Accident on Purpose

1759 Kata
Isak tangis menghiasi ruangan yang tidak cukup besar itu. Dr Paula dan Inspektur Jusuf yang juga merupakan rekan dari keluarga Hutama, terlihat menangis di barisan depan dekat dengan letak kedua mayat dibaringkan. Tubuh yang dulu tinggi, tegap, wajah yang tampan, perawakan yang tegas dan disiplin, kini terbaring kaku di sebuah meja seukuran tubuhnya di ruang mayat. Wanita yang sejak dulu sering Ia beri perlakuan kasar, namun kemudian disayang-sayang, wajah yang cantik dan tubuh yang indah, kini terbakar hampir setengah badan tidak dapat dikenali. Suami istri itu ditemukan meninggal di lokasi kejadian. Tubuh mereka ditemukan terbaring kaku di bawah reruntuhan dan telah hangus sebagian. Tubuh mama Leon ditemukan berbaring di sebelah tubuh anaknya. Berpegangan tangan, dan wajah yang menghadap anaknya. Ia benar-benar ingin melindungi anaknya hingga akhir hidupnya. Saat ini, Leon masih dirawat di rumah sakit. Ia ditemukan selamat meskipun terdapat luka di pergelangan tangan kanan hingga ke siku dan punggung kaki kanan. Api membakar beberapa bagiaj tubuhnya, dan syukurnya Ia selamat dari kobaran api yang entah mengapa datang berkunjung ke rumahnya malam itu. “Anaknya gimana?” “Masih di rumah sakit. Belum sadar, luka bakar 40%, tadi dikabarin sama orang rumah sakit.” “Ya ampun. Gak bisa ngebayangin ada di posisi anaknya.” “Aku udah mengerahkan semua tenaga untuk melihat rumah keluarga Hutama. Penyebab kebakaran belum diketahui, tapi yang pasti, aku akan berusaha untuk mencari tahu dengan seluruh tenagaku.” “Helen ... kenapa bisa jadi seperti ini.” Dr Paula dan Inspektur Jusuf memiliki niat besar untuk membantu Leon. Mereka tentu merasa kehilangan teman yang dulunya pernah menjalani masa remaja bersama. Dr Paula hari ini disibukkan dengan kegiatan autopsi sepasang suami istri yang malang itu. Dirinya bahkan merelakan waktu istirahatnya demi mendapat jawaban atas kematian mereka. Penemuan dr Paula dalam melakukan autopsi pasangan suami istri Hutama akan dipresentasikan besok hingga sore hari. Waktu yang diberikan cukup banyak untuk Ia menyelesaikan pekerjaannya, namun karena ini adalah temannya semasa sekolah, keinginannya untuk segera selesai begitu besar, agar penyebab kematiannya segera diketahui. Inspektur Jusuf sempat bercerita mengenai tempat kejadian perkara. Ia mengatakan ini dan itu yang dirasanya tidak masuk akal. Mendengar hal itu, dr Paula berharap jika kematian suami istri Hutama ini bukan karena tindakan sengaja dari seseorang, melainkan murni karena api yang datang tanpa permisi. Dr Paula masih berada di ruangan laboratorium melalukan autopsi pada mayat suami istri Hutama. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, sudah waktunya untuk pulang dan meninggalkan pekerjaannya. “Halo?” “Iya, Nak. Mama lembur, kamu di rumah sendiri gak apa-apa ya.” “Matikan lampu yang gak terpakai, kunci pintu, hati-hati saat menghidupkan kompor dan listrik ya, Nak.” “Engga. Mama cuma ingetin kamu aja. Selalu berkabar sama mama ya.” Dr Paula terlihat berbicara dengan anaknya di ponsel. Ia tentu merasa khawatir meninggalkan anaknya sendirian di rumah, meskipun anaknya sudah dewasa, namun tetap baginya anaknya adalah bayi yang lucu nan mungil. “Huh ... oke Helen, aku hari ini lembur demi kamu,” katanya sambil menyeka air mata di pipinya. Dr Paula memiliki kebiasaan untuk mengajak bicara objek di depannya, kala Ia melakukan tindakan autopsi. Katanya, hal itu akan membantu dirinya merasa tenang dan rileks, serta tidak panik saat melihat keadaan sadis yang tidak enak dipandang mata. Hari telah menemui larutnya. Bulan telah menunjukkan diri di langit. Ruangan dr Paula sepenuhnya diisi oleh air conditioner, sehingga tidak ada satupun celah terbuka. Karena begitu sesak, melihat teman masa sekolahnya terbaring kaku di depannya. Ia tidak pernah menyangka jika Ia akan menangani temannya sendiri. Dr Paula membuka tirai jendela agar dirinya dapat melihat ke luar jendela. Setidaknya hal itu dapat membantu