Bryan dan Leon bersahabat sejak kecil. Sedari dulu, mereka berbagi suka dan duka bersama.
Keduanya memiliki kepribadian dan karakteristik masing-masing. Leon tumbuh di keluarga yang menomorsatukan pendidikan dan reputasi. Sedangkan Bryan tumbuh di keluarga yang penuh perhatian dan menomorsatukan kekeluargaan. Namun, keduanya tidak mempermasalahkan hal itu.
Perbedaan di antara keduanya menjadi tali yang mengeratkan persahabatan mereka.
Leon memiliki kepribadian yang friendly, sedangkan Bryan terkadang suka mengacuhkan orang di sekitarnya tanoa sadar, dan memiliki sedikit teman. Meskipun, belakangan ini, Leon jadi lebih cuek dengan keadaan sekitar.
Leon lebih senang bercerita mengenai perasaannya dalam menjalani hari kepada Bryan. Karena menurutnya, Bryanlah yang tidak menghakimi setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Bryan juga begitu, Ia senang bercerita dan mendengarkan Leon. Meskipun, terkadang cerita-cerita Leon, keluh kesah Leon, Bryan bagikan kepada kakaknya.
Bryan selalu membagikan cerita-cerita itu pada kakaknya, berharap kakaknya dapat menolong Leon jika ceritanya merupakan cerita sedih.
Kakak Leon yang merupakan orang ke tiga yang menyayangi Bryan, setelah kedua orang tuanya, selalu saja ikut merasakan kesedihan, jika Bryan menceritakan kisah yang sedih.
Tak jarang, Bryan menceritakan kembali cerita sedih Leon kepada kakaknya dengan air mata yang menghiasi pipinya.
Karena hal itu, kakak Leon jadi sedih melihat adiknya.
“Kak! Kakak lihat aku!”
Bryan memanggil kakaknya yang sedang bersantai menonton televisi di sofa dengan posisi ternyaman.
Kakaknya hanya menoleh, melihat adiknya begitu semangat namun dengan ekspresi seperti akan menangis.
“Bri kenapa?” tanyanya.
“Kakak lihat? Kemarin ada orang-orang banyak di rumah Leon.”
Bryan mengambil posisi duduk di sebelah kakaknya.
“Hem....”
“Kakak tau? Mama juga nangis-nangis.”
“Nangis?”
Bryan mengangguk. “Nangis. Terus aku peluk, lalu mama diam dan tidur.”
Kakaknya tersenyum melihat adiknya bercerita dengan penuh kegemasan.
Sebenarnya, kakak Bryan sudah mengetahui cerita yang disampaikan adiknya itu. Tapi, Ia hanya ingin mendengar versi dari adiknya yang memang dekat dan berteman baik dengan Leon dan keluarganya.
Kakak Bryan mengetahui cerita itu dari orang-orang sekitar. Tetangga yang selalu saja menyebarkan berita ini itu, baik yang berhubungan dengan warga kompleks perumahan, maupun yang tidak berhubungan sama sekali.
Warga kompleks perumahan mereka memiliki satu grup chat yang sering dijadikan sebagai media untuk menyampaikan informasi. Dari situlah berita itu didapat oleh kakak Bryan. Berita mengenai Leon yang dituduh membunuh pelatih, bahkan berita Leon yang dituduh membunuh Sisil beberapa waktu lalu.
Begitu cepat informasi yang disampaikan, hingga tidak memedulikan kebenerannya.
“Kakak tau? Leon punya kakak juga loh.”
“Hah?” Kakak Bryan menegakkan tubuhnya.
Jelas saja Ia terkejut. Bagaimana tidak, tetangganya itu selama ini dikenal sebagai anak tunggal yang paling sempurna.
Sudah pintar, tampan, reputasi baik dan juga keluarganya yang berada. Tiba-tiba berita bahwa Leon memiliki kakak, dna itu berarti keluarga Hutama memiliki anak selain Leon.
“Hem. Namanya Ravi, orangnya tinggi mirip Leon.”
Kakak Bryan kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa. “Itu bukan kakak Leon, Bri.”
“Bukan?”
“Bukanlah. Kamu tau dari mana itu kakak Leon?”
“Mama panggil dia dengan Kak Ravi. Trus juga dia yang disana saat Leon gak ada kemarin.”
“Ya ampun, Bri. Kamu jangan biasain menyimpulkan sesuatu sesuka mu deh.”
“Menyimpulkan?”
“Tau menyimpulkan?”
Bryan menggeleng.
“Mengambil kesimpulan.”
“Kesimpulan?”
“Hem ... kesimpulan, gak tau juga?”
“Jadi, Kak Ravi itu siapanya Leon?”
Begitulah jika Bryan tidak bersama Leon. Rasa penasaranya begitu kecil. Namun, jika bersama Leon, Ia tidak keberatan mendengarkan omongan Leon yang selalu saja mengajarkan Ia sesuatu. Rasa penasarannya cukup tinggi.
“Ravi itu teman Leon.”
“Oh, jadi Leon punya teman selain aku?”
“Yes, bener.”
“Aku gak punya teman selain Leon.” Bahunya menurun seperti dijatuhi beban berat.
“Leon kemana ya kak waktu itu.”
“Kenapa gak kamu tanya langsung ke Leon?”
“Kemarin pernah aku tanya, katanya dia jalan-jalan sama teman papanya.”
“Oh ya? Yang mana?”
“Yang waktu Leon dijemput naik mobio di depan rumahnya. Terus mama nangis-nangis gak izinin Leon pergi.”
Kakak Bryan mengangguk. “Yang ini gak kamu tanya lagi?”
“Aku mau tanya sih, tapi aku takut.”
“Takut? Kenapa?”
“Om John sekarang sering ada di rumah. Jadi, kalau aku mau kesana, aku jadi takut.”
“Kamu takut sama Om John?”
Bryan mengangguk dengan penuh semangat. Bibirnya melengkung ke bawah, menampilkan ekspresi sedih.
“Kenapa? Om John kan baik, kamu juga sering dibawain oleh-oleh kalau dia keluar kota.”
“Leon selalu cerita, kalau Leon sering dipukulin. Aku jadi takut dipukul juga.”
Kakak Bryan diam. Matanya menatap wajah adiknya. Ia melihat bahwa adiknya itu menampilkan ekspresi sedih yang serius. Berarti apa yang dikatakan adiknya adalah benar.
“Kapan Leon cerita?”
“Aku lupa. Leon juga sering kayak lagi berantem, mukanya luka-luka. Aku tawarin dia untuk tutupin lukanya pakai punyaku, tapi dia gak mau.”
“Kenapa gak mau? Lukanya gak diobatin?”
“Katanya lukanya terlalu banyak, nanti pororo lukaku habis.”
Pororo luka yang dimaksud adalah plester luka. Plester luka yang Bryan miliki sering kali bergambar animasi yaitu pororo. Jadi, Ia menyebutnya pororo luka.
“Lukanya banyak?”
Bryan mengangguk. “Banyak. Kalau Leon mau mandi, buka bajunya, pasti ada juga di badan Leon.”
Sebenarnya, Bryan sering kali menceritakan hal ini pada kakaknya. Namun, kakaknya hanya merasa tidak menyangka bahwa papa Leon tega melakukan itu bahkan hingga hari ini.
Padahal papa Leon selalu menampilkan ekspresi ramah dan senyuman pada anak-anak yang sering bermain di jalanan kompleks. Ia termasuk orang yang friendly dan banyak yang mengatakan bahwa Ia adalah family-man.
Kakak Leon ingin sekali membantu Leon, agar tidak lagi ada kekerasan yang dilakukan papanya terhadap Leon. Namun, Ia merasa cukup kecil jika dibandingkan dengan papa Leon.
Dulu, jika Bryan menceritakan hal seperti ini, cerita yang berisi Leon dipukul oleh papanya, pasti Bryan menangis. Ia menangis meminta pertolongan kakaknya untuk membantu Leon.
Ia selalu bilang kepada kakaknya, untuk membawa Leon ke rumahnya, menjadikan Leon sebagai adik kakaknya, agar Leon tidak lagi dipukuli oleh papanya sendiri.
Tentu saja hal itu mustahil untuk dilakukan. Kakak Bryan bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan papa Leon.
Sebenarnya besar keinginan kakak Bryan untuk membantu Leon, namun mengingat siapa dirinya, sudah membuat niatnya memudar.
Leon menuruni tangga, hendak mengambil sesuatu yang dapat dimakan olehnya.
Ia berjalan ke arah kulkas, berharap menemukan sesuatu entah itu buah atau makanan lain.
Ia mengambil sebuah apel, Ia makan di meja makan di sebelah kulkas.
“Nak ... kamu laper?”
Leon menoleh, mendapati mamanya sedang berjalan mendekat ke arahnya. Ia tidak menjawab, hanya melihat ke arah mamanya.
“Kamu mau mama masakin sesuatu? Kamu mau apa? Atau mama pesenin ya?”
Mama Leon mengelus pundak anaknya. Ia memerhatikan wajah anaknya yang masih terdapat beberapa luka kering.
Leon menggeleng. Ia segera berjalan ke arah halaman belakang sambil membawa serta apel merah di tangannya.
Apel yang baru Ia berikan beberapa gigitan, Ia letakkan di atas sebuah kursi. Ia letakkan kursi dengan apel itu tepat di depan kanvasnya.
Ia mengira-ngira apakah pencahayaan ini sudah tepat, Ia juga mengatur peletakan apel di atas kursi itu. Agar mempermudah dirinya melukis sebuah apel yang menjadi pilihannya kala ingin mengunyah.
“Nak?” Mama Leon menghampiri Leon yang sibuk dengan kanvas, kuas dan juga apelnya.
Ia hanya menoleh.
“Mama minta maaf ya....”
Leon berhenti melakukan aktivitasnya. Tangannya yang memegang sebuah kuas, tergantung di udara saat akan mendaratkan kuas itu di kanvas polos.
Matanya menatap kanvas yang masih belum terhiasi oleh suatu apapun.
“Mama minta maaf, mama gak bisa jaga kamu dari emosi papamu.”
Leon berfikir bahwa kanvas itu adalah dirinya. Dirinya sebelum dihiasi oleh karya papanya sendiri. Ia melihat ke arah ujung kuas, dimana terdapat warna merah di pucuknya.
Ia perhatikan warna merah itu. Persis seperti lukanya, pikir Leon.
Ia memposisikan dirinya sebagai papanya, kanvas sebagai dirinya, dan kuas dengan cat merah adalah tanda luka hasil hiasan tangan papanya.
Ia melihat ke arah apel yang tepat berada di hadapannya, menghadap ke arah kanvas. Apel itu adalah mamanya. Yang diam memerhatikan kanvas dilukis oleh kuas dengan cat merah.
Apel itu terlebih dulu memiliki luka, memberikan cacat pada permukaannya, dan apel itu hanya sedang memerhatikan objek lain yang akan dilukai oleh sebuah objek lainnya.
Ya, Ia berimajinasi kala mamanya menyampaikan kesedihannya.
Leon tersenyum....
Ia paham bagaimana mamanya tidak mampu bergerak, tidak mampu membela memasang badan saat dirinya dihajar papanya. Karena mamanya ibarat apel yang telah memiliki cacat setelah digigit. Kehilangan sedikit kulit dan dagingnya. Menampilkan cacat yang tentu saja membuat orang tidak ingin membeli dan mengonsumsinya. Apel yang cacat itu hanya diam di tempatnya, tidak mampu bergerak untuk dirinya sendiri, dan juga untuk orang lain.
Sama halnya seperti mamanya, yang terlebih dulu menikmati kecacatan, kerusakan, luka dan merasakan sakit oleh suaminya sendiri. Dirinya cukup lemah untuk membantu diri sendiri, apalagi membantu anaknya.
“Nak, kamu kenapa bisa sampai dituduh seperti itu?”
Leon terdiam. Ia memang banyak terdiam, menyimpan suaranya.
“Mama gak mau kamu terluka lagi. Mama gak mau kamu dituduh-tuduh lagi. Bisa kamu janjikan ke mama untuk gak ulangi semuanya?”
Leon melanjutkan kegiatannya melukis sebuah apel di depannya.
“Nak ... mama disini bicara sama kamu.”
Leon kembali menghentikan aktivitasnya. Sejak tadi, lukisannya hanya berupa goresan singkat dan terputus.
“Aku lagi gak mau bicara, Ma.”
Leon kemudian melanjutkan goresan dengan cat merah di kuasnya.
Ia tidak marah, Ia hanya kesal dan belum bisa menerima. Belum bisa menerima bahwa mamanya bahkan tidak berani membela dirinya yang tersiksa.
Ia sadar bahwa itu kesalahannya sendiri, tapi bagaimanapun Ia berharap ada seseorang yang menjauhkan dirinya dari siksaan papanya.
Mama Leon kembali ke dalam rumah. Melakukan entah apa yang dapat dilakukannya. Ia cukup bersedih, mendengar perkataan anaknya.
Seorang ibu yang ditolak anak sendiri, tentu saja merasa sedih dan seakan ingin menangis.
Leon juga melanjutkan kegiatannya melukis. Ia melukis hingga tanpa sadar, langit telah gelap.
Sepertinya kangit berpihak pada Leon. Ia menggambarkan perasaan Leon saat ini. Meskipun beberapa waktu ini, Leon selalu dikelilingi oleh perasaan sedih.
Ia segera menyelesaikan lukisannya. Sudah beberapa jam Ia melukis. Waktu pun berlalu bahkan hingga larut, Leon menggunakan waktu itu untuk melukis sebuah apel yang tidak sempurna.
Kanvas yang polos tadi telah dihiasi merah dan hitam yang digunakan oleh Leon. Dengan tambahan warna biru untuk perumpamaan langitnya.
Leon melukis sebuah apel di ats kursi, di bawah langit yang gelap dan mendung. Dengan sedikit rintik hujan, yang menggambarkan air mata.
Ia bahkan melukis luka yang didramatisir di permukaan apel yang cacat itu. Dengan sedikit kesan luntur pada kulit apel, dan luka di permukaannya.
Hanya sebuah apel, namun Ia lukis dengan filosofi yang menggambarkan kehidupan dan dirinya saat ini.
Ia cukup puas. Selama ini, Ia melukis hanya dengan menuangkan cat berwarna dan dibantu oleh kuas pada sebuah kanvas, tanpa menorehkan sebuah filosofi dan arti pada lukisannya.
Namun, hari ini Ia berhasil menciptakan lukisan yang dibuat dengan filosofi terlalu dalam untuknya.
Orang-orang mungkin tidak akan tahu apa maksud lukisan ini. Namun, baginya lukisan ini menggambarkan jalan hidupnya yang penuh luka di usia menempuh dewasa.
Dewasa bukan hal indah yang Ia minta. Bukan sesuai keindahan yang diekspektasikan oleh Leon. Menjadi dewasa baginya hanya tumbuh dengan semakin banyak luka yang ditorehkan, semakin banyak cerita duka baginya, terlalu banyak keinginan yang tertunda.