Untitled

1105 Kata
Hari ini Leon sedang libur bekerja. Leon dengan sengaja mengambil hari libur, karena Ia berniat untuk melanjutkan terapi psikis dengan dokter. Mengambil satu hari libur tidak ada salahnya, pikir Leon. Leon dihubungi oleh dokternya untuk segera datang memenuhi jadwal terapi yang telah lama Ia biarkan. Leon sepertinya tidak terlalu suka menghadiri terapi bersama dokter itu. Entahlah, Ia merasa seakan semua itu sia-sia. Leon tidak gila, Ia masih waras. Hanya mengalami sedikit trauma yang belakangan sudah tidak muncul lagi di dirinya. Trauma yang dialami Leon perlahan memudar. Tentu saja hal itu karena kesibukan yang Ia jalani. Ya, semenjak mulai bekerja dan memulai untuk menulis lagi, trauma itu bisa tertutupi karena kesibukan. Tidak bermaksud untuk meremehkan keadaan psikis, hanya saja biaya yang dihabiskan untuk terapi itu sebenarnya lebih baik digunakan untuk kebutuhan yang lain. Kalian tahu sendiri, Leon sudah tidak ada siapa-siapa lagi saat ini. Tabungan dan asuransi mama dan papa Leon memang belum sepenuhnya digunakan, namun Ia merasa belum harus menggunakan itu untuk keperluan semacam terapi itu. Leon hanya berpesan pada kalian, jika kalian memang merasa harus pergi ke terapi karena trauma yang dialami, pergilah. Redakan traumamu, luruskan kembali kesehatan mentalmu, dan yang terpenting kesehatan jiwa dan raga itu yang nomor satu. Leon memulai hari ini dengan membersihkan tempat tinggalnya. Dokter pernah bilang, kalau kegiatan bersih-bersih bisa membuatnya lebih rileks, sebelum memulai sesi terapi. Leon memercayai itu, semakin dirinya sibuk, semakin Ia merasa rileks, karena tidak harus diam dan memikirkan masa-masa lalu yang menjadi trauma. Tempat tinggal Leon saat ini sudah tidak seluas tempat tinggalnya dahulu. Ia harus tinggal sendiri di rumah kontrakan sederhana, yang penting nyaman. Setelah selesai membersihkan rumah, Leon beristirahat di lantai. Membaringkan tubuhnya di atas sebuah karpet plastik di lantai. Ia menatap langit-langit rumahnya. Sengaja diletakkannya foto-foto kenangan keluarganya bergantung di langit-langit rumah yang cukup rendah. Ia menyusun foto-foto itu di atas sebuah tali, sehingga menimbulkan kesan bahwa foto-foto itu sedang dipamerkan dengan cara dijemur. Alasannya, Ia ingin mengadakan pameran sederhana dengan memamerkan foto-foto kenangan keluarganya. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa keluarganya adalah keluarga yang bahagia dan harmonis, meskipun kenyataan berkata lain. Selain itu, Leon tidak memiliki apapun di rumahnya untuk menghibur di kala sedih, jadi foto-foto itulah yang nantinya akan menjadi hiburan atau sekedar tontonan baginya. Leon tersenyum melihat foto mama dan dirinya sedang berpelukan dan memegang trofi emas yang didapatnya dari berbagai perlombaan. Untung saja, kenangan-kenangan itu tidak hangus terbakar bersama kebahagiaan Leon. Setidaknya, Leon masih memiliki sesuatu untuk dikenang. Leon melihat jam di dinding yang menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki waktu dua jam sebelum pergi untuk terapi. Ia bingung harus berbuat apa. Tidak biasanya Ia seharian di rumah, baru hari ini. Biasanya Ia akan bekerja seharian penuh, dan kembali ke rumah ketika hari mulai larut. Tidak pada hari ini, Ia akan seharian berada di rumah sambil menunggu jadwal terapi. Leon memutuskan untuk menulis. Ya, Ia masih menulis untuk menambah pemasukan. Ia membeli laptop baru dengan uang kemalangan yang didapat dari rekan-rekan mama dan papanya. Tulisan-tulisannya tidak jauh dari konsep dirinya dahulu. Menulis cerita pendek tentang kisah cinta remaja. Hitung-hitung menghibur dirinya sendiri. Ia menghidupkan laptopnya dan mengambil posisi duduk nyaman di depan meja kecil yang multifungsi. Ya, multifungi, karena meja itu juga Leon gunakan untuk keperluan lain selain menulis. Biasanya Leon menggunakan meja itu untuk makan malam, untuk menulis, menggambar, membuat sketsa, mewarnai, atau sekedar membaca buku. Leon jadi terbiasa membeli peralatan yang multifungsi. Semua Ia lakukan semata untuk meminimalkan pengeluaran, karena Ia sadar saat ini Ia sudah tidak bisa semudah dahulu dalam mengeluarkan uang. Dering ponsel Leon berbunyi, menampilkan nama Bryan di layarnya. Bryan sering kali menelepon Leon, saat Ia sudah pulang sekolah. Bryan dan Leon masih bersahabat baik, meskipun Leon sedang sibuk, dan sering kali jadi mengabaikan pesan dan panggilan dari Bryan. Tidak jarang Bryan menangis dan mengadu pada kakak dan mamanya, karena Leon tidak kunjung membalas pesan atau mengangkat panggilannya. Bryan masih tidak rela jika Leon harus sibuk dan melupakan dirinya. “Halo, Bri? What’s up, My Bro?” kata Leon saat mengangkat panggilan dari Bryan. Terdengar suara tawa senang dari Bryan karena hari ini dirinya tidak dicuekin oleh sahabatnya. Leon menghidupkan speaker ponselnya agar Ia bisa melanjutkan menulis dan meletakkan ponselnya di sebelah laptopnya. “Leon tidak bekerja?” tanya Bryan dengan bahasa formal. Begitulah jika Bryan baru saja memulai percakapan. Terlalu formal, dan terdengar lucu sebenarnya. Tapi jika sudah lama mengobrol, biasanya Bryan akan mengikuti cara bicara lawannya. “Engga. Leon libur, hari ini aku mau ke dokter mau terapi,” jawab Leon menanggapi pertanyaan Bryan. “Leon sakit apa?” Bryan tertawa mendengar pertanyaan Bryan. Ia tidak paham mengenai trauma yang Leon alami, Ia hanya tahu jika menemui dokter, pasti sedang sakit fisik. “Bukan sakit,” jawabnya. Leon ingin mengatakan bahwa dirinya tidak sakit namun tidak sedang sehat juga. Ia mengurungkan niatnya itu, karena nanti akan sulit bagi Bryan untuk mengerti perkataannya, dan pasti akan memakan waktu lama untuk menjelaskannya. “Lalu apa, Leon? Leon tahu tidak, mama beli mainan baru untuk aku, tapi aku capek kalau sering-sering mainkannya.” Bryan mulai bercerita mengenai harinya. “Mainan? Mainan apa? Kok capek?” Leon menanggapi cerita Bryan sambil masih fokus pada kegiatan menulisnya. “Aku lupa namanya. Mama bilang, cara mainnya itu aku dorong mainannya, trus aku jalan ke sekeliling rumah, jangan lupa sofa dan tirai juga, dan sudut. Aku sering lupa sih kalau sudut yang kayak mama bilang, tapi aku udah capek sebenarnya.” Bryan bercerita panjang lebar tentang mainan barunya. Leon masih bingung, mainan apa yang Bryan maksud. “Mainannya namanya apa?” “Aku lupa-... Maa?? Ma, mainan baru itu namanya apa? Vacuum? Ooh- coba mama kasih tau ke Leon, soalnya Leon mau tau, Ma.” Terdengar suara Bryan berteriak memanggil mamanya hanya untuk menanyakan nama mainan itu. “Oh, iya, Tante. Hahaha... Leon cuma nanya tadi, Tan-... oh. Vacuum cleaner ya, Tante. Terima kasih, Tante. Hahaha...iya, Tan” Leon akhirnya diberi tahu nama mainan itu. “Bri?” “Halo. Leon? Sudah tau namanya? Aku lupa, tapi mama tau kok-...” “Iya. Udah dikasih tau. Vacuum cleaner, kan?” Suara gembira Bryan terdengar dari seberang telefon. “Benar. Iya, itu.” “Kamu bilang itu mainan?” “Ya. Seru, sih. Tapi, capek juga kalau harus keliling rumah maininnya. Kamu mau coba?” Leon tertawa dalam hati. Polos sekali anak ini. Bryan pasti dikelabuhi mamanya agar bisa bantu-bantu pekerjaan bersih-bersih rumah. “Jadi, kamu seneng maininnya?” “Seneng. Tapi capek, Leon.” “Hahaha... lucu banget kamu, Bri.” “Lucu? Kenapa lucu? Kamu mau ikut main juga? Tapi cuma ada satu di rumah, nanti kita mainnya gantian ya? Kamu tunggu aku selesai main. Oke?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN