D(death)-Day

1710 Kata
“Aaaaaaaaaa....” Terdengar suara mama Leon berteriak dari tempat dimana dirinya berada. Balok kayu dari atap rumah kelurga Hutama jatuh, menimpa tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. Papa Leon kesibukan mencari sumber suara dimana istrinya berteriak. Ia kehilangan fokus saat menyingkirkan puing-puing yang terbakar yang menutupi jalannya menuju pintu. Matanya menatap kesana kemari, kepalanya menoleh mencari keberadaan sang istri. “Ma?” Ia panggil istrinya, namun tidak ada jawaban. “Mamaaaa?!” Leon yang mencari keberadaan mamanya saat ini. Setelah mendengar teriakan mama Leon, baik papa Leon maupun Leon, langsung menghentikan aktivitasnya dan fokus mencari keberadaan wanita itu. Tidak ada jawaban setelah terdengar teriakan dari mama Leon. “Paaa! Mama di tangga! Paaa!” Leon sibuk meneriaki papanya untuk memberi tahu kabar mamanya. “Dimana? Leon?” “T-tangga!” Dug dug dug Suara dobrakan pintu kamar Leon oleh tangannya sendiri terdengar menginterupsi perkataannya sendiri saat mengabarkan sang papa. “Apa?!” Papa Leon masih fokus menghindari api sambil mencari jalan yang dianggap paling aman untuk menuju pintu rumah. Saat dirinya berhenti di dekat tanggab Ia melihat istrinya.... Istri yang dicintainya, yang selalu mendukung dirinya, melakukan apapun untuknya, menjadikannya raja di kehidupannya, kini tergeletak lemas di atas anak tangga ke dua. Papa Leon terdiam... Hingga sebuah lemari televisi terjatuh menimpa tubuhnya. Ia bahkan sudah tidak mampu berteriak. Semua berlalu begitu cepat. Api menyambar keduanya yang memang tertimpa sesuatu yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Api menjalar dan melahap mama dan papa Leon tanpa ampun. Bahkan tidak terdengar suara teriakan minta tolong dari mama dan papa Leon. Semua terasa hening. Seakan tidak ada lagi suara yang menggambarkan kepanikan orang tua Leon dari lantai satu. Leon bingung, Ia berpikir mungkin semua sudah berakhir. “Huuhh....” Leon menghembuskan nafas tanda dirinya lega. Ia kira semuanya telah selesai. Tapi, hatinya terasa seperti ada sesuatu yang belum selesai. Ia bangkit dan berusaha mendobrak pintu kamarnya lagi. Ia cemas kala mengetahui tidak ada suara sedikitpun dari orang tuanya di lantai satu. Padahal tadi mama Leon telah berada di tangga, namun kenapa maish belum membukakan pintu kamarnya juga. Leon berusaha memanggil mamanya. “Maaa! Mamaaa!” Tidak ada suara, tidak ada jawaban. Leon menangis. Dirinya cemas dan khawatir akan keadaan mama dan papanya di luar sana. Dari celah pintu kamar, asap mulai memasuki kamarnya. Leon terdiam memerhatikan asap yang menyelinap memasuki kamarnya. Seakan bersedia menemani dirinya yang tengah cemas di kamarnya sendiri. Dug dug dug Pintu masih tertutup dan telah terasa hawa cukup panas dari balik pintu itu. Leon memutar otak untuk membuka pintu kamarnya. Ia lihat kursi belajarnya, Ia tarik dan bawa ke dekat pintu. Ia menggunakan kursi itu untuk mendobrak pintu. Sepertinya pintu mulai mengalah dan sebentar lagi akan terbuka. Dan.... Api benar-benar sudah melahap seisi rumah, Leon bahkan hampir tertimpa balok kayu yang tengah melintang menutupi pintunya. “Uhukk ... uhukk....” Leon terbatuk karena kuatnya asap mengisi alveolusnya. “Maa? Uhuk....” Leon berusaha menembus asap untuk melihat apa yang ada di depannya. Mengibaskan asap yang menghalangi pandangannya dan juga mengganggu pernapasannya. “Maa? Paa? Uhuk....” Ia masih memanggil kedua orang tuanya tanpa tahu yang sesungguhnya terjadi. Brakk.... Sesuatu terjatuh. Leon menoleh, memastikan itu bukan suara orang tuanya. Tangannya masih setia mengibas-ngibaskan di depan pandangannya, agar Ia bisa melihat ke depan tanpa halangan dari asap. Leon cukup kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa rumahnya begitu panas dan dipenuhi dengan api serta asap. Ia sadar telah terjadi kebakaran, namun