menghilangkan rasa sesaknya akibat terlalu sedih merasa kehilangan. Tok... tok... Suara ketukan pintu terdengar. Dr Paula yang sedang bekerja dengan sangat fokus, hingga tidak bisa mendengar suara apapun. “Dok....” Inspektur Jusuf masuk dengan pelan ke ruangan dimana dr Paula bekerja. “Paula!” Inspektur Jusuf meninggikan nada suaranya sedikit, karena dr Paula tidak mendengarkan panggilannya yang pertama. Dr Paula menoleh ke arah sumber suara. Ditemukannya Inspektur Jusuf yang terlihat sangat lusuh, sama sepertinya. “Kamu gak istirahat?” Dr Paula menggeleng. Ia masih ingin berlama-lama dengan jasad temannya itu. Bukan dalam artian buruk, namun dirinya hanya ingin menemukan titik pasti dari teka-teki yang Ia temukan beberapa jam sebelumnya. “Penyebab kematian udah ditemukan?” “Untuk sementara ini, udah.” Inspektur Jusuf mengangguk. Dr Paula menahan air matanya, Ia melihat ke arah Inspektur Jusuf. “Bukan karena api.” Tangisnya meledak. Meskipun penyebab kematian ini belum dipastikan seratus persen, namun Ia mengerti bahwa ada yang tidak beres pada kematian temannya itu. Inspektur Jusuf berdiri dan menatap kedua temannya yang terbaring kaku di atas meja yang seukuran dengan tubuh pasangan suami istri Hutama. Keduanya terlihat menyedihkan dan mengenaskan. “Lihat itu,” perintahnya pada Inspektur Jusuf. Inspektur Jusuf melihat ke arah yang ditunjuk oleh dr Paula. Ia melihat banyak kelopak bunga. “Bunga? Lagi?” Inspektur Jusuf mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Mereka bekerja terlalu keras, hingga khawatir hal itu hanya halusinasi keduanya saja. Kasus yang mereka temukan sepertinya berhubungan satu sama lain. “Bunga? Lagi?” Inspektur Jusuf mengulang ucapannya. Dr Paula mengangguk dan menghapus aliran air mata yang membasahi pipinya. “Sumpah aku gak paham, kenapa seperti ini.” “Oke ... tenang. Kita tenang dulu, kamu udah makan? Minum dulu.” Inspektur Jusuf berusaha menenangkan dr Paula yang tak henti menangis. “Kamu ingat sama kasus Sisil dan oelatih renang itu kan? Aku yakin mereka berhubu-....” Inspektur Jusuf menghentikan asumsi dari dr Paula. “Bentar.” Ia memijat keningnya dengan pelan. Sepertinya mereka terlalu letih menghadapi kasus yang berputar-putar di hidupnya. Dua kasus dengan khas tangkai bunga masih belum terpecahkan, dan kini muncul kasus baru dengan kelopak bunga. Inspektur Jusuf berdiri dari duduknya, Ia berjalan menuju tempat dimana bunga-bunga itu diletakkan. Tangannya geram ingin sekali meremas bunga-bunga itu, tapi pikirannya masih sadar bahwa hal itu tidak seharusnya dilakukan. “Leon gimana?” Dr Paula menyusul berdiri di sebelah Inspektur Jusuf. Inspektur Jusuf menoleh. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Masih dirawat,” jawabnya singkat. “Udah diberi tahu tentang orang tu-....” Inspektur Jusuf menggeleng. Memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada anak semata wayang yang ditinggalkan oleh keluarga Hutama, keduanya semakin pusing. “Udah malem gini, sebaiknya kamu selesaikan sekarang.” “Gak bisa, Suf. Aku masih belum puas, aku masih harus nyelesaiin semuanya, gak bisa ditinggalkan sekarang.” “Pikirkan dirimu sendiri juga. Aku tau mereka juga teman kita, tapi mereka pasti gak akan senang kalau melihat kita kelelahan karena mereka.” “Kita harus bantu Leon, Suf.” “Iya, aku paham.” “Leon butuh kita, butuh kejelasan mengenai kematian orang tuanya.” Mereka sepakat menghentikan perdebatan sampai disini saja. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan malam ini, dan segera mengambil waktu istirahat. Inspektur Jusuf mengajak dr Paula untuk makan di rumah makan langganan mereka. Itung-itung menyegarkan pikiran mereka berdua. “Suf ... di rumah keluarga Hutama ada sesuatu yang menurut kamu aneh? Kira-kira akar masalah?” “Aku belum bisa pastikan. Tapi, dari yang aku lihat, kebakarannya disengaja.” “Disengaja?” Inspektur Jusuf mengangguk, mulutnya masih sibuk menyantap makanannya. - "Gimana keadaan kamu, Leon?" Leon hanya terbaring lemah di rumah sakit. Matanya menatap kosong jendela kamar rumah sakit yang terbuka tirainya. Entah Ia sudah mengetahui kabar ini atau belum, tapi sepertinya Ia masih trauma akibat kejadian ini. "Dimana orang tua ku?" Leon bertanya kepada Inspektur Jusuf dan dr Paula yang kebetulan sedang berkunjung. Inspektur Jusuf dan dr Paula saling bertukar pandang. Mereka diam mendengarkan pertanyaan yang diberu Leon. Sebenarnya, kedatangan Inspektur Jusuf dan dr Paula memang untuk memberi kabar mengenai orang tua Leon. Tetapi, mereka masih akan mempertimbangkan keadaan Leon terlebih dahulu. "Leon...." Dr Paula memanggil Leon dengan lembut. Leon hanya diam. Matanya masih betah menatap jendela kamar rumah sakit. "Tante gak mungkin tau, gimana perasaan kamu sepenuhnya saat ini. Tapi, tante minta kamu untuk sabar dan fokus pada kesembuhanmu. Tante juga-...." "Dimana mama dan papa saya?" Leon menoleh ke arah dr Paula. Dr Paula yang sedang berbicara namun dipotong oleh Leon, hanya bisa terdiam mematun diberi pertanyaan yang sama sejak tadi. Inspektur Jusuf mengambil alih pembicaraan hari ini. Ia akan memberi tahu kepada Leon, bagaimana keadaan orang tuanya. "Orang tua kamu-...." "Kalian siapa?" Leon bertanya lagi. Pertanyaannya membuat keduanya bingung. Apakah benar Leon tidak mengingat siapa mereka. "Leon?" "Kalian siapa? dimana orang tua saya?" "Kamu gak ingat kita siapa?" Inspektur Jusuf bertanya untuk memastikan keadaan Leon. Leon menggeleng tanda Ia menjawab tidak. Benarkah Leon mengalami hilang ingatan? Namun akibat apa? sepertinya tidak ada memar akibat benturan di kepala Leon. Dr Paula berjalan keluar ruangan, memastikan keadaan Leon. Ia mencari dokter yang menangani Leon, apakah benar Leon mengalami cedera kepala yang menyebabkan lupa ingatan. Inspektur Jusuf masih menemani Leon di kamar tempat dimana dirinya dirawat. Ia masih belum bisa menjelaskan apa yang terjadi, karena Ia masih menunggu perawat rumah sakit untuk memastikan keadaan Leon. "Leon?" Leon menoleh singkat menatap Inspektur Jusuf. Ia kemudian menatap kembali jendela di depannya. Ia lebih memilih menatap jendela dibandingkan orang-orang di sekitarnya. "Gimana keadaan kamu?" Inspektur Jusuf kembali mencoba mendekatkan diri kepada Leon, agar Leon dapat merasa nyaman berbicara dengan Inspektur Jusuf. Leon hanya diam. Ia masih betah menatap ke arah lain dari arah dimana Inspektur Jusuf berada. "Leon?" Inspektur Jusuf kembali mencari perhatian Leon. Dan Leon pun masih diam memerhatikan apa yang sejak tadi Ia perhatikan. "Orang tua kamu...." Leon menoleh kepada Inspektur Jusuf. Matanya mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak kunjung dijawab oleh Inspektur Jusuf dan dr Paula sejak tadi. "Orang tua kamu, meninggal ... akibat kebakaran yang menghanguskan rumah kalian."  Leon terdiam. Matanya merah menahan tangis. Ia kemudian menoleh melihat ke arah jendela, lagi "Kamu benar-benar tidak ingat siapa kita?"  Leon masih menahan tangisannya. Ia merasa dunianya hancur, mengetahui orang tuanya kini sudah tiada, dan dirinya akan menjalani kehidupan sendirian tanpa siapapun. "Kami akan membantu kamu ... kami akan mencari tau penyebab sebenarnya dari kejadian ini, untuk itu, saya mohon kerja sama kamu untuk penyelidikan ini." Inspektur Jusuf menjelaskan niatnya kepada Leon. Leon mengangguk. Kemudian Ia berbaring ke sisi kanan, menghadap jendela kamar rumah sakit, dan menangis tertahan. Sepertinya Ia malu menangis karena disana masih ada Inspektur Jusuf yang menemaninya. "Bisa tolong keluar? Saya ingin istirahat," pintanya. Insoektur Jusuf yang sedang duduk di sofa, langsung berdiri mengiyakan permintaan Leon. Ia tidak ingin menimbulkan ketidaknyamanan pada Leon. Dr Paula masuk ke ruangan, Ia mendapati Inspektur Jusuf sudah berdiri seakan ingin meninggalkan ruangan. Inspektur Jusuf menahan lengan dr Paula, agar Ia tidak masuk dan mengajak Leon berbicara. Mereka membiarkan Leon beristirahat dengan keadaannya yang menyedihkan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN