Ia memanggilnya dengan sebutan om John. “Itu ... eum ... aku diajak jalan-jalan sama teman papa,” dalihnya. Leon tidak ingin Bryan mengetahui hal itu. Ia takut bahwa Bryan akan semakin banyak bertanya. “Ooh....” Bryan masih sibuk memerhatikan kanvas yang telah dihiasi oleh karya Leon. Lukisannya berupa sebuah pemandangan malam, yang dilihat dari sudut pandang di dalam rumah, dibuat seolah melihat dari jendela yang terbuka. Bryan bertanya lagi. “Kamu kabur ya?” “Hah?” “Waktu itu, kamu kabur?” “Engga.” “Jadi, kenapa mama manggil-manggil kamu di depan pintu? Padahal kan kamu cuma jalan-jalan sama teman om Johm.” “Mama pengen ikut.” “Kenapa gak ikut? Kamu gak mau? Kamu gak ngebolehin? Kenapa? Ken-....” Leon segera memotong pertanyaan Bryan padahal masih banyak lagi pertanyaan yang akan diucapkan. “Pelan, Bri.” Bryan menoleh ke wajah Leon yang sedang melihat ke arahnya. Kemudian Ia tersenyum. “Gak jadi,” katanya. --- Delapan bulan lalu.... “Cakep banget gelang kamu, beli dimana?” Sisil mendudukkan dirinya di sebelah Leon. Leon sering kali menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah. Duduk di sebuah kursi panjang, di bawah pohon besar, sambil membaca buku, atau sekedar mendengarkan musik. Leon menoleh ke arah Sisil yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya. “Ini?” Sisil mengangguk. Ia memberikan satu cup besar vanila latte iced kepada Leon. “Ini aku beli dimana ya, aku lupa.” “Yah, padahal aku mau beli. Biar sama kayak punyamu.” Leon melepaskan gelang yang dimaksud dari tangannya. Memberikannya kepada Sisil. “Kenapa?” Sisil bingung. “Untuk kamu.” “Beneran?” Senyum di wajah Sisil merekah. Leom mengangguk dan memegang pergelangan tangan Sisil, berniat untuk memasangkannya. “Padahal ini bandulnya bentuk bunga, tapi kok cocok ya di tangan kamu,” puji Sisil sambil memerhatikan bentuk dari gelang itu. Gelang itu berwarna biru tua dengan bandul berbentuk bunga. Sisil selalu bertanya, bentuk bunga apa sebenarnya bandul itu. Namun, Leon tidak pernah menjawab, hingga Sisil akhirnya tidak akan lagi bertanya. -- Lima bulan lalu... “Leon, aku mau gelang itu.” Sisil mengirimkan pesan teks kepada Leon. Leon sedang menulis di meja belajarnya, namun Ia tidak menghiraukan pesan Sisil. Leon cukup merasa terganggu dengan pesan-pesan yang Sisil kirimkan. Kemudian, Ia matikan ponselnya dan melemparnya ke atas tempat tidurnya. “Kamu kenapa tadi malam gak balas pesanku?” Sisil langsung menghujani Leon dengan pertanyaan. Leon baru saja tiba di sekolah, bahkan baru saja dirinya memasuki pintu kelas. Ia mendudukkan dirinya di kursi, tanpa menjawab pertanyaan dari Sisil. Sisil pun kesal. “Leon!” Leon hanya menoleh. Matanya memutar ke atas, menandakan bahwa dirinya sudah jengah. Masih terlalu pagi untuk menghadapi tingkah aneh yang terkadang Sisil lakukan. Sisil diam hanya karena melihat tatapan Leon yang cukup menyeramkan. Sebenarnya, tatapannya datar tanpa arti, namun karena terselip rasa kesal, sehingga Sisil merasa terintimidasi. -- Seminggu lalu.... “Leon, aku sayang sama kamu,” bisik Sisil. Leon masih menutup matanya erat. Tubuhnya merinding, bulu-bulu di tangan, kaki dan lehernya meremang. Leon mendengar suara tangisan yang sangat menyayat hatinya. Ia menjatuhkan air matanya, membasahi pipi. “Leon....” Sisil masih berbisik. Suara Sisil jelas terdengar di telinga Leon, meskipun hanya bisikan. Leon juga dengan jelas mengetahui bahwa itu adalah suara Sisil. Pukul sudah menunjukkan 23.58, sudah memasuki waktu tidur dan beristirahat. Namun, untuk apa Sisil berada di rumah Leon di malam hari begini? Leon masih menutup matanya dengan erat. Kini, angin terasa menyentuh kulitnya. Ia mengingat-ingat apakah jendela kamarnya sudah ditutup atau belum. Leon tidak bisa berpikir jernih. Leon menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya perlahan. Mengulang hal itu hingga dirasa dirinya bisa menjadi sedikit lebih rileks malam ini. Tess... Basah membasahi mata kirinya. Tepat di mata sebelah kiri, Leon merasakan ada sesuatu yang jatuh dan seperti terciprat. Leon membuka matanya tanpa sengaja, karena rasa penasaran apa sebenarnya yang menimpanya malam ini. Entah itu hanya sebuah halusinasi atau mimpi yang terasa sangat nyata. Ia ingat dirinya memang sempat tertidur sambil membaca buku thriller yang Ia miliki. Tidak ada apapun. Leon duduk dan memeriksa sekelilingnya. Melihat ke kanan, ke kiri, ke arah jendela, bahkan ke bawah kolong tempat tidurnya. Tidak ada apapun. Leon kemudian mengusap mata sebelah kirinya. Ia baru saja mengingat bahwa tadi ada yang membasahi mata kirinya. Dan, nihil. “Huhh....” Leon menghela napas cukup panjang. Ia lega, Ia beryukur malam ini. Leon segera membereskan buku yang tergeletak di sebelah bantalnya. Ia simpan rapi di dalam lemari belajarnya. Sepertinya hal tadi hanya mimpi. Meskipun terasa sangat nyata, mungkin itu hanya bentuk kerinduan dan kekhawatiran Leon terhadap Sisil. --- Leon bersiap untuk mulai melukis. Ide-ide yang telah tersimpan sejak kemarin, akan Ia tuangkan seluruhnya hari ini. Sebuah kursi berada tepat di tengah halaman belakang rumah keluarga Hutama. Di depannya terdapat kanvas beserta penyangganya, da juga tentu saja ada banyak cat dengan beragam warna di atas sebuah wadah yang diletakkan di atas rerumputan. Hari masih pagi, bahkan embun juga masih tampak jelas di dedaunan dan rerumputan yang ada di halaman belakang. Entah kenapa, Leon bangun lebih pagi untuk melukis. Mama Leon bergabung bersama anaknya di halaman belakang. Ia berencana untuk memasak sarapan, namun karena melihat Leon yang sudah bangun dan sudah memulai untuk melukis, Ia pun datang dan melihat anaknya. Sejak hari kelulusan, Leon jadi sering melukis. Kali ini, Ia tidak lagi tunduk dan mengikuti keinginan papanya. “Alah ngelukis gitu mau jadi apa kamu?” Hal itulah yang selalu keluar dari mulut papanya ketika melihat Leon melukis. “Disekolahin mahal-mahal, biar jadi pengacara sukses, jadi jaksa sukses tapi milihnya yang aneh-aneh. Kamu kenaoa sulit banget nurut?” Hal itu juga yang selalu diucapkan saat makan malam bersama. “Nak, mau ngelukis apa?” “Mama.” “Hem?” Leon hanya tersenyum. Ia tidak banyak bersuara. Mama Leon juga ikut menampilkan senyuman di wajahnya. Satu kata sederhana dari Leon mampu memberikan perasaan hangat di hatinya. Mama Leon memeluk tubuh Leon yang sedang duduk di depan kanvasnya. Ia kecup singkat pucuk kepala anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN