“Bantu kita untuk mencari tahu penyebab pada kasus ini. Saya melihat, bahwa anak anda cukup dekat dengan Leon. Saat ini, Leon sulit untuk dimintai keterangan, begitu juga dengan anak anda.”
“Anak saya?”
“Saat di kantor tadi, saya sempat mencoba berbicara dengan anak anda, tapi sepertinya dia kurang nyaman untuk berbicara dengan saya. Saya tidak ingin melibatkan anggota saya untuk berbicara dengan anak anda, saya tidak mau jika anak anda semakin merasa tidak nyaman.”
“Jadi, apa yang sebenarnya harus saya bicarakan dengan anak saya?”
“Hanya mengenai keluarga Hutama. Entah apapun itu, saya harap dapat memberi informasi berarti bagi tim kami dan juga keluarga Hutama itu sendiri.”
“Baiklah, nanti akan saya coba.”
Inspektur Jusuf merasa sedikit lega mendengar kesediaan dari mama Leon. Ia pun pamit untuk kembali melakukan aktivitasnya.
Sekali lagi, pria paruh baya itu menyusuri jalan yang sama. Ia kembali ke kantornya.
Inspektur Jusuf memilih berhenti di sebuah taman yang penuh dengan pepohonan dan tanaman hijau lainnua. Suasananya sejuk, cocok dijadikan tempat untuk memanjakan mata dan perasaan.
Ia memilih duduk di sebuah bangku taman, di sebelahnya terdapat pohon rindang dengan dahan yang cukupbesar dan tinggi yang mampu menaungi sekitar bangku itu.
Ia membuka sebuah buku yang ada di tangannya. Buku itu terlihat kusam dan gelap.
Inspektur Jusuf mencoba memerhatikan buku itu, dimulai dari sampul buku, pinggiran buku dan isi buku.
Di halaman pertama terdapat banyak tulisan yang terkesan seperti sebuah coretan, sehingga sulit untuk dibaca.
Inspektur Jusuf membaca buku itu bukan tanpa persiapan. Ia bahkan membawa buku catatan untuknya sendiri.
Ia menuliskan apapun yang dibacanya dari buku yang Bryan berikan kepadanya. Karena buku itu ditulis dengan banyak coretan, maka Inspektur Jusuf menuliskan kembali apa yang tertulis di buku, agar lebih mudah mengetahui maksud dari tulisannya.
“Tangga,” gumam Inspektur Jusuf sesuai dengan apa yang ditulis di buku itu.
Ia menyusun kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang masuk di akal. Meskipun kalimat yang tersusun itu bahkan tidak masuk di akal.
Buku yang ditemukan oleh Bryan itu ternyata berisi tulisan yang tidak begitu asing, namun tidak masuk di akal. Bryan yang bilang sebelumnya, bahwa buku itu adalah milik Leon, maka Inspektur Jusuf percaya jika buku itu memang milik Leon. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa tulisan-tulisan di dalamnya adalah hasil tulisan tangan Leon.
Inspektur Jusuf kemudian pergi ke rumah sakit, untuk mengunjungi Leon.
Leon masih dirawat di rumah sakit. Ia bahkan tidak menghadiri pemakaman orang tuanya. Keadaannya yang terbilang masih lemah, melarangnya pergi terlalu jauh dari rumah sakit.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu tertangkap rungu Leon. Ia sedang menggambar di atas ranjangnya. Televisi di dalam kamar, dibiarkan menyala untuk menemaninya.
Leon tidak menoleh sedikitpun ke arah pintu. Ia tahu, yang datang mengunjungi hanya orang-orang yang tidak dikenalinya.
“Selamat siang, Leon?” Inspektur Jusuf memasuki ruangan Leon, membawakan sebuah keranjang yang berisi buah-buahan.
Leon hanya menoleh dan melanjutkan kegiatannya menggambar. Ia menggambar seorang wanita mengenakan dress putih dan tampak bersinar.
“Kamu kenal Bryan?”
Leon terdiam. Ia pasti mengingat teman dekatnya itu.
“Gimana kalau saya undang dia ke sini?”
Ia mengangguk, dengan ekspresi yang biasa saja. Sulit diprediksi, dan terkesan dingin sebenarnya.
“Saya ketemu Bryan di rumah kamu.”
“Ngapain?”
“Saya juga gak tau. Dia langsung lari masuk ke rumahnya, pas saya panggil dia. Dia mudah takut ya anaknya?”
Leon mengangguk. Ia paham sekali, bagaimana Bryan, teman dekatnya itu mudah merasa takut dan panik.
“Dia nanyain kamu, katanya dia gak mau kehilangan teman lagi.”
Inspektur Jusuf sedang mengupaskan sebuah apel, untuk Ia sajikan kepada Leon.
Hari demi hari, orang-orang berkunjung, berusaha memberikan perhatian dan membantu Leon di rumah sakit.
Leon masih dengan sifat dan sikapnya yang dingin dan sedikit bicara. Namun, beberapa waktu, Ia akan berubah menjadi orang yang lumayan ramah jika diajak bicara.
Entah faktor apa sebenarnya, namun psikiater menyimpulkan bahwa hal itu murni karena perasaan Leon saja.
Jika perasaan Leon sedang dalam keadaan yang baik, maka Ia akan menanggapi orang yang berkunjung dengan ramah. Sebaliknya, jika perasaan Leon sedang tidak baik-baik saja, sedang bersedih dan marah, meskipun tanpa sebab, Ia tidak akan menanggapi apapun yang ada di sekitarnya.
.
“Bri. Dek ... kamu ngapain?” Mama Bryan memasuki kamar Bryan.
“Menonton,” jawab Bryan singkat.
“Matiin dulu boleh gak? Mama mau ajak ngobrol. Kamu gak kangen sama mama?”
Bryan sebenarnya malas untuk mematikan film yang ditontonnya, namun karena sang mama memaksa.
“Mama gak sibuk?” tanyanya.
“Eggak. Bri ... kamu ada ketemu Leon gak?”
Bryan menggeleng.
“Mama juga gak ada ketemu Leon. Kita ngobrol tentang Leon, kamu mau?”
Bryan menggeleng. Senyumnya merekah.
“Leon kok sekarang jarang main y, Ma?”
“Jarang main gimana?”
“Katanya sibuk.”
“Kamu ada ke rumah Leon?”
Ia diam dan menunduk. Memecah cookies di atas piring berukuran sedang. Tangannya sibuk memecah-mecah kepingan cookies cokelat bikinan sang mama.
“Bryan tau kan, kalau bohong itu dosa?”
Bryan mengangguk. Sepertinya Ia akan jujur saat ini juga.
“Aku ke rumah Leon, tapi rumahnya udah rusak. Untung aja, pintu kamar Leon masih ada, tapi rusak juga. Itu kenapa, Ma? Hitam-hitam juga semuanya.”
“Kemarin, rumah Leon kebakaran.Jadi, sekarang rumahnya rusak.”
“Loh, jadi Leon tidur dimana?”
“Leon diurus om yang kemarin anterin kamu ke rumah.”
Bryan diam dan menunduk lagi. Ia sadar, bahwa tindakannya yang pergi ke kantor polisi secara diam-diam itu salah.
“Kamu kemarin kenapa gak bilang ke mama waktu kamu ke kantor polisi?”
Bryan menunduk, suaranya Ia pelankan. “Aku takut mama gak izinin.”
“Emang kamu ngapain ke kantor polisi?”
“Waktu aku ke rumah Leon, ada buku di kamar Leon. Aku pernah dimarahi Leon karena buku itu. Jadi aku mau minta tolong ke kantor polisi untuk antarkan buku itu ke Leon.”
“Kenapa kamu dimarahin sama Leon? Emang buku apa?”
Bryan mengendikkan bahunya, tanda Ia tidak mengetahui alasan dirinya dimarahi oleh Leon pada saat itu.
Mama Bryan memikirkan mengenai buku apa itu sebenarnya. Kenapa buku itu menjadi pemeran utama saat ini. Baik Bryan dan Inspektur Jusuf, keduanya menceritakan mengenai buku itu.