“Kamu tau apa yang ada di dalam plastik ini?”
Interogasi dilanjutkan. Leon didampingi oleh pengacara yang cukup handal di bidangnya. Tentu saja pengacara itu merupakan rekrutan dari papanya sendiri.
Leon mengangguk. “Tangkai?”
Pria tegap itu mengangkat plastik berisi tangkai, seperti yang Leon bilang bahwa itu adalah tangkai.
“Coba perhatikan dan jelaskan apa yang kamu lihat secara detil!”
Netra Leon beralih dari menatap sang pria menjadi menatap tangkai tersebut. Ia menyelipkan ekspresi jengah, sepertinya sudah terlalu jenuh menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bisa dibilang ditanyakan secara berulang-ulang.
“Tangkai,” jawabnya singkat.
Pria itu hampir saja memukul kepala Leon, karena cukup geram melihat sikap yang ditunjukkan oleh Leon.
“Lebih detil lagi! Jangan pura-pura gak tau kamu!”
“Tangkai di dalam plastik.”
Pengacara yang mendampingi Leon berulang kali mengingatkannya untuk tidak sembarangan menjawab pertanyaan. Namun, Leon tetap saja tidak mengikuti aturan.
“Ku bilang jawab yang benar! Bukan berarti kamu bisa seenaknya menjawab!”
Leon tersenyum. Lebih tepatnya, menyeringai dan mengalihkan kepalanya ke samping. Ekspresinya seperti meremehkan pria di depannya yang sedang mengontrol katrol kesabaran yang sudah hampir habis.
Leon memajukan tubuhnya, menyandarkan kedua tangan di atas meja, wajahnya Ia majukan untuk berbicara tepat di depan wajah pria tegap itu.
“Udah ku bilang, itu cuma tangkai.”
Plakkk!
Tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Leon. Leon hanya diam dan menahan rasa sakitnya.
Sang pengacara mencoba menarik Leon dari tempat dimana dirinya berada, gar pria itu tidak lagi mampu menggapai Leon. Ia takut jika pria itu nekat menghajar Leon lebih banyak lagi.
Beberapa petugas turut melerai dan menahan pria tegap yang sedari tadi menanyakan perihal “tangkai” yang disebutkan oleh Leon.
Ia berharap Leon akan menjawab dengan jawaban yang lebih detil, sesuai dengan keinginannya. Namun, Leon menjawab hanya dengan satu kata, dan itu terus berulang.
Pria itu ditarik keluar ruangan, interogasi sementara dihentikan. Suasana tidak cukup kondusif untuk melanjutkan interogasi ini.
“Jangan gila kamu!”
Seorang pria dengan perawakan lebih pendek dan sedikit tampak berumur dari si pria tegap itu, datang menghampiri dan langsung memarahinya.
Plakkk!
Tamparan kali ini mendarat di pipi kiri si pria tegap. Namun, tamparannya bukan hanya sekali, melainkan dua kali, dengan pukulan telak di abdomennya.
“Kalau sudah begini kan akhirnya kamu yang dirugikan! Kamu dilarang untuk mendekati anak itu! Jangan sekali-sekali kamu berani bergabung di tim ini untuk menginterogasi secara langsung! Paham kamu?!”
Pria tegap itu masih kesakitan, badannya membungkuk, tangannya melilit di perutnya, wajahnya menahan sakit.
“Siap, Pak!” jawabnya sambil menahan rasa sakit di wajah dan perutnya.
Ia segera pergi ke ruangannya sendiri. Meninggalkan area ruang interogasi yang ditempati oleh Leon.
Kini, tim penyelidikan sedang berdiskusi siapa yang akan menginterogasi Leon. Seorang pria dengan perawakan kurus, rambut sedikit memutih, dan lesung pipi di sebelah kiri, mengajukan diri untuk menginterogasi Leon.
Ia segera masuk dan duduk di kursi di hadapan Leon.
“Saya mohon kerja samanya. Biar kasus segera selesai, kamu juga cepat diadili, atau kamu juga bisa pulang kalau terbukti tidak bersalah.”
Leon menatapnya datar.
“Meskipun saya yakin, kesalahan ada di kamu, bukan di kami.”
Pria itu menunjukkan plastik berisi tangkai. Ya, masih di sesi yang sama.
“Lihat!” perintah pria itu.
Yang diperintahkan hanya bisa melihat sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia melipat kedua tangan di depan torsonya, memberikan kesan angkuh dan arogan.
“Tangkai ini, dari bunga yang bernama Chrysanthemum atau krisan.”
Mata Leon tampak sedikit membulat mendengar nama itu. Ia semakin merekatkan lipatan kedua tangannya di torso.
“Tangkai-tangkai ini, ditemukan di lokasi dimana pelatih renang ditemukan mengapung. Kamu kenal dengan apa yang saya pegang ini?”
Leon berdehem. Kemudian, dirinya mengangguk.
Kali ini semuanya semakin mendekati kejelasan. Pria dengan rambut putih itu semakin bersemangat.
“Darimana?” tanyanya.
Leon menjawab tanpa keraguan. “Dari om yang tegap tadi.”
Semangat yang dikobarkan pria itu kini memudar. Dirinya hampir kehilangan akal untuk bertanya.
“Tangkai-tangkai ini, sebagian berada di pinggir kolam, dan kamu tau kenapa kamu dibawa kesini?”
Leon diam. Ia tidak menjawab.
“Karena sidik jari kamu, ada di tangkai-tangkai ini.”
Pria paruh baya itu memukul meja dan berdiri. “Sekarang kamu jelaskan! Kenapa bisa ada sidik jari kamu disini?”
Leon memajukan tubuhnya. “Itu memang saya yang bawa.”
Pria itu terdiam, menahan kata-katanya. Ia merasa cukup aneh dengan Leon.
Semestinya, anak seusia Leon pasti mengalami ketakutan saat dihadapkan dengan situasi seperti ini. Berbeda dengan Leon, Ia cukup tenang.
“Kenapa? Kenapa kamu bawa? Untuk apa?” Pria itu menunduk dan menumpu tubuhnya dengan tangan di atas meja.
Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Leon. Leon hanya bisa memberi tatapan yang berani.
“Pelatih yang minta.” Leon menyandarkan kembali tubuhnya pada sandaran kursi.
“Bagaimana? Buktinya?”
Leon meminta untuk diambilkan ponselnya jika diizinkan.
“Pelatih mau ngerayain anniv sama istrinya, dia minta saya belikan bunga saat perjalanan ke kolam.”
Cukup masuk akal, namun tetap saja terasa aneh di benak pria paruh baya itu.
Setelah sesi interogasi yang cukup panjang. Pemeriksaan data-data Leon, riwayat-riwayat aktivitas Leon dan data yang dibutuhkan lainnya, Leon diizinkan istirahat.
Tim penyelidikan hari ini tidak dapat beristirahat. Meskipun memang sebenarnya tidak ada kata istirahat pada kamus kehidupan mereka.
Mereka mencari kesana kemari, berjalan dan berlari, berteriak dan diam di beberapa waktu. Kantor terlihat cukup ramai, karena sepanjang waktu mereka selalu sibuk untuk memecahkan kasus-kasus kriminal.
Negara ini memiliki patriot yang cukup handal memecahkan masalah. Meskipun tidak seluruh masalah mampu dipecahkan dan dihapuskan dari kehidupan, namun kinerja mereka cukup, cukup, cukup memuaskan bagi beberapa orang dan kalangan.
Mereka rela menggunakan waktu makan dan istirahat untuk bekerja. Mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dari yang paling kecil hingga yang paling besar, bahkan tak jarang beberapa kemungkinan itu dihapuskan karena sebuah kesalahan.
Mereka bahkan menukar waktu dengan keluarga dengan waktu bersama kasus-kasus kriminal. Sama halnya dengan kasus Sisil dan pelatih renang yang belum menemukan titik terang.
Sebenarnya kasus-kasus itu sempat menemukan titik terang, namun karena satu dan lain hal, semua titik terang itu malah memberikan unsur gelap pada kejelasan kasus tersebut.
Entah apa yang terjadi di dunia ini. Orang-orang tampak begitu polos untuk disalahkan, meskipun sebenarnya bersalah. Dan juga orang-orang tampak begitu mencurigakan, meskipun tidak seharusnya dicurigai.
Leon, seorang siswa yang baru saja menyelesaikan sekolahnya, baru saja tamat dan akan melanjutkan gelar mahasiswa di bahunya, kini tertuduh melakukan kejahatan pada dua individu.
Semua orang yang mengenal Leon dan berhubungan baik dengan keluarga Hutama, pasti merasa aneh dengan tuduhan tersebut.
Beberapa bahkan marah mendengar tuduhan tersebut. Citra Leon dan citra keluarga Hutama, cukup baik dan sukses untuk disalahkan.
Padahal sebenarnya, kata penjahat tidak mengharuskan pemilik gelarnya untuk tampak jahat. Artinya, siapa saja bisa menjadi penjahat. Dan pasti, siapa saja bisa mengusut kejahatan.
Selalu ada hitam dan putih di hidup ini. Selalu ada penjahat dan pahlawan yang menangkal datangnya kejahatan-kejahatan. Namun, ada warna lain dalam hidup yang menginterupsi kegiatan menangkap si penjahat tersebut.
Plakkk!!
Tamparan mendarat di pipi kiri Leon. Jambakan pun turut menyapa rambutnya kala Ia tiba di rumahnya sendiri.
“Kamu kira saya tidak malu punya anak seperti kamuu, hah?!”
Tubuh Leon kini sudah penuh dengan lebam. Ia hanya terdiam menunduk menatap lantai. Kedua tangannya Ia jadikan tameng untuk melindungi kepalanya.
“Dua kali?! Berani sekali kamu mencoreng nama keluarga ini!”
Papa Leon menyeret Leon, dengan menarik rambutnya.
“Pa ... udah! Paaaa!” Mama Leon berteriak sambil mengikuti arah langkah kaki sang suami.
Papa Leon hanya mendorong istrinya, yang sedang merangkul tangannya agar berhenti menyeret Leon.
“Gak tau diri kamu!”
Papa Leon menenggelamkan kepala Leon ke dalam bak kecil di kamar mandi tamu rumahnya.
Leonpun berusaha sebisa mungkin utnuk melepas tangan papanya yang menahannya di dalam bak kecil itu.
“Pa ... Paaa! Papa tolong! Udah, Paaa!” Mama Leon semakin histeris melihat anaknya kini diperlakukan layaknya tersangka pembunuhan di film-film yang dipaksa mengaku.
“Diam kamu! Atau kepala anak ini benar-benar ku tenggelamkan di sini!”
Mama Leon hanya bisa menangis. Ia bingung harus melapor kepada siapa.
Di satu sisi, Ia tidak mau anaknya tersakiti, di sisi lain Ia tidak mau suaminya ditangkap karena tuduhan kekerasan pada anaknya.
Papa Leon keluar dari kamar mandi, dan masih menyeret Leon dengan menarik rambutnya.
Sekujur tubuh Leon kini telah basah oleh air pada bak kecil tadi. Wajahnya yang lebam, dialiri oleh air mata yang bercampur dengan air dari bak tempat dimana dirinya dihukum.
“Cukup malu saya!”
Papa Leon mendorong tubuh Leon di teras belakang rumahnya. Terlihat banyak sekali lukisan-lukisan yang telah Leon ciptakan tergantung di dinding.
Leon hanya bisa terkulai lemas di lantai teras belakang rumahnya. Sekujur tubuhnya basah, lantai pun ikut basah.
“Kalau saya mendengar panggilan seperti itu lagi, saya akan benar-benar membunuh kamu!”
“Paaa!” Mama Leon masih berusaha keras menghentikan suaminya untuk berbuat sesuka hati terhadap anaknya.
Papa Leon pergi meninggalkan Leon yang terkulai lemas di lantai, dan mama Leon yang menangis di pintu yang menghubungkan rumah dengan teras belakang.
Setelah kepergian papa Leon, mama Leon langsung menghampiri Leon. Mengusap wajahnya yang lebam dan basah oleh air. Leon hanya bisa meringis kala tangan mamanya menyentuh luka dan lebam karya tangan papanya sendiri.
Mama Leon membantu Leon untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia merangkul Leon, dan dengan sabar membantu Leon yang tertatih menaiki tangga.
Leon meminta untuk dibiarkan membersihkan dirinya sendiri. Mama Leon sebenarnya khawatir. Khawatir anaknya tidak tahu cara mengurus sakit di tubuhnya. Namun, Ia menuruti keinginan anaknya karena Ia juga paham anaknya pasti menginginkan waktu untuk sendiri.
Leon menangis di bawah derasnya keran shower yang tinggi mengaliri dari pucuk kepalanya. Ia menyandarkan tubuhnya, perlahan terduduk di lantai kamar mandi.
Ia merasa sedih, sakit, tidak dipercaya, tidak didengar oleh orang tuanya sendiri. Kali ini benar-benar Leon berada pada titik terburuk dirinya.
Awalnya Ia mengira bahwa titik terburuk dirinya adalah saat pertama kali Ia dijemput oleh pihak kepolisian. Namun, hari ini Ia berpikir bahwa hari yang akan datang pasti berujung menjadi titik terburuk dalam hidupnya.
Ia menangis dan menahan suaranya. Jika diizinkan, pasti Leon akan berteriak sekeras mungkin, untuk memberi tahu pada dunia bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
“Kamu harus mau kuliah di New York. Saya tidak menerima alasan apapun!” Papa Leon berucap di hadapan santapan waktu malam.
Leon hanya diam, menunduk dan memerhatikan piring makannya yang berada di hadapannya.
“Sudah cukup saya malu karena kamu!”
Sepertinya, papa Leon tidak pernah puas mencerca anaknya itu. Padahal anaknya itu adalah anak kandungnya, dari benih dan darah dagingnya sendiri. Tapi, seperti tidak ada rasa sayang di antara dirinya.
“Apa mau kamu sebenarnya?”
Leon masih menunduk. Bermain dengan piring dan sendok, dan sesekali menggeser makanannya. Sejak tadi, makananya di piring Leon hanya bergeser, dan benar-benar tidak ada yang masuk ke dalam mulut Leon.
“Pa, biarin Leon makan dulu....” Mama Leon berusaha membantu Leon.
Papa Leon memberikan tatapan mengintimidasi tepat di netra istrinya.
“Kamu harus benar-benar keluar dari negara ini! Saya gak mau kamu ada di rumah ini dan membuat masalah! Kamu harus tahu rasanya jauh dari keluarga! Biar otakmu itu gak mikir gimana caranya agar bisa buat masalah untuk orang tuamu!”
“Pa....” Mama Leon masih dengan sabar berusaha mengingatkan suaminya agar tidak emosi berlebihan.
“Apa? Kamu juga mau diusir?”
Mama Leon diam dan menunduk. Tangannya bergeser meraih tangan anaknya, mengelusnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.