Stairs

1405 Kata
“Bibir kamu kenapa?” Sisil membuka pagi ini dengan pertanyaan kepada Leon. Leon bahkan belum meletakkan tas nya di tempat duduk, namun sudah mendapat pertanyaan begitu sampai di kelas. Sisil masih terus memandangi wajah Leon. Diperhatikannya dengan seksama, dan kepalanya terus memikirkan apakah Leon terlibat pertengkaran dengan salah satu murid di sekolah ini. “Leon?” panggilnya dengan lembut. Leon menoleh. Masih terlalu pagi dirinya untuk merasa kesal, Leon pun menyembunyikan kekesalannya. “Kamu berantem, ya?” “Engga” Mengetahui Leon merasa sedikit kesal, Sisil pun menghentikan pertanyaannya. “Kamu udah selesai tugas kimia?” “Tugas?” “Iya, kemarin kan sebelum ulangan, tugas yang ini belum dikumpul” Leon langsung menggeleng. “Aku liat punya kamu dong” Sisil merasa semakin aneh dengan sikap Leon, belakangan Ia jarang menyelesaikan tugas. “Enak aja, kamu kerjain aja cepetan” Leon terdiam. Dipandanginya wajah Sisil, dengan ekspresi datar. “Ntar kalau kamu gak tau, aku ajarin. Cepetan kerjain” Leon kemudian tersenyum. Sisil tidak paham arti dari senyumannya, tapi yang Sisil tahu, senyuman itu bukan senyuman milik Leon yang biasa mendebarkan hatinya. “Eh, Sil. Udah selesai kimia yang nomor tiga?” Seorang teman sekelas mereka bertanya kepada Sisil. “Udah” “Ih susah banget gak sih itu, soalnya ngejebak banget. Itu caranya yang gini kan?” Temannya menunjukkan buku tugas yang berisi jawaban yang sudah dikerjakan. Sisil dan teman sekelasnya mulai berdiskusi mengenai tugas yang akan dikumpul dalam tiga puluh menit ke depan. Sementara, Leon hanya menyaksikan diskusi antara mereka dari tempat duduknya. Leon kesal, belakangan Sisil terlalu pelit dan tidak mau berbagi. Biasanya mereka akan berdiskusi, jika menemukan kesulitan dalam mengerjakan tugas. Anak-anak di kelas mulai sibuk mendiskusikan tugas yang dianggap cukup sulit dikerjakan. Satu per satu mereka bangkit dari tempat duduk, dan mulai berkumpul di satu tempat untuk berdiskusi. Waktu terus berjalan, dan Leon masih terdiam duduk di bangkunya. Padahal masih ada waktu dua puluh lima menit lagi sebelum bu guru kimia memasuki kelas. Leon semakin kesal, mengetahui Ia sempat dimarahi papanya karena bu guru yang ternyata melaporkan kepada papanya. Kekesalannya bertambah ketika Ia bahkan lupa jika ada tugas dari bu guru tersebut. Dalam hati mengumpat, jika saja menganiaya tidak akan berdosa, Ia pasti sudah melayangkan bangku di kelasnya untuk dilemparkan ke orang-orang yang membuatnya kesal, terlebih bu guru kimia. Semakin kesal, saat Ia tidak dapat berkonsentrasi dalam mengerjakan tugasnya. Belakangan ini, emosi Leon cukup sulit menemui kata stabil. “Sil...” Leon menarik lengan Sisil dengan pelan. Namun, yang ditarik lengannya masih tidak bergeming. Masih tidak menghiraukan Leon, dan tetap berdiskusi dengan temannya. Tentu hal itu menyebabkan rasa kesal yang bertambah bagi Leon. Bertambah kesal, Leon menarik lengan Sisil dengan sedikit tenaga. Sisil memegangi lengannya yang ditarik. “Aww! Sakit, ih bentar dulu. Apasih, Leon?” Leon memasang ekspresi datar, padahal jauh di dalam hatinya tersimpan kekesalan yang perlahan berubah menjadi kesal. “Sil, aku liat dulu dong” “Ih, bentar dulu. Aku juga belum selesai diskusi. Kamu udah coba kerjain sendiri belum?” Sisil masih menolak. Sisil melanjutkan diskusi dengan temannya. Tanpa sadar, waktu dua puluh lima menit telah berlalu. “Selamat pagi semua” Bu guru memasuki kelas dan langsung meletakkan tasnya di meja guru. Serentak seisi kelas membalas sapaan bu guru. “Pagi, Bu” “Sebelum memulai kegiatan belajar kita pagi ini, alangkah baiknya agar kita berdoa menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing” Seisi kelas pun bersiap untuk berdoa. Beragam keagamaan di kelas ini. Semuanya menunduk, membaca doa dengan penuh khidmat. Memohon agar hari ini mendapat ilmu yang bermanfaat. Namun, Leon terlihat tidak menunduk. Diantara teman-temannya yang menunduk, kepalanya terlihat tegak dan ekspresinya datar. Leon memerhatikan bu guru dari tempat duduknya. Tangannya seakan memohon seperti berdoa, namun wajahnya tidak. Entah apa yang ada di pikiran Leon saat ini. Kelas telah siap untuk memulai pembelajaran pagi ini. “Bu, tugas yang kemarin belum dikumpul” Sisil tiba-tiba bersuara. Anak-anak kelas sudah bersiap untuk mengumpulkan buku tugasnya, setelah mendapat perintah untuk mengumpulkan dari bu guru. Leon hanya terdiam di tempatnya, dirinya bingung harus bagaimana. Dirinya marah dan kesal pada keadaan ini. -- Suasana hari ini cukup sejuk. Hari sudah menemui larutnya. Bulan telah mengintip menyambut orang-orang di bumi. Mama Leon menunggu di depan rumah. Ia duduk di kursi di teras rumah, menunggu sang anak pulang ke rumah. Pikiran telah berkeliaran kemana-mana. Sesekali pikiran negatif menemaninya di depan rumah. Ia khawatir anaknya tidak pulang ke rumah, karena masalah kemarin yang sepertinya membuat dirinya marah. “Leon belum pulang juga?” Papa Leon ikut menunggu bersama istrinya. Mama Leon menggeleng dan terus memerhatikan jalanan di depan rumah, berharap anaknya segera tiba di rumah. Khawatir hal ini akan membuat sang suami marah seperti kemarin. “Gak ada ngabarin kamu?” “Gak ada, Pa. Kalau dikabarin kan aku gak sekhawatir ini” “Makanya kamu jangan biasain manjain anak, jadi begini. Baru aja dikasih pelajaran sekali, udah berani ngulah lagi kan” Mama Leon hanya diam mendengar perkataan suaminya. Dirinya saat ini hanya fokus memikirkan sang anak. Berulang kali dicobanya untuk menghubungi anaknya, namun tidak ada jawaban. Tiba-tiba terlihat seseorang berjalan memasuki kediaman keluarga Hutama. Itu Leon. “Nak, kamu dari mana aja. Mama khawatir banget, kamu-...” Leon hanya diam dan langsung masuk ke rumah, tanpa menghiraukan orang tuanya yang sudah menunggunya di depan rumah. Ia masih mengenakan baju sekolah, berjalan melewati papanya, tanpa rasa takut. Papa Leon hanya melihat ke arahnya, namun diam tanpa tindakan. Mama Leon langsung memeluk lengan suaminya, dengan berani Ia menahan suaminya agar tidak memarahi anaknya. Leon kini telah berada di kamarnya. Segera Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tokk... tokk... Dengan penuh kelembutan, Mama Leon memanggil anaknya. “Nak? Makan malam dulu, ya” Tanpa jawaban, mama Leon masih menunggu di depan pintu kamar anaknya. Hingga Leon membuka pintunya dan segera mengikuti mamanya untuk makan malam. .. “Nak.. bangun, sudah jam 6 ini” Mama Leon membangunkan anaknya. Mamanya masih dengan sabar menjadi alarm bagi anaknya, agar tidak ada lagi hukuman akibat terlambat datang ke sekolah. “Hmmm... iya, Ma” Leon segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini sepertinya Ia tidak lagi menunggu Sisil untuk menjemputnya di rumah. Sudah beberapa hari sejak motornya disita oleh papanya, Leon berangkat sekolah bersama Sisil. Hari ini, Leon berangkat dengan bus. Ia berjalan ke halte yang kebetulan berada di simpang komplek perumahan keluarga Hutama. Ia menunggu ekitar lima menit, akhirnya bus yang ditumpangi pun tiba. Leon sudah tidak lagi terlambat pergi ke sekolah. Dirinya selalu tepat waktu, belakangan ini. Berkat sang mama, tentu saja. Memasuki jalanan di depan sekolah, Leon berhenti di halte yang berada dekat dengan sekolahnya. Dilihatnya gerbang masuh terbuka lebar, namun halaman depan tampak sunyi. Leon berjalan memasuki sekolahnya, dengan santai. Suasana di dekat lapangan sekolah amat ramai. Anak-anak berkumpul mengelilingi satu titik di sekolah ini. Beberapa anak bahkan seperti histeris, menangis mengeluarkan air mata, menjerit dan berpelukan dengan temannya. Leon yang baru saja tiba di sekolah, merasa keheranan dan bingung. Ada apa dengan sekolahnya? Ada apa dengan murid-murid di sekolahnya? Ia berjalan berniat masuk dan bergabung di kerumunan itu. Berusaha mencari tahu ada apa sebenarnya pagi ini. Dilihatnya semua orang panik. Ada yang berlari kesana kemari menggumamkan entah apa, suaranya tidak dapat tertangkap rungu Leon, karena terlalu berisik. Leon masih berjalan berusaha menerobos kerumunan. Dirinya sesekali didorong, ditarik, kakinya terinjak, tangannya tersenggol oleh orang lain. Guru-guru tampak panik, beberapa ada yang berusaha mengajak murid-murid untuk mundur menjauhi kerumunan. Ini masih terlalu pagi, masih sulit bagi Leon untuk menyadari ada apa sebenarnya pagi ini. “Ada apa ini?” tanyanya pada murid dari sebelah kelasnya. Tanpa menjawab, mereka mulai menangis. Leon tentu keheranan melihat respon dari temannya itu. Meskipun sebenarnya dirinya tidak terlalu mengenal anak itu. “Bubar... bubar.. biar guru-guru aja yang ngurus ini” Salah satu guru mulai berteriak, meminta murid-murid meninggalkan kerumunan. Leon memberanikan diri datang ke tengah kerumunan. “Leon? Leon... kamu jangan kesini dulu” “Nak... jangan dilihat ya, kamu ke kelas aja dulu” “Leon, ayo ikut ibu” Guru-guru bersahutan mendatangi Leon, kala dirinya sudah mengetahui ada apa di dalam kerumunan pagi ini. Mungkin, pagi ini adalah pagi terburuk bagi Leon. Semua orang mulai teriak histeris dan beberapa hingga tidak sadarkan diri. Leon yang diminta untuk tidak melihat apa yang terjadi, hanya bisa terdiam. Ia mematung melihat kejadian tepat di depan matanya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Orang-orang menangkap bahwa ekspresi itu adalah ekspresi terkejut. Ternyata, orang-orang mengerumuni tangga sekolah....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN