Pagi ini disambut dengan cuaca yang sedikit berkabut. Suasana menjadi lebih menyejukkan dari hari biasanya.
Awan dengan setia menemani di langit. Kabut hari ini membuat beberapa insan menjadi betah di kamar, memanjakan diri dengan selimut, dan menghabiskan waktu dengan apapun yang dapat dilakukan di rumah. Seperti mengenang memori yang tersimpan rapi, meratapi nasib kehidupan, dan mengharap suatu keajaiban datang bersama kabut-kabut yang diharap dapat menurunkan hujan.
Keluarga Hutama sama seperti keluarga pada umumnya. Setiap keluarga pasti mengalami hal yang sama. Hanya saja, ada sesuatu di dalamnya yang membedakan antara keluarga-keluarga itu.
Leon memilih bersantai di kamarnya sendiri. Menghabiskan waktu membaca buku, menonton film atau video, berkhayal, memandangi langit dari jendela kamar, dan juga hanya sekedar bermain ponsel.
Biasanya jika cuaca seperti hari ini, Bryan akan datang ke rumah untuk mengajak Leon menonton film animasi. Leon yang selalu diajak oleh Bryan hanya bisa menerima ajakan, dan mau tidak mau menemani Bryan.
Namun, beberapa hari belakangan ini, Leon dan Bryan jarang sekali bermain bersama. Keduanya bahkan jarang bertemu.
Semenjak kejadian dijemputnya Leon di rumah oleh pihak kepolisian secara tiba-tiba dan bahkan berulang beberapa kali, Leon semakin jarang menampakkan diri di luar rumah.
Ia mengurung dirinya sendiri di kamar, atau menjalani kegemaran barunya menggambar dan melukis. Ia seakan tidak memiliki kepercayaan diri berada di lingkungan luar.
Mendengarkan omongan-omongan di luar sana, membuat darah Leon mendidih, matanya panas, dan tentu saja emosi menguasai dirinya seakan ingin menerkam orang-orang yang asal bicara mengenai dirinya.
“Liat tuh anak yang bunuh pelatih renangnya sendiri.”
“Ganteng-ganteng jiwanya aneh.”
“Eh, udah tau berita pembunuhan yang selebgram itu gak?”
“Serius deh. Kalau dia gak salah, gak mungkin dituduh kan. Dia tuh pembunuh.”
“Percuma papanya orang yang tau hukum, tapi anaknya malah ngelanggar hukum.”
Begitulah kira-kira setiap pembicaraan orang-orang di sekitarnya ketika melihat Leon di publik.
Sejak dulu, Leon memang sudah dikenal sebagai orang yang pintar, tampan, beruntung, dan memiliki banyak penggemar di sosial media maupun di dunia nyata.
“Ih dia kayaknya dendam karna ditolak cintanya sama Sisil.”
“Sisil tuh kasian banget punya temen dekat kayak Leon.”
“Siapa sih namanya? Leon? Sumpah deh namanya serem banget.”
“Aku gak mau buat nama anak aku “Leon”, ntar jadi pembunuh.”
Tidak habis dan sepertinya takkan pernah habis, perkataan buruk orang mengenai rumor yang melibatkan Leon.
Leon hampir saja menyerah menghadapi kenyataan seperti ini. Ia berdiri tegak sendiri di tengah pembicaraan buruk orang-orang. Semua menyudutkan Leon, semua menuduh Leon, ikut menceritakan rumor terhadap Leon yang belum sepenuhnya benar.
Sejujurnya, Leon capek menghadapi semua ini. Ia ingin sekali mengakhiri hidupnya sendiri, namun entah apa yang menghentikannya hari itu.
Ia sempat mengambil pembersih cak kuku milik mamanya. Ia perhatikan komposisi di dalamnya. Zat aseton, zat kimia yang katanya bisa membahayakan tubuh manusia.
Sudah begitu putus asa, Ia menangis melihat botol yang berisi cairan pembersih cat kuku.
Hampir kehilangan akal, Leon bahkan sudah mengendus bau dari botol itu ketika dibuka. Wanginya khas sekali, meskipun tidak begitu menyakitkan, karena Leon hanya mengendusnya sekilas.
Tiba-tiba, Leon teringat pada buku yang sempat Ia tulis. Beberapa kerangka telah disusun, dan hanya tersisa beberapa kerangka yang harus ditambahkan.
Otaknya merekam apa saja yang telah dituliskannya. Keinginannya untuk mengakhiri hidupnya pun pudar begitu saja.
Pikirannya saat itu langsung dipenuhi dengan kemungkinan yang akan diraih jika buku itu telah terbit.
“Aku harus bisa membuat kesuksesanku sendiri,” batinnya.
Pemikiran itu seketika melunturkan keinginan buruknya. Secepat itu dirinya tersadar, karena keinginan yang belum tercapai.
Ia mulai mencari cara bagaimana cara mengambil buku itu. Ia ingat bahwa buku itu disimpan oleh papanya, dibawa entah kemana, sepertinya ada di kamar orang tuanya.
Leon menyelinap ke dalam kamar ornag tuanya. Saat ini adalah kesempatan untuk dirinya, karena papanya sedang tidak berada di rumah.
Namun, yang menjadi penghalang adalah mamanya. Pasti mama Leon menanyakan, untuk apa masuk ke kamar mereka, karena memang Leon tidak begitu terbiasa memasuki kamar orang tuanya jika tidak ada kepentingan.
Leon kembali ke kamar setelah Ia mengintip kamar orang tuanya. Ia melihat sang mama sedang tidur di atas tempat tidur di kamar orang tuanya.
Hancur sudah rencana Leon hari itu. Ia kembali ke kamarnya sendiri. Ia masuh menyusun rencana untuk mengambil kembali buku miliknya.
R book, buku yang telah Leon susun. Meskipun hanya kerangka, namun buku itu memberi Leon kekuatan lebih dalam menghadapi kehidupannya.
Tidak ada yang tahu, apa sebenarnya maksud dari R book yang Leon tulis. Bahkan maksud dan arti dari R itu sendiri, Leon tidak pernah bercerita mengenai hal itu pada siapapun, termasuk mama Leon, Bryan dan Sisil saat masih hidup.
“Leon?”
Leon terkejut, Ia bingung harus melakukan apa. Ia bergerak kesana kemari berusaha mencari kegiatan yang dapat dilakukan.
“Kamu ngapain berdiri di sini? Mau masuk? Kenapa gak panggil mama?”
Leon menggeleng kemudian berjalan ke arah dapur. Saat ini, Leon berdiri di depan kamar mama dan papa Leon yang berdekatan dengan jalan ke arah dapur.
Karena bingung harus melakukan apa, Leon berpura-pura jalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.
Ia khawatir mamanya akan menanyakan sedang mau melakukan apa, karena saat ini Ia tidak tahu akan menjawab apa.
Leon segera berjalan ke kamarnya lagi, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari mamanya sendiri.
Hari demi hari dilalui Leon dengan kesibukannya dengan dirinya sendiri. Papa Leon telah mengingatkan anaknya untuk fokus pada pendidikannya setelah tamat sekolah ini. Namun, anaknya itu malah lebih fokus pada hobi-hobinya.
Tentu saja hal itu menjadi alasan papa Leon untuk marah. Ia selalu saja mengatakan bahwa hobinya itu tidak akan membawa kesuksesan baginya. Ia terus saja melarang apa yang anaknya inginkan.
Hal itu menyebabkan hubungan keduanya menjadi lebih, lebih dan lebih kaku dari sebelumnya. Leon bahkan tidak pernah ingin menyahuti panggilan papanya, menjawab pertanyaan-pertanyaan papanya kala pagi hari bertemu di meja makan.
Leon memang lebih jarang berbicara belakangan ini, namun setidaknya Ia masih menjawab omongan mamanya, menyahuti panggilan mamanya. Berbeda dengan papanya, Ia berakting layaknya patung yang tidak dengar dan tidak bisa berbicara.
Keinginan papa Leon untuk membuat anaknya sukses terlalu besar, bahkan hampir seperti obsesi. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya menjadi sukses, namun cara yang papa Leon lakukan bukanlah hal yang benar.
Ia cenderung melarang anaknya melakukan hal yang disukainya. Ia sering kali memaksa anaknya melakukan hal yang Ia sukai sendiri tanpa memerhatikan pendapat anaknya.
Hari demi hari, pertengkaran antara anak dan papa itu terjadi di rumah keluarga Hutama.
Setiap apapun yang keluar dari mulut papa Leon, pasti dijadikan bahan pertengkaran, meskipun Leon jarang sekali menjawab setiap lemparan-lemparan emosi dari papanya.
Leon kali ini masih berusaha semaksimal mungkin untuk mengingat kerangka yang telah disusun. Ia berusaha menuliskan apapun yang diingatnya sesuai dengan isi dari R book.
Ia menuliskan kerangka-kerangka yang telah tercipta itu di ponsel miliknya. Meskipun tidak cukup aman, setidaknya Ia bisa memastikan tulisannya itu hanya dilihat olehnya.
--
“Uhuk ... uhuk ... Leon!!! Nak! Leon!” Terdengar suara mama Leon memanggil-manggil anaknya.
Asap telah memenuhi rumah keluarga Hutama. Api pun menjalar seakan tidak ada batasan.
Mama dan Papa Leon berusaha memanggil anaknya untuk menyuruhnya turun ke bawah.
Suasana kian menyesakkan. Nafas semakin memendek. Tidak mampu berpikir jernih saat keadaan menjadi semakin panas.
Mama Leon berusaha meraih anakan tangga. Memegang sisi tangga yang terbuat dari besi. Hal itu membuat tangan mama Leon melepuh karena api telah memanaskan besi pegangan pada sisi tangga
Ia terus memanggil-manggil anaknya yang entah tak tahu berada dimana. “Leon! Nak!”
Sofa yang cukup megah, bunga-bunga yang dijadikan hiasan pun kini hampir lenyap dimakan si jago merah.
Hingga saat ini masih belum ada pertolongan dari siapapun. Hanya mereka yang berjuang sendirian di tengah panasnya api.
Lemari-lemari yang terbuat dari kayu telah terbakar, menyisakan hanya sedikit. Semua terasa sangat panas dan gelap.
Entah kenapa semua menjadi seperti ini.
Situasi yang aman dan damai, tenang tanpa suara, hening dan sejuk, seketika berubah dalam hitungan menit.
Rumah yang dulu menjadi tempat bernaung, kini menjadi tempat yang panas dan tidak mungkin ada seorangpun yang tahan bernaung di dalamnya.
Papa Leon terus berusaha sekuat tenaga mengambil air dari dalam kamar mandi. Mengisi penuh ke dalam ember dan wadah apapun yang dapat menjadi tampungan.
“Maa! Mama! Sini, Ma! Jangan kesana!” Ia berusaha mengingatkan sang istri untuk tetap berada di dekatnya.
Bagaimanapun kerasnya sikap papa Leon terhadap istrinya, namun tetap saja rasa cinta di dalam hatinya hanya untuk sang istri.
Kecintaannya pada sang istrilah yang menyebabkan Ia bersikap begitu keras. Ia mendominasi keluarganya hanya untuk melindungi keluarganya sendiri.
“Ma? Mama?”
Leon menggedor pintu kamarnya yang entah kenapa saat itu tidak bisa terbuka. Seperti ada yang mengunci namun entah siapa.
Ia mendengar suara teriakan dari sang mama. Ia sadar bahwa keadaan saat ini bukan hal yang baik-baik saja.
Dengan sekuat tenaga, Ia mendorong pintu kamarnya. Memukul menggunakan apapun yang dapat digunakan untuk menghancurkan pintu kamarnya.
Ia menangis, kala mendengar suara teriakan sang mama yang terdengar begitu frustasi.
Leon melihat ke jendela. Ia mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika Ia nekat melompat dari jendela kamarnya.
Jika dipikir-pikir, pilihan terbaik memang hanya melompat dari jendela kamar.
Pintu yang tanpa alasan tertutup rapat seakan dengan sengaja terkunci. Usaha yang dilakukan Leon, tidak ada satupun yang berhasil.
Ia mencari sebuah tali, sekiranya untuk menahan beban tubuhnya dari jendela ini menuju ke lantai satu rumahnya.
Kamar Leon terletak di lantai dua. Sehingga memerlukan akses tangga untuk turun. Namun karena keadaan seperti ini, mungkin pilihan ini yang terbaik untuk dilakukan.
“Leooonn!!” Teriakan mama Leon sepertinya hampir menemui titik dimana suaranya hampir habis.
Papa Leon masih sibuk memadamkan api menggunakan air dari kamar mandi tamu.
Alat pemadam api ringan yang ada di rumah keluarga Hutama kini sudah tidak mempan lagi.
Saat api terlihat di rumah keluarga Hutama, papa Leon langsung mengambil alat pemadam api ringan. Namun, entah karena apa, api itu bahkan muncul di tempat lain bahkan lebih besar.
Papa Leon panik, Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengambil air dari wastafel cuci piring, Ia siramkan di tempat yang terdapat api.
Namun, air kran tersebut keluar terlalu kecil, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengisi hanya sebuah ember.
Ditambah lagi, tube tempat menampung air dari kran itu terlalu kecil. Sulit bagi papa Leon yang saat ini membawa ember dengan ukuran sedang.
“Ma! Matikan listrik-listrik! Pelan-pelan!!” Papa Leon memerintah mama Leon untuk membantunya.
Agar api tidak menyebar pada listrik yang dikhawatirkan akan memunculkan ledakan, papa Leon meminta istrinya untuk mematikan apapun yang terdapat aliran listrik.
Mama Leon bergerak secara perlahan. Berusaha mematikan aliran listrik satu persatu. Mendengar perintah suaminya yang menyelipkan perhatian di dalamnya, suaminya menyuruhnya untuk melakukan perintah itu secara perlahan dan pelan-pelan. Ia tersadar bahwa suaminya sangat peduli dan masih ada cinta di hati suaminya.
“Pa! Leon dimana?!” Sang istri menanyakan keberadaan anaknya.
Saat ini api masih belum menjalar ke lantai dua. Api masih sibuk melahap megahnya lantai satu rumah keluarga Hutama.
Setelah memastikan tidak ada lagi aliran listrik yang tersambung, mama Leon berjalan menuju tangga.
Tadinya, api hanya sebatas tangga, namun kini sudah menjalar ke plafon rumah keluarga Hutama.
Dari plafonlah semuanya dimulai. Api menjalar ke lantai dua.
“Leon!”
“Ma?” Leon memastikan mamanya menjawab panggilannya.
Ia takut jika keadaan orang tuanya ini tidak dapat diselamatkan.
Ia berusaha sebisanya untuk memastikan keadaan mamanya. Ia pasti kan merasa bersalah jika mendapati mamanya terluka hanya karena mengkhawatirkan dirinya.
"Ma! Jangan kesini!" Leon berteriak dari dalam kamarnya.
"Pa! Leon Pa!"
"Jangan kesana, Ma! Biarin dulu Leon di kamarnya, Itu lebih aman!"
Api masih setia menemani keluarga Hutama. Papa Leon sudah hampir kehabisan oksigen di rumahnya sendiri. Mama Leon juga sudah kehabisan tenaga saat akan menjangkau kamar dimana tempat anaknya berada.
Hingga saat seperti ini, belum ada satupun yang membantu mereka.
Mama Leon berada di tangga menuju kamar anaknya di lantai dua.
Ia sentuh pegangan tangga itu. Ia belum merasakan rasa panas yang menjalar di telapak tangannya. Kakinya dengan sigap menaiki anak tangga, melangkah dengan harapan anaknya akan baik-baik saja.
"Mama! Helen! Tolong!" Suaminya berteriak dari arah dapur.
Suaminya masih sibuk menyingkirkan puing-puing yang berjatuhan di lantai.
Ia berusaha sendiri membersihkan akses jalan untuk menuju pintu. Ia ingin menyelamatkan istrinya an juga anaknya.
Bagaimanapun masalah antara dirinya dengan anaknya, tentu anaknya merupakan harta berharga baginya.
Bruggg! Sebuah kayu yang berada di atap tepat di atas tangga, jatuh....