Leon menghabiskan waktunya dengan menggambar di atas ranjang rumah sakit. Meskipun tangannya masih sakit, Ia dengan giat menggambar apapun yang diinginkannya.
Psikiater yang menangani Leon, menawarkan bantuan bagaimana untuk membantu Leon meringankan resiko depresi akibat yang dialaminya. Leon memilih untuk meminta alat yang dapat digunakan untuk menggambar. Ia hanya meminta alat-alat menggambar yang sederhana, hanya agar dirinya bisa memiliki kegiatan lain, sehingga tidak sempat bersedih.
Leon menggambar bunga-bunga dan sebuah rumah. Jika dilihat, sepertinya itu adalah rumah keluarga Hutama saat masih kokoh berdiri.
Dr Paula datang mengunjungi Leon. Ia masuk setelah mengetuk pintu, meminta izin kepada Leon, apakah Leon bersedia untuk dikunjungi.
“Gimana keadaan kamu, Nak?” Dr Paula berdiri tepat di samping ranjang rumah sakit tempat dimana Leon berada.
Leon tersenyum. Sepertinya Ia sudah mulai menerima keadaan, dan juga mulai membuka diri kepada dr Paula.
“Baik,” jawabnya singkat.
Dr Paula juga memberikan senyuman kepada Leon. Ia merasa lega, mengetahui Leon sudah meresponnya dengan hangat.
“Boleh saya bertanya?” Dr Paula sepertinya ingin mengorek informasi dari Leon.
Leon belum bersedia menjelaskan apa yang dialaminya saat kejadian kebakaran yang menghanguskan rumah keluarga Hutama. Ia selalu memberikan respon yang dingin, jika seseorang berusaha menanyainya mengenai kejadian itu.
Sepertinya masih tersisa rasa trauma pada diri Leon. Wajar saja, Ia baru mengalami kehilangan orang tua yang sangat dicintai dan sangat Ia sayangi.
Leon mengangguk dengan pelan, ketika dr Paula mencoba memberinya pertanyaan. Meskipun Leon masih belum menghentikan kegiatan menggambarnya, namun Ia menerima ajakan dr Paula untuk mendiskusikan sesuatu.
“Terima kasih, ya.” Dr Paula tersenyum sangat manis melihat respon hangat dari Leon.
“Kamu pernah dikenalkan ke paman dan tante kamu?”
“Paman dan tante?” Leon menggeleng tanda Ia asing dengan sebutan itu.
Sebenarnya, Leon memang memiliki beberapa paman dan tante, namun sepertinya Leon paham kemana arah pertanyaan itu.
“Tidak pernah?” Dr Paula menanyakan kembali, agar dijawab dengan jelas oleh Leon.
Leon pun menggeleng. Ia masih melanjutkan menggambar bunga-bunga itu.
“Itu bunga apa?” Dr Paula mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Krisan.”
“Krisan? Kamu suka bunga itu?”
Leon menggeleng. “Mama suka bunga krisan.”
Dr Paula terdiam. Ia ingat bahwa mama Leon memang gemar menanam dan mengoleksi segala jenis bunga, sejak dirinya masih gadis.
“Sejak kapan mama kamu suka bunga itu?”
Leon diam, menghentikan tangannya di atas kertas kanvas. “Hem ... setahun yang lalu, mungkin.”
“Mama pernah bilang itu ke kamu?”
Leon menggeleng, kemudian sudut bibirnya terangkat. “Mama suka beli bunga ini, aku yang bantu menata di taman.”
“Saya dulu teman dekat mama kamu loh.”
Leon hanya diam. Ia masih melanjutkan menggambar bunga kesukaan mamanya.
“Sejak dulu, masa sekolah, mama kamh memang suka sama bunga.”
Dr Paula tersenyum kala mengingat kenangan lama bersama temannya.
“Dia suka yang indah-indah, seindah dirinya sendiri.”
Leon tersenyum mendengar pujian yang diberikan untuk mendiang mama yang dicintainya itu. Ia berandai jika mamanya saat ini ada disini, pasti Ia tidak akan pernah mengacuhkan mamanya hingga akhir hayatnya.
“Papa?” tanya Leon, masih dengan fokus menggambar yang tidak hilang.
Dr Paula mulai mengambil tempat duduk di sebelah ranjang Leon. Ia duduk disana bersiap untuk menceritakan kenangan indah lebih banyak.
“Papa kamu dulu favorit di sekolah. Pacarnya banyak ... hahaha.” Dr Paula mencoba menyelipkan candaan, agar Leon bisa menampilkan tawanya.
Leon hanya tersenyum.
“Papa kamu dulu yang paling tampan, pacarnya sedikit, karena gak sembarangan orang bisa dijadikan pacar papa kamu.”
Leon menghentikan tangannya dari menari indah di atas kertas kanvas yang telah hampir selesai dihias. Ia menatap dr Paula. Memerhatikan dr Paula saat menjelaskan kenangannya bersama mama dan papanya.
“Mama kamu dulu tuh jarang keluar kelas, rajin banget anaknya. Kalau diajak main keluar, pasti alasannya dia mau beresin taman rumahnya.”
Leon tersenyum. Senyumnya semakin melebar.
“Dulu di kamar mama kamu, ada taman kecil di balkonnya. Dia suka banget sama bunga-bunga apapun.”
Leon tiba-tiba terdiam. Ekspresinya kembali datar.
Dr Paula yang sedang berbahagia mengenang masa-masa indah bersama mama dan papa Leon, terkejut saat mengetahui ekspresi Leon.
“Sebenarnya anda siapa?” tanya Leon dengan ekspresi datar.
“Leon?” Dr Paula kebingungan, mengapa Leon jadi seperti ini.
“Apa yang kalian mau dari aku?” Wajahnya kini menampilkan ekspresi marah, meskipun hanya sedikit.
Sepertinya, Leon mulai terganggu.
“Leon ... kamu jangan salah paham dulu. Saya dan rekan-rekan, ingin membantu kamu mendapat kejelasan mengenai kejadian kebakaran rumah kalian.”
Leon melemparkan peralatan menggambarnya ke lantai. Ia membaringkan tubuhnya dengan membelakangi dr Paula. Ia menutupi dirinya dengan selimut.
Dr Paula pun keluar dari ruangan Leon dengan rasa keheranan. Ia segera mencari psikiater untuk menceritakan hal ini. Sepertinya ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada Leon.
“Leon....” Suara lembut dari seorang wanita, tertangkap di rungu Leon.
Leon membalikkan tubuhnya menghadap ke sumber suara, mengangkat selimut hangat yang menutupi tubuh hingga kepalanya.
“Mama?” Leon duduk dari tidurnya.
Matanya berkaca-kaca seakan bersiap menyemburkan seluruh air mata yang tersimpan sejak lama. Ia mengusap perlahan rintik air yang membasahi pipinya.
Wanita itu tersenyum, mengelus surai rambut anaknya yang paling Ia cintai dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Matanya menatap lekat wajah anak yang dirindukannya.
Leon merasakan hangatnya cinta yang diberikan sang mama, hanya dari usakan rambut. Ia semakin menangis dalam diamnya.
Anak dan mama itu saling melempar tatapan kasih sayang, seakan tak memberi kesempatan pada waktu untuk memisahkan keduanya. Tangan Leon segera meraih tangan mamanya yang terdsu menerus mengelus surainya.
Ia tidak ingin hilang kesempatan untuk menggenggam tangan wanita yang dikasihinya. Ia genggam tangan mamanya sambil terus memerhatikan lekat wajah sang mama yang begitu cantik dan bersinar.
“Ma, maafin Leon....” Suaranya bergetar, ada tangis dalam benaknya.
Sang mama turut menangis, air mata membasahi kulitnya yang mulus dan bersinar. Matanya basah oleh air mata, namun tidak sekalipun Ia hapus air mata itu.
“Mama disini aja ya, temenin Leon,” pinta Leon masih dengan menggenggam erat tangan sang mama.
Sang mama meraih tubuh anaknya, Ia rengkuh dalam pelukan yang begitu hangat dirasakan oleh Leon. Seluruh dunia seakan dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang, jika sedang dalam pelukan mama.
Leon melepaskan pelukan mama dengan pelan, Ia menunjukkan lengannya yang terluka. “Ma ... lihat. Ini sakit, Ma.”
Sang mama hanya menatap luka itu. Ia elus lembut bagian yang tidak terluka. Kemudian Ia menatap mata anaknya.
“Kamu akan baik-baik aja, Nak. Teman-teman mama yang akan bantu kamu. Kamu bantu mereka juga ya, Nak.”
“Ma ... aku gak bisa sendiri, aku butuh mama.”
“Kamu bisa, Nak. Mama akan bantu kamu dari sini.”
Air mata menemani mereka berdua bercengkrama. Leon masih menggenggam erat tangan sang mama, tidak mengizinkan mama untuk pergi.
“Mama mau kemana?” Leon bergerak gusar kala sang mama menarik kembali tangannya dan bersiap untuk pergi.
Mama Leon hanya tersenyum dan melambai pada anaknya. Gaun putihnya bergerak dengan indah, mengikuti arah angin.
Leon beranjak dari duduknya di atas tempat tidur, berusaha meraih tangan mamanya.
“Ma....” panggil Leon dengan suara putus asa.
Sang mama hanya tersenyum dengan bulir air mata membanjiri, tangannya kini tidak lagi melambai.
“Maa....” Suara Leon masih terdengar putus asa, tangisnya pun masih mengiringi.
Mama Leon sudah menjauh dari eksistensi Leon. Leon masih menangisi kepergian mamanya.
Leon berteriak. “Maaaaa!! Mama!”
Tangannya meraih di udara. Rasa sakit di tangannya tidak lagi Ia pedulikan.
Leon bergerak gusar di atas tempat tidurnya. Tangannya meraih ke udara, berharap bisa mencegah kepergian mamanya.
“Maaaaaaa....” Teriak Leon semakin keras.
“Leon! Leon!” Seseorang berusaha menyadarkan Leon.
Leon membuka mata, menemukan seseorang sedang berusaha membangunkan dirinya. Tubuhnya digoyang-goyangkan dengan pelan namun menuntut.
Leon tersadar, ini semua hanya mimpi....
“Leon, kamu kenapa?” tanya Dr Paula.
Dr Paula sering berkunjung untuk melihat keadaan Leon di rumah sakit. Ia khawatir, mengetahui bahwa Leon benar-benar tinggal sendiri disini.
Keadaan Leon yang sedang sakit, menjadikan dr Paula semakin merasa khawatir terhadap Leon.
Leon menatap kosong, plafon yang berada di atasnya. Ia masih memikirkan apa yang Ia mimpikan barusan.
Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama sang mama. Ia masih ingin bercerita, mengadu, dan bermanja dengan mamanya. Hidupnya terasa hampa saat ini