"Maa"

2055 Kata
Suasana hati Leon tidak dapat dijelaskan oleh apapun saat ini. Ia ingin menangis, menuntut tanggung jawab pada dunia, bahwa dirinya ditinggal sendiri di dunia ini. Leon terbaring lemah di ranjang rumah sakit, tidak ada yang menemani. Satu-satunya yang menghibur Leon adalah suara kicauan burung dan semilir angin yang masuk melalui jendela kamar rumah sakit. Ia mengusap pipinya dengan pelan, kemudian dibasahi lagi oleh air mata yang tanpa henti mengaliri pipi Leon. Hari demi hari, Leon berpikir bahwa dunia tidak berada di pihaknya. Dunia benar-benar tidak adil. Saat dirinya menuntut sebuah keinginan yang terwujud, ada saja halangan yang menutupi terwujudnya keinginan itu. Saat dirinya meminta untuk hidup dengan tenang, tanpa aturan yang tidak sesuai keinginannya, Tuhan benar-benar menyingkirkan kata tenang dalam hidupnya. Kini, dirinya ditinggal sendirian. Orang tua yang Ia cintai, sayangi, hormati, patuhi, kini sudah meninggalkannya. Mamanya yang selalu mendukungnya dalam segala situasi, kini telah tiada. Papanya yang selalu menaruhkan bumbu-bumbu disiplin dalam hidupnya, kini sudah tidak lagi bisa melakukan hal itu. Kini, Ia harus berjuang sendiri menjalani kehidupan yang dianggapnya tidak adil ini. Hatinya hancur, seluruh jiwanya seakan runtuh pergi menghilang dari raga, saat mengetahui bahwa mama dan papa yang paling Ia cintai di hidupnya telah tiada. Leon menyesal. Dalam pikirannya hanya ada penyesalan, mengapa bukan dirinya yang menemui kematian, agar orang tuanya tetap menjalani kehidupan ini, agar bukan dirinya yang merasa kehilangan. Ia melihat ke tangan sebelah kanannya. Ia perhatikan tangannya yang terdapat luka bakar yang cukup parah. Luka itu akan Ia kenang hingga akhir hidupnya. Karena luka itulah yang mengakhiri hidup kedua orang tuanya. Ia masih menangis. Di ruangan ini hanya ada dirinya sendiri, sehingga lebih leluasa baginya untuk mengeluarkan seluruh pedih di hatinya. “Maa ... Leon kangen,” bisiknya. Ia bahkan tidak memiliki peninggalan apapun, entah bagaimana Ia akan hidup ke depannya. Seketika muncul penyesalan mendalam di hatinya. Ia merasa menyesal, kalau saja Ia tahu musibah akan datang mengambil kedua orang tuanya, Ia oasti tidak akan bersikap cuek terhadap orang tuanya. Untuk sekedar melihat foto mama dan papanyapun, tidak bisa. Semua harta dan bendanya habis. Entah memang sudah rata dengan tanah, atau masih berada di sisa-sisa reruntuhan. Rumah yang dibangun dengan cinta dan kasih sayang, dengan aturan yang ketat, dengan cerita yang tertinggal selamanya di ingatan, telah hancur dan habis dilahap api yang tanpa diundang datang bertamu. Tok... tok... Pintu terbuka, menampilkan Inspektur Jusuf, dr Paula, dan seorang pria dan wanita yang sepertinya seusia dengan papa Leon. Leon segera menghapus air matanya, membenarkan posisi duduknya di atas ranjang rumah sakit. “Gimana keadaannya, Leon?” Wanita paruh baya itu menyapa Leon, seakan dirinya sudah begitu mengenal Leon. Leon memerhatikan wanita itu, berharap mendapat jawaban mengenai siapa wanita ini sebenarnya. Ia melihat nametag wanita itu mengatakan bahwa wanita itu merupakan seorang psikiater. Leon merasa sedikit terkejut, mengapa seorang psikiater mengunjunginya bersama orang yang Ia akui tidak dikenalnya. Orang-orang yang datang itu memperkenalkan dirinya kepada Leon. Leon hanya memberi respon singkat. “Akan lebih baik untuk kamu, kalau mau berbagi ke kita mengenai perasaan dan keadaan kamu saat ini, Leon.” Leon memalingkan wajahnya, Ia tidak ingin tampak menyedihkan di mata orang-orang itu. “Kita akan bantu kamu, maka dari itu, kamu juga harus bantu kita. Semua demi kebaikan kamu juga, kan.” Leon menangis. Baru kali ini, Ia menampakkan kesedihannya, menangis di depan orang-orang yang tidak dekat dengannya. Dr Paula mendekati Leon. Mengelus pelan bahu Leon. Leon pun semakin menangis, Ia membayangkan bahwa elusan itu adalah elusan dari mamanya. “Maa ....” Leon menggumam pelan dalam tangisnya. Orang-orang yang disana juga menahan tangis, melihat Leon seperti itu. “Aku mau mama....” Leon menangis semakin keras. Ia bahkan bergerak agresif memukuli kepalanya sendiri. Sepertinya Ia menyalahkan dirinya sendiri. “Leon....” Dr Paula berusaha menenangkan Leon. Namun, kesedihan dalam diri Leon kini berubah menjadi amarah. Ia semakin memukuli dirinya. Meracau mengatakan entah apa. Menangis dan terus menyalahkan dirinya atas musinah yang Ia alami. “Kamu gak salah, Nak. Dengar saya!” Dr Paula meninggikan sedikit nada suaranya, agar mampu didengar oleh Leon yang juga sedang berbicara. Leon diam. Ia menatap lekat mata dr Paula. Ia merasa asing terhadap dr Paula. Namun, perlakuan yang didapatnya dari dr Paula, mengingatkannya kepada mama tercintanya. “Kita cari tau sama-sama penyebab kejadian ini, kita cari jalan keluar dari masalah ini, kita akan bantu kamu, jadi saya mohon kamu tenang dan jangan menyalahkan diri seperti ini,” jelasnya dengan suara pelan dan sedikit air mata yang mengaliri pipinya. “Mama....” Leon masih memanggil mamanya sambil menatap mata dr Paula. “Nak ... silahkan panggil saya mama, jika itu bisa menenangkanmu.” Leon diam dan mulai menghapus air matanya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya, menutupi dirinya dengan selimut. Secara tidak langsung, Ia memberi tahu bahwa dirinya sedang tidak ingin diganggu. Briefing mengenai kasus kebakaran rumah keluarga Hutama dimulai di aula. Orang-orang yang ikut menyelidiki kasus ini, telah berkumpul dan bersiap mendengarkan penjelasan dari tim forensik. Dr Paula yang mengetuai tim forensik. Ia membuka penjelasan ini dengan suasana hati yang sedih. Dirinya masih mengingat bagaimana Leon menangis di kamar rumah sakit tadi. “Baik ... pertama, penyebab kematian yang kami periksa adalah gagal nafas. Keduanya menunjukkan adanya gagal nafas. Namun, gagal napas bukan karena asap, melainkan aseton.” Orang-orang yang memerhatikan pun menjadi bingung. Bagaimana aseton bisa menjadi penyebab kematian sepasang suami istri yang ditemukan tewas akibat kebakaran ini. “Jika diperhatikan memang luka bakar di tubuh keduanya sudah sangat parah, namun penyebab kematiannya bukan disitu.” Dr Paula menunjukkan dokumentasi yang telah dipersiapkan oleh tim forensik. “Kemudian, banyak kelopak bunga di dalam mulut keduanya. Setelah diperiksa, bunga itu yang mengandung aseton.” Suasana menjadi semakin dan semakin serius. Semua orang memerhatikan dan fokus hanya kepada dr Paula yang berbicara di depan sambil menunjukkan dokumentasi penting yang Ia temukan saat melakukan autopsi. “Chrysantemum jenis Inodorum merupakan bunga dengan kelopak putih dan kuning pada tengah kelopak, bentuknya tidak cukup besar, seperti pada gambar.” Dr Paula menunjukkan gambar dari bunga Chrysantemum. “Saya sudah mencari tahu apa saja kandungan pada bunga jenis ini, namun nihil ditemukan adanya aseton.” “Penyebab kebakaran sudah diketahui?” Seorang pria menginterupsi. “Masih didalami oleh pihak terkait. Saya sudah koordinasi mengenai penyebab kebakaran, khawatir benar menggunakan aseton atau bagaimana, tapi penyebab masih belum bisa dipastikan.” “Aseton ini bisa menyebabkan kebakaran? Setau saya kemungkinannya kecil jika untuk kasus kebakaran sebesar ini tidak mungkin.” “Ya, benar. Meskipun aseton juga bisa menyebabkan munculnya api, tapi jelas tidak sebesar untuk menghancurkan sebuah gedung. Harus ada senyawa tambahan untuk menimbulkan api besar.” Semua orang terdiam, mereka berpikir keras, apa hubungan aseton dengan kebakaran ini. Semua orang terdiam, mereka berpikir keras, apa hubungan aseton dengan kebakaran ini. “Penyebab kebakaran belum ditemukan?” Sekali lagi, pertanyaan itu keluar dari mulut salah satu tim dari penyelidikan kematian sepasang suami istri Hutama. “Bagaimana ini, Inspektur Jusuf? Sudah lima hari berlalu, dan penyebab kebakaran masih belum ditemukan?” “Hingga saat ini masih proses, Pak. Saya dan tim terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar segera menemukan penyebabnya, tapi masih belum terlihat.” Inspektur Jusuf yang mengetuai tim olah tempat kejadian perkara tentu saja menjadi sasaran pada briefing ini. Terlebih lagi, orang-orang tahu bahwa Inspektur Jusuf dan pasangan suami istri Hutama memiliki hubungan baik. Orang-orang di ruangan itu mulai menyudutkan Inspektur Jusuf, karena pekerjaannya dianggap tidak maksimal akibat perasaan yang masih bersedih. Inspektur Jusuf merupakan seorang pria yang profesional. Beberapa kali Ia pernah menangani kasus yang melibatkan sanak saudaranya, namun sifat profesionalnya tidak pernah Ia kesampingkan. “Kebakaran rumah seperti itu saja masa kamu gak bisa tahu penyebabnya? Ini sudah hari ke berapa? Mau berapa lama lagi kita bisa mencari akar masalah, jika penyebab saja masih belum diketahui?” Inspektur Jusuf diam, wajahnya tegak menerima komentar dari atasannya. Briefing dilanjutkan setelah dr Paula mengambil alih, Ia juga merasa tidak enak melihat Inspektur Jusuf menjadi sasaran kekecewaan orang-orang. “Baik, bunga-bunga ini ditemukan di dalam....” Dr Paula mengganti tampilan di proyektor, menampilkan sebuah foto yang jika dilihat akan memberikan rasa pilu. “Di dalam mulut pasangan suami istri Hutama.” Dr Paula menghela napas cukup panjang, masih terasa sedih di benaknya. Dr Paula melanjutkan. “Kemudian, pada saluran napas ditemukan adanya tanda-tanda zat kimia aseton seperti yang tadi saya jelaskan.” Dr Paula menampilkan dokumentasi yang dilakukannya selama autopsi jasad pasangan suami istri Hutama. “Zat kimia beracun lain juga ditemukan. Khususnya zat-zat yang berasal dari asap. Namun, jelas disini terlihat bahwa zat kimia aseton yang pertama kali menyentuh organ-organ mereka, sederhananya jalan napas keduanya terpapar aseton terlebih dahulu.” Semua anggota penyelidikan terlihat semakin bingung. “Diduga, pasangan suami istri ini meninggal sebelum terjadi kebakaran.” Semua orang kehabisan kata-kata. Apakah penyebab kebakarannya berasal dari senyawa aseton? Atau bagaimana? Tidak ada yang mengerti. “Bunga itu apakah mengandung aseton?” Seseorang dari tim kepolisian bertanya kepada dr Paula. “Oh, iya. Saya lupa menjelaskan kandungan dari bunga yang ditemukan pada kedua jasad.” Dr Paula bergerak menuju laptopnya yang sejak tadi terbuka menampilkan slide presentasi. Ia meminta sedikit waktu untuk menjelaskan dan mencari bahan yang telah Ia persiapkan untuk dijelaskan kepada tim. Ia menampilkan gambar dari beberapa jenis bunga Chrysantemum. “Bunga ini memiliki banyak jenis dan salah satunya inodorum. Inodorum ini memiliki kelopak yang hampir mirip dengan jenis maksimum. Warna keduanya sama putih. Untuk kandungan ... kandungan dari krisan ini sebenarnya baik.” Dr Paula menarik napas panjang, Ia mengeluarkan seluruh tenaga dan semangatnya untuk kasus ini. “Bunga krisan ini biasa diseduh menjadi teh hangat. Bunga ini dipercaya tinggi antioksidan oleh kebanyakan masyarakat Asia Timur, karena memang kedatangannya dari sana. Untuk kandungan, tidak ditemukan zat berbahaya di dalamnya. Dan aseton pun sama sekali tidak ditemukan pada kandungan bunga krisan inodorum ini.” Beralih dari penjelasan dr Paula mengenai penyebab kematian, kini psikiater yang menangani Leon, ditunjuk sebagai presenter selanjutnya untuk memberikan penjelasan mengenai keadaan Leon. “Anak dari pasangan suami istri Hutama, bernama Leon Dasuki Hutama, berusia 19 tahun, kini dirawat di rumah sakit xx. Leon mengalami luka bakar di pergelangan tangan kanan hingga ke siku dan punggung kaki kanan. Keadaan vital Leon normal, hanya saja sedikit mengalami gejala kecemasan dan depresi.” Psikiater tersebut menjelaskan secara detil mengenai keadaan yang dialami oleh Leon. “Saat ini, Leon masih belum bisa diajak berbicara dalam waktu lama. Ia bahkan tidak terlalu merespon pertanyaan dan sapaan dari orang lain. Leon masih ingin menyendiri, dan tidak ingin diganggu.” Seseorang bertanya. “Butuh waktu berapa lama untuk bisa pulih? Agar kasus ini segera selesai, saksi hidup hanya anaknya, mau tidak mau ya kita harus segera membuat anak itu menjawab dan menceritakan semuanya.” “Perkiraan tidak bisa dipastikan. Tapi, sepertinya Leon akan merasa sedikit nyaman jika ada pihak keluarga yang mendampingi. Atau minimal ada seseorang yang Ia kenal, berada di sisinya dalam masa pemulihannya ini.” “Keluarga terdekat?” Ketua tim penyelidikan bertanya kepada pihak detektif yang mencari tahu segala mengenai keluarga Hutama. “Nihil,” jawab ketua tim detektif cukup singkat. Ya, tidak ditemukan satupun keluarga terdekat dari keluarga Hutama. Entah memang belum ditemukan, atau memang tidak ditemukan. “Nihil?!” Dr Paula terkejut mendengar penjelasan singkat itu, yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai sebuah penjelasan dari orang yang dianggap profesional. Seingat dr Paula, mama Leon atau Helen memang tidak memiliki saudara kandung, Ia merupakan anak tunggal, dan untuk papa Leon atau John, sepertinya masih memiliki saudara kandung. Tim detektif mengirimkan perwakilannya untuk mengambil alih di depan. Mereka bersiap menjelaskan apa yang telah mereka kumpulkan sejauh ini. “Helen Hutama atau istri dari John Hutama dan ibu dari Leon Hutama, merupakan anak tunggal. Sedangkan John Hutama, memiliki satu orang saudara kandung, berjenis kelamin laki-laki. Namun, beberapa hari lalu, kami mendapati kabar bahwa saudara laki-laki John sudah lama tidak berhubungan lagi dengan keluarga John. Sepeninggal ornag tua dari John Hutama, mereka sudah tidak pernah bertemu dan berhubungan.” Semua semakin tidak masuk di akal. Dr Paula bertanya. “Alasan mereka tidak berhubungan sudah diketahui?” Perwakilan tim detektif terdiam kaku di depan seluruh audiens. Mereka sadar, bahwa mereka tidak terlalu fokus pada masalah ini. Mereka mengira pekerjaannya telah selesai sampai disini. “Semua bisa jadi saksi, semua bisa jadi tersangka. Apapun alasannya, semua harus jelas dicari tahu. Kenapa hingga hari ini masih belum diketahui?” Dr Paula menghujani komentar kepada perwakilan tim detektif. “Baiklah, akan kami cari tahu lebih lanjut.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN