First Case

1172 Kata
Tangga sekolah yang terletak tepat di tengah bangunan sekolah, membelah kubu bagian barat dan selatan. Di sana telah tampak sebuah pemandangan yang mengerikan. Pemandangan yang siapapun pasti akan menolak untuk melihatnya. Pantas saja, sejak tadi sekolah dipenuhi dengan ekspresi histeris orang-orang. “Sisil....” Leon menggumamkan nama itu dengan pelan. Guru yang berada di sekitar Leon, berusaha untuk menutupi pemandangan buruk itu. Pagi ini, Sisil ditemukan dengan posisi yang, aneh? Benar-benar aneh... Posisi kepalanya bertumpu pada anak tangga, tangannya seakan menumpu berat badannya sendiri. Tubuhnya tampak terlipat dan... menyedihkan. Tubuhnya dihiasi noda darah, yang telah mengering. Wajah cantiknya ditutupi oleh rambut panjangnya yang kini tampak berantakan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sisil. Pagi ini benar-benar memberi tamparan keras bagi seisi sekolah, terkhusus bagi Leon, teman dekat Sisil. Leon tidak bergeming, dari tempatnya berdiri sejak tadi. Tubuhnya mematung, memerhatikan keadaan temannya. Ia menoleh ke kiri dan kanan, melihat anak-anak di sekolahnya telah bercucuran air mata dan menjerit histeris. “Nak, kamu langsung ke kelas ya. Tolong bawa Leon ke kelas” Seorang guru meminta guru yang lainnya untuk membawa Leon ke tempat lain. Teman dekat yang selama ini menjalani kehidupan sekolah bersama, berjuan di kala ujian bersama, melakukan school trip bersama, study-date, bercerita semua keresahan menyangkut sekolah, dan bahkan kehidupan. Kini, tidak ada lagi yang akan menemani Leon... Leon masih berdiri di tempatnya, menolak ajakan sang guru. Ia tidak peduli, apakah itu perintah untuk segera pergi atau hanya sebuah formalitas. Ia masih ingin memerhatikan teman dekatnya, untuk terakhir kalinya. Leon mendekat ke tempat dimana Sisil ditemukan mengenaskan. Ia ingin sekali menyentuh wajah temannya itu. Ingin rasanya untuk membantu temannya bangkit dari lantai yang dingin, dari tontonan orang-orang, dari posisi yang sangat amat menyakitkan. Namun, ibu dan bapak guru berusaha dengan keras untuk menjauhkan anak-anak dari tempat kejadian perkara. Saat ini, belum ada satupun tindakan yang dilakukan selain menunggu pihak berwajib datang mengevakuasi Sisil. Dalam hati, Leon menangis. Menangisi betapa malangnya nasib teman dekat yang selama ini menjadi tempat mencurahkan keluh kesahnya. Diperhatikannya wajah Sisil dengan seksama. Sebenarnya, wajahnya tampak sangat tidak jelas, mengenaskan, mengerikan, dan tertutupi dengan rambutnya sendiri. Namun, kedekatan Leon dan Sisil menjadikan Leon dengan mudah mengetahui bahwa itu adalah temannya. “Sil....” panggilnya. Sisil sudah tidak bergerak, tidak menjawab, dan tidak bernafas. Malang sekali... Sekolah dipulangkan, anak-anak segera meninggalkan sekolah. Saat ini, sekolah dipenuhi dengan ornag-orang asing. Pihak yang berwajib mengelilingi sekolah yang begitu luas ini. Leon menunggu di depan gerbang. Ia meminta sang mama untuk menjemputnya. Sepertinya, rasa trauma menghampiri Leon saat ini. “Leon?” Seorang pria paruh baya mendatangi Leon. Ia adalah teman dari papa Leon. Seorang inspektur Jusuf, pria berusia 48 tahun yang mengetuai jalannya olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Leon terlihat kurang ramah menanggapi sapaan Inspektru Jusuf. Ia hanya menolej tanpa menyapa balik. “Kamu pulang dijemput siapa?” “Mama” Setelahnya, Leon menunduk sejenak. Memberikan isyarat kepada Inspektur Jusuf bahwa dirinya akan pergi menunggu di halte dekat sekolah. Inspektur Jusuf tentu kebingungan melihat Leon. Tidak biasanya Leon bersikap sombong dan acuh, biasanya bahkan dirinya lah yang menyapa terlebih dahulu jika bertemu. Leon berjalan menuju halte di dekat sekolah. Ia berjalan sambil menunduk, menunggu pun sambil menunduk. Sepertinya Leon membatasi interaksi dengan orang-orang. Menyisakan trauma tentunya pada ingatan Leon. Sebenarnya, Leon terlihat begitu tenang, mengetahui teman dekatnya mengalami sesuatu hal yang naas, dirinya terlihat begitu tenang. Namun, tetap tampak bahwa dirinya trauma dan bersedih. Tiin... Klakson mobil menghentikan Leon dari melamun. Dirinya menatap dengan kosong sepatunya