The book

1603 Kata
Jalanan yang padat menandakan banyaknya ornag yang hendak pergi memulai aktivitasnya. Hari yang cukup terik, bahkan awan tidak sedikitpun mendekati sang surya. Kantor kepolisian hari ini cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang yang berkepentingan. Baik sebagai pelapor maupun terlapor. Kota ini entah sedang dilanda apa, sehingga begitu banyak mengalami keanehan yang memaksa pihak kepolisian untuk turun tangan. Bryan memberanikan diri untuk memberhentikan sebuah taxi di jalanan. Ia melambaikan tangan ke arah jalanan dari pinggir jalan, tempat dimana dirinya berdiri. Ia menirukan Leon saat akan menyetop sebuah taxi untuk mereka di waktu-waktu yang telah lalu. Sebuah mobil berukuran sedang, berhenti tepat di depan jalanan dimana Bryan berdiri di pinggirnya. Kaca mobil itu perlahan turun dan menampilkan seorang pria paruh baya berada di kursi kemudi. Bryan langsung membuka pintu belakang mobil, dan mengambil posisi duduk. Ia sebutkan arah tujuannya, dan meminta untuk segera diantarkan kesana. Mobil melaju dengan kecepatan standar. Mereka masih berada di tengah kota, dimana jalanan berisi begitu banyak kenderaan, dan memang tidak dianjurkan untuk melaju kencang di jalanan yang terbilang padat itu. “Mau ngapain dek ke sana?” Sang supir membuka pembicaraan dengan Bryan yang sedang diam memerhatikan jalanan dari kaca jendela mobil. Bryan menoleh ke depan, sebentar. Ia tidak menjawab. Ia sebenarnya kesal jika ditanyai oleh orang yang tidak dikenal. Supir yang tidak mendapat respon baik dari Bryan hanya bisa berdehem singkat. Supir itu masih penasaran terhadap Bryan. Ia memerhatikan Bryan dari kaca yang tergantung di atas dashboard mobil. “Kamu mau sekolah? Tapi kok ke kantor polisi?” Supir taxi masih saja tidak menyerah dalam mengajak Bryan berbicara. Bryan menggeleng. Ia memerhatikan buku yang sedang dipegangnya dan diletak di atas pahanya sendiri. Ia pergi tanpa menggunakan tas atau membawa dompet. Ia hanya pergi membawa sebuah buku. “Sudah sampai.” Bryan tiba di lokasi yang ingin ditujunya. Ia bahkan memberikan seluruh uang yang Ia punyai kepada sang supir. Beruntungnya, supir itu merupakanbpria jujur dan baik hati. Beliau tidak memanfaatkan keadaan di saat seperti ini. Bryan berdiri di depan gerbang yang lebih besar dari dirinya. Ia perhatikan luasnya pekarangan yang ada di depan matanya. “Ada yang bisa dibantu?” Seorang satpam yang sedang berdiri di dekat pos jaga, menghampiri Bryan. Bryan sedikit ketakutan melihat seorang pria dengan postur tegap dan garis wajah yang tegas menghampirinya. Biasanya, Ia meminta bantuan sang mama, kakak ataupun Leon, jika bertemu dan berbicara dengan orang asing. Kali ini, Bryan harus memberanikan diri berbicara dan meminta bantuan kepada pria itu. “Mau ketemu Pak Polisi,” jawabnya singkat. “Untuk apa?” Bryan tambah kebingungan mendengar pertanyaan pria tegap itu. Ia masih diam dan menimbang-nimbang akan memberi jawaban apa. Karena dirinya juga sebenarnya bingung akan menjumpai siapa di sana. Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap memasuki area kantor kepolisian, dimana Bryan sedang berdiri di dekat pos jaga kantor itu. Mobil itu tiba-tiba saja berhenti di dekat pos jaga. Kaca mobil itu perlahan diturunkan, menampilkan pria paruh baya yang beberapa waktu lalu pernah Bryan lihat di sekitar rumahnya. “Tunggu disini.” Pria yang di dalam mobil itu memerintah kepada Bryan untuk tetap berada di tempatnya. Bryan berdiri mematung. Ia merasakan takut yang amat sangat menguasai dirinya. Pria itu berjalan menuju tempat dimana Bryan berdiri. Bryan berjalan ke belakang tubuh pria tegap yang bersamanya sejak tadi di pos jaga. Ia bersembunyi di balik tubuh pria tegap itu. “Ayo ikut saya sebentar. Kamu sama siapa kesini? Mau ketemu siapa?” Sebenarnya, suara pria dari mobil hitsm itu tidak begitu menakutkan. Hanya saja, Bryan memang terlalu takut berbicara dengan orang asing. Jadi, Ia hanya menunduk dan berharap dirinya tidak akan terkena masalah. Pria tegap yang berada di depan Bryan pun menyahuti pria dari mobil hitam itu. “Tadi saya udah nanya, Pak. Sepertinya dia kebingungan, Pak.” “Ikut saya ke dalam kantor ya. Saya akan bantu kamu.” Bryan hanya bisa pasrah. Pasalnya, Ia sudah berada di dalam pekarangan kantor, dan akan lama jika harus menunggu taxi untuk mengizinkannya menumpang. “Duduk disini. Sebentar saya nanti kesini lagi.” Pria si pengemudi mobil hitam itu berjalan entah kemana, meninggalkan Bryan di kursi di depan sebuah meja dengan komputer dan berkas-berkas. “Silahkan diminum.” Pria itu ternyata membawa segelas teh hangat, dan Ia berikan kepada Bryan. Bryan mengingat pesan mamanya, untuk tidak menerima pemberian orang asing, terlebih dalam bentuk makanan atau minuman. Jadi, Ia hanya membiarkan gelas itu dipegangnya dan diletak di antara pahanya. “Sepertinya saya pernah lihat kamu.” Pria itu mengambil kursi dan duduk di hadapan Bryan. Bryan menggeleng dan masih menunduk sejak kedatangannya di dalam kantor ini. “Kamu kan yang kemarin lari saat saya panggil?” Bryan masih menunduk sambil memerhatikan bulir air yang hilang timbul di dalam gelas tehnya. Karena takut dan cemas, Ia jadi tidak memberikan fokus sepenuhnya pada pria itu. “Jangan takut. Saya Inspektur Jusuf, saya kerja di kantor ini. Kamu mau ngapain kesini sendirian?” “Om kenal Leon?” Bryan akhirnya mengeluarkan suaranya dan bertanya. “Leon?” Pria itu mengangguk. Matanya masih lekat memerhatikan Bryan. Ia langsung menyadari, bahwa Bryan memiliki perbedaan dengan anak seusianya. “Leon dimana sekarang? Aku mau ketemu Leon.” “Kenapa kamu cari Leon disini?” “Aku tanya kakak, kalau mau cari orang hilang itu dimana. Lalu, kakak bilang di kantor ini, aku datang bawa ini. Ini punya Leon. Aku mau kasih ke Leon.” Bryan memberikan sebuah buku yang sudah ditutupi bekas terbakar, kepada Inspektur Jusuf yang sedang bersamanya. Inspektu Jusuf membuka lembaran demi lembaran pada buku yang hampir hangus itu. “Ini punya Leon?” Bryan mengangguk. Ia masih menunjukkan gestur tidak nyaman terhadap Inspektur Jusuf. Bryan biasanya tidak akan memandang mata lawan bicaranya, jika Ia merasa tidak nyaman. Sebaliknya, Ia akan menatap mata lawan bicaranya dengan lekat, jika Ia nyaman berada di sekitar orang itu. “Dari mana kamu dapat buku ini?” Bryan diam. Kemudian Ia pamit untuk pulang, namun ditahan oleh Inspektur Jusuf. “Kamu pulang naik apa?” Bryan hanya diam. Ia sibuk berusaha melepaskan genggaman tangan Inspektur Jusuf yang menahan lengannya. “Biar saya antar.” Inspektur Jusuf segera membawanya keluar dari gedung itu. Bryan hanya bisa pasrah. Ia ingin menangis, dan berharap ada orang yang akan membantunya. “Mama....” Bryan menggumam. Ia kini berada di dalam mobil bersama Inspektur Jusuf. Untung saja, Bryan berada di tangan orang yang tepat. Kota sebesar dan seaktif ini, tentu di dalamnya terdapat beragam orang dnegan kepribadian dan karakter berbeda. Ada yang baik, dan tentu ada yang jahat. Jika melihat Bryan yang mudah sekali dipengaruhi, penakut, dan dianggap lemah, orang dengan karakter jahat pasti sudah mengambil kesempatan emas itu. Terlebih saat melihat Bryan sendirian dan kebingungan, dengan beberapa lembar uang di genggamannya. Pastilah orang yang berhati jahat akan mengganggu Bryan. “Mama. Ma....” Bryan menggumam pelan. Ia duduk di kursi sebelah pengemudi, yaitu Inspektur Jusuf. “Saya teman baik papa dan mama Leon. Saya gak akan jahat ke kamu.” Inspektur Jusuf berbicara di sela kegiatannya menyetir di jalanan yang cukup sibuk ini. “Mama dan papa Leon dimana? Mereka pindah ya?” Bryan akhirnya tidak menggumamkan mama lagi. Inspektur Jusuf hanya diam tanpa merespon Bryan. Tanpa sadar, mobil yang dikendarai Inspektur Jusuf dan Bryan, kini sudah memasuki kompleks perumahan Bryan. “Depan kompleks, lurus, belok kiri, lurus, rumah warna kiri.” Ia menjelaskan arah rumahnya tanpa diminta. Mama Bryan sudah menunggu di depan rumah mereka. Sepertinya, ada kecemasan dan khawatir dari ekspresi mama Bryan. “Mamaaa!” Bryan segera turun dan melompat dari mobil, menghampiri mama tercintanya. “Kamu dari mana aja? Mama khawatir banget. Kamu jangan pergi sembarangan gak bilang mama ya, Nak. Ya ampun, ada-ada saja....” Mama Bryan menyadari ada seorang pria yang berdiri di sebelah Bryan. Ia melihat ke arah pria itu. Sepertinya tidak asing. “Kamu masuk dulu, nanti mama ke dalem ya.” Ia memerintahkan anaknya untuk masuk ke rumah terlebih dahulu. “Mohon maaf sebelumnya anda siapa? Kenapa anak saya bisa bersama anda?” Nada suara mama Bryan menjadi tegas, berbeda saat tadi Ia berbicara dengan anaknya. “Saya ketemu dia di kantor polisi. Karena saya inget, pernah ketemu di kompleks sini, jadi saya coba bantu.” “Kantor polisi? Gak mungkin anak saya bisa sampai sana.” Mama Bryan jelas saja tidak percaya dengan omongan pria yang dianggapnya asing itu. “Saya juga gak paham, kenapa dia bisa sampai sana. Saya hanya niat membantu, saya khawatir dia akan ditipu oleh orang, kalau dibiarkan jalan sendiri.” “O-oh b-begitu ... terimakasih banyak ya, sudah membantu anak saya.” Mama Bryan buru-buru meninggalkan Inspektur Jusuf di pekarangan rumahnya. “Sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan.” Mama Bryan berbalik menghadap Inspektur Jusuf yang meminta waktu untuk membicarakan sesuatu. “Silahkan.” Inspektur Jusuf melihat ke kiri dan kanan, memerhatikan sekitarb apakah ada orang lain di dekat mereka. “Saya kemarin lihat anak anda, berada di area bergaris polisi. Seharusnya, halnitu tidak diizinkan, dan jika memungkinkan akan diberi hukuman apabila melanggar.” “A-anak saya? Gak mungkin.” Mama Bryan bersikeras bahwa itu bukan anaknya. Inspektur Jusuf berlari ke mobilnya, mengambil sesuatu dari kursi belakang mobilnya. Kemudian berlari kembali ke arah mama Bryan. “Ini bukti bahwa anak anda benar berada di area bergaris polisi. Saya akan beri keringanan hukuman, jika anda dan anak anda bersedia melakukan kerja sama yang kooperatif dalam kasus ini.” “Kasus?” “Ya, kasus kebakaran rumah keluarga Hutama. Hingga hari ini, masih cukup abu-abu.” Mama Bryan menyesal, telah membiarkan anaknya berkeliaran di area bergaris polisi yablng sudah pasti dilarang memasuki area itu tanpa seizin pihak terkait. “Bantu bagaimana?” Mama Bryan berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan anaknya dari hukuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN