Dr Paula sibuk di ruangan kerjanya. Sejak tadi, Ia mondar mandir tidak karuan. Wajahnya seakan bersemangat, entah kenapa.
Ia memegang sebuah berkas sambil memerhatikan ponselnya, seperti menunggu seseorang mengangkat panggilannya.
Kali ini Ia akan membantu Inspektur Jusuf untuk menyelesaikan kasus, pikirnya.
“Halo?” Suara samar terdengar dari ponselnya yang dibiarkan dalam keadaan layar tidak terkunci, di atas meja.
Dr Paula langsung mengambil ponselnya dan meletakkan di samping telinganya. Suaranya terlihat penuh semangat, selaras dengan air mukanya.
“Oke, segera ke ruangan ya.”
Kemudian, telepon terputus dan Ia meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Ia melanjutkan pekerjaan yang masih belum terselesaikan.
Tok... tok...
Pintu terbuka dan menampilkan Inspektur Jusuf dengan nafas terengah-engah. Sepertinya Ia menembus jalanan dan luasnya gedung ini dengan kecepatan kilat.
“Gimana? Huh ... huh ... huh....” Nafasnya benar-benar terengah.
Inspektur Jusuf membungkukkan tubuhnya dan menepuk pelan d*adanya guna menetralkan respirasinya.
“Duduk dulu, minum.” Dr Paula datang dan menarik sebuah kursi kerja untuk diduduki oleh Inspektur Jusuf.
Segera setelah Ia meneguk segelas air mineral, Ia langsung bertanya. “Gimana?”
Dr Paula tertawa singkat, dan langsung mengambil berkas yang ada di meja kerjanya. Sepertinya berkas itu menjadi pemeran utama hari ini.
“Ada kemajuan dari pemeriksaan DNA, baru aja dikabarin, ini hasilnya.” Dr Paula menunjukkan berkas tersebut kepada Inspektur Jusuf.
Inspektur Jusuf memberi tanggapan terkejut. Ia bahkan beberapa kali menoleh ke arah dr Paula, matanya berbicara seakan Ia benar-benar keheranan.
“I-ini ... k-kenapa begini? H-hasilnya kok....” Inspektur Jusuf menoleh ke arah dr Paula yang berdiri di sampingnya.
“Hem... ya itu hasilnya,” jawab dr Paula.
Inspektur Jusuf langsung keluar dari ruangan dr Paula. Ia berjalan dengan setengah berlari. Seperti sedang terburu-buru.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebenarnya ingin untuk melajukan mobilnya sekencang mungkin, namun Ia sadar hal itu bukan hal yang patut dilakukan, khawatir akan melukai orang lain dan tentu dirinya sendiri.
Inspektur Jusuf menunjukkan berkas yang tadi Ia dapat kepada seseorang. Menjelaskan secara detil dan penuh semangat. Kali ini, semua akan diselesaikan, pikirnya.
Mereka hanya perlu beberapa langkah menuju kata selesai.
“Apakah benar ini kediaman Leon Dasuki Hutama?”
Mama Leon merasa traumatis dengan adegan seperti ini. Dimana terdapat beberapa orang datang dan mengetuk pintu rumahnya, kemudian menanyakan keberadaan anaknya.
Ia hampir saja terduduk lemas di depan pintu rumahnya sendiri. Jika saja papa Leon tidak segera memegang pinggang sang istri, mungkin mama Leon sudah tergeletak di lantai.
“Ada apa, ya?” tanya Papa Leon kepada tamu yang tentunya tidak pernah diharapkan datang oleh siapapun.
Seorang pria tegap yang wajahnya tampak tak asing, menunjukkan sebuah kertas. Di dalamnya tertulis nama Leon Dasuki Hutama.
Tanpa memerlukan izin dari orang tua Leon, pria-pria yang berada di depan pintu keluarga Hutama pun masuk ke dalam.
Leon hanya bisa pasrah mengikuti arahan dari pria-pria yang saat ini memegangi tubuhnya, mengunci borgol pada pergelangan tangannya.
Ia tampak menyedihkan. Jika sekali adalah kesalahan, maka kedua kalinya adalah....
“Tolong, Pak! Anak saya jangan dibawa lagi ... Leon ya ampun, Nak. Kenapa begini ... hiks....”
Mama Leon menangis sambil terduduk lemas bersandar pada suaminya. Ia sedikit memberontak, ingin mengejar sang anak, namun tubuhnya tidak mampu.
Papa Leon hanya bisa pasrah menyaksikan anaknya kini dibawa oleh pihak kepolisian, lagi....
“Kamu kok diem aja! Itu anak kamu ... hiks ... Pa....”
Tangisan mama Leon semakin kuat. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak kehilangan kesadaran. Ia masih ingin menyusul anaknya sesegera mungkin.
“Shuuut ... Jangan teriak-teriak! Gak enak didengar tetangga.”
“Gimana aku bisa gak teriak? Itu anakku.”
“Jangan teriak-teriak!” Papa Leon merendahkan suaranya, namun ekspresinya menampilkan kemarahan.
Hari ini, untuk ke dua kalinya, Leon dibawa ke kantor polisi. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Leon.
Papa Leon sedang memikirkan apa yang sebenarnya anaknya lakukan, hingga dua kali dijemput oleh pihak kepolisian.
Seketika pipinya basah oleh air mata. Ia menangis, walau hanya sedikit.
“Pa ... tolong Leon lagi ... hiks ... Pa....” Mama Leon menggoyangkan lengan suaminya.
Papa Leon segera menghubungi Inspektur Jusuf. Kali ini Ia ingin menanyakan ada apa dengan anaknya.
“Halo?”
“Suf?”
Papa Leon diam saat teleponnya diangkat oleh Inspektur Jusuf. Sepertinya, Inspektur Jusuf tahu bahwa papa Leon pasti akan menghubunginya, sehingga Ia langsung menjelaskan semuanya begitu mendapat telepon dari papa Leon.
Pasrah. Papa Leon terduduk di sebelah istrinya. Bersandar pada sofa yang terletak di belakangnya.
Sepertinya Ia mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Segera setelah telepon terputus, Ia pun duduk dengan pasrah pada lantai rumahnya sendiri.
Melihat itu, mama Leon ikut cemas. Semakin khawatir pada anaknya yang saat ini entah berada dimana.
Anak yang disayanginya, kini dituduh menjadi pembunuh, lagi....
Leon duduk di ruangan yang pernah Ia datangi sebelumnya.
Seseorang masuk dan mengambil sebuah kursi untuk Ia duduki. Ia letakkan sebuah laptop di meja dan sebuah plastik berisi entah apa, sepertinya barang bukti.
“Hai. Ketemu lagi kita disini. Gak bosan kamu?” Sang pria itu berbicara.
Leon hanya memberikan ekspresi datar. Kali ini Ia merasa tidak asing lagi dengan keadaan seperti ini.
“Saya heran, kamu udah dua kali kesini, penyebabnya sama pula,” kata pria itu sambil mempersiapkan laptopnya.
“Kali ini tolong permudah dan perjelas biar cepat selesai. Oke?”
Leon hanya mengangguk, seakan terpaksa.
“Jadi kuliah dimana jadinya? Udah daftar?” pria itu sepertinya berusaha mengakrabkan diri kepada Leon.
Leon hanya diam dan menatap wajah pria itu.
“Biar cepat selesai,” katanya singkat.
Pria itu tertawa dengan kesan mengejek. “Papa kamu gak kesini lagi? Dampingin anaknya?”
Interogasi dimulai cukup serius. Leon tanpa takut menjawab semuanya, padahal sebelumnya Ia diminta untuk tetap diam sebelum papanya datang menjadi pengacaranya.
Leon memang belum sempat diarahkan oleh sang pengacara yang adalah papanya sendiri. Namun, kali ini pihak kepolisian meminta untuk mengganti pengacaranya.
Leon diberi waktu istirahat di sel, sementara waktu hingga dirinya menyelesaikan interogasi dan penyelidikan. Pengacara terbaik telah disiapkan oleh orang tua Leon.
Tidak ada kunjungan, tidak ada titipan saat Leon tidur di sel. Semua untuk mempermudah jalannya penyelidikan.
Untungnya, Leon kooperatif selama penyelidikan berlangsung. Ia mengikuti arahan dan memberi jawaban yang jelas dan masuk akal.
Semua data-data Leon diperiksa, dan kegiatan yang telah Ia lakukan juga diperiksa dan dipertanyakan langsung kepadanya.
“Keluar kamu Helen!” Terdengar suara seorang wanita yang diyakini adalah orang yang mengenal keluarga Hutama.
Ia memasuki pagar rumah keluarga Hutama tanpa izin terlebih dahulu, kemudian tanpa mengetuk ataupun mengucapkan salam untuk sekedar bertamu, wanita itu langsung meneriaki rumah keluarga Hutama.
Mama Leon berada di rumah sendirian tanpa siapapun menemaninya. Papa Leon tentu saja sedang bekerja, dan Leon sedang diperiksa.
Wanita yang memiliki nama asli Helen itu membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang begitu keras berteriak menyebutkan namanya.
“Loh, Mbak. Ada ap-....” Belum selesai berbicara, namun sudah dipotong oleh wanita yang meneriakkan namanya.
“Gak usah sok baik! Anakmu yang bunuh suami ku kan? Ngaku! Gak tau diri!”
Wanita itu maju ke tempat dimana mama Leon berdiri. Dengan cekatan Ia menghindari apapun yang wanita itu lakukan.
Mama Leon cukup terkejut, siang-siang seperti ini ada yang berteriak tepat di halaman rumahnya.
Tetangga-tetangga ikut berkumpul di halaman rumah keluarga Hutama. Memenuhi halaman dan juga ikut berteriak mengucapkan kata-kata yang tentu saja memberikan bekas trauma bagi mama Leon.
“Tenang dulu semuanya! Itu belum diresmikan, belum tentu anakku yang bunuh! Gak mungkin anakku yang bunuh, gak mungkin!” Mama Leon balas meneriaki orang-orang yang memfitnah anaknya.
Sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah keluarga Hutama. Mama Leon menyadari kedatangan mobil itu. Ia melihat dan dalam hati berharap siapapun di dalam mobil itu, tolong bantu dirinya menenangkan orang-orang ini.
Seorang pria tinggi nan tampan keluar dari mobil. Ia cukup keheranan melihat keadaan rumah keluarga Hutama sudah dikerumuni oleh orang-orang.
Ia memberanikan diri menembus kerumunan, sambil rungunya menangkap apapun yang dapat ditangkap dari bicara orang-orang ini.
“Dasar pembunuh!”
“Gak tau diri! Udah dilatih sampe mahie malah balasannya setega itu!”
“Heh anakmu diajarin moral makanya, jangan sok ngartis mulu!”
“Pembunuh!!”
“Sekolah mahal-mahal, lulusnya jadi pembunuh!”
“Bakar aja rumahnya! Pembunuh halal untuk dibunuh!”
“Jangan bisanya anggar kekayaan! Anak tuh diajarin!”
“Perempuan gila! Ngurus anak gak becus!”
Seperti itulah kira-kira yang mampu ditangkap rungu si pria tampan itu.
“Tante, ayo masuk ke dalam aja.”
Mama Leon hanya bisa menangis pasrah. Ia bersyukur, harapannya terwujud.
Ravi datang dan membantu mama Leon. Ia langsung membantu mama Leon di dalam rumah, menutup seluruh akses ke rumah termasuk jendela dan pintu belakang. Dan juga menenangkan mama Leon yang tentu saja hampir kehilangan kesadaran.
“Heh! Jangan lagi kamu main-main sama anak itu!”
“Iya, Heh! Sini! Jangan masuk ke dalam nanti kamu dibunuh!”
“Bryan! Sini!”
Bryan datang setelah melihat keramaian di rumah Leon. Ia segera masuk ke dalam halaman rumah, namun orang-orang langsung mencegahnya.
“Lepas!” Bryan berusaha melepas pegangan orang-orang yang ada di sebelahnya.
“Aku mau liat mama.”
“Heh! Mama mu di rumah mu sana, gak ada disini.”
“Sana balik. Jangan main kesini lagi!”
“Kenapa?” Bryan kini telah berhenti berusaha melepaskan pegangan di tangannya.
Sebenarnya pegangan yang ada di tubuh Bryan itu cukup menyakitinya, namun Ia bertahan. Ia terlalu takut melihat keramaian. Ia hampir saja menangis.
“Di dalam itu ada keluarga pembunuh.” Kata seorang ibu dengan rambut pendek, wajah yang menyeramkan.
Bryan hampir saja menangis. Ia mencari-cari keberadaan Leon, berharap akan ada pertolongan dari Leon seperti ketika Ia takut pada kupu-kupu.
Mulutnya menggumamkan nama Leon, bergantian dengan mama. Ia memohon pertolongan dari mereka berdua di saat seperti ini.
“Lepassssss!!!” Bryan berteriak cukup keras.
Ia mengibas-ibaskan tubuhnya ke tubuh orang-orang yang berusaha memeganginya. Kali ini Ia marah. Jika sudah begini, akan sulit untuk menenangkannya.
“Lepas!! Lepasssss!!”
Padahal sudah tidak ada siapapun yang memegang tubuhnya, bahkan menyentuhnya. Tapi, teriakannya semakin mengeras.
Ravi dari dalam rumah mengintip ke jendela. Mama Leon masih terduduk dan menangis tersedu-sedu di sofa di ruang tamu.
Ravi bingung, Ia ingin menanyakan perihal anak lelaki yang mengamuk di luar itu, namun mama Leon masih belum bisa diajak bicara.
Kemudian, Ravi keluar dan membawa anak itu masuk. Syukurnya, Bryan menurut sambil terus menggumamkan kata mama. Mama yang dimaksudnya ialah mama Leon.
Ravi menutup pintu rumah dengan cepat. Ia pun langsung meminta bantuan satpam komplek yang dapat dihubungi melalui telepon rumah di rumah keluarga Hutama.
Satpam langsung datang ke rumah keluarga Hutama, membubarkan kerumunan tersebut.
Di dalam rumah, Ravi berusaha menenangkan Bryan yang sejak tadi menggumamkan kata mama. Mama Leon pun masih menangis membayangkan anaknya adalah seorang pembunuh.
Rasanya seperti Ravi ingin membelah diri. Bingung harus menenangkan yang mana terlebih dahulu.
Ia sebenarnya tadi tidak ingin membawa Bryan ke dalam rumah. Namun, Ia cukup merasa tidak tega melihat Bryan dikerumuni oleh orang-orang yang seenaknya menghakimi keluarga Hutama. Kerumunan itu didominasi oleh perempuan, namun jangan ditanya kekuatannya akan bagaimana.
Mengingat itu, Ravi segera membawa Bryan ke dalan rumah dan seperti inilah kondisinya sekarang. Ia yang bingung harus menenangkan siapa terlebih dulu.
Ravi mengetahui bahwa Bryan bukan anak biasa, melainkan butuh sedikit perhatian khusus dan penuh kelembutan dan kesabaran.
Melihat bagaimana Bryan menggumamkan kata mama terus-menerus, Ia mengira bahwa Bryan ingin bertemu dengan mamanya.
Ia bahkan menawarkan untuk mengantar Bryan pulang. Meskipun sebenarnya Ravi tidak mengetahui dimana rumah Bryan.
“Ma....” Bryan menatap mama yang sedang tergeletak di sofa, terkulai lemas sambil menangis memukuli dirinya sendiri.
Mama Leon menoleh dan langsung bangkit dan memeluk Bryan. Kini, Bryan mulai tenang. Tidak lagi menggumamkan kata mama dengan cepat dan berulang.
Melihat itu, Ravi sadar bahwa mama yang dimaksud adalah mama Leon. Namun, Ia cukup bingung, siapa sebenarnya anak ini. Apakah keluarga Hutama memiliki anak bungsu?