sendiri. Mama Leon telah tiba di sekolah untuk menjemput Leon. Sebelumnya Leon tidak menjelaskan kenapa dirinya dipulangkan dari sekolah, dan kenapa sekolah dipulangkan begitu cepat bahkan sebelum apel pagi. Di mobil, Leon terlihat diam dan banyak menunduk. Mama Leon keheranan melihat anaknya, dan juga ingin menanyakan ada apa dengan sekolahnya. Leon mulai menceritakan apa yang terjadi, dan apa yang disaksikannya baru saja. Mama Leon merasa sedih dan berduka mendengar kabar tersebut. Dirinya bahkan sempat menghentikan mobilnya di pinggir jalan, untuk menetralkan hatinya terlebih dahulu. “Ma, biar aku yang nyetir” Mama Leon menggeleng. Ia sadar, anaknya pasti mengalami trauma luar biasa, jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya mendengar tanpa menyaksikan langsung. Sesampainya di rumah, Leon langsung mengurung diri di kamar. Mengistirahatkan hati dan pikirannya yang pasti masih dikelilingi oleh bayang-bayang Sisil. Seketika, kenangan bersama Sisil terputar di kepalanya. Kala mereka melakukan study trip dan duduk bersama di dalam bus yang mengangkut anak-anak sekelasnya. Ia mengingat dengan jelas, senyum milik Sisil, suara tawa dari Sisil, tingkah konyol Sisil, rangkulan Sisil, dan tatapan yang selalu Sisil berikan tiap kali berbicara dengannya. Tanpa sadar, Ia melihat ke arah meja belajarnya. Dimana terdapat frame photo berisi foto dirinya bersama Leon. Ia mengingat momen itu, mendengar dengan jelas suara rengekan Sisil untuk berfoto dengannya, saat itu sedang ada sesi foto bersama dengan sekelasnya di sebuah studio foto. Karena permintaan Sisil, foto itu ada dan dicetak. Foto itulah yang menjadi kenangan dan pengobat bagi Leon jika dirinya diserang rindu akan teman dekatnya itu. Leon tersenyum. Dibaliknya frame photo itu, sepertinya Ia tidak ingin berlarut dalam menghadapi kepergian Sisil. Hari masih terlalu pagi untuk Leon daoat bersantai di rumahnya. Karena sekolah dipulangkan, Ia tidak tahu harus berbuat apa di rumahnya sendiri. Ia memilih untuk melanjutkan menulis di bukunya. Tiba-tiba saja, ide menulis memenuhi seisi kepalanya. Buku yang ditulisnya kini telah menemui plot yang semakin relevan tiap chapternya. Kali ini, Ia menambahkan sebuah chapter dengan judul “Tidak Bisakah Kau Mengizinkanku”. Ia menulis dengan rajin. Menuangkan segala ide yang baru saja menghampirinya. “Please....” Leon menggumamkan sesuatu yang ditulisnya. Ia kemudian menutup bukunya, dan mulai berimajinasi untuk menghias cover dari buku tersebut. Belajar dari buku-buku novel thriller yang dijadikan referensi, Ia memilih tema cover berwarna gelap. Dihiasinya dengan spidol dan cat air, karena sampulnya berbahan kertas. Bosan dengan kegiatannya, Leon beranjak dari meja belajarnya. Tidak lupa Ia menyimpan kembali buku yang digunakannya untuk menulis, agar orang tuanya tidak mengetahuinya. Leon berjalan keluar kamar, menuju ruang tengah untuk menonton televisi. “Mayat seorang siswi cantik, anak dari penyanyi terkenal, ditemukan di tangga gedung sekolah, tim olah Tempat Kejadian Perkara menemukan sebuah keanehan. Masih belum diketahui penyebab kematian dari iswi yang diketahui berinisial PS” Suara televisi menyampaikan berita yang sejak pagi tadi memberi trauma pada Leon. Ia memerhatikan dengan seksama berita yang disampaikan. Bahkan dirinya mencari beberapa channel lain yang berisi berita yang sama. Ia ingin melihat bagaimana perkembangan evakuasi temannya itu. “Yaampun, Nak. Mama masih kaget” Sang Mama bergabung menyaksikan berita menyedihkan itu. “Kamu gak apa-apa, Nak? Mama lihat kamu dari tadi diam terus” Dielusnya punggung tangan sang anak. Ia mencoba menenangkan perasaan anaknya, meskipun dirinya tidak mengetahui dengan pasti apa yang ada di pikiran anaknya itu. Leon menatapnya datar, kemudian tersenyum. “Mama paham kamu sedih, kamu kehilangan teman dekatmu... tapi mama yakin, Sisil disana pasti butuh keikhlasan dari orang-orang yang dicintainya” Mama Leon menitikkan air matanya. Leon kemudian bersandar pada bahu sang mama. “Kita doakan semoga Sisil tenang, bahagia disana, dan gak ngerasain sakit apapun” Mama Leon mengelus rambut anaknya dengan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN