Anger

1875 Kata
Sekolah saat ini sudah memasuki musim ulangan harian. Anak-anak sekolah biasanya akan belajar lebih giat, dan merelakan waktu mereka untuk bermain. Ulangan harian ini merupakan penolong, jika nilai ujian nanti tidak memenuhi kriteria, maka digunakan nilai ulangan harian untuk menjadi tambahan. Pagi ini, Leon datang ke sekolah dengan perasaan kurang baik. Dirinya langsung duduk di tempatnya dan mulai menyandarkan kepalanya di meja. Sisil yang melihat tingkah Leon yang semakin aneh dari hari ke hari, hanya bisa diam dan keheranan. Hari ini adalah jadwal untuk ulangan harian mata pelajaran Kimia. Anak-anak diminta untuk mengumpulkan barang-barang mereka yang telah dimasukkan ke dalam tas, untuk dikumpulkan di depan kelas. Hanya menyisakan selembar kertas dan alat tulis. Hal itu sebagai antisipasi kecurangan yang kemungkinan bisa saja dilakukan oleh anak-anak. Meja dan bangku anak-anak kelas dipisahkan satu langkah, agar tidak bisa bekerja sama. Judulnya memang ulangan harian, tapi karena profesionalitas pendidik di sekolah ini, maka tetap diberlakukan peraturan ketat untuk ulangan ini. Leon mulai membaca soal yang dituliskan oleh bu guru di papan tulis. Soalnya hanya sedikit, tapi tahu sendiri kan mata pelajaran kimia seperti apa? Susah dan hal itu diakui oleh Leon, meskipun dirinya selalu mendapat nilai tinggi di mata pelajaran ini. .. Minggu ulangan harian akhirnya berakhir. Anak-anak sekolah masih belum bisa memasuki masa tenang, karena setelah ini akan dihadapkan pada ujian semester. Terkhusus anak kelas tingkat akhir, seperti hal nya Leon dan Sisil, mereka akan menghadapi ujian akhir sekolah dan ujian masuk perguruan tinggi. Di minggu ini, biasanya akan diumumkan siapa saja yang mendapat nilai rendah dan tinggi, dan siapa yang akan menghadapi remedial untuk memperbaiki nilainya. Dalam minggu ini, nama Leon telah dua kali dipanggil di depan kelas. Menandakan dirinya remedial dan haru mengerjakan ulangan lagi. Pada mata pelajaran kimia ini, Sisil berharap Leon tidak remedial lagi. Sisil jelas keheranan melihat nilai Leon yang menurun drastis. Apakah dirinya tidak belajar sebelum ulangan harian? “Leon, saya heran sekali kenapa kamu remedial. Ini pertama kalinya nilaimu rendah, semenjak kamu sekolah disini. Kalau begitu gimana kamu mau pertahanin juara umum mu?” Bu guru mata pelajaran kimia menyampaikan kekecewaannya kepada Leon di depan kelas. Tidak seharusnya Ia menyampaikan hal itu di depan anak-anak yang lain. Akan lebih baik jika Ia menyampaikan langsung kepada Leon dan tidak dapat didengar oleh orang lain. Leon hanya menunduk dan menahan kekesalannya. Sebenarnya dirinya malu dan menyesal, tapi entah apa yang membuat dirinya begitu kesal akan guru kimia ini. Terlebih saat dirinya mengetahui bahwa Ia akan mengikuti remedial untuk tiga mata pelajaran, sedangkan Sisil tidak satu pun mendapat nilai rendah. Hal itu berarti, nilai yang keluar nantinya akan lebih rendah dari pada Sisil. Leon mengepalkan tangannya di bawah meja, Sisil yang melihat pun merasa takut. Takut kalau Leon akan bertindak sembarangan dan marah. Untung saja, bu guru berhenti saat Leon belum memasuki puncak emosinya. Teman-temannya yang lain pun turut menceritakan dirinya di belakang. Menceritakan dengan suara kecil, namun bertujuan agar dapat didengar oleh Leon. Leon sekarang memikirkan bagaimana dirinya meminta izin untuk pulang telat. Remedial biasa dilakukan di sore har, saat kegiatan sekolah sudah dibubarkan. Karena Ia mengikuti tiga remedial, maka itu berarti dirinya akan pulang telat selama tiga hari berturut-turut. Mau tidak mau, Leon harus menjelaskan pada mamanya, kalau dirinya akan ada remedial di beberapa hari ke depan. . Hari remedial pertama dilalui Leon seperti hari biasanya. Ia sudah memberi tahu sang mama kalau dirinya pulang telat hari ini, tapi bukan karena remedial melainkan karena kerja kelompok. Dua hari berlalu dengan Leon yang pulang lebih lama dari biasanya. Alasan yang diberikan masih sama, namun Leon akhirnya ketahuan. Bu guru kimia yang merupakan istri dari rekan kerja papa Leon, ternyata menceritakan kepada papa Leon saat tanpa sengaja bertemu di luar. Hal itu yang membuat papa Leon mengamuk bukan main. Dirinya bahkan sengaja pulang lebih dulu, agar segera bertemu dengan anaknya. Kemarahan telah di puncak, terlebih saat papanya bertanya kepada mama mengenai Leon belakangan hari ini. Mama telah menjelaskan jika Leon sebenarnya sedang kerja kelompok dengan temannya, namun karena aduan dari rekannya itu, terbongkar bahwa Leon sedang melakukan remedial. Leon pulang tepat saat matahari hampir saja terbenam. Dirinya tidak biasa pulang di jam segitu. Leon memasuki rumah dengan santai, tanpa memikirkan akan ada apa ke depannya. Papa Leon yang sedang menunggu anaknya, berdiri di teras rumah dengan air muka menegang. Entah lupa atau bagaimana, Leon sama sekali tidak peka akan dimarahi sang papa karena kebohongannya. “Dari mana kamu?” Papa Leon langsung bertanya, padahal Leon masih melepas sepatunya di depan rumah. “Dari sekolah, Pa” Benar saja dirinya tidak berbohong kala diberi pertanyaan. “Kenapa pulang jam segini?” Leon yang masih membuka kaus kakinya pun menjawab. “Kerja kelompok, Pa” “Tugas apa?” “Kimia” “Oh kimia, bukannya remedial?” Deg. Jantung Leon rasanya hampir melompat dari rusuknya. Ia bingung bagaimana orang tuanya bisa mengetahui hal ini. Leon yakin tidak ada satupun teman sekelasnya yang kenal dekat dengan orang tuanya, sehingga sangat tidak memungkinkan jika orang tuanya mendapat info dari teman-temannya. “Udah pinter bohong kamu sekarang?” Leon menunduk. Dirinya mati kata, bahkan tubuhnya mematung, seakan darahnya berhenti mengaliri tubuhnya. Plak! Satu tamparan mendarat di pipi kanan Leon. Pipinya tampak memerah. Mama Leon saat ini sedang tidak berada di rumah. Leon dapat memprediksi dirinya akan mati di tangan papanya sendiri, jika mamanya tidak segera memisahkan mereka. Papa Leon benar-benar kecewa dengan kelakuan anaknya. Bagaimana mungkin dirinya tidak lulus ulangan, dan bahkan berbohong untuk remedial. Semakin memuncak saja kemarahan sang papa. Ia bersiap untuk memberi hukuman kepada anaknya. Leon masih menunduk. Menahan sakitnya bekas tamparan papa di pipinya. Jika menangis diizinkan, pasti saat ini dirinya sudah menangis dan menjerit kesakitan. Mereka masih berada di depan pintu rumah. Untung saja, halaman rumah begitu luas, dan jarak rumah ke rumah di komplek perumahan ini cukup jauh. Leon terduduk di lantai, tangannya memegang kursi yang ada di teras rumah mereka. Papa Leon memberikan satu tendangan di paha kiri Leon. Tendangan yang cukup keras, bahkan hingga Leon terduduk dan memegangi kakinya. Leon mendongak memberi tatapan tajam ke papanya. Sejujurnya, dirinya kesal melihat tingkah papanya. Papanya selama ini tidak berperan penting dalam kegiatan belajarnya, tapi malah sebegitu marah ketika tahu bahwa Leon tidak lulus ulangan. Yang diberi tatapan tajam semakin emosi. Bersiap melayangkan satu tamparan di pipi Leon. Entah berapa kali Leon menerima tamparan. Ujung bibirnya bahkan sobek. Papa Leon semakin emosi ketika melihat wajah anaknya tidak tampak sedikitpun penyesalan. “Kamu kira kamu hebat? Hah? Natap saya sebegitu sok hebat, sekarang udah bisa ngelawan, hah?” Plak! Tamparan berikutnya turut menghiasi wajah tampan Leon. Leon tanpa sadar menitikkan air mata. Rasanya pasti cukup sakit, hingga dirinya akan menangis. Tiin.. Klakson mobil menginterupsi kegiatan mereka berdua. Mama Leon keluar dari mobilnya, hendak membuka pagar namun melihat ke arah papa dan anak itu. Menyadari bahwa raut wajah papa Leon bukan seperti biasanya, mama Leon langsung berlari ke tempat mereka. Didapatinya anaknya telah babak belur. Segera diangkatnya anaknya untuk berdiri dari tempatnya. Leon terpincang-pincang berjalan ke dalam rumah. Mama Leon membantunya berjalan, sambil menangis. “Ya Tuhan kenapa bisa begini” Mama Leon keheranan dan panik melihat anaknya babak belur. Leon hanya diam dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah. Mama Leon sibuk kesana kemari mencari obat untuk membersihkan luka anaknya. Terlihat jelas luka di ujung bibir Leon, berdarah dan cukup lebar sepertinya. Bagaimana seorang ibu tidak panik melihat keadaan anaknya yang seperti itu. Papa Leon memang keras dan tanpa sadar akan menjadi ringan tangan di saat emosi. “Anak kamu tuh pembohong” Papa Leon berjalan melewati mereka berdua, dan langsung mengatakan hal itu. Mama Leon yang sedang membersihkan bibir anaknya, menoleh ke arah papa dan memberikan tatapan heran. Ia kebingungan ada apa sebenarnya. “Tanya coba dia, pasti bohong jawabannya” Lagi, papa Leon berkata demikian. Leon hanya bisa menunduk. Sejak tadi Ia tidak berani melawan papanya. “Pa, kamu dari tadi ngomong pembohong-pembohong tuh konteksnya apa? Sekalipun anak aku pembohong, ga pantes kamu hajar dia begini” Papa Leon datang dan menghampiri mereka berdua. Tangannya dengan ringan, menjambak rambut mama Leon. “Ga ada yang ngajarin dia jadi pembohong, kalau kamu gak manjain dia, gak mungkin dia begini” Mama Leon hanya bisa mendongak melihat papa Leon. Dirinya tidak mampu bergerak, karena tubuhnya berada di bawah kontrol sang suami. Papa Leon pun menghempaskan jambakan di rambut istrinya. Hampir saja mama Leon terantuk ke sofa dimana Leon duduk. Perempuan itu telah salah memilih pasangan. Namun, mau bagaimanapun dirinya mempertahankan pernikahannya. Setelah papa Leon pergi dari pandangan keduanya, barulah Leon berani membuka mulut. “Ma, aku minta maaf” katanya diselingi tangisan. “Hiks.. Hiks.. aku gak niat buat bohong, aku... hiks... cuma...” “Shhh shhh kamu gak usah ngomong dulu, masih sakit kan bibir kamu ini” Mama Leon masih dengan sabar mencari tahu bagian mana yang sakit akibat kemarahan papanya. Leon menuju kamarnya untuk mengistirahatkan diri. Sebelumnya, dirinya membersihkan tubuh terlebih dahulu. Dilihatnya wajahnya di cermin yang tergantung di kamar mandi. “B*erengsek” Ia kesal melihat papanya tadi yang sempat bersikap kasar kepada mama tercintanya. Ia pun berniat untuk pergi dari rumah ini, jika nanti dirinya sudah mampu hidup sendiri. Menjauh dari tindakan kasar papanya, yang selalu menuntut banyak pada dirinya. Leon menangis lagi di kamar mandi. Dirinya dialiri air yang mengalir dari shower yang tergantung di dinding kamar mandinya. Ia menangis bukan karena hal yang dilaluinya tadi, melainkan menangis melihat bagaimana mamanya dijadikan sasaran oleh pria kasar itu. Leon memilih untuk tidak bergabung makan malam bersama orang tuanya. Ia berniat untuk makan malam nanti, setelah papanya selesai dan tidak lagi berada di meja makan. Jauh di dalam hati Leon, Ia kesal dan marah. Pada awalnya dirinya hanya marah pada diri sendiri, dan marah pada keadaan yang entah kenapa menjadi serumit ini. Namun, saat ini, kemarahannya karena sikap dari papanya tadi. Karena itu, Leon mengurung diri di kamar dan tidak ingin melihat wajah papanya untuk sementara waktu. Mama Leon telah mengajak anaknya untuk makan malam, namun karena Leon menolak, mamanya mengira bahwa dirinya masih takut disidang oleh papanya lagi. Pikirannya saat ini tidak stabil. Ingin marah, ingin memaki, ingin membalas, namun rasa berani tidak cukup besar untuk melampiaskan emosi. Leon yang berdiam diri di kamar, sendirian, menjadikan pikirannya untuk mengumpulkan kemarahan, semakin menjadi. Makanya, dirinya memilih membuka buku-buku yang belakangan menjadi kesukaannya. Berharap buku-buku itu bisa membantu mengalihkan apapun yang ada di kepalanya saat ini. Lembar demi lembar dibuka. Air mata yang sejak tadi sudah mengalir, namun terhapus air dan handuk, kini tanpa seizin pemiliknya pun terjatuh lagi. Buku yang dibacanya, ternyata menyelipkan kisah yang cukup sedih menurut Leon. Air mata kesedihan kini mengalir sedikit demi sedikit, membasahi lembaran buku. “Sial” katanya sambil mengusap pipinya sendiri. Menghapus jejak air mata yang lagi-lagi membasahi wajahnya. Tokk..tokk... “Nak? Ayuk makan malam dulu... Leon?” “Iya, Ma” Leon langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan membereskan buku-buku yang tadi dibacanya. Mama Leon menemani Leon menyantap makanannya di meja makan, meskipun Ia sudah makan bersama sang suami. Leon menceritakan kejadian tadi sore yang menyebabkan sudut bibirnya robek dan dirinya babak belur. Mama Leon mendengarkan dengan seksama. Sebenarnya, ada rasa marah dan kecewa di hati mama Leon. Melihat anak yang selama ini dipercayainya, berbohong karena remedial. Tentu, remedial bukan hal yang besar bagi beberapa orang, namun tidak bagi keluarga Hutama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN