“Hi, Leon!” Bryan datang dan langsung menyapa Leon.
Senyumnya merekah dan langkahnya cerah. Kakak Bryan membawa adiknya untuk duduk di tempat yang tersedia.
Leon yang dipanggil oleh Bryan, begitu tiba di cafe tersebut, langsung menuju ke meja yang dipilih oleh Bryan dan kakaknya.
Leon memberikan buku berukuran besar yang sepertinya buku itu adalah menu dari cafe tersebut.
“Gimana kabar kamu, Leon?” tanya wanita berambut blonde sebahu itu.
“Kabar baik, Kak,” jawab Leon singkat, sambil menunggu pesanan Bryan dan kakaknya.
Ya, saat ini Leon bekerja sebagai waiter dan barista di sebuah coffeeshop di lingkungan rumahnya dahulu.
Di sela memilih menu, kakak Bryan memberikan sebuah bingkisan. “Ini dari mama. Untuk stok makanan kamu di rumah.”
Leon mengambil bingkisan yang berukuran cukup besar itu. “Makasih, Kak. Sampein salam ke mama ya.”
Leon berjalan menuju bar, dimana dirinya akan menyiapkan pesanan yang telah dipilih oleh Bryan dan kakaknya.
Leon dan keluarga Bryan mash tetap berhubungan baik, setelah kejadian yang membuat nasib Leon berubah seratus delapan puluh derajat.
Keluarga Bryan terkadang memberikan bantuan berupa bahan makanan pokok, camilan, dan lauk yang ready to eat untuk stok makanan di rumah Leon.
Leon kini tinggal di sebuah rumah kontrakan yang berukuran kecil. Hanya cukup untuk dirinya tinggal sendiri. Sekedar tempat berteduh dari derasnya hujan dan teriknya panas saja.
Tidak ada lagi kemewahan dalam hidup Leon. Ia harus berusaha sendiri, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan keinginannya kini harus dikesampingkan, karena harus fokus pada kebutuhan pokok.
“Ini buat Bryan, ini buat kakak.” Leon menyajikan dua cup beverages buatannya ke meja.
Bryan bertepuk tangan dengan pelan, minuman yang dipesannya sudah datang. Ia juga meminta Leon untuk tetap bersama mereka, sekedar mengobrol dan bercerita.
Untung saja, coffeeshop itu sedang sunyi. Jadi, Leon memiliki banyak waktu untuk duduk bersama Bryan dan kakaknya.
“Jadi, kalau disini, kamu dapet libur berapa hari?”
“Dua doang, Kak.”
“Lingkungannya gimana? Nyaman kan di kamu?”
Leon mengangguk. Ia memerhatikan Bryan yang sedang sibuk menikmati minumannya, dan cheesecake yang Ia beli saat di perjalanan ke coffeeshop tadi.
“Kita baru bisa kesini, soalnya takut nggu pekerjaan kamu.”
Selama Leon bekerja di cofeeshop, keluarga Bryan baru memiliki kesempatan untuk berkunjung di hari ini. Selama setahun ini, mereka hanya mengirimkan bantuan ke alamat coffeeshop itu. Leon belum pernah memberikan alamat rumahnya pada siapapun.
“Kalau gak sibuk, main aja ke rumah, pas aku lagi libur, Bri.” Leon menawarkan kepada Bryan, yang tentu saja direspon dengan anggukan bahagia.
Bryan tentu saja sedang merindukan sahabatnya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu. Jika tidak segera dibuatkan minuman dengan rasa cokelat, sudah pasti Leon akan dipeluk erat oleh Bryan.
“Kamu masih nulis?”
“Masih. Lumayan, Kak. Bisa tambah-tambah penghasilanku.”
“Oh iya, syukurlah. Masih bareng sama kak Ravi?”
“Engga. Katanya dia udah ke luar negeri, ngelanjutin sekolahnya.”
Kakak Bryan dan Ravi sebenarnya saling mengenal. Hanya sebatas saling tahu nama saja, dan berteman di beberapa sosial media.
Setelah kejadian yang menimpa Leon dan keluarganya, Leon menjadi anak yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Orang-orang yang membantunya selama di rumah sakit, kini berhubungan baik dengannya. Meskipun Leon lebih sering menolak, jika ditawarkan bantuan apapun.
Leon lebih memilih untuk melanjutkan hidupnya sendiri. Memilih jalannya sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Ia merasa, dirinya ditakdirkan untuk berjuang sendirian, Ia tidak berharap siapapun dan apapun dari siapapun.
Kini, keadaan dirinya sudah cukup membaik. Meskipun, Leon didiagnosa beberapa kelainan pada psikologisnya akibat dari trauma yang dialaminya.
Leon juga masih melanjutkan kegemarannya menggambar dan melukis, juga menulis. Ia sering mengirimkan karya tulisannya ke beberapa media online, untuk dikomersialkan. Dari itu semua, Ia bisa mendapat penghasilan tambahan. Karya gambar dan lukisan yang Ia buat juga beberapa Ia komersialkan di beberapa media.
“Kalo aku bantu kamu disini boleh tidak?” Bryan mengucapkan permintaan yang tidak masuk akal.
Masuk akal sebenarnya, hanya saja, karena dirinya masih harus bersekolah, jadi sangat tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Leon pun tidak ingin memenuhi permintaan Bryan. Kakak Bryan bahkan terbelalak mendengar pertanyaan adiknya.
“Kamu sekolah aja dulu yang rajin,” jawab Leon.
“Aku bosen sekolah. Kalau aku disini kan aku sering dapet ini.” Bryan menunjuk minuman cokelat dinginnya menggunakan dagunya sendiri.
Leon dan kakak Bryan tertawa.
“Jadi, belum ada kabar dari kepolisian?”
Tiba-tiba saja, aura di antara mereka berubah menjadi sendu. Pertanyaannya tidak salah, hanya saja itu mengingatkan Leon pada keadaan setahun yang lalu.
Leon menggeleng. “Belum.”
Kasus kebakaran rumah keluarga Hutama masih menggantung. Sama seperti kasus-kasus lainnya. Entah apa sebenarnya yang membuat kasus itu sulit diselesaikan.
Akhir-akhir ini, kabar mengenai kasus Sisil akan ditetapkan sebagai kasus kecelakaan, sudah beredar. Entah ahnya sebatas rumor saja, atau benar akan diresmikan. Entahlah. Dunia semakin terdengar mengerikan.
“Kamu yang sabar ya. Semangat terus. Jangan sungkan minta bantuan ke kita. Kita selalu bantu kok, pasti akan bantu.”
“Bener. Kita akan bantu Leon. Leon mau ngapain emangnya?”
Pertanyaan dari Bryan mengundang tawa geli dari kakak dan sahabatnya. Sejak tadi, Bryan hanya fokus ke minumannya saja. Lucu sekali.
Hitung-hitung, tingkah lucu Bryan itu dapat menjadi penyegar bagi hari-hari berat yang telah Leon lalui. Sudah setahun tidak bertemu, sifat dan sikap Bryan masih sama. Mampu memunculkan senyum di wajah Leon.
Meskipun tidak bertemu, keduanya aktif berhubungan melalui ponsel. Mama Bryan juga selalu mencari tahu keadaan dan situasi yang Leon alami. Mama Bryan menjadi penolong bagi Leon, penolong yang siaga, walaupun tidak pernah diminta oleh Leon.
.
“Ma ... Leon dibantu terus sama teman-teman mama.” Leon berbicara pada sebuah bingkai foto yang berisi potret indah dari mamanya dahulu.
“Mama jangan khawatir. Leon udah nggak kenapa-kenapa. Leon udah bisa nerima semua, Ma.”
Air matanya kian menetes menemani sesi curhatnya dengan sang mama, meskipun melalui foto.
“Satu yang Leon gak bisa terima, kenapa harus mama....”
Air matanya seakan tidak bisa berhenti menetes. Wajahnya basah dialiri air mata tanpa henti.
“Leon akan terus hidup, Ma. Leon akan banggain mama. Karya-karya Leon sekarang udah dikenal orang, meskipun tidak termasuk karya yang luar biasa di mata orang-orang.”
Kegiatan ini Ia lakukan setiap kali dirinya baru memasuki rumah, seusai melakukan aktivitas seharian di luar rumah.
Sejak dulu, Leon memiliki kebiasaan bercerita tentang harinya kepada sang mama. Namun, kini sudah tidak ada lagi teman untuk bercerita.
Kesepian dan kesedihan yang mendalam, menjadikan traumanya sulit untuk sembuh. Terlebih, pikirannya masih dibayang-bayangi oleh kejadian dahulu.
Leon sebenarnya diharuskan untuk periksa rutin ke psikiater yang membantunya di rumah sakit, saat dirinya dirawat setelah kejadian kebakaran rumahnya. Namun, karena jadwal kerja Leon yang padat, ditambah side hustle yang Ia pilih yaitu menuli dan melukis, Ia mengesampingkan kesehatan mentalnya.
Ia berpikir, bahwa yang dibutuhkan untuk dapat menjalani hidup adalah uang. Karena memang, setelah kejadian kebakaran yang menghanguskan rumahnya, Ia hanya ditinggalkan tabungan dan asuransi.
Ya, tabungan dan asuransi jiwa kedua orang tuanya tentu saja sudah cukup untuk Ia hidup ke depannya. Namun, karena akal dan pikiran Leon terlalu cemas untuk masa depannya sendiri, melihat keadaan dirinya yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia, maka Leon mengharuskan dirinya untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
Leon kemudian menyusun bahan makanan pokok pemberian orang baikb yaitu keluarga Bryan. Dengan tenang dan santai Ia menyusun bahan-bahan makanan itu.
Ia juga menghidupkan televisi untuk menemaninya di rumah yang kecil itu.