Ia masih belum sadar jika orang tuanya... “Maaaa?!” Suaranya kini sudah serak dan sepertinya akan habis jika Ia terus berteriak. Suara sirine terdengar jelas dari luar rumahnya. Syukurlah, pikirnya. Hatinya kembali lega dan dengan segera Ia menuruni tangga. Brug.... Kaki Leon tersandung anak tangga, badannya terguling ke bawah dengan kecepatan yang tidak biasa. Deg! Kepalanya terbentur dengan, entahlah, sepertinya itu juga kepala seseorang. Kepala Leon terbentur tangga berkali-kali. Hingga dirinya berada di anak tangga dimana mamanya tergeletak. Kepala mereka bertemu dan terantuk satu sama lain. Leon masih sadar, namun sudah tidak paham apa yang Ia alami saat ini. Matanya menatap mata seseorang yang berada di dekat tubuhnya. Ia berusaha meraih tangan yang dapat digenggamnya. Kepalanya pening, napasnya sesak, d*adanya naik turun tidak beraturan, berebut menghirup oksigen yang telah tercampur dengan asap hitam. Leon memicingkan matanya, tepat saat tangannya menggenggam tangan seseorang, yaitu tangan mamanya. Ia benar tidak paham apa yang terjadi, yang Ia tahu hanyalah Ia menggenggam tangan mamanya. “Mundur!” “Hati-hati!!” “Hey! Jangan mendekati rumah!” Suara pahlawan-pahlawan penolong mulai terdengar, bersamaan dengan teriakan dari orang-orang sekitar. “Satu tubuh ditemukan!” Suara salah satu pahlawan itu berteriak. Orang yang berteriak itu mulai mendekati tubuh yang tergeletak di bawah kayu-kayu yang entah apa. Ia segera memastikan apakah tubuh di bawah tumpukan kayu ini masih bernyawa atau tidak. Ternyata, tidak.... Satu tubuh dievakuasi segera setelah api berhasil dipadamkan. Tubuh itu diangkat dan dibawa menggunakan kantong jenazah, segera dimasukkan ke dalam mobil pambulance untuk memastikan akibat kematiannya. Evakuasi berlangsung cukup lama. Api yang begitu besar, asap yang berkumpul di dalam rumah yang memang tidak terbakar dan rubuh sepenuhnya, menyebabkan evakuasi berlangsung lama. Rumah dengan dua lantai, berisi satu keluarga yang... “harmonis”. Rumah itu tidak sepenuhnha terbakar, namun anehnya mampu menghilangkan dua nyawa tidak bersalah. Siapa yang mau disalahkan saat keadaan seperti ini? Api? Atau si penyulut api yang belum diketahui siapa orangnya? Entah apa yang menyebabkan datangnya api itupun belum diketahui secara pasti oleh pihak yang mengevakuasi. Keluarga ini hancur dan semakin hancur setelah dilahap api. "Ma? Leon kenapa lagi?" Bryan mengintip dari jendela rumahnya. Ia bingung, kenapa rumah Leon sering dikunjungi orang ramai di beberapa waktu belakangan ini. Bryan masih belum diberi tahu mengenai rumor yang disebarkan di lingkungan kompleks. Keluarga Bryan menjaga agar Ia tidak mengetahui dan tidak berusaha bertanya kepada Leon. Beberapa hari ini pun, Bryan sudah jarang bertemu dan bermain di rumah keluarga Hutama. Mama yang melihat anaknya mengintip kemudian menanggapi. "Kenapa, Bri?" "Eh, ya ampun. Kebakaran!" Mama Bryan segera berlari menuju rumah tetangganya yang berada tepat di seberang rumahnya. Bryan awalnya ikut berlari, namun ditahan oleh sang mama. Bryan diminta untuk menunggu di rumah, karena khawatir nanti Bryan akan berlari menuju rumah Leon dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan. "Kamu di rumah dulu sama kakak. Mama mau lihat kesana." Sang mama bersiap keluar rumahnya untuk menuju ke rumah keluarga Hutama yang sudah hampir rata dengan tanah. Sedikit aneh, memang. Rumah mereka yang tergolong dekat, namun mereka pula yang terlambat mengetahui keadaannya. "Kakak mana? Kakak gak ada, Ma. Aku ikut," pinta Bryan. "Udah kamu di rumah dulu, mama bentar doang." Mama Bryan segera berlari meninggalkan anaknya sendirian di dalam rumah. Sang kakak yang diminta untuk menjaga adiknya agar tidak ikut ke lokasi kebakaran, tidak nampak sedikitpun batang hidungnya, entah dimana Ia berada saat ini. Bryan hanya bisa mengintip dari balik jendela rumahnya. Ia mendapat ide untuk melihat dari jarak dekat, yaitu dari dalam agar rumahnya. Meskipun Ia benar-benar bingung mengenai apa yang terjadi, tapi Ia juga takut jika Ia datang ke kerumunan di depan rumah Leon, akan terjadi hal yang tidak diinginkannya seperti waktu kemarin saat Ia menangis di depan kerumunan orang yang menuduh Leon sebagai pembunuh. Bryan berusaha mencari keberadaan Leon. Ia melihat satu persatu orang yang ada di kerumunan itu, berharap dapat menemukan Leon dan keluarganya. Namun, nihil. Leon dan keluarganya tidak tampak sedikitpun oleh mata Bryan. "Bri, kamu ngapain?" Kakak Bryan baru saja tiba di rumah. Bryan menoleh sebentar, kemudian matanya menelusuri kerumunan itu lagi. "Cari Leon, Kak." Sang kakak mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah mereka. Ia langsung menuju dapur, membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin. Kakak Bryan meminum air mineral dingin itu tepat di depan kulkas, dengan posisi berdiri. "Kak?" Kakak Bryan terkejut dan memuntahkan air yang baru saja akan menghilangkan rasa hausnya. "Kakak kenapa?" "Uhuk ... uhuk ... kamu jangan ... uhuk ... jangan ngejutin dong, Bri." "Aku panggil kakak itu ngejutin?" Kakak Bryan melanjutkan meminum air mineral dingin itu lagi. "Kakak dari mana? Kok haus?" Sang kakak hanya menggeleng dan segera berlalu menuju kamarnya sendiri. Ternyata, Bryan mengikuti kakaknya. "Kakak ada lihat Leon?" Sang kakak berhenti saat hendak membuka pintu kamar. "Kenapa?" "Aku cari Leon, tidak ada. Mama papanya juga, kan ramai disana kenapa ya, Kak?" tanyanya. "Mana kakak tau, kakak kan baru di rumah." "Kakak dari mana?" Sang kakak diam, Ia memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sementara sang adik menunggu di depan pintu kamar. "Kakak dari mana?" Bryan masih menuntut jawaban dari pertanyaan yang sama. Ia terus saja menanyai dari mana kakaknya itu dan kenapa baru pulang jam segini. Ini sudah terlalu larut bagi anak perempuan untuk pulang. Sang kakak yang ditanyai hanya diam tidak menjawab. "Kak, lihat rumah Leon, kan?" Kakak Bryan mengangguk. "Heem." "Rumah Leon kenapa jadi gitu? Ini udah malem." "Ya terus kenapa kalau udah malem?" "Kasihan Leon dan mama dan papanya. Mereka tidur dimana?" Kakak Bryan lagi-lagi diam. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, saat ini sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dibalut ke rambutnya sendiri. "Kakak lihat Leon?" "Enggak, Bri! Kakak dari tadi cuma lihat kamu, cuma denger suara kamu." "Oh, gitu." Bryan keluar dari kamar kakaknya, dan berjalan ke arah luar rumahnya. Ia ingin menyaksikan ada apa di rumah Leon. Ia juga belum bisa tidur jika mamanya belum pulang ke rumah. Ia melihat beberapa mobil yang dirasanya tidak cukup asing. Ia ingat bahwa pernah dirinya melihat mobil-mobil yang dilihatnya di depan rumah Leon saat ini. Yang membuat dirinya bingung, kenapa mobil itu ada disana, dan kenapa rumah Leon menjadi seperti itu, kemana perginya Leon bersama mama dan papanya. Sejak Bryan melihat rumah keluarga Hutama tadi, Ia berpikir bahwa keluarga Leon dituduh lagi menjadi pembunuh. Namun, apa fungsi mobil-mobil itu. "Kak? mobil-mobil di rumah Leon itu ngapain?" Ia berjalan menuju kamar sang kakak untuk menanyakan hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi. "Ya ampun, Bri. Mana kakak tau, kakak juga baru pulang. Kakak belom lihat kesana." "Kakak gak mau lihat?" Bryan menarik lengan sang kakak. Ia ingin mengajak sang kakak untuk melihat langsung ke rumah Leon. Ia ingin menanyakan semuanya kepada Leon. "Aw!" Kakak Bryan memekik kesakitan. Bryan bingung. Ia diam di tempat melihat sang kakak kesakitan kala lengannya disentuh. Kakaknya itupun kini memegangi lengannya yang sepertinya sedang sakit. Bryan tidak dapat melihat karena tertutupi oleh hoodie.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN