Nail Polish

1577 Kata
“Inspektur, sepertinya harus dilakukan olah tempat kejadian perkara lanjutan. Saya yakin, masih ada beberapa hal terlewat.” Inspektur Jusuf terdiam, dan sepertinya Ia memikirkan apa yang dr Paula bilang barusan. Inspektur Jusuf kemudian mengiyakan saran dari dr Paula. Ia langsung menghubungi tim untuk membantunya di lapangan. Mereka segera menuju lokasi kejadian yaitu rumah keluarga Hutama. Di tempat kejadian perkara, sudah ada seseorang yang sedang sibuk seakan sedang mencari sesuatu. “Hey!” Inspektur Jusuf langsung memanggil orang itu. Inspektur Jusuf segera berjalan dengan cepat, untuk meminta keterangan pada orang yang berada di lokasi kejadian. Masalahnya, garis polisi telah terpasang di sekitar area kejadian kebakaran yang menghanguskan rumah keluarga Hutama. Namun, orang yang tidak dikenal, dan jika diperhatikan juga bukan merupakan pihak kepolisian maupun salah satu anggota dari tim penyelidikan. Orang yang dipanggil oleh Inspektur Jusud langsung berlari memasuki pekarangan rumah yang tepat berada di depan rumah keluarga Hutama. Inspektur Jusuf juga mendatangi rumah tersebut, untuk meminta keterangan kepada orang tersebut. Apa yang Ia lakukan sebenarnya di lokasi kejadian, padahal telah jelas terpasang garis polisi, tanda bahwa tidak seorangpun memasuki area bergaris polisi jika tidak diizinkan. Pintu rumah yang didatangi orang tersebut, segera ditutup dan menciptakan bunyi keras. Tok tok tok tok.... Suara ketukan terdengar di depan pintu. Inspektur Jusuf mengetuk pintu rumah itu, berharap bisa mendapat jawaban. Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah, membuka pintu dengan perlahan. “Ya?” tanya wanita itu. Inspektur Jusuf bertanya mengenai orang yang Ia lihat di lokasi kejadian. “Mohon maaf, apakah anda kenal seorang remaja laki-laki berada di lingkungan rumah ini? Tingginya sekitar segini.” Inspektur Jusuf mengisyaratkan tinggi badan orang yang dimaksud. “Ada apa ya, Pak?” Wanita itu kebingungan. Bagaimana tidak, seorang pria yang tiba-tiba mengetuk pintu rumahnya, menanyakan sesuatu yang Ia kira tidak cukup penting untuk dijadikan alasan untuk mengetuk pintu rumah orang lain. “Saya dari kepolisian, sedang akan melakukan olah tempat kejadian perkara yaitu rumah keluarga Hutama yang berada di depan sana. Barusan saya lihat ada seseorang berada di dalam area bergaris polisi, dan setelah dipanggil, Ia berlari memasuki rumah ini. Jadi, saya bertanya jika Ibu mengenal remaja laki-laki yang berada di rumah ini atau sekitar kompleks ini.” “Oh. iya, Pak. Saya punya anak cowok, tapi saya gak tau kalau yang bapak maksud apakah benar anak saya. Sebentar saya tanyakan.” Wanita itu masuk ke dalam rumahnya, untuk menanyakan kepada sang anak. “Mohon maaf, Pak. Sepertinya anak saya tidak tahu apa-apa mengenai itu.” Si wanita itu langsung menutup pintu rumahnya, namun Inspektur Jusuf menahan pintu yang akan ditutup oleh wanita itu. “Kalau begitu, saya mohon kerja samanya, Bu. Kalau sekiranya benar itu adalah anak ibu, kami mohon untuk memberitahu kepada tim kami, mengenai apa yang diketahuinya saat berada di area yang bergaris polisi. Kami hanya ingin memastikan, tidak ada suatu apapun yang diambil oleh siapapun di area tersebut.” Wanita itu mengangguk. “Terima kasih. Selamat siang.” Insoektur Jusuf segera keluar dari pekarangan rumah itu. Inspektur Jusuf segera mengelilingi lokasi rumah keluarga Hutama. Ia mengelilingi dalam beberapa kali hitungan, khawatir ada yang terlewat seperti yang dr Paula ceritakan. Rumah yang dulunya berdiri dengan kokoh, didesain indah dan luas, kini hampir rata dengan tanah. Hanya menyisakan beberapa tembok dan pasak tiang di beberapa lokasi. Inspektur Jusuf memasuki reruntuhan rumah, Ia memilih untuk pergi ke lantai dua, untuk melihat ke kamar Leon. Kamar Leon tidak sepenuhnya habis oleh api. Masih terdapat beberapa barang yang belum terbakar. Bahkan tempat tidur Leon masih utuh, hanya tersanbar api di sisi sebelah tempat tidur. Di kamar Leon, Inspektur Jusuf menemukan banyak karya-karya Leon. Dari mulai sketsa kasar, kertas dengan penuh coretan, hingga karya lukis yang telah selesai Ia gambar. Sebuah kanvas berlukiskan apel yang telah sedikit memiliki bekas gigitan, menarik perhatian Inspektur Jusuf. Ia mengambil kanvas berukuran sedang itu. Ia perhatikan dengan fokus, Ia berusaha menebak maksud dan filosofi dari karya tersebut. Ia menebak bahwa karya itu hanya hasil dari isengnya seseorang. Seseorang itu sepertinya Leon. Karena karya itu ditemukan di kamar Leon. Inspektur Jusuf keluar dari kamar Leon di lantai dua. Pada lantai dua rumah keluarga Hutama, hanya ada satu kamar yaitu kamar Leon. Ruangan lainnya diisi oleh beberapa barang, dan ruangannya sepertinya dijadikan kamar tamu. Di lantai dua, di sisi kiri dari kamar Leon, Inspektur Jusuf melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia menuju sumber yang membuat dirinya penasaran. Ia sentuh, dan menimbulkan bunyi gaduh. Inspektur Jusuf menemukan sebuah kantong plastik berwarna hitam pekat, belum diketahui isinya. Seingat Inspektur Jusuf, kantong plastik itu tidak berada di sana, saat terakhir kali Ia berada di sekitar tempat kejadian perkara. “Ada yang tahu ini apa?” Inspektur Jusuf bertanya kepada anggotanya. Seluruh anggotanya menjawab tidak, dan beberapa mengaku baru melihat itu disana. Sepertinya benar, kantong plastik itu baru saja diletakkan di sana, sehingga saat olah tempat kejadian perkara waktu itu, tidak satupun melihat kantong plastik itu. Inspektur Jusuf segera mengambil gambar dari penemuannya itu. Setelahnya, Ia membuka kantong plastik yang berukuran lumayan besar, dan diikat cukup kencang. Saat dibuka, isi dari kantong plastik tersebut mengeluarkan suara seperti wadah plastik yang berjumlah cukup banyak. Inspektuf Jusuf mengambil salah satu dari sebagian banyak isi dari plastik tersebut. Ia melihat dan memerhatikan. “Nail Polish Remover.” Inspektur Jusuf membaca tulisan yang terdapat pada kemasan wadah yang Ia tuliskan. “Kenapa banyak sekali ya?” Salah satu anggota Inspektur Jusuf bertanya. Inspektur Jusuf hanya diam dan terus memerhatikan apa yang ditemukannya itu. Ia coba ambil beberapa barang lagi dari dalam kantong plastik hitam itu, Ia baca semuanya dan seluruhnya memiliki bentuk yang sama. “Bawa ini ke dr Paula, sekarang.” Inspektur Jusuf memerintah salah satu anggotanya. Inspektur Jusuf sepertinya memiliki firasat aneh pada barang-barang itu. “Tolong kabarkan ke pihak kepolisian untuk memberi penjagaan di lokasi ini. Sepertinya ada seseorang yang masuk dan meletakkan sesuatu disini.” “Baik, Pak.” Inspektur Jusuf semakin bersemangat dalam melakukan tindakan olah tempat kejadian perkara. Karena penemuannya itu, semangatnya semakin berkobar. “Halo? Dok, tolong segera diidentifikasi barang yang dikirim tadi, ya.” Inspektur Jusuf menelepon dr Paula, meminta bantuan rekannya itu. “Hanya nail polish remover. Ada apa dengan barang-barang itu?” Dr Paula menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada Inspektur Jusuf yang telah berada di ruangan dr Paula. Sebenarnya, dr Paula merasa sedikit kesal. Pasalnya, Ia memiliki pekerjaan yang lebih urgent. Namun, Inspektur Jusuf malah memintanya mengidentifikasi banyak botol kosong bekas nail polish remover. “Itu tadi ditemukan di rumah keluarga Hutama. Padahal sebelumnya, lokasi itu sudah benar-benar bersih dan tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.” “Gimana? Berarti botol bekas nail polish remover yang kalian temukan itu, sebelumnya tidak ada disana?” Inspektur Jusuf mengangguk. “Tolong cek kandungan dari nail polish remover yang sama dengan merk yang ditemukan tadi. Laporkan segera.” Dr Paula merasa semakin kesal. Hilang sudah waktu istirahat yang Ia miliki malam ini. Seharusnya Ia bisa mengerjakan pekerjaannya yang lain, dan bisa segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Jika sudah begini, dirinya diharuskan lembur. Ini sudah memasuki akhir pekan, jadi Ia sebaiknya mengambil waktu lembur untuk menyelesaikan semuanya. Agar waktu akhir pekannya tidak diganggu oleh yang namanya pekerjaan. Dr Paula segera keluar dari ruangannya untuk mencari nail polish remover yabg dimaksud. Ia mencari dari toko ke toko, swalayan, dan apotek. Untung saja, Ia bisa menemukan di salah satu swalayan yang masih buka di waktu saat ini. Waktu sudah cukup larut untuk digunakan bekerja mengidentifikasi hal-hal yang dirasa tidak cukup urgent. Namun, mau bagaimana lagi, sudah janji yang dibuat oleh dr Paula untuk mencari tahu kejelasan kematian teman dekatnya semasa sekolah dulu. “Besok pagi udah bisa keluar hasilnya. Malam ini waktunya istirahat.” Dr Paula menyampaikan hal itu kepada Insoektur Jusuf yang sedang termenung di meja kerja dr Paula. Karena sudah memasuki waktu pulang kerja, dr Paula bersiap untuk pulang ke rumahnya. Ia mengambil tasnya, menyusun dan segera keluar dari ruangannya. Tangannya sudah bersiap mengunci ruangannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Besok pagi dikabarin lagi.” Dr Paula berjalan meninggalkan Inspektur Jusuf. Inspektur Jusuf mengikuti langkah dr Paula. “Kira-kira untuk apa ya botol-botol itu?” Dr Paula hanya diam dan terus berjalan meninggalkan gedung tempat dimana Ia bekerja. “Helen punya usaha nail polish?” “Dari dulu, kuku Helen hanya pink alami, gak pernah dicat atau bahkan dikasih pengkilat juga enggak.” “Trus untuk apa nail polish remover itu? Gak mungkin kan itu sampah salah satu warga kompleks itu?” “Mungkin aja, kenapa engga?” “Masalahnya, itu ditemukan di dlantai dua, dekat dengan kamar Leon. Lagipula, warga situ kan lumayan tinggi tingkat intelektualitasnya, tidak mungkinlah mereka sembarangan membuang sampah.” “Bagaimana kalau botol-botol itu sengaja diletakkan disitu untuk mengecoh tim penyelidikan?” Inspektur Jusuf hanya diam. Meninggalkan suara langkah kaki di geudng yang cukup luas dan sudah gelap itu. “Kalian juga kenapa cepat banget nyimpulkan kalau itu ada hubungannya sama kasus ini.” “Semua bisa jadi saksi, semua bisa jadi tersangka. Bukannya itu yang kamu bilang di briefing beberapa waktu lalu?” Dr Paula terdiam. Ia membuka pintu mobilnya. Memasukkan barang-barang bawaanya ke kursi belakang mobil. “Ya sudah. Tunggu sampai besok pagi, semoga kita gak ngelakuin pekerjaan yang sia-sia.” Kata-kata pekerjaan yang sia-sia, terngiang di kepala Inspektur Jusuf. Ia berdiri dengan tegak dan menunduk di area parkir gedung. Area parkir sudah cukup gelap, dan tidak terlihat seorangpun berada disana selain dirinya. “Ya juga,” batin Inspektur Jusuf. Segera Ia beranjak dari tempatnya berdiri, menuju lokasi parkir dimana mobilnya